Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Air mata bahagia


__ADS_3

***


4 tahun kemudian, akhirnya Maria berhasil menyelesaikan kuliahnya dengan hasil sangat memuaskan. Maria sangat bahagia, apalagi orang tua dan Raka tentu sangat bangga padanya.


Esok hari Maria akan diwisuda, Maria berharap keluarga dan Raka bisa menghadiri hari bersejarahnya.


***


"Selamat malam, Mas Raka..." Pesan ku kirim.


"Malam." Raka membalas pesanku.


"Mas, besok jangan lupa yah,"


"Lupa apa?"


"Ya ampun baru seminggu lalu udah lupa,"


"Iya, Mas ingat kok. Mas cuma iseng aja pengen ngerjain kamu, sekarang pasti alismu mengkerut dan mulutmu manyun." balasnya disertai emoji tertawa.


"Gak lucu."


"Iya maaf. Mas janji, besok akan datang dengan membawakan kejutan."


"Kejutan apa?"


"Rahasia dong.."


"Rahasia segala, nggak asik,"


"Kalau dikasih tahu sekarang bukan kejutan dong,"


"Terserahlah,"


Aku benar-benar penasaran, kejutan apa yang akan dia berikan besok? Isi kepalaku mulai menerka-nerka, membayangkan kejutan yang dijanjikan Raka. Alih-alih merasa tenang, kepalaku malah menjadi pening.


Tiba-tiba Raka menelponku, sekali dua kali tak ku angkat. Namun bukannya berhenti, dia malah terus-terusan menelponku.


"Apa sih, malem-malem nelponin terus. Saya mau tidur, ngantuk." ucapku berbohong.


Padahal, boro-boro bisa tidur, yang ada aku terus memikirkan kejutan yang akan dia berikan besok. Duh, rasanya nggak sabar nunggu malam cepat berlalu.


"Iya maaf, kalau Mas ganggu kamu. Mas hanya ingin memberitahumu kalau besok pagi Laras kesitu, Mas sudah menyewanya untukmu." ucapnya.


"Laras, siapa?" tanyaku.


"Laras itu, pemilik salon langganan Mama. Mas sengaja menyuruhnya besok untuk mendandanimu."


"Duh Mas, nggak usah lah. Sendiri juga bisa,"


" Dilarang menolak." jawaban yang tak bisa membuatku berkutik.


"Terserahlah." kata yg paling tepat untuk mengahadapi seorang Raka.


"Ok, selepas subuh dia kesitu,"


"hemmm."


Setelah panggilan berakhir, akupun segera bergegas merebahkan tubuhku untuk tidur.


Namun saat baru saja terpejam, tiba-tiba ponselku bergetar kembali, ternyata ibu menelponku. Aku pun segera duduk, lalu menerima panggilannya.

__ADS_1


"Halo bu, Assalamualaikum." ucapku.


"Wa'alaikumsalam, teteh udah tidur?" tanya Ibu.


"Belum bu," jawabku.


"Ini loh teh, barusan ada orang nganterin pakaian untuk ibu, bpk, dan adekmu. Tapi orang itu tak memberitahu siapa yg kirim, karena sebelum ibu nanya dia langsung pergi. Apa teteh yang kirim?


"Nggak kok bu."


"Apa mungkin nak Raka yg kirim?"


"Iya bu nanti teteh tanyain ke Raka."


"Ya sudah kalau begitu."


"Iya bu, Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsallam."


Setelah itupun aku segera menghubungi Raka kembali, benar saja perkiraan Ibu, ternyata Raka lah yang mengirim pakaian kerumah. Aky pun segera menghubungi Ibu kembali, untuk memberitahu jika Raka yang mengirimnya.


***


Hari yang ditunggupun tiba, aku pun terbangun lebih awal, kulihat jam dinding tepat pukul jam 4 dini hari. Kuputuskan untuk mandi lalu menunaikan kewajibanku sebagai seorang muslim. Setelah selesai akupun segera menyantap roti yg semalam kubeli untuk sarapan pagi ini.


Tepat pukul 6 pagi, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku. Kubuka ternyata seorang wanita tengah berdiri dengan membawa sebuah tentengan.


"Maaf mbak, saya Laras. Pak Raka yang sudah mengutusku kesini," ucapnya menjelaskan.


"Oh iya, silahkan masuk. Maaf ya mbak tempat nya seadanya," ucapku.


Mbak Laraspun mulai mempersiapkan pakaian dan kosmetik yg akan kukenakan.


"Mbak ini pakaiannya, mbak pakai dulu yah." ucapnya sambil memeberikan.


Aku pun segera memakainya, setelah selesai Mbak Laras pun mulai mendandaniku.


"Mbak Maria itu beruntung bisa kenal dengan Pak Raka, beliau itu laki-laki baik. Mbak beruntung bisa dicintainya, banyak wanita yang mengharapkan cintanya, namun tak ada satupun yang beliau lirik. Beliau secara terang-terangan menolak dan bilang kalau beliau sudah mempunyai calon istri." ucapnya bercerita.


"Calon istri??" tanyaku.


"Yah, dan Pak Raka bilang calon istrinya bernama Maria, itu nama Mbak kan?"


Pede banget Raka bisa berkata seperti itu, padahal aku belum menerima cintanya. Namun entah mengapa hatiku berbunga-bunga mendengar ucapan Mbak Laras, apakah benar dengan semua yang Mbak Laras katakan tentang Raka.


Satu jam berlalu akhirnya selesai juga, kupandangi cermin yang memantulkan wajahku. Aku terkagum dengan hasil riasan Mbak Laras, aku terlihat sangat cantik. Bahkanaku tak percaya jika wajah yang kulihat di cermin itu wajahku sendiri. Mbak Laras hanya tersenyum melihat ekspresiku saat bercermin.


"Nggak salah memang pilihan Pak Raka. Mbak sangat cantik dan baik, semoga kalian bisa berjodoh," ucapnya, sambil membereskan peralatan make-up.


"Terlalu berlebihan Mbak Laras ini, saya tidak seistimewa itu Mbak. Saya hanya gadis desa yang terlahir dari keluarga sederhana," ucapku.


"Itulah istimewanya, Mbak Maria selalu rendah hati." ucapnya.


"Bisa aja Mbak Laras ini,"


"Ya sudah mbak Maria, saya pamit yah,"


"Iya mbak, terimakasih sudah mau repot datang kesini,"


"Iya, sama-sama."

__ADS_1


Mbak Laraspun melangkahkan kakinya pergi, setelah itupun aku segera bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.


Namun ketika aku sampai diluar gerbang kos, kulihat sebuah mobil terpakir didepanku. Setelah kulihat ternyata Raka, yang membuatku terheran ternyata didalam mobilnya sudah ada ibu, bapak & adikku.


"Teh, ayo masuk," panggil adikku.


"Tapi, teteh udah pesen taksi online?"


Tak lama kemudian taksi pesananku pun sampai, namun Raka segera turun lalu mengahimpiri sopir taksi itu, kulihat dia memberikan uang berwarna merah 3 lembar. Setelah taksi itu pergi, Mas Raka jalan menghampiriku.


"Loh kok taksinya pergi?" tanyaku.


"Udah Mas cancel, yuk masuk." jawabnya santai.


Akupun segera masuk lalu duduk dikursi belakang bersama ibu & adikku.


"Teteh cantik banget, kaya bidadari," puji adikku satu-satunya, yang kini sudah remaja.


"Duh adekku ini udah bisa gombal," ucapku sambil memeluknya.


"Emang teteh cantik kok, apalagi sekarang sangat-sangat cantik." pujinya kembali membuatku bahagia.


Ibu, bapak & Raka hanya tersenyum mendengar obrolan kami. Tak lama kemudian kamipun sampai, kamipun segera memasuki aula yg sudah disediakan.


"Kenapa, senyum-senyum?" Tanyaku basa-basi saat duduk bersebelahan dengan Raka.


"Nggak papa, seneng aja liat kamu. Kamu sangat cantik sekali," Gombalnya.


"Gombal." ucapku.


Diapun hanya tersenyum melihat ekspresiku.


"Mas tunggu jawabanmu," ucapnya berbisik ditelingaku.


Yah, Raka menagih janjiku dua hari yang lalu, bahwa aku akan menjawab cintanya empat tahun lalu.


"Ok, saya akan menjawabnya nanti setelah selesai wisuda," ucapku saat itu saat tengah berbincang dengannya.


Aku tak sengaja mengatakan itu, karena saat itu Raka menantangku.


Tak lama kemudian acara pun dimulai, satu persatu mahasiswa dan mahasiswi dipanggil, begitupun denganku. Aku sangat bahagia bisa menjadi sarjana, kulihat ibu menangis terharu menyaksikanku, terlebih saat namaku disebut sebagai mahasiswi terbaik di kampusku.


Ibu semakin menangis tersendu, begitupun dengan Bapak. Saat aku turun, akupun segera memeluk Ibu dan Bapak, tak terasa air mataku pun ikut menetes dipipiku.


"Selamat sayang, akhirnya cita-citamu tercapai," ucap ibu terisak.


"Iya bu, ini semua berkat do'a ibu."


"Bapak sangat bangga padamu nak," ucap bapak menimpaliku. Adikku tiba-tiba memelukku erat sambil berurai air mata, baru kali ini ku lihat adikku menangis terharu.


"Ade sayang teteh, ade bangga punya kakak seperti teteh. Ade janji, ade akan menjadi seperti teteh," ucapnya.


Akupun semakin terharu mendengar ucapan adikku.


"Selamat yah," Raka mengulurkan tangannya.


"Makasih Mas, semua ini berkatmu. Terimakasih sudah mewujudkan mimpiku," ucapku lirih, tak terasa air mataku berlinang kembali.


"Semua sudah takdirmu, Maria. Aku hanya perantara," ucapnya sambil mengusap bahuku.


Tak kusia-siakan momen bahagia ini, akupun segera melakukan foto bersama dengan orang-orang yang berjasa dihidupku.

__ADS_1


__ADS_2