
***
"Udah siap Bu?" Ucapku pada Ibu yang tengah sibuk menyiapkan bekal untuk di bawa ke pantai.
"Udah," ucap Ibu.
"Ibu ngapain nyiapin bekal segala, kita kan bisa beli disana Bu."
"Nggak papa, kan kalau bawa sendiri lebih hemat. Dipantai itu makanannya mahal-mahal,"
"Ya ampun Bu, sekarang kan teteh udah kerja, teteh bisa belikan apapun untuk Ibu."
"Sayang, walaupun sekarang hidup kita berkecukupan, jangan sampai kita merubah gaya hidup kita. Kita harus tetap sederhana, kalaupun Allah kasih kita rezeki lebih, lebih baik kita berikan kepada anak yatim dan orang-orang yang membutuhkan. Itu baru hebat,"
"Iya Bu."
Ibu memang selalu seperti itu, walaupun kini kami hidup serba berkecukupan. Ibu selalu mengingatkanku untuk selalu rendah hati dan tak menghambur-hamburkan uang.
Kami pun berangkat ke sebuah pantai yang tak begitu jauh dari kediaman kami, sesampainya disana kami langsung mencari tempat yang teduh.
Akupun menikmati suasana yang begitu menenangkan, deburan ombak silih berganti menambah keindahan yang memanjakan mata.
"Maria, kamu Maria kan," ucap seorang lelaki menghampiriku.
"Pak Dewa!" Ucapku terkejut. "Bapak kok disini?" Tanyaku heran, lalu berdiri mengahadapnya.
"Iya, kebetulan saya sedang berlibur disini." Jawabnya.
"Jadi Bapak cuti juga?"
"Kalau saya nggak cuti, kamu juga nggak mungkin bisa cuti. Kamu pikir, saya mau kerja sendiri?"
Awalnya aku senang bisa bertemu Pak Dewa disini, setelah mendengar ucapannya aku jadi kesal.
"Nggak usah manyun, saya mengambil cuti karena memang ingin istirahat. Kan nggak enak juga, kalau harus menghabiskan sisa umurku dengan bekerja terus." Ucapnya.
"Oya, Bapak disini dengan siapa?" tanyaku.
"Sendiri aja," jawabnya.
__ADS_1
"Mbak Raisya nggak ikut?"
"Kamu ini, seperti wartawan saja. Kalau sendiri ya sendiri, lagian buat apa bawa Raisya bisa mumet otak saya."
Pak Dewa memang tidak pernah mencintai Mbak Raisya, pernikahannya terjadi atas paksaan orang tua Pak Dewa. Entah, mengapa orang tua Pak Dewa memaksanya menikah dengan Mbak Raisya.
"Kamu nggak mau nawarin saya duduk atau apa kek," ucapnya.
"Oh iya Pak, maaf saya lupa. Silahkan duduk Pak," ucapku.
Kami pun duduk bersama diatas selembar tikar, lalu berbincang biasa. Sikap Pak Dewa kali ini tidak seperti biasanya saat dikantor yang kaku, dingin dan kadang nyebelin. Disini Pak Dewa sikapnya sangat hangat, humoris dan menyenangkan. Tak jarang selama berbincang kami sesekali tertawa bersama, menikmati kebersamaan disuasana yang berbeda.
"Teh, ini siapa?" tanya ibu, saat ibu menghampiri kami.
"Eh, Ibu. Kenalin Bu, ini Pak Dewa, bos Teteh di kantor." Ucapku.
"Saya Dewa," ucap Dewa pada Ibu.
"Saya Ibunya Maria, dan ini Bapaknya." Ucap Ibu.
Pak Dewa lalu menyalami kedua orangtuaku dengan sopan dan ramah.
"Iya Pak, kebetulan saya pun sedang cuti. Oya Pak, panggil saya Dewa saja, biar enak ngobrolnya."
"Oh Iya, maaf. Habisnya Bapak nggak enak, Nak Dewa kan bosnya Maria."
"Itu kan di kantor Pak, sekarang kita diluar. Jadi sama saja,"
Saat aku sedang menyiapkan makan siang, kulihat Bapak dan Pak Dewa tengah asik berbincang bersama. Pak Dewa benar-benar sangat berbeda, aku masih terheran melihatnya, apa itu benar-benar Pak Dewa? aku masih tak percaya.
"Pak Dewa, mari kita makan siang dulu." Ucap Ibu, saat menghidangkan bekal makanan yang dibuatnya.
"Nggak usah repot-repot Bu, nanti saya bisa makan di hotel." Ucap Dewa.
"Nggak repot Nak Dewa, Ibu malah senang jika Nak Dewa mau makan dengan kami."
"Ini beneran nggak papa Bu?" tanya Dewa.
"Ya nggak papa, tapi maaf menu makanannya sederhana. Maklum masakan kampung,"
__ADS_1
Kami pun mulai mengambil makanan yang telah dihidangkan, Ibu memasak sayur asem, ikan goreng, ikan asin, sambal berikut lauk lainnya.
"Ini enak Bu, saya suka." Ucap Raka saat makan.
"Syukurlah kalau Nak Dewa suka, Ibu senang. Silahkan ambil lagi jika kurang," ucap Ibu.
Pak Dewa makan dengan lahapnya, sepertinya dia benar-benar sangat menyukai masakan Ibu, sampai menambah tiga kali.
Kami bertigapun hanya bengong meihatnya, cara makannya pun seperti orang kelaparan.
Apa mungkin dia kelaparan? Ah tidak mungkin.
"Maaf ya Bu, Pak, makanannya saya habiskan. Masakan Ibu benar-benar sangat enak, apalagi sambalnya. Kalau Ibu buka restoran disini, pasti laris manis." Ucap Raka.
"Duh Nak Dewa ini terlalu berlebihan, Ibu biasa saja hanya bisa masakan kampung seperti itu." Ucap Ibu.
"Beneran Bu, ini enak banget. Walau sederhana tapi nikmat."
"Wah, Nak Dewa ini bisa saja."
"Oya Maria, kamu bisa nggak masak seperti masakan Ibu ini?" Tanya Raka.
Ngapain coba nanya-nanya bisa nggak, jangan sampe aku disuruh masak pula untuknya. Berkerja dengannya saja sudah pusing, apalagi sampai harus masak.
"Ngg..." baru saja mau menjawab, tiba-tiba ibu memotong ucapanku.
"Tentu bisa Nak Dewa, masakan Maria juga sangat enak. Karena sejak kecil Ibu sudah mengajarinya," ucap Ibu.
Ya ampun Ibu, kenapa juga harus berterus terang. Bisa-bisa kerjaanku bertambah, bagaimana jika Pak Dewa memintaku untuk memasak juga, bisa-bisa mati berdiri.
"Nggak kok Pak, masakanku nggak se-enak masakan Ibu. Apalagi sekarang saya sudah tidak pernah masak lagi," ucapku mengelak, sambil mengedipkan mata untuk memberi isyarat pada Ibu.
"Matamu kenapa teh?" tanya ibu.
"Nggak papa bu, kelilipan sepertinya." Jawabku berbohong.
"Kamu nggak usah kasih kode segala pada Ibumu, saya udah hafal dengan sifatmu." Ucap Dewa sambil tersenyum.
Aku malu, gara-gara Ibu aku ketahuan bohong. Duh Ibu-Ibu, aku jadi pusing Bu. Apa Pak Dewa akan memecatku setelah kambali kerja nanti?
__ADS_1
Waktu sudah semakin sore, Pak Dewa kembali ke hotelnya, lalu kamipun memutuskan untuk pulang.