
***
Tiga tahun kemudian, akhirnya Raka pun bebas. Tentu saja aku sangat bahagia, walau Raka seorang Narapidana, rasa cintaku tak pernah berkurang sedikitpun. Beginilah kalau sudah Cinta, kotoran kucing pun rasa coklat.
Waktu menunjukkan jam 3 sore, waktunya aku pulang. Bersyukur hari ini tak harus lembur, karena pekerjaan hari ini sudah ku selesai semua. Aku akan langsung menemui Raka di rumahnya.
***
Tok... Tok... Tok... Ku ketuk pintu. Lalu Tak lama kemudian Bi Imah membukakan pintu.
"Assalamualaikum Bi," Salamku pada Bi Imah.
"Wa'alaikumsalam,, eh Non Maria. Silahkan masuk," ucapnya.
Akupun bergegas masuk, namun ternyata Raka tengah duduk berdampingan dengan Winda. Mereka terlihat dekat, bahkan sangat dekat.
"Mas..." Sapaku.
"Eh, sayang kok nggak nelpon dulu kalau mau kesini?" Tanyanya.
Aku heran kenapa sih tu cewek pengennya nempel terus sama Raka. Aku bener-bener sangat kesal dibuatnya.
"Emang harus yah minta ijin dulu sama kamu?" tanyaku ketus.
"Nggak gitu sayang..." Ucapnya sambil menghampiriku.
Akupun hanya diam, tak menimpalinya.
"Sini duduk," Ucapnya sambil menarik tanganku.
__ADS_1
"Eh, ada Maria." Ucap Mamanya Raka.
"Iya Tan.." ucapku lalu menyalaminya.
"Apa kabar, lama yah nggak ketemu?"
"Iya tan, maaf Maria sibuk kerja."
"Oma, ayo temenin lani main?" Rengek seorang anak kecil menarik Mamanya Raka.
Oma? Aku pun mulai bingung, siapa anak itu.
Ku menoleh ke arah Raka, namun wajah Raka memerah tegang.
"Oma? Ini cucu tante?? Anak siapa Tan?" Tanyaku bertubi penasaran.
Wajah Mamanya Raka terlihat gugup kebingungan, sepertinya menyembunyikan sesuatu.
Mama Rakapun pergi mengikuti anak kecil itu.
"Mas, ada apa ini? Kenapa kalian terdiam. Aku bertanya dari tadi, kenapa nggak ada yang jawab?" tanyaku.
Aku benar-benar kesal, kutarik nafasku dalam-dalam untuk mengontrol emosiku yang mulai naik.
"Kami sudah menikah," ucap Winda.
"Apa? Kamu jangan becanda yah. Raka itu calon suami saya, tiga tahun lalu dia melamarku," ucapku menyangkal.
Aku tak percaya mendengar ucapan Winda, mana mungkin Raka mengkhianataiku.
__ADS_1
"Tapi kenyataannya seperti itu Maria, kami sudah menikah semenjak masa Iddah ku habis." ucap winda.
"Mas, apa benar yang dikatakan Winda?" Tanyaku pada Raka.
"Mas, ngomong dong jangan diem aja." ucapku mencecar Raka.
Raka menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Maaf kan Mas, Mas terpaksa," Ucapnya tertunduk.
"Maksud kamu apa Mas?"
"Semua yang dikatakan Winda benar." ucapnya terisak.
Aku yakin, Raka masih sangat mencintaiku. Tapi kenapa dia malah menikahi Winda, bukan aku.
Deghh... Hatiku perih mendengar jawaban Raka. Rasanya seperti tersambar petir disiang bolong, mataku panas seolah air mata sedang mengantri ingin menetes di pipiku.
"Tega kamu Mas, tega. Saya pikir kamu laki-laki terbaik yang Allah kirimkan untuk ku, tapi kenyataannya kamu sama saja. Selama ini saya sabar menunggumu Mas, tapi kenapa kamu melakukan ini semua? Hah.." Ucapku terisak.
"Maafkan Mas, Mas terpaksa melakukannya, Mas tak punya pilihan lain."
"Alasan apa yang membuatmu tega sampai menghancurkan ku mas? Setak berartinya aku bagimu,sampai-sampai kau berbuat seperti ini. Apa salahku Mas, apa?"
"Ok, kalau itu sudah pilihanmu Mas. Saya akan pergi dari hidupmu dan jangan pernah mencariku lagi." Ucapku tegas.
Kulepas cincin pemberiannya dulu waktu melamarku.
"Ini kukembalikan, ini sudah bukan hak saya lagi." Ucapku sambil meletakkannya dimeja.
__ADS_1
Aku pun segera melangkahkan kakiku keluar dari rumah orang yang sudah mengkhianatiku. Aku masih tak percaya dengan semuanya, kenapa aku bodoh. Bertahun-tahun aku dibodohi mereka, tapi kenapa aku tak menyadarinya.
Bodoh kamu Maria, Bodoh!