
Setelah tujuh hari kepergian kedua orangtuanya, Adi bersiap untuk kembali ke Bandung untuk melanjutkan kuliahnya.
Pagi itu, Adi berpamitan kepada kakak dan seluruh penghuni rumah.
"Teh, adek pergi dulu yah." Ucap Adi saat berada didepan rumah Dewa.
"Iya, dek. Kamu hati-hati yah, kabarin teteh terus." Ucap Maria.
Maria lalu memeluk Adi, air matanya pun tak terasa mengalir di pipinya.
"Teteh jangan menangis, adek janji. Adek akan baik-baik saja,"
Adi berusaha menyakinkan dan menenangkan kakaknya yang begitu berat melepas kepergiannya.
Setelah itu, Adi pun mencium tangan Maria, Dewa, dan Bu Dewi sebagai bentuk hormatnya.
Setelah selesai berpamitan, Adi pun bergegas masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya sejak tadi.
Beberapa saat kemudian, Adi sudah tak terlihat dari pandangan. Maria dan yang lain pun kembali masuk.
"Sayang, kita jalan-jalan yuk!" Ajak Dewa.
"Kemana?" Tanya Maria.
"Kemana aja. Kalau nggak, kita ke Mall saja, kamu bisa shoping atau makan." Jawab Dewa.
"Iya, deh Mas."
Dewa sengaja mengajak Maria keluar, agar Maria tak larut dalam kesedihan.
Setelah itu, Maria dan Dewa pun keluar kembali menuju garasi mobil.
Namun, sebelum berangkat mereka berpamitan dulu kepada Bu Dewi.
"Mi, kami pergi dulu yah." Ucap Dewa saat menghampiri Ibunya yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Mau kemana?" Tanya Bu Dewi.
"Mau jalan-jalan aja, Mi. Biar nggak suntuk," jawab Dewa.
__ADS_1
"Ya sudah kalian hati-hati dijalan," ucap Bu Dewi.
"Iya, Mi." Ucap Dewa.
Setelah masuk kedalam mobil, Dewa oun melajukan kendaraannya.
Saat perjalanan, Maria tiba-tiba melihat Winda tengah kesakitan ditepi jalan bersama Bu Fitri yang berdiri memeganginya.
"Mas, berhenti." Ucap Maria sambil menepuk tangan suaminya.
Dewa pun langsung menghentikan laju mobilnya.
"Ada apa, sayang?" Tanya Dewa cemas.
"Kamu lihat deh, wanita ditepi jalan itu. Seperti nya itu Winda sama Bu Fitri." Ucap Maria sambil tangannya menunjukkan keberadaan Winda dan Bu Fitri.
"Sepertinya sih, iya. Tapi kenapa mereka berdiri disitu?" Tany Dewa heran.
"Kita samperin aja, Mas. Sepertinya mereka butuh pertolongan,"
"Kamu baik banget sih, sayang. Mas beruntung banget punya istri seperti kamu."
Dewa pun melajukan mobilnya ke arah Winda dan Bu Fitri. Setelah sampai, mereka turun menemuinya.
"Ma, Winda kenapa?" Tanya Maria.
"Sepertinya Winda mau melahirkan, tapi dari tadi Mama cari taxi nggak dapet-dapet." Jawab Bu Fitri dengan nada cemas.
"Ya sudah, Bu. Bawa Winda masuk kedalam mobil saya. Saya akan mengantarkannya ke rumah sakit," ucap Dewa.
Setelah itu, Maria membantu Winda masuk ke dalam mobilnya. Dewa pun dengan cepat melajukan mobilnya.
Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di sebuah rumah sakit. Winda pun dibawa langsung ke ruang persalinan, namun sepertinya Winda kelelahan sehingga dia tak mampu melahirkan secara normal.
Winda pun terpaksa melahirkan anaknya dengan cara operasi sesar. Bu Fitri yang cemas dengan keadaan menantunya, tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan menantu dan cucunya.
Beberapa jam kemudian, Winda pun selesai melakukan operasi. Winda pun dibawa ke ruang perawatan, dengan wajah bahagia, Bu Fitri bergegas menemui cucu dan menantunya.
"Alhamdulillah." Ucap Bu Fitri saat melihat kondisi Winda dan sang cucu sehat.
__ADS_1
Winda pun tersenyum bahagia.
"Selamat ya, Win." Ucap Maria.
"Iya, terimakasih yah berkat bantuan kalian, kami selamat." Ucap Winda.
"Semua sudah takdir Allah, kami hanya perantara saja." Ucap Maria.
Dewa dan Maria pun ikut bahagia atas persalinan Winda, walaupun Raka sudah seringkali menyakitinya.
"Nak Dewa, nak Maria, Mama berterima kasih sekali pada kalian karena sudah menolong kami. Dan Mama minta maaf atas semua yang telah dilakukan Raka, jujur Mama sangat malu." Ucap Bu Fitri sambil terisak.
"Ma, nggak apa-apa. Kami ikhlas, kok. Semua sudah kehendak Allah," ucap Maria lalu memeluk mantan calon Ibu mertuanya itu.
"Iya, Bu. Semua yang dikatakan Maria benar, kami sudah memaafkan semua kesalahan Raka. Dan kami berharap, semoga Raka berubah kearah yang lebih baik." Imbuh Dewa.
Bu Fitri pun bisa tersenyum lega mendengar ucapan Dewa dan Maria. Dia sangat bersyukur, bisa bertemu manusia sebaik Dewa dan Maria.
"Kita pamit ya Ma. Untuk biaya operasi dan perawatan, Mama nggak perlu khawatir. Karena Mas Dewa, suamiku, sudah melunasinya." Ucap Maria sambil tersenyum.
"Jadi kalian sudah menikah?" Tanya Bu Fitri.
"Udah, Ma. Alhamdulillah." Jawab Maria sambil tersenyum bahagia.
"Selamat ya, semoga segera diberi momongan dan bahagia selamanya." Ucap Bu Fitri.
"Aamiin, terimakasih Ma."
"Sekali lagi, terimakasih ya." Ucap Bu Fitri.
Maria dan Dewa pun hanya tersenyum, lalu bergegas pergi keluar.
"Habis ini kita mau kemana?" Tanya Dewa.
"Pulang aja deh, Mas. Udah sore juga," jawab Maria.
"Kita makan dulu aja, yuk!" Ajak Dewa.
"Boleh."
__ADS_1
Dewa pun melajukan mobilnya menuju restoran. Setelah sampai mereka pun bergegas masuk, dan memesan menu yang diinginkannya.