Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Salon?


__ADS_3

***


"Teh bangun, udah subuh." suara Ibu membangunkanku.


Akupun langsung bergegas bangun.


"Hari ini masuk apa teh?" tanya ibu.


"Masuk pagi bu." jawabku sambil duduk.


"Ya udah sana mandi, siap-siap nanti ibu siapkan sarapan." ucapnya.


Aku pun langsung bergegas turun lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, lalu menunanaikan sholat subuh.


Hari ini hari pertamaku kerja di toko yang baru, aku pun bergegas bersiap-siap untuk bekerja.


Kulihat Ibu sibuk mempersiapkan sarapan untuk kami, terlihat pula bapak dan adikku sudah duduk meja makan. Akupun segera menghampirinya lalu duduk disebelah bapak.


"Oya bu, pak, mulai hari ini teteh kerja ditoko yang di area pasar." ucapku sambil mengambil nasi goreng buatan ibu.


"Bagus dong, lebih deket. Ibu ikut senang ya teh, semoga teteh betah ditempat yg baru." ucap ibu sambil tersenyum.


"Iya, bapak juga bersyukur jika kamu dapat toko yang tak jauh dari rumah, biar kami tak khawatir jika teteh pulang malam, bapak bahkan bisa antar jemput." ucap bapak.


"Iya pak, bu, Maria juga senang, semoga saja bisa betah ditempat baru." uacpku menimpali ucapan kedua orang yang berjasa dalam hidupku.


"Enak dong, ade bisa samperin teteh ke toko dan minta jajanan gratis." sahut adikku sambil tertawa.


"Mana bisa gratis, yang ada teteh tekor." ucapku.


Kami pun tertawa mendengar ucapan adikku yg sangat lugu itu. Setelah selesai sarapan akupun bergegas mengambil tas dan blajerku.


"Udah siap teh?" Tanya bapak menghampiriku.


"Udah Pak." jawabku.


"Ayo bapak antarkan," ucapnya.


"Nggak usah Pak, teteh bisa berangkat sendiri, lagian bapak kan mau kerja,nanti telat." ucapku.


"Nggak kok, masih keburu kalau cuma mengantar teteh ke toko."


"Ya udah kalau Bapak mau antar, lumayan irit ongkos, hehehehe." ucapku cengengesan.


Setelah itupun aku dan bapak berpamitan dengan ibu, kami pun bergegas keluar lalu menaiki motor tua milik bapak. Motor yg bapak beli sejak aku masih ingusan.


Yah, walaupun tua dan terlihat jelek Bapak sangat menyayangi motornya itu. Bapak bilang, kenangannya yang sangat berharga.


15 menit berlalu akhirnya kami pun sampai ditoko yg kami tuju, Bapak pun memberhentikan motornya, lalu akupun turun dan menyalami Bapak.


"Ya udah Pak, teteh masuk dulu yah. Terimakasih udah dianterin, Bapak hati-hati dijalan." ucapku.


"Iya teh, semoga kamu betah yah." ucapnya.


Bapakpun langsung balik arah menuju tempatnya bekerja, lalu aku pun langsung bergegas masuk ketoko yg masih belum terbuka sempurna. Kulihat ada dua orang wanita tengah sibuk mempersiapkan toko.


"Assalamualaikum," ucapku.


"Wa'alaikumsalam." mereka menolehku.


"Maaf mbak, saya Maria. Saya karyawan pindahan dari toko Pak Hendi," ucapku memperkenalkan diri sambil menjabat tangan mereke satu persatu.


"Oh, iya. Kemarin Pak Hendi sudah mengabari saya. Oya saya Titi, kepala toko disini dan ini Nana kasir ditoko ini juga." ucapnya dengan ramah

__ADS_1


Namun berbeda dengan yg bernama Nana, dia tampak jutek dan sepertinya tidak menyukaiku.


"Iya mbak, terimakasih sudah mau menerima saya disini." ucapku.


Diapun hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapanku.


"Ya sudah, saya permisi dulu." ucapku lalu bergegas kebelakang toko untuk menaruh tas ku.


Saat aku hendak mengambil alat kebersihan, aku tak sengaja menabrak seorang laki-laki.


"Maaf-maaf, aku nggak sengaja." ucapku.


"Iya gak papa, kamu kasir pindahan yah?" tanya laki-laki yang berdiri dihadapanku.


"Iya Mas, saya Maria." ucapku memperkenalkan diri.


"Oh, Saya Aldi, Pramuniaga disini." ucapnya.


" Ya sudah Mas, saya kedepan dulu." ucapku lalu pergi ke arah meja kasir.


Tiba-tiba mbak Nana menghampiriku, saat aku tengah membersihkan meja kasir.


"Heh, kamu jangan aneh-aneh yah disini, kamu itu junior disini." ucapnya mengancam.


"Maaf mbak, saya disini tak mungkin macam-macam, saya hanya bekerja." ucapku.


"Kalau kamu nggak macem-macem, ngapain kamu bisa dipindahin, pasti kamu bikin masalahkan ditoko lamamu kan?" Nana kembali menyolot.


"Maaf ya mbak, saya pindah kesini karena saya yang mau, karena toko lamaku sangat jauh dari rumahku." ucapku membela.


"Alesan..." Ketusnya, sambil pergi meninggalkanku.


Aku pun menghela nafas, karena sikap Nana merusak moodku pagi ini. Akupun tak menghiraukan ucapannya, dan bergegas melanjutkan pekerjaanku.


Tak terasa waktu dzuhur pun tiba, aku bergegas mengahampiri mbak Titi untuk meminta ijin.


"Mbak, saya ijin sholat dulu yah sekalian makan siang." ucapku.


"Iya, tapi jangan lama-lama ya, toko lagi ramai." ucapnya.


"Iya mbak."


Aku pun bergegas mengambil mukena, lalu keluar toko menuju mushola disebrang jalan.


Setelah sampai, aku pun bergehas menunaikan sholat dzuhur.


Lima belas menit berlalu akupun sudah selesai, kuputuskan untuk menuju warung makan. Setelah selesai makan akupun segera kembali, namun saat aku akan kembali ketoko, tiba-tiba pandanganku tertuju pada sebuah mobil disebelah tempatku berdiri.


Sepertinya ini mobil Raka, benar saja tak lama kemudian kulihat seorang laki-laki dan wanita keluar dari sebuah salon.Ternyata laki-laki itu Raka, dia tengah berjalan beriringan dengan seorang wanita yg sepertinya seumuran denganku.


Siapa perempuan itu, sepertinya sangat dekat sekali dengan Raka.


Aku pun langsung bersembunyi, aku takut Raka melihatku. Kuperhatikan mereka sampai memasuki mobilnya. Entah mengap tiba-tiba dadaku terasa sesak, apa iya aku cemburu?


Aku tak menyangka, baru saja kemarin dia mengatakan cinta padaku, sekarang kulihat dengan wanita lain.


Aku benar-benar kecewa dengan apa yang kulihat, karena secepat itu Raka berpaling dariku.


Setelah mereka pergi, akupun bergegas menyebrang menuju toko. Kusimpan mukenaku lalu kembali ke meja kasir.


Aku berusaha melupakan apa yg baru saja kulihat, namun tetap saja pikiranku masih penasaran dengan wanita yang bersama Raka tadi.


Drrrrttttt...

__ADS_1


Ponselku pun bergetar, kulihat ternyata Raka mengirimku pesan. Aku pun segera membaca pesannya.


"Hai bidadariku, sudah makan?" Isi pesan dari Raka.


Aku sebenarnya malas untuk membalasnya, tapi ini kesempatanku untuk bertanya perihal yang baru saja kulihat.


" Sudah mas, oya Mas lagi dimana?" pesanku.


" Mas dirumah, baru saja pulang dari salon." pesannya.


Ternyata benar tadi yg kulihat itu Raka, aku pun segera membalasnya.


"Salon? Mas ngapain kesalon??"


Kukirim pesan, pura-pura tidak tahu.


"Mas mengantar Fani."


"Fani itu siapa mas?"


"Kamu tumben kepo?"


Aku kesal, karena dia malah balik bertanya. Namun tak lama kemudian Raka kembali mengirimku pesan.


" Jangan cemburu, Fani itu adikku, kebetulan dia sedang libur kuliah, sengaja mas memanjakannya."


"Ihh siapa juga yg cemburu, ge-er banget sih. Aku cuma tanya aja."


" Masa gak cemburu...."


Akupun tersenyum membaca pesannya, lega rasanya ternyata Raka tak seperti yang kupikirkan.


"Hari ini masuk apa?" pesannya kembali.


"Masuk pagi." pesanku.


"Mas jemput yah, Mas otw nih ke tokomu,"


Ya ampun aku lupa belum memberitahu Raka, jika aku pindah toko.


"Eh Mas jangan otw sekarang, saya lupa kemarin mau kasih tau kalau saya sudah pindah toko didaerah pasar,"


" Daerah pasar dekat sini?" tanyanya.


"Iya mas."


" Yg tokonya sebrang salon kecantikan itu yah? Pantas saja tadi kamu bertanya Mas dimana. Jangan-jangan kamu lihat mas yah jalan sama Fani,"


"Ih apaan sih." aku mengelak.


"Ya sudah nanti 30 menit sebelum kamu pulang, Mas jemput yah,"


" Terserah."


"Ngambek,,, ya udah selamat bekerja I love U." pesannya sambil dibubuhi emoji love.


Yah, seperti itulah hubunganku dengan Raka, walaupun kami tak terikat sebuah hubungan apapun, namun Raka selalu bersikap selayaknya aku kekasihnya.


Aku tak membalas pesannya, tapi entah mengapa hatiku berbunga-bunga mendapat pesan dari Raka, tapi aku bersyukur setidaknya pikiranku pun tenang.


Tak lama kemudian waktu sudah mulai sore, waktunya aku pulang, kulihat area luar, ternyata Raka tengah duduk sambil memainkan ponselnya.


Akupun segera bergegas membereskan semua pekerjaanku.

__ADS_1


__ADS_2