Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
kehamilan Maria dan tertangkapnya Raisya


__ADS_3

***


Beberapa bulan kemudian.


Pagi itu tubuh Maria merasa tak enak, kepalanya pusing dan terasa  mual. 


Maria pun tak sanggup untuk memulai aktifitas nya pagi itu, Dewa yang melihat istrinya pucat pasi segera menanyakan keadaannya.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Dewa.


"Nggak tau nih, Mas. Perutku mual sekali, dan kepalaku pusing." Jawab Maria.


"Kita ke dokter yuk!" Ajak Dewa.


"Iya, Mas." 


Dewa pun segera memapah Maria, lalu membawanya ke rumah sakit dengan mengendarai mobil.


Sepanjang perjalanan, Maria hanya terkulai lemas, dan membuat Dewa semakin cemas.


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai. Dengan cepat, Dewa menggendong Maria, lalu dibawa masuk ke ruang IGD.


Dokter bergegas menangani Maria, dan beberapa menit kemudian dokter pun selesai.


"Istri saya kenapa, Dok?" Tanya Dewa cemas.


"Istri Bapak hamil. Menurut hasil pemeriksaan, umur kandungan Bu Maria sudah memasuki tiga minggu." Jelas Dokter.


"Alhamdulillah.." Ucap Dewa terharu, lalu memeluk istrinya.


Maria hanya tersenyum bahagia, namun hatinya sedih teringat kedua orangtuanya yang telah tiada. 


"Selamat ya, Pak Bu. Sebentar lagi kalian akan menjadi orangtua seutuhnya." Ucap Dokter sambil tersenyum.


"Iya, Dok. Terima Kasih." Ucap Maria.


Setelah itu mereka pun pulang dengan wajah bahagia.


Namun saat perjalanan pulang, Maria meneteskan air matanya.


"Kamu, kenapa?" Tanya Dewa.


"Nggak apa-apa, Mas. Aku hanya sedih, teringat ibu dan bapak." Jawab Maria tersendu.


Mendengar jawaban istrinya, Dewa pun menghentikan laju mobilnya.


"Kamu, mau ke makam?" Tanya Dewa, sambil menghapus air mata yg menetes di wajah cantik Maria.


"Iya, Mas." Jawab Maria.


"Yaudah, kita kesana ya." Ucap Dimas, lalu melajukan kendaraannya kembali.


***


Maria menangis saat sampai di kedua makan orang tuanya, Dewa pun  memeluk Maria sekedar untuk menguatkannya.


"Bu, Pak. Teteh sekarang sedang mengandung cucu kalian. Kalian pasti sangat senang, kan." Ucap Maria sambil mengelus ousara kedua orangtuanya.


Air Matanya pun tak henti-hentinya mengalir, menandakan betapa perihnya hati Maria mengingat kepergian kedua orang tuanya untuk selamanya.


"Mereka pasti senang, sayang. Kita doakan saja yah," ucap Dewa.

__ADS_1


Setelah itu mereka pun berdoa bersama dengan dipimpin Dewa.


Setelah selesai, mereka pun bergegas pulang.


***


"Mi.. Dewa punya kabar bahagia. Mami pasti suka," ucap Dewa saat sampai dirumah dan langsung menemui Bu Dewi yang sedang duduk santai di taman.


"Wah, kabar apa itu. Jadi penasaran Mami," ucap Bu Dewi dengan antusias.


Dewa dan Maria tersenyum, dan saling melirik.


"Kalian kenapa sih?" Tanya Bu Dewi.


"Maria hamil, Mi." Ucap Dewa sambil tersenyum bahagia.


Mendengar itu, Bu Dewi sangat terkejut bahagia. Dia pun langsung memeluk Maria, menantu kesayangannya itu.


"Alhamdulillah, selamat ya sayang." Ucap Bu Dewi.


"Iya, Mi. Terima Kasih." Ucap Naima.


"Duh anak Mami, sebentar lagi mau jadi seorang ayah." Ledek Bu Dewi.


"Iya, dong Mi." Ucao Dewa.


Mereka Pun, tertawa bahagia bersama. Dan setelah itu Bu Dewi pun langsung menghubungi suaminya untuk memberitahu kabar bahagia itu.


Sekitar jam satu malam, Maria tiba-tiba terbangun. Tenggorokan nya terasa kering karena haus, namun saat hendak minum, ternyata air minum yang disediakannya sudah habis.


Maria pun bergegas turun, berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Suasana yang sunyi, tak membuatnya takut sedikitpun.


Namun, saat hendak merebahkan tubuhnya, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari balik jendela kamar.


"Siapa yang jalan?" Tanyanya dalam hati.


Blek!!


Tiba-tiba listrik padam. Maria yang takut dengan kegelapan, langsung membangunkan suaminya yang sedang tertidur lelap.


"Mas, bangun. Aku takut," ucap Maria sambil menggoyangkan tubuh Dewa.


Namun, Dewa tidak mau bangun. Maria pun merasa tak tega jika harus memaksakannya vangun. 


Maria pun bergegas turun, meraba-raba meja mencari lilin. Namun nihil, dia tidak dapat menemukannya.


Ceklek!


Maria membuka pintu kamarnya, berjalan ke arah dapur untuk mencari lilin. Namun, baru beberapa langkah, ada seseorang memegang pundaknya.


"Awwww!!" Teriak Maria ketakutan.


"Siapa kamu?" Tanya Maria.


Namun, orang itu hanya diam. Maria tidak bisa melihat wajahnya, karena rumah itu gelap. Setelah itu, orang itu menarik tangan Maria keluar.


"Mas Dewa..!" Teriak Maria.


Dewa yang tertidur pulas, langsung bangun.


"Maria. Kamu dimana, sayang?" Panggil Dewa.

__ADS_1


Maria menangis ketakutan, membuat Dewa semakin cemas. Dewa bergegas berlari mencari keberadaan Maria.


Bugh!


Dewa memukul seseorang yang menarik Maria dengan siku tangannya.


"Aww!" 


Teriak seseorang, lalu terjatuh tak sadarkan diri.


"Mas Dewa!" Panggil Maria.


Dewa langsung menghampiri Maria lalu memeluknya. 


"Tunggu yah, Mas nyalakan listrik dulu." Ucap Dewa lalu berjalan ke arah saluran listrik.


Tak lama kemudian, listrik pun menyala kembali. Dewa langsung bergegas menghampiri Maria kembali.


"Ada apa ini?" Tanya Bu Dewi saat menghampiri mereka.


Matanya langsung tertuju pada seseorang yang mengenakan pakaian serba hitam yang tergeletak tak sadarkan diri.


"Siapa dia?" Tanya Bu Dewi penasaran.


"Entah, Mi. Tapi yang jelas, orang ini akan mencelakai Maria." Jelas Dewa.


Setelah itu, Dewa membuka kain penutup yang menutupi wajahnya.


"Raisya!" Ucap Dewa terkejut.


"Apa, Raisya?" Ucap Bu Dewi terkejut, karena ternyata yang akan mencelakai Maria adalah mantan menantunya.


Maria pun terkejut, dia tak menyangka jika Raisya senekat itu padanya.


Setelah itu, Raisya pun sadar. Dia duduk, sambil memegangi bahunya. Namun, dia berusaha kabur saat melihat penghuni rumah sedang menatap marah.


"Mau kemana kamu, Raisya?" Ucap Dewa sambil memegangi Raisya.


"Lepas. Saya mohon Dewa, lepaskan saya." Rengek Raisya.


Namun, Dewa tidak mengindahkan ucapan Raisya. Dewa malah menyuruh Bu Dewi menghubungi pihak kepolisian untuk menangkap Raisya.


"Mi, tolong hubungi polisi sekarang juga." Ucap Dewa.


"Iya," ucap Bu Dewi lalu menghubungi polisi.


Bu Dewi langsung berlari masuk untuk mengambil ponselnya, lalu menghubungi polisi.


"Mbak, kenapa Mbak setega ini? Apa salah saya?" Tanya Maria sambil.berderai air mata.


"Kamu masih nanya? Kamu pikir, dengan kamu merebut Dewa dari saya, saya akan diam saja, hah!" Jawab Raisya dengan marah.


"Tapi saya tidak pernah merebut Mas Dewa dari siapapun, kami menikah juga karena Mas Dewa sudah bercerai. Dan kami tidak mempunyai hubungan apapun, selama Mas Dewa menjadi suami Mbak." Jelas Maria berusaha menjelaskan sebenarnya.


"Udah, Sayang. Kamu tak perlu menjelaskan apapun pada wanita gila seperti Raisya yang tidak tau malu." Ucap sinis Bu Dewi.


"Benar semua yang dikatakan Mami, kamu jangan terpengaruh dengan omongan dia." Imbuh Dewa.


Maria hanya terdiam, lalu menghapus air matanya yang membasahi pipinya.


Tak lama kemudian, Polisi pun datang, lalu membawa Raisya pergi dari rumah Dewa.

__ADS_1


__ADS_2