Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Apa aku sanggup?


__ADS_3

***


"Maria, setelah sarapan saya langsung pamit pulang ya. Kasian mama hanya berdua dengan Bibi dirumah," ucap Fani saat dimeja makan.


"Iya, titip salam buat mama yah." ucapku.


"Iya."


***


"Pak, siang nanti saya ijin keluar ada urusan mendesak." Ucapku pada Pak Dewa.


"Jam berapa?" Pak Dewa bertanya.


"Jam 1 siang Pak." jawabku.


"Ok, tapi kamu jangan lupa jam 2 kita ada meeting," ucapnya sambil memeriksa file.


"Baik Pak, berkas untuk meeting juga sudah siap."


Aku sudah mendapatkan ijin dari Pak Dewa, namun apa aku siap bertemu Raka? Tapi jika aku tak menemuinya aku takut terjadi sesuatu dengan Raka.


Waktupun sudah menunjukkan jam 12 siang, waktunya aku beristirahat. Akupun segera menghubungi pak Mansur untuk mengantarkanku.


"Pak, kalau udah selesai makan siang dan sholat nanti antarkan saya ke POLRES ya pak," ucapku.


"Baik Neng." Ucap Pak Mansur.


Sekitar jam setengah satu siang, Pak Mansur mengantarkanku untuk menemui Raka.


***


Didalam jeruji besi Raka termenung, memikirkan nasibnya. Terlebih nasib cintanya dengan Maria, apa Maria masih mau menerimanya atau malah meninggalkannya.


Raka tak sanggup jika harus kehilangan Maria, dia teramat sangat mencintainya, walau kini sebenarnya dia sudah menjadi suami winda.

__ADS_1


***


Setelah sampai, aku bergegas masuk meminta ijin pada petugas untuk menemui Raka.


Seperti biasa aku pun di mohon untuk menunggu di ruangan khusus, yang dikhususkan untuk bertemu dengan tahanan.


Beberapa menit kemudian, kulihat Raka berjalan menghampiriku dengan di dampingi seorang petugas.


"Mas, apa kabar?" Ucapku.


"Kabar Mas baik, apalagi setelah melihatmu." Ucap Raka.


"Ini saya bawakan makanan untuk Mas." Ucapku sambil memberikan bungkusan makanan.


"Terimakasih sayang," ucapnya.


"Iya, sama-sama, makanlah." ucapku.


"Nanti saja, Mas akan makan didalam saja dengan teman-teman."


"Sayang, Mas minta maaf" Ucapnya sambil menggenggam tanganku.


Kuhelakan nafasku dalam-dalam sebelum menimpali ucapan Raka.


"Aku tak butuh maaf mu Mas, aku hanya butuh kamu menyesali semuanya dan kembali ke jalan yang benar." ucapku.


"Mas janji, setelah bebas nanti Mas tidak akan melakukan nya lagi." Ucapnya meyakinkan.


"Apa jaminannya Mas,"


"Mas tak punya jaminan apapun, tapi Mas minta, beri Mas kesempatan sekali lagi, Mas janji."


"Ok, tapi jika suatu saat nanti terulang lagi, jangan pernah berharap apapun lagi." Ucapku tegas.


"Mas janji sayang."

__ADS_1


"Ya sudah Mas, saya harus kembali ke kantor, saya hanya mendapatkan ijin satu jam saja." ucapku.


"Iya, terimakasih sudah mau menemui Mas. Do'akan Mas agar segera cepat bebas."


"Saya selalu mendo'akan yang terbaik untukmu Mas, jaga dirimu baik-baik."


"Hati-ati,"


"Iya, Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Aku pun segera bergegas pergi lalu kembali ke kantor.


***


Setelah sampai kantor, aku berjalan cepat karena takut terlambat.


"Maria, apa urusanmu sudah selesai?" tanya Pak Dewa. .


"Sudah Pak." jawabku.


"Kalau sudah, cepat siapkan berkas meeting siang ini, kita akan segera berangkat." ucapnya.


"Baik Pak, akan saya siapkan." ucapku.


Aku pun segera menyiapkan berkas yang dibutuhkan Pak Dewa.


"Maria, apa sudah siap?" tanyanya.


"Sudah Pak," jawabku.


"Tolong cek kembali, jangan sampai ada yang tertinggal."


"Baik Pak, saya sudah cek semua."

__ADS_1


Setelah selesai mengecek semuanya, aku pun berjalan mengikuti Pak Dewa, untuk menemaninya meeting dengan Client di sebuah Restoran seperti biasanya.


__ADS_2