Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Lima Puluh Juta


__ADS_3

***


Sesampainya dikantor, aku bergegas masuk kedalam ruangan kerjaku. Ku letakan tas dimeja, lalu duduk bersandar di sebuah kursi. Mood ku pagi ini kacau setelah kedatangan Winda tadi, sepertinya aku butuh kopi sebelum memulai kerja. Akupun berjalan menuju pantry, ku ambil cangkir dan satu sachet kopi susu lalu menyeduhnya dengan air panas. Setelah selesai, akupun kembali ke mejaku sambil membawa kopi buatanku sendiri.


Srrruuppptt, ku minum perlahan kopi panas yang masih mengepulkan asap. Ku sandarkan kembali tubuhku lalu memejamkan mata sambil menikmati bau semerbak khas kopi dengan harap mampu mengembalikan mood ku pagi ini.


Tiba-tiba Pak Dewa masuk, aku pun terperanjat.


"Selamat pagi, Pak." Sapaku.


"Pagi. Tumben kamu ngopi," tanyanya sambil melirik secangkir kopi dimejaku.


"Iya Pak, lagi pengen ajah." Jawabku.


Pak Dewa hanya tersenyum mendengar jawabanku, lalu berjalan menuju meja kerjanya yang tak jauh dari mejaku. Aku pun duduk kembali, lalu mulai mengerjakan tugasku.


Beberapa menit kemudian, Pak Dewa memanggilku.


"Maria!" Panggilnya.


"Iya Pak," akupun langsung berjalan menghampirinya.


"Ada apa Pak?" Tanyaku.


"Jam sembilan saya harus ke pengadilan agama untuk menghadiri panggilan sidang perceraian, jadi kamu tolong handle meeting siang nanti dengan Pak Richard jika saya belum kembali." Perintahnya.


"Baik Pak."


Sudah lebih dari tiga tahun, aku menjadi sekretaris yang merangkap menjadi asisten Pak Dewa, jadi bukan perkara sulit bagiku untuk menghandle pekerjaannya. Akupun segera mempersiapkan file-file yang dibutuhkan untuk meeting siang nanti.


Waktu sudah menunjukan jam dua belas siang, akupun bergegas untuk sholat terlebih dahulu sebelum menemui Pak Richard nanti.


***


Jam setengah dua siang aku sudah berada di sebuah Restaurant, tempat yang sudah disepakati untuk bertemu dengan Pak Richard. Aku sengaja datang lebih awal, agar bisa mempelajari dan menguasai materi meeting siang ini dengan harap dapat memberikan hasil terbaik.


Tak lama kemudian tepat saat jam dua siang, yang ku tunggu pun tiba. Pak Richard beserta sekretarisnya datang berjalan menghampiriku yang sudah menunggunya.


"Selamat siang, Pak Richard, Bu Mariska." Sapaku.


"Selamat siang, Bu Maria." Sapa Pak Richard, diiringi senyuman sekretarisnya.


Kami pun saling berjabat tangan, lalu aku mempersilahkannya duduk.

__ADS_1


"Maaf Pak, Pak Dewa tidak bisa mengikuti meeting siang ini karena ada urusan keluarga yang tak bisa ditunda." Ucapku menjelaskan.


"Ok, tidak masalah." Ucapnya.


Setelah minuman dihidangkan, aku pun mulai menyampaikan dan menjelaskan materi meeting kepada Pak Richard beserta sekretarisnya.


Satu jam berlalu akhirnya meeting pun selesai, Pak Richard dan sekretarisnya sudah pergi meninggalkanku. Aku merasa lega dan puas, karena hasilnya sesuai yang diharapkan Pak Dewa.


Setelah itu akupun bergegas untuk kembali ke kantor, namun saat hendak keluar aku bertabrakan dengan seseorang.


"Maaf-maaf Mbak, saya tak sengaja." Ucapnya.


Suaranya tak begitu asing ditelingaku, setelah ku lihat ternyata Raka. Kenapa aku harus betemu dia lagi? Aku sudah muak melihatnya.


Akupun langsung berjalan menghindarinya, namun dia malah mengejarku lalu manahan tanganku.


"Tunggu, Maria." Ucapnya.


"Ada apa lagi si Mas, aku udah pusing yah. Tadi pagi istrimu kerumah, sekarang aku harus ketemu juga dengan kamu." Umpatku kesal.


"Mas minta maaf jika kehadiran Mas membuatmu kesal." Ucapnya bersalah.


"Kalau kamu sudah tahu saya kesal, jangan pernah lagi temui saya. Biarkan saya pergi," ucapku tegas.


"Mas, kamu jangan g**a yah, kamu sadar dong Mas. Kamu itu udah beristri, urus saja istrimu itu dengan baik. Nggak usah berharap apapun lagi denganku," emosiku sudah mulai naik, aku benar-benar tidak mengerti dengan dengan jalan pikiran Raka.


"Saya memang sudah g**a karenamu, Maria."


"Sudah Mas, lepaskan saya atau saya akan teriak." Ancamku.


Dia pun akhirnya melepaskan tangannya yang sedari tadi menahan tanganku. Setelah itu aku berlari menghampiri Pak Mansur, lalu masuk ke dalam mobil.


"Pak, tolong cepat jalannya yah." Ucapku pada Pak Mansur.


"Baik Neng."


Pak Mansur pun dengan cepat melajukan mobilnya lalu mengantarkanku ke kantor.


Kepalaku serasa mau pecah dibuatnya, aku bingung harus seperti apa agar Raka tidak menggangguku lagi.


Beberapa menit kemudian akhirnya sampai dikantor, aku pun segera memasuki ruangan kerjaku. Setelah ku masuk, ternyata Pak Dewa belum kembali.


Satu jam kemudian Pak Dewa datang.

__ADS_1


"Sore Pak," sapaku.


"Sore, oya gimana meeting tadi?" Tanyanya penasaran.


"Semua berjalan dengan lancar dan sesuai harapan." Jawabku bangga.


"Bagus." ucapnya. Lalu berjalan dan duduk di kusrsi tahtanya.


Ting! Suara notifikasi dari ponselku.


Kulihat ternyata notifikasi dari m-banking, setelah ku tekan ternyata Pak Dewa mentransfer sejumlah nominal yang cukup banyak. Akupun terkejut, mataku membulat besar memastikan beberapa angka yang tertera diponselku.


Lima puluh juta? Apa Pak Dewa nggak salah.


Akupun segera menghampirinya untuk memastikannya.


"Maaf Pak, Bapak sepertinya salah mentransfer sejumlah uang ke rekeningku!" Ucapku.


"Salah, maksud kamu?" Tanyanya heran sambil mengerenyitkan dahinya.


"Ini nominalnya lima puluh juta, sepertinya Bapak kelebihan menekan angka nol nya." Ucapku sambil menunjukkan.


Namun Pak Dewa malah tertawa kecil, melihat ekspresiku.


"Kamu kaya baru kenal saya aja, sejak kapan saya teledor urusan nominal?"


Yah, memang aku akui Pak Dewa itu sangat teliti dalam urusan apapun, sangat kecil kemungkinan membuat kesalahan.


"Itu memang bonus untukmu, sebanding dengan kerja kerasmu hari ini." Ucapnya.


"Jadi ini nggak salah Pak?" Tanyaku memastikan kembali.


Pak Dewa menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Terimakasih Pak."


Aku sangat bahagia, rasanya ingin sekali jingkrak-jingkrak jungkir balik di depan Pak Dewa.


Namun tiba-tiba ponselku berdering, Bi Siti menelponku.


"Iya halo Bi, ada apa? Tanyaku.


"Ini Neng, ada seorang perempuan teriak marah-marah didepan rumah sambil mencoret-coret dinding. Bibi takut Neng," ucap Bibi.

__ADS_1


Aku terdiam sejenak, sambil berfikir. Siapa wanita itu?


__ADS_2