
"Cepat masuk," ucapnya tergesa saat sampai diparkiran mobil.
Aku pun langsung masuk kedalam mobilnya, lalu Pak Dewa melajukan kendaraannya dengan cepat.
Beberapa menit kemudian, kami pun sampai di hotel tempat ku menginap sementara. Kuhelakan nafasku dengan tenang, karena sedari tadi sepertinya nafasku tertahan karena cemas.
"Terimakasih Pak," ucapku setelah Pak Dewa menghentikan mobilnya.
"Untuk apa?" Tanyanya.
"Untuk semuanya, karena berkat bantuan Bapak akhirnya saya bisa bebas dari Raka." Jawabku sambil tersenyum.
"Iya sama-sama."
"Ya udah Pak, saya turun. Bapak hati-hati dijalan,"
Pak Dewa hanya mengangguk, lalu melajukan kembali mobilnya setelah aku turun. Akupun langsung bergegas masuk ke dalam kamar, dan kulihat Bi Siti sudah tertidur pulas.
Kubaringkan tubuhku diatas ranjang, sambil mengatur nafasku yang kelelahan. Saking lelahnya, akhirnya akupun tertidur tanpa mengganti pakaianku.
***
"Neng bangun udah subuh," ucap Bibi membangunkanku.
Akupun membuka mataku perlahan, lalu duduk bersandar diranjang. Badanku terasa hangat dan kepalaku sedikit pusing, sepertinya aku butuh istirahat untuk memulihkan tenagaku.
"Neng nggak papa?" Tanya Bi Siti sambil menyentuh dahiku.
"Nggak papa Bi, uhukk!" Jawabku.
"Neng seprtinya sakit, Bibi antar berobat yah?"
"Nggak usah Bi, dibawa istirahat juga sembuh."
"Ya sudah kalau Neng maunya begitu. Tapi Neng jangan kerja dulu yah,"
"Nggak papa Bi, saya masih kuat kok."
"Bener Neng kuat?"
"Iya Bi. Oya Bibi buat sarapan apa?"
"Bibi belum masak Neng, Bibi kesiangan. Maaf ya Neng,"
"Iya nggak papa. Ya sudah tolong beliin bubur aja ya sekalian buat Bibi juga." Ucapku sambil memberikan uang kepada Bi Siti.
__ADS_1
"Iya Neng. Ya sudah Bibi pergi dulu ya Neng."
Aku hanya mengangguk menjawab ucapan Bi Siti. Setelah Bi Siti keluar, akupun langsung turun dari ranjangku dan berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tapi saat beberapa langkah badanku terasa sangat berat disertai kepalaku yang semakin pusing. Entah lah, aku benar-benar tak kuat menahannya. Sampai aku terjatuh dan mataku pun terpejam.
***
Dimana aku? Aku terbangun, namun aku tak mengenali tempatku saat ini. Saat hendak turun dari ranjang asing ini, betapa terkejutnya aku karena melihat kedua tangan dan kakiku yang sudah terikat.
Apa aku mimpi? Tapi sepertinya tidak.
"Tolong, tolong!" Teriaku histeris.
Tak lama kemudian terdengar langakah kaki berjalan cepat mendekatiku, setelah masuk ternyata Raka.
Sontak mataku membulat, serasa tak percaya.
"Hai sayang, ternyata udah bangun!" Ucapnya mendekatiku.
"Lepas, tolong lepaskan saya Mas, aku mohon." Ucapku memohon.
"Bukankah kamu sendiri yang ingin seperti ini?"
"Maksud kamu apa Mas?"
"Semalam kamu sudah melanggar perjanjian."
"Tidak semudah itu Maria sayang, saya nggak mau tertipu lagi." Ucapnya tersenyum getir.
***
Dihotel Bi Siti cemas karena mendapati kamar hotel sudah kosong, dan mencari keberadaan Maria.
"Kemana Neng Maria pergi?" Ucapnya cemas.
Bi Sitipun berinisiatif menelpon Maria, namun ternyata ponsel Maria masih tergeletak diatas ranjang.
"Ya ampun Neng, kamu kemana Neng?" Bi Siti mulai menangis karena khawatir dengan keadaan Maria.
Namun tiba-tiba ponsel Maria berdering, Bi Siti langsung mengangkatnya karena yang menghubungi ponsel Maria adalah Dewa.
"Halo Pak," ucap Bi Siti.
"Halo, ini siapa? Maria kemana?" Tanya Dewa cemas.
Dewa khawatir karena Maria belum datang ke kantor.
__ADS_1
"Saya Bi Siti, ART nya Neng Maria." Jawab Bi Siti terisak.
"Maria kemana Bi, kok jam segini belum datang?"
"Itu dia Pak, saya pun cemas. Neng Maria nggak ada dikamar, setelah saya tinggal pergi beli bubur untuk sarapan. Yang lebih Bibi khawatirin lagi, Neng Maria sedang sakit."
"Apa?" Dewa terkejut.
"Iya Pak, Bibi khawatir sekali dengan keadaan Neng Maria."
"Ya sudah, nanti saya kesitu. Berapa nomor kamarnya Bi?"
"Nomor 093."
"Ok, saya kesana sekarang. Tunggu ya Bi."
Panggilan pun berakhir.
Dewa bergegas berjalan keluar menuju hotel Maria, untuk memastikan keadaanya dan mencari jejak keberadaan Maria.
"Awas kamu Raka, ini pasti perbuatanmu!" gerutu Raka penuh amarah.
Dewapun melajukan kendaraannya dengan cepat, tak lama kemudian Dewa pun sampai tepat dikamar hotelnya Maria, lalu menekan bel pintu.
"Pak Dewa!" Ucap Bi Siti saat membukakan pintu.
"Iya Bi, saya Dewa. Boleh saya masuk," ucap Dewa.
"Silahkan Pak."
Dewa masuk lalu mengecek dan mencari sesuatu yang bisa menjadi petunjuk keberadaan Maria. Namun nihil, dewa tak menemukan apapun.
"Ponsel Maria mana Bi?"
"Ini Pak." Ucap Bi Siti sambil memberikan ponsel Maria.
Dewa mencoba mengotak-ngatik ponsel Maria, lalu menelpon Raka.
Tut.. tutt.. tutt..! Raka tak menjawab teleponnya.
Sepertinya Raka tahu jika yang menelponnya itu Dewa.
Dewa bukanlah lelaki bodoh, Dewa mengecek keberadaan Raka melalui ponselnya. Karena Dewa yakin jika Maria dibawa oleh Raka.
Tiga puluh menit kemudian, Dewa berhasil menemukan keberadaan Raka.
__ADS_1
"Bi, saya pergi dulu ya. Sementara ponsel Maria saya yang pegang, sampai Maria ditemukan." Ucap Dewa lalu pergi meninggalkan Bi Siti yang sedang berdiri dengan raut wajah cemas.