
***
Satu hari kemudian waktunya aku masuk kerja kembali, dua hari sudah cukup untukku beristirahat dirumah.
Aku pun memulai aktifitas kerjaku seperti biasa, aku merasa tenang karena selain tak diberi jadwal satu shift dengan Romi, ternyata Pak Hendi memberiku jadwal kerja hanya pagi hari.
***
Satu minggu lebih aku tak berjumpa dengan Raka, kami hanya berkabar lewat ponsel saja, karena Raka sedang diluar kota.
Semakin hari hubungan kami semakin dekat, terlebih Raka selalu memberi perhatian.
Drrrtttt...
Suara ponsel ku berbunyi, kulihat ternyata Raka.
"Maria, kamu sekarang dimana?" ucapnya.
"Aku dirumah mas, kebetulan baru saja sampai." ucapku.
"Anak buahku sebentar lagi mengantarkan sesuatu untukmu dan keluarga, tolong diterima yah."
"Kirim apa mas?" tanyaku penasaran.
"Nanti juga tau, tunggu saja, paling 5 menit juga sampai." jawabnya.
"Iya mas."
Setelah itu tak lama kemudian terdengar seseorang mengetuk-ngetuk pintu.
Akupun langsung bergegas keluar, kulihat ada seorang laki-laki berdiri didepan rumah.
"Iya, cari siapa Mas?" tanyaku.
__ADS_1
"Oh, ini mbak saya mau mengantarkan titpan dari Pak Raka. Ini dengan Mbak Maria?" ucapnya balik bertanya.
"Iya Mas, saya Maria." jawabku
"Tolong diterima," ucapnya sambil memberikan bungkusan.
"Oh,, iya terimakasih." ucapku sambil menerima bungkusannya.
" Ya sudah, kalau begitu saya permisi." ucapnya.
Penasaran sudah pasti, aku tak sabar ingin mengetahui isi bungkusan yang dikirim Raka. Akupum langsung membukanya ternyata berisi pakaian, setelah ku ambil pakaiannya, kulihat sebuah amplop putih tergeletak di posisi paling bawah, aku pilun langasung membukanya. Betapa terkejutnya aku ternyata amplop itu berisi uang pecahan berwarna merah, ku hitung ternyata ada 50 lembar.
Aku langsung menelpon Raka, tak lama kemudian Raka menjawabnya.
"Halo mas Raka, ini apa mas kok ada uangnya segala?" tanyaku heran.
"Itu buat kamu." jawabnya.
"Tapi ini terlalu banyak mas," ucapku.
"Tapi Mas..." belum selesai aku bicara, Raka memotong pembicaraanku.
"Udah kamu terima saja, saya nggak suka jika kamu menolaknya."
Akupun terdiam, bingung harus bagaimana.
"Ya sudah terimakasih." ucapku.
Panggilan pun berakhir, aku masih bingung dengan sikap Raka. Belum sebulan kenal denganku tapi dia sudah banyak memberi segala macam.
Akupun langsung membereskan paket yang dikirim Raka, lalu menyimpan uang dilemariku.
Tak lama kemudian ibu datang.
__ADS_1
"Bu, ini ada titipan dari mas Raka." ucapku sambil memberikan pakaian.
"Wah bagus sekali bajunya, baik banget ya nak Raka. Sampaikan salam ibu padanya," ucap Ibu sambil tersenyum.
"Iya bu."
Akupun bergegas kembali kekamarku lalu merebahkan tubuhku.
Drrrrrtttt...
Suara ponselku berbunyi, ternyata Mbak Sinta mengirimku pesan.
" Maria, apa benar kamaren malam Romi berusaha melecehkanmu?" isi pesan dari Mbak Sinta.
Sebenarnya aku malas untuk membahasnya, tapi Mbak Sinta pun berhak tahu.
"Iya mbak." balas pesanku.
"Terus kamu nggak papa?"
"Nggak papa Mbak, untung ada Mas Raka datang menolongku tepat waktu."
"Nggak nyangka banget sama Romi, bisa berbuat senekat itu,"
"Iya mbak, sayapun tidak menyangka."
"Ya sudah kamu istirahat yah,"
"Iya Mbak."
Memang akupun tak pernah menyangka dengan sikap Mas Romi bisa senekat itu. Aku benar-benar syok dengan apa yg telah Romi lakukan, Rasanya ingin sekali melaporkan kepihak berwajib, tapi aku tak setega itu mengingat ibunya yg tengah sakit.
Tak bisa kubayangkan betapa syoknya jika ibunya mengetahui kelakuan Romi anaknya yg menjadi tulung punggung keluarganya.
__ADS_1
Aku berharap semoga setelah ini Romi sadar dan tak mengulanginya kepadaku dan orang lain.
Dan akupun berharap ibu ataupun bapak tidak tahu dengan apa yg terjadi kamarin malam, tak bisa kubayangkan, betapa terpukulnya mereka jika mengetahuinya.