Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Dewa bingung!


__ADS_3

***


Pagi hari, Dewa mendapatkan kabar dari anak buahnya, bahwa Raka berhasil kabur saat akan ditangkap oleh pihak kepolisian. Kabar itu membuatnya cemas, Dewa takut, Raka berbuat nekat lagi kepada Maria.


"Maria, ada yang ingin saya sampaikan." Ucap Dewa saat menghampiri Maria yang sedang membantu mempersiapkan sarapan.


"Bicara apa Pak?" Tanya Maria penasaran.


"Raka berhasil kabur!"


"Apa?" Maria terkejut.


"Raka berhasil kabur saat penangkapan, kita harus hati-hati. Terlebih kamu, dia pasti akan mengincarmu kembali."


"Saya harus gimana Pak, jujur saja saya sangat takut Raka berbuat nekat lagi."


Dewa terdiam sejenak sambil berfikir caranya.


"Apa kita beritahu keluarganya saja, siapa tahu mereka bisa bantu." ucap Dewa.


"Iya Pak, saya akan menemuinya."ucap Maria.


"Saya antar."


"Mau diantar kemana pagi-pagi begini?" Tanya Bu Dewi yang tiba-tiba menghampiri.


"Mau antar Maria kerumah keluarganya Raka, Mi." Jawab Dewa.


"Mau ngapain?"


"Mau meminta tolong, agar Raka tidak mengganggu Maria lagi."


"Bukannya Raka sudah tertangkap?"


"Belum Mi, Raka kemaren berhasil kabur." jawab Dewa.


"Astaga! Licin sekali yah Raka itu." ucap Bu Dewi sambil menggelengkan kepalanya.


"Do'akan saja Mi, mudah-mudahan Raka segera tertangkap."


"Aamiin. Ya sudah kita sarapan dulu,"


Setelah selsai sarapan, Dewa dan Maria berpamitan untuk kerumah Raka.


Sekitar tiga puluh menit, merekapun sampai didepan rumah Raka.


Tok, tok, tok! Maria mengetuk pintu.


"Assalamualaikum," sapa Maria saat Bu Eli membukakan pintu.


"Wa'alaikumsalam. Eh Maria, tumben kesini?." jawab Bu Eli.


"Iya Ma, Maria ada perlu sama Mama dan Winda."

__ADS_1


"Ini siapa?" Tanya Bu Eli saat melihat Dewa.


"Oh iya. Kenalin Ma, ini Pak Dewa. Bos Maria dikantor."


Dewa hanya tersenyum, lalu menyalami Bu Eli.


"Silahkan masuk," ajaknya.


Dewa dan Maria pun masuk, lalu duduk di sofa yang sudah tersedia.


"Mama panggil Winda dulu yah,"


"Iya Ma."


Bu Eli pun pergi untuk memanggil Winda, menantunya.


"Hai Win, apa kabar?" Sapa Maria saat Winda menghampirinya.


"Baik." Jawab Winda ketus.


"Maaf ya Win, jika kedatangan kami mengganggumu. Kamu kesini karena ingin membahas soal Raka,"


"Kenapa lagi dengan Raka?" Tanya Bu Eli.


"Kemarin Raka menyekap Maria, beserta kedua orangtuanya dan Bi Siti." ucap Dewa.


"Apa?" Winda terkejut.


Winda menangis medengar penjelasan Maria dan Dewa.


"Maria mohon bantuan Mama dan Winda, demi kebaikan kita semua." ucap Maria.


"Tapi Mama bingung harus seperti apa, Raka itu sangat keras kepala. Mama pusing dengan sikapnya seperti itu," ucap Bu Eli.


"Kira-kira tante tahu nggak, dimana Raka sekarang bersembunyi?" Tanya Dewa.


"Tante nggak tau," jawab Bu Eli terisak.


"Kenapa kamu tidak lenyap saja Maria," ucap Winda.


"Hey, jaga ucapanmu itu nyonya!" Ucap Dewa kesal.


"Winda, kami kesini baik-baik. Kami ingin kita menyelesaikan masalah ini sama-sama," ucap Maria.


"Masalah ini tidak akan selesai, jika kamu masih hidup Maria." Ucap Winda dengan nada marah.


"Winda, jaga ucapanmu." Ucap Bu Eli.


Namun seketika Winda pergi ke arah dapur, dan kembali dengan membawa pisau. Lalu berusaha menyerang Maria, dengan cepat Dewa menahan tangan Winda.


"Cepat keluar Maria, masuk kedalam mobil." Ucap Dewa.


Dengan rasa takut, Maria langsung berlari keluar lalu masuk kedalam mobil Dewa.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Dewa berhasil melepaskan pisau dari tangan Winda. Lalu bergegas keluar masuk kedalam mobilnya.


"Pak Dewa nggak apa-apa?" Tanya Maria.


"Saya baik-baik saja, kita harus secepatnya pergi dari sini. Sepertinya mereka tidak bisa diajak kerjasama." Jawab Dewa.


"Iya Pak,"


Dewa pun segera melajukan mobilnya.


"Kita harus bagaimana Pak?" Tanya Maria saat perjalanan.


"Entah lah, nanti kita pikirkan lagi." Jawab Dewa.


Beberpa menit kemudian, mereka pun sampai.


"Bagaimana Teh?" Tanya Ibu saat Maria sudah berada didalam rumah Dewa.


"Mereka tidak bisa diajak kerjasama Bu, bahkan Winda tadi menyerang Maria." Jawab Maria.


"Ya Allah, terus Teteh nggak apa-apa?"


"Alhamdulilah, Teteh baik-baik aja."


"Kenapa kalian tidak menikah saja," ucap Bu Dewi.


Maria dan Dewa hanya saling pandang mendengar saran dari Bu Dewi.


"Iya, betul kata Bu Dewi. Kenapa kalian tidak menikah saja, siapa tahu dengan kalian menikah, Raka tidak akan berani mendekati Teteh lagi." Ucap Ibunya Maria.


"Ibu!" Ucap Maria.


"Mami setuju, sepertinya kalian saling cinta hanya saja kalian tidak menyadarinya." Ucap Bu Dewi.


"Tapi Mi, menikah itu bukan hal mudah. Belum tentu Maria mau dengan ku," ucap Dewa.


"Kenapa nggak kamu tanyakan dulu kepada Maria."


Maria tertunduk diam, malu karena harus menjawab apa.


"Maaf, saya pamit ke kamar dulu." Ucap Maria lalu pergi.


"Tuh kan Mi, Maria sepertinya nggak mau dengan Dewa." Ucap Dewa.


"Kalau Pak Dewa sayang dan cinta sama Maria, Bapak dukung. Bapak yakin, kalian saling mencinta. Hanya saja, wanita itu butuh bukti dan ungkapan." Ucap Bapaknya Maria.


"Iya, Ibu juga setuju. Lagian Maria sudah cukup dewasa, sudah sepatutnya Maria mempunyai pendamping." Ucap Ibunya Maria.


"Sekarang, kamu harus berusaha mendekati Maria, agar Maria yakin kepadamu." Ucap Bu Dewi.


Dewa hanya terdiam, mendengar saran dari mereka. Dewa bingung dengan perasaannya.


"Apa benar, saya mencintai Maria?" gumamnya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2