Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Kepergian Ibu dan Bapak


__ADS_3

Dewa yang melihat Maria menangis, bergegas menghampirinya.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Dimas cenas.


Namun, Maria tidak menjawab pertanyaannya. Mata Dimas terfokus pada ponsel yang Maria jatuhkan, ternyata masih tersambung panggilan. Dewa Pun segera mengambilnya.


"Hallo, ini siapa?" Tanya Dimas saat menempelkan ponsel Maria di telinganya.


"Halo Pak, saya pihak dari kepolisian. Saya menemukan ponsel korban yabg tergeletak tak jauh dari tempat kejadian." Jawab Polisi.


"Maksud Bapak, mertua saya kecelakaan?" Tanya Dimas cemas.


"Yah, sesuai identitas yang kami temukan, korban bernama Rudi, Susi, dan Rio." Jelas polisi.


Rio adalah anak buah Dewa yang diperintahnya untuk mengantarkan kedua mertuanya pulang ke kampung.


"Lantas, keadaan korban bagaimana Pak?" 


"Korban dilarikan ke rumah sakit daerah, kami harap pihak keluarga bisa datang."


"Baik, Pak. Kami akan segera kesana,"


Panggilan pun berakhir.


Dewa memeluk Maria yang masih menangis, dan berusaha menenangkannya.


Bu Dewi yang mendengar tangisan Maria, langsung masuk menghampirinya.


"Ada apa? Kenapa Maria menangis?" Tanya Bu Dewi cemas.


"Ibu dan Bapak kecelakaan, Mi." Jawab Dewa terisak.


"Innalillahi.." 


Bu Dewi syok mendengar penuturan Dewa, dia pun langsung memeluk Maria. Dia paham apa yang sedang dirasakan Maria, dia pun ikut menangis.


"Udah, sayang. Kita doakan saja, semoga mereka selamat." Ucap Bu Dewi.


"Ibu dan Bapak dibawa ke rumah sakit daerah, apa kalian mau ikut?" Tanya Dewa.


"Aku ikut, Mas. Aku harus melihat keadaan Ibu dan Bapak," jawab Maria sambil tersedu.


"Mami juga ikut." Jawab Bu Dewi.


Dewa dan Bu Dewi memapah Maria keluar menuju mobil yang terparkir di garasi. Setelah semua naik, Dewa segera melajukan kendaraannya ke rumah sakit tempat kedua mertuanya dirawat.


Sekitar tiga puluh menit lebih, mereka pun sampai. Kaki Maria semakin lemas, saat melihat ruangan IGD rumah sakit itu. Pikirannya kacau mengira-ngira keadaan kedua orangtuanya, dan air matanya pun kembali mengalir deras.


Maria pun memaksakan kakinya untuk melangkah, dengan tertatih Maria berjalan menuju IGD.


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di ruang IGD. Lewat balik jendela, terlihat beberapa dokter dan perawat sibuk menangani pasien yang sepertinya kedua orang tua Maria dan Rio.


"Permisi, Dok!" Ucap Dewa saat masuk ruangan.


"Iya, ada keperluan apa ya?" Tanya seorang Dokter.


"Apakah benar, pasien ini korban kecelakaan." Tanya Dewa.


"Betul, Pak. Tapi maaf, korban tidak bisa diselamatkan." jawab Dokter.


Dewa dan Maria memberanikan diri untuk membuka kain putih yang menutupi tubuh yang terbujur.


Setelah dibuka, benar ternyata Bapak. Maria kembali histeris, menangis sejadi-jadinya terpukul melihat jasad Bapaknya yang sudah tak bernyawa.


Bu Dewi pun, membuka kain penutup korban lainnya. Benar saja, dua korban yang sudah tak bernyawa adalah jasad Ibu Susi dan Rio.


Bu Dewi menggelengkan kepalanya, sambil menutup mulutnya. Air matanya pun mengalir deras dari pelupuk matanya, dia tak menyangka. Kepulangan besannya adalah kepulangan untuk selamanya.


Karena merasa tak kuat menerima  kenyataan, Maria pun jatuh pingsan. Dewa sangat cemas, dia pun langsung menggendong Maria lalu meminta pertolongan kepada dokter.


Dokter pun bergegas membantu menyadarkan Maria. Setelah itu, Maria pun sadar kembali.


Maria tidak kembali menangis. Namun, pandangan Maria kosong dan hanya terdiam membisu. jiwanya benar-benar terguncang, karena harus kehilangan kedua orangtuanya sekaligus.


Melihat kondisi Maria, Dewa memeluk istrinya itu dan menangis.


"Sayang, kamu harus kuat." Ucap Dewa.

__ADS_1


Namun, Maria hanya terdiam membisu.


"Sepertinya Bu Maria mengalami syok yang begitu berat." Ucap Dokter.


"Lalu bagaimana, Dok?" Tanya Dewa.


"Tenang saja, Pak. Biasanya, syok seperti ini hanya sementara. Jika dalam dua hari pasien masih seperti ini, pasien perlu bantuan  psikolog." Jelas Dokter.


"Baik, Dok."


Setelah itu, Dokter pun pergi.


"Dewa, Mami urus jenazah mertua dan Rio yah. Kamu jaga Maria saja dengan baik," ucap Bu Dewi.


"Iya, Mi. Terima Kasih." Ucap Dewa.


Bu Dewi pun bergegas ke ruang administrasi, untuk mengurus jenazah besannya yang malang.


Beberapa jam kemudian, jenazah pun dimakamkan. Maria mulai menangis kembali saat di pusara kedua orangtuanya, dengan sabar Dewa menemani istrinya.


"Ibu.. Bapak.." teriak Adi yang berlari mendekati makam kedua orangtuanya.


Adi adalah adik kandung dari Maria.


Sampai di pusara kedua orang tuanya, Adi menangis histeris. Maria yang melihat kedatangan adiknya langsung memeluknya.


"Teh, kenapa Bapak dan Ibu secepat ini pergi." Ucapnya terisak di pelukan Maria.


"Kita harus kuat, dek. Semua sudah takdir Allah," ucap Maria.


Saat melihat kedatangan Adi, Maria masih punya setitik harapan dalam hidupnya. 


"Aku harus kuat demi adikku." Ucapnya didalam hatinya saat memeluk erat Adi.


Mereka pun larut dalam kesedihan, saling menguatkan satu sama lain.


"Kalian harus kuat, ikhlaskan kepergian mereka. Mas, yakin jika kalian ikhlas, mereka pasti bahagia disana." Ucap Dewa.


"Iya, Mas." Ucap Maria.


Dewa pun mengajak Maria dan Adi untuk pulang ke rumahnya.


Wajah Maria dan Adi, masih murung. Bu Dewi terus menasehati mereka, agar selalu kuat dan ikhlas.


Bi Siti menghampiri mereka, dengan membawakan beberapa gelas berisi minuman, lalu dihidangkannya.


"Bibi turut berduka cita ya Neng," ucap Bi Siti.


"Iya, Bi. Terima Kasih," ucap Maria.


"Ini nak Adi, yah? Yang dulu pernah Neng ceritain," tanya Bibi saat melihat Adi.


"Iya, Bi. Ini Adi," jawab Maria.


Bi Siti tersenyum, lalu kembali ke dapur.


***


"Adi, sebaiknya kamu tinggal bareng kami saja disini." Ucap Dewa, disela makan malam.


Adi terdiam sejenak sambil berfikir.


"Tapi, Kak. Kuliah Dewa disana hanya satu semester lagi, nanggung jika harus pindah." Ucap Adi.


"Iya, Mas. Biarlah dia selesaikan dulu kuliahnya, baru setelah lulus nanti, Adi tinggal disini." Imbuh Maria.


"Tapi, lain kali kamu harus sering main kesini yah." Ucap Bu Dewi.


"Iya, Tan." Ucap Adi.


"Panggil Mami aja yah, anggap saja Mami orangtuamu." Ucap Bu Dewi sambil tersenyum.


"Iya, Mi." Ucap Adi.


Bu Dewi memang mertua idaman, walaupun hidupnya bergelimang harta, dia tidak pernah menilai orang dari statusnya. Selama orang itu baik, maka dia pun akan bersikap jauh lebih baik.


"Terimakasih ya, Mi." Ucap Maria terharu atas kebaikan Ibu mertuanya itu.

__ADS_1


Air matanya pun menetes, menangis haru karena tuhan selalu mengelilinginya dengan orang-orang baik.


"Iya, sayang. Udah dong jangan nangis lagi," ucap Bu Dewi.


"Iya, Mi." 


Dewa pun mengusap bahu istrinya itu dengan lembut. 


***


Waktu menunjukkan jam satu malam, namun mata Maria masih sulit terpejam. Dia pun mulai membolak balikan tubuhnya, agar mendapatkan posisi nyaman dan bisa tertidur. 


Tiba-tiba sekelebat bayangan seseorang melintas di balik jendela kamarnya, mata Maria pun membulat sempurna.


Bergegas dia turun, lalu mendekati jendela untuk memastikan seseorang yang dia lihat.


Brak!!


Maria tak sengaja menyenggol vas bunga kecil yang terpajang di meja. Maria terkejut, dan Dewa pun terbangun.


"Sayang, kamu lagi ngapain?" Tanya Dewa.


"Oh, ini Mas. Tadi aku lihat ada bayangan seseorang lewat di depan jendela, tapi saat aku mau cek, aku malah menyenggol Vas bunga. Maaf ya, Mas!" Jawab Maria.


Dewa pun bergegas turun lalu menghampiri Maria. Dewa pun membuka jendela kamarnya itu, lalu mencari keberadaan seseorang yang Maria ceritakan.


"Nggak ada apa-apa. Mungkin kamu kecapean aja deh, jadi nggak fokus." Ucap Dewa.


"Apa iya, Mas. Tapi, bayangan tadi cukup jelas." Ucap Maria meyakinkan Dewa.


"Tapi, nggak ada apa-apa, sayang. Ya udah, kita masuk istirahat." Ajak Dewa.


Maria dan Dewa akhirnya masuk kembali ke dalam kamar. Namun, Maria masih memikirkan bayangan seseorang yang dia lihat. Dia yakin apa yang dilihatnya, namun dia pun merasa heran tak ada apapun disana.


Tak terasa, waktu pun subuh. Maria yang semalaman tak bisa tidur, matanya mulai mengantuk.


Maria pun bergegas membangunkan suaminya, untuk mengajaknya sholat subuh bersama. 


"Mas, bangun udah subuh." Ucap Maria.


Dewa pun langsung terbangun mendengar suara Maria membangunkannya.


"Iya, Sayang." ucap Dewa lalu duduk.


"Mas, ayo sholat dulu." Ajak Maria.


Mereka pun berjalan menuju toilet untuk melaksanakan wudhu lalu sholat bersama.


Setelah selesai, Maria merebahkan tubuhnya di ranjang karena matanya sudah tak tahan lagi untuk terjaga.


"Sayang, kok pagi tidur." Ucap Dewa saat menghampirinya.


"Iya, Mas. Semalam aku nggak bisa tidur," ucap Maria dengan mata terpejam.


"Kamu nggak mau sarapan dulu?" Tanya Dewa.


"Nggak Mas, mataku sudah nggak kuat." Jawab Maria.


"Ya sudah, Mas temenin kamu yah." Ucap Dewa.


Maria tak menimpali ucapan suaminya, karena sudah tertidur lelap. Dewa pun hanya tersenyum, lalu mengecup kening istrinya itu dengan lembut.


Setelah itu, Dewa berjalan menuju toilet untuk membersihkan tubuhnya.


Beberapa menit kemudian, Dewa pun keluar lalu bergegas memakai pakaian.


Beberapa menit kemudian, Bu Dewi memanggilnya.


"Dewa, Maria." Panggilnya saat didepan pintu kamar.


"Iya, Mi. Ada apa?" Tanya Dewa saat menemui Bu Dewi.


"Kalian nggak sarapan?" Tanya Bu Dewi.


"Maria baru saja tidur, Dewa nggak tega banguninnya." Ucap Dewa sambil menoleh Maria yang sedang tertidur lelap.


"Oya, Mi. Tolong kasih tau Bibi aja, agar sarapan Dewa dibawa ke kamar aja. Mami sama Adi sarapan aja dulu," ucap Dewa.

__ADS_1


"Ya sudah, nanti Mami sampaikan." ucap Bu Dewi.


Setelah itu, Bu Dewi kembali ke meja makan.


__ADS_2