
***
"Ibu sama Bapak ikut teteh yah ke jakarta," ucapku kepada orangtuaku.
"Kalau Bapak sama Ibu ikut, rumah kita siapa yang urus? Biarlah Bapak sama Ibu tetap disini." Ucap Ibu.
"Ya sudah kalau Bapak sama Ibu nggak mau ikut, teteh nggak memaksa."
Aku sebenarnya berat meninggalkan mereka disini, umur mereka sudah tak muda lagi, aku takut terjadi apa-apa. Terlebih Bapak yang sudah mulai sering sakit-sakitan, tapi membawanya untuk ikut denganku pun tidak mungkin.
Kukemas barang-barangku, karena esok aku harus kembali ke Jakarta. Kupandangi sekeliling kamarku, kamar yang selalu membuatku rindu. Walaupun kini kamarku sudah berubah karena telah direnovasi, tapi suasananya masih seperti yang dulu.
***
Pagi-pagi sekali aku sudah siap, siap untuk kembali mengadu nasib di kota Jakarta. Ku masukan barang-barangku ke bagasi, setelah selesai akupun pamit kepada kedua orangtuaku.
"Bu, Pak, Teteh pamit. Kalau ada apa-apa segera hubungi Teteh yah," ucapku sedih, karena tak tega meninggalkan mereka.
"Iya sayang, jaga dirimu baik-baik disana. Ibu dan Bapak selalu mendo'akanmu." Ucap Ibu.
"Iya Teh, nanti Bapak sama Ibu akan sering kesana." Ucap Bapak menimpali.
"Iya Pak, Bu." Ucapku, lalu kusalami mereka berdua.
Akupun bergegas masuk kedalam mobilku lalu melajukan kendaraan menuju kota Jakarta. Sedih sudah pasti, seperti inilah jika setiap kali pulang ke rumah, rasanya berat untuk kembali. Andai aku punya usaha di kampung, aku lebih baik dikampung bersama kedua orangtuaku.
Namun saat tengah perjalanan tiba-tiba mobilku seperti oleng, akupun segera menghentikan laju mobilku. Setelah ku periksa ternyata ban mobilku kempes, aku bingung dibuatnya. Harus minta tolong siapa?
Kucoba meminta bantuan kepada orang yang barlalu lalang melintas, namun tak ada satupun yang mau membantu. Ku coba mencari bengkel terdekat lewat ponselku, namun tak bisa dihubungi. Aku mulai kebingungan, apa kutinggal saja mobilku disini?
Beberpa menit kemudian, sebuah mobil menepi menghampiriku yang sedang kebingungan. Aku pun segera mendekatinya, berharap orang yang berada didalamnya mau membantuku. Namun saat ku lihat ternyata Raka, diapun langsung turun dari mobilnya, lalu menemuiku.
__ADS_1
"Maria, mobilmu kenapa?" tanyanya.
"Ban mobilku kempes," jawabku.
"Ada ban serepnya?"
"Ada,"
"Ya sudah, tolong buka bagasinya biar saya yang ganti."
Aku tak punya pilihan lain, aku terpaksa menerima bantuannya. Kubuka pintu bagasi mobilku, lalu Raka pun langsung mengambilnya lalu memasangkannya.
Seandainya kau tak mengkhianatiku Mas, mungkin saat ini aku bahagia, karena bertemu denganmu. Namun kenyataannya, hatiku malah perih karena kamu bukanlah milikku lagi.
"Udah selesai, silahkan dicek." ucapnya dengan keringat yang bercucuran di dahinya.
"Makasih, saya pergi dulu." Ucapku singkat.
"Ada apa Mas?" tanyaku heran.
"Mas tahu kamu kecewa, tapi tolong dengarkan dulu penjelasan Mas."
"Tak ada yang perlu dijelaskan lagi Mas, semua sudah cukup. Kita tak ada hubungan apapun lagi, urusi saja istrimu."
Aku pun segera masuk ke dalam mobil, lalu pergi meninggalkannya yang masih berdiri di tepi jalan sambil memandangi mobilku.
Maafkan aku Mas, aku tak bisa lagi bersamamu. Kamu sudah menjadi milik Winda, walaupun aku tahu hati dan cintamu masih untukku. Aku harus kuat, aku harus melupakanmu.
***
Akhirnya akupun sampai dengan selamat, setelah melewati perjalanan lika-liku yang kulalui. Kulihat Bi Siti datang menyambutku, lalu membantuku membawakan koper dan oleh-oleh dari Ibu.
__ADS_1
"Alhamdulillah, Neng akhirnya pulang." Ucapnya tersenyum.
"Iya Bi, Bibi apa kabar?" tanyaku basa-basi.
"Bibi baik-baik saja Neng, hanya saja Bibi kesepian sendiri dirumah." Jawabnya, akupun hanya tersenyum mendengarnya.
Akupun bergegas masuk lalu duduk di sofa ruang tamu, ku buka oleh-oleh dari Ibu lalu meminta Bi Siti untuk menaruhnya di dapur. Kurebahkan tubuhku diatas sofa, sambil memainkan ponsel.
Namun tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dengan keras, seketika akupun terkejut. Tak lama kemudian Bi Siti membukanya, ku lihat ternyata Mbak Raisya.
"Heh wanita murahan, bisa-bisanya yah kamu liburan bareng suamiku?" Hardik Mbak Raisya yang langsung masuk menghampiriku.
"Maaf ya Mbak, saya tidak liburan bareng dengan Pak Dewa. Kami hanya tak sengaja bertemu disana, karena kebetulan rumahku disana." Ucapku menjelaskan.
"Alesan kamu yah, bisa-bisanya kamu merebut suamiku." Hardiknya kembali sambil menarik hijabku.
Bi Siti seketika membantuku untuk melepaskan cengkraman tangan Mbak Raisya.
"Mbak, tolong jangan seperti ini. Saya bisa laporkan perbuatan kasar Mbak." Ucapku mengancamnya.
"Aku nggak takut sama ancamanmu wanita ******,"
"Cukup..." Tiba-tiba Pak Dewa masuk.
"Keterlaluan kamu Raisya, saya kan sudah menjelaskan, saya tidak berlibur dengan Maria. Kita hanya tak sengaja bertemu," Ucap Pak Dewa kesal.
"Itu alasan kamu saja Mas untuk menutupi perselingkuhan kamu kan, kamu kira aku bodoh langsung percaya dengan bualan kaljan berdua." Ucap Raisya.
"Cukup Raisya, aku udah capek dengan sikap kamu yang seperti ini. Aku muak,,"
Aku dan Bi Siti hanya terdiam melihat pertengkaran mereka.
__ADS_1