Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Tak sadarkan diri


__ADS_3

***


"Matamu kenapa sembap begitu?" Tanya Pak Dewa, saat aku menghadapnya.


"Nggak papa Pak, mungkin hanya kurang istirahat." Jawabku berbohong.


"Kurang istirahat? Bukankan kemarin kamu libur. Saya sengaja memberimu libur, agar kamu bisa beristirahat." ucapnya.


Aku hanya terdiam, mendengar ucapan Pak Dewa. Ya, ucapan Pak Dewa benar. Tapi aku tak mungkin menceritakan padanya.


"Kalau ada masalah jangan dibawa ke kantor, kamu harus bisa profesional." Ucapnya kembali.


Sepertinya kata-kata itu menjadi slogan perusahaannya, sudah sering sekali Pak Dewa berkata seperti itu padaku dan para karyawan lain.


"Iya Pak maaf, saya permisi dulu ke tolilet," ucapku.


Akupun bergegas merapuhkan pakaianku dan memoles wajahku agar tak terlihat srmbap. Namun entah mengapa aku merasa sedih kembali, hatiku masih hancur menerima kenyataan ini.


Tak terasa, air mataku berlinang deras dipipi. Sesak rasanya dada ini, sakit sepeti teriris. Menerima kenyataan bahwa orang yang sangat kucintai sekarang sedang mendekam didalam penjara.


Tiba-tiba kepalaku pusing, kaki ku lemas, lalu Aku terduduk tak berdaya. Tubuhku terasa berat dan tiba-tiba pandanganku pun kabur lalu gelap seketika.


***


30 menit berlalu, namun Maria belum juga kembali ke mejanya. Dewa pun merasa cemas. Dewa tahu, Maria sedang ada masalah berat yang membebaninya, walaupun Dewa tak tau apa masalahnya. Namun sangat terlihat dengan jelas dari raut wajah Maria.


"Kemana Maria? kok belum kembali," gumamnya dalam hati.


15 menit berlalu Maria masih belum kembali, akhirnya Dewa pun memutuskan untuk mengecek toilet. Dewa mengetuk-ngetuk pintu toilet sambil memanggil-manggil Maria, namun tak ada jawaban sama sekali. Dewa pun menghubungi ponsel Maria, setelah itu Dewa mendengar suara getaran ponsel didalam toilet. Dewa semakin cemas, tanpa pikir panjang Dewa pun mendobrak pintu toiletnya.

__ADS_1


Brakkk... Brakkkk.... Pintu pun akhirnya terbuka. Maria tergeletak tak sadarkan diri.


"Maria bangun, Maria bangun," Dewa berusaha menyadarkan Maria, sambil menggerak-gerakkan wajah Maria. Namun Maria belum sadar juga.


Dewa pun dengan sigap menggendong Maria, membawanya kerumah sakit. Sontak saja, karyawan lain yang melihatnya terkejut, terlebih Sintiia orang yang dekat dengan Maria.


"Kenapa Maria pak?" tanyanya menghampiri Dewa.


"Udah, nggak usah banyak tanya, bukan saatnya untuk menjelaskan, saya harus membawanya ke rumah sakit." ucap Dewa sambil mendudukan Maria di mobilnya.


Dewapun melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, Dewa benar-benar sangat menghawatirkan Maria.


Dikantor para karyawan sedang sibuk membicarakan sikap Pak Dewa kepada Maria.


"Pak Dewa kenapa yah, tumben dia perhatian dengan bawahannya, biasanya walaupun sampai ada yang sakit atau sampai tak sadarkan diri Pak Dewa pasti menyuruh satpam/siapapun untuk mengantarkan pulang. Tapi ini, Pak Dewa rela menggendong dan membawanya sendiri." Ucap salah satu karyawan wanita.


"Iya juga yah, beruntung banget Maria bisa digendong bos besar yang ganteng itu." Salah satu karyawan menimpalinya.


***


"Sebenarnya kenapa sekretaris saya dok?" tanya Dewa menanyakan kondisi Maria pada dokter yang telah menanganinya.


"Sekretaris bapak kelelahan, mungkin dia semalaman tidak tidur, asam lambungnya naik. Sepertinya sekertaris bapak sedang banyak masalah sehingga membuatnya down seperti ini," ucap dokter.


"Tolong berikan perawatan yang terbaik dok?"


"Sekretaris bapak tak perlu dirawat, cukup istirahat yang cukup dirumah. Nanti akan saya berikan obat penenang, jika dalam dua hari belum membaik segera bawa kembali kesini."


"Baik dok terimakasih."

__ADS_1


Lima menit kemudian Maria akhirnya sadar, Maria berusaha membuka matanya sambil memegang kepalanya.


"Maria, kamu sudah sadar?" tanya Dewa.


"Pak Dewa, kenapa saya ada disini?" tanya Maria.


"Kamu tadi pinsan ditolilet," jawan Dewa.


"Oh ya ampun, maaf Pak." ucap Maria dengan rasa bersalah.


"Tak perlu minta maaf, saya mengerti,"


"Terimakasih Pak sudah menolong saya."


"Maria sebenarnya apa yang terjadi pada kamu, masalah apa yang sampai membuatmu begini? Jika kamu butuh pendengar untuk menceritakan masalahmu, saya siap menjadi pendengar yang baik. walaupun mungkin saya tidak bisa menyelesaikan masalahmu, namun setidaknya beban mu sedikit berkurang."


"Iya Pak, tapi tidak sepantasnya saya menceritakan pada Bapak. Bapak bos saya, rasanya terlalu lancang."


"Maria, kamu tak perlu sungkan. Anggap saja saya ini kakakmu, saya tahu kamu dikota ini sendiri kan?"


Maria pun kembali terisak, dia teringat orang tuanya.


"Ya sudah, kalau kamu belum siap untuk menceritakannya nggak papa. Tapi, kapanpun jika kamu butuh saya akan selalu siap."


Sontak Maria terkejut, kenapa bosnya kini berubah perhatian padanya.


"Kata dokter kamu boleh pulang, jadi sekarang saya akan mengantarkanmu pulang,"


"Tak perlu Pak, saya bisa meminta Pak Mansur menjemputku saja."

__ADS_1


"Pak mansur sedang mengantarkan anaknya berobat, tadi dia sudah meminta ijin ke saya."


Dewapun mengambil kursi roda untuk Maria, lalu membawa Maria keluar menuju mobilnya. Dewa pun melajukan kendaraannya lalu mengantarkan Maria pulang.


__ADS_2