Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Hentikan!


__ADS_3

***


"Bi, ini uang untuk belanja kebutuhan kita selama disini." Ucapku sambil menyerahkan beberapa lembar uang.


"Iya Neng, nanti Bibi belanja."


"Ya udah Bi, saya berangkat kerja dulu ya Bi."


"Pak Mansur udah dikabarin?"


"Udah Bi,"


"Hati-hati Neng!"


"Iya Bi."


Aku langsung berjalan keluar, lalu menghampiri Pak Mansur yang sudah menunggu.


"Pagi Neng," sapa Pak Mansur, sambil membukakan pintu mobil.


"Pagi Pak, terimakasih."


Pak Mansur pun melajukan mobilnya mengantarkanku ke kantor.


"Oya Pak, Bapak punya kenalan petukang nggak?" Tanyaku.


"Ada, tapi untuk apa Neng?"


"Buat renovasi rumah,"


"Itukan rumah dinas Neng, biasanya nanti dari perusahaan sendiri yang akan memperbaikinya. Apalagi yang merusaknya kan, istri Pak Dewa."


"Oh gitu ya Pak,"


Beberapa kemudian akupun sampai kantor, akupun bergegas masuk kedalam ruangan kerjaku. Saat masuk, kulihat Pak Dewa sudah duduk di kursinya.


"Selamat pagi Pak," sapaku.


"Pagi," balas Pak Dewa.


Akupun langsung menuju mejaku, dan memulai pekerjaan seperti biasanya.


"Maria," panggil Pak Dewa.


"Iya Pak," aku langsung menghampirinya.


"Rumahmu hari ini mulai direnovasi, jadi kamu tinggal sementara di apartement saya."


"Maaf Pak, bukannya menolak. Hanya saja semenjak semalam saya sudah menyewa kamar hotel untuk beberapa hari kedepan sampai rumah selesai diperbaiki."


"Ya sudah kalau begitu. Oya, Saya minta maaf untuk yang kesekian kalinya atas sikap Raisya."


"Iya Pak nggak papa, saya juga minta maaf karena kemarin lancang menampar Mbak Raisya."


"Memang sudah sepantasnya dia menerima itu,"


"Ya sudah Pak, saya mau melanjutkan kerjaan saya dulu."


"Silahkan."


***


Kring...!


Suara telepon di mejaku berbunyi, akupun segera mengangkatnya.

__ADS_1


"Iya hallo,"


"Hallo Bu, ada seseorang ingin bertemu dengan Ibu." Ucap Mita.


Mita adalah karyawati yang bekrja sebagai resepsionis.


"Siapa?"


"Namanya Raka, katanya dia kenal dengan Ibu."


"Ya sudah, tunggu saya di lobi."


Ada apa Raka sampai harus menemuiku ke kantor?


Akupun segera meminta ijin pada Pak Dewa.


"Maaf Pak, saya ijin ke lobi untuk menemui rekan saya,"


"Silahkan, tapi jangan lama-lama."


"Baik Pak."


Akupun langsung berjalan untuk menemui Raka, sesampainya di lobi kulihat dia sedang duduk menungguku.


"Ngapain kamu kesini?" Tanyaku kesal.


Namun dia hanya tersenyum mendengar ucapanku.


"Sekarang kamu pergi dan jangan kembali." Ucapku geram.


"Tenang dulu Maria, saya hanya ingin bertemu kamu." Ucapnya.


"Mau ngapain? kita sudah tidak ada lagi hubungan apapun."


"Tapi saya masih mencintai kamu, Maria."


Alih-alih Raka pergi, dia malah menarik tanganku saat aku akan kembali ke ruangan.


"Tunggu sayang,"


"Awww!" teriakku, lalu aku terjatuh dipelukannya.


"Lepas, jangan lancang kamu Mas. Lepas!" Ucapku sambil berontak.


Tiba-tiba Pak Dewa menarik tangan Raka yang menahan tubuhku, lalu akupun terjatuh.


Bugh!


Pak Dewa memukul Raka.


"Jangan kurang ajar kamu dikantorku, apalagi kepada Maria."


Raka hanya tersenyum getir sambil mengelap bercak darah dibibirnya akibat pukulan Pak Dewa.


Bugh!


Tiba-tiba Raka membalas pukulan Pak Dewa, dengan segera aku langsung menengahi mereka.


"Hentikan, tolong hentikan." Teriakku sambil merentangkan tangan ditengah-tengah perkelahian mereka.


Beberapa karyawan mulai berkerumun menyaksika kami.


"Mas Raka tolong kamu pergi dari sini, tolong." ucapku memohon.


"Ok, saya akan pergi, jika malam ini kamu mau menemui saya. catat nomor ponselmu," ucapnya sambil memberikan ponselnya padaku.

__ADS_1


Aku sengaja mengganti nomor ponselku saat memutuskan hubungan dengannya, agar bisa menghindarinya. Namun nyatanya tak semudah itu, dia memiliki seribu cara untuk menganggu hidupku lagi.


"Jangan Maria, dia laki-laki nggak waras." cegah Pak Dewa.


Namun, aku tak menggubris ucapannya. Ku berikan nomor ponselku tanpa ragu, aku tak punya pilihan lain, untuk mengusir Raka.


"Ok, sampai ketemu nanti malam. Tapi ingat, jangan bawa siapapun, saya hanya ingin berdua denganmu saja." Ucap Raka.


Aku tak menjawab apapun padanya, dia pun akhirnya pergi.


"Maaf Pak, atas kegaduhan yang saya timbulkan," ucapku tertunduk merasa bersalah.


"Ini bukan salahmu."


"Mari Pak, saya obati lukanya."


Kamipun berjalan menuju ruangan kerja kami.


Sesampainya, aku langsung mengambil kotak obat, lalu mengoleskan obat salep diwajahnya yang lebam.


"Siapa Dia?" tiba-tiba Pak Dewa bertanya saat aku aku akan menyimpan kembali kotak obat.


Akupun terduduk kembali.


"Dia mantan kekasihku" ucapku tertunduk.


"Tapi kenapa dia masih mengganggumu?. Maaf jika saya lancang, saya hanya ingin membantumu. Sepertinya dia sudah terlalu lancang dengan sikapnya tadi,"


Akupun terdiam sejenak berfikir, apa harus kuceritakan semuanya pada Pak Dewa. Tapi Pak Dewa sepertinya berhak tahu, bagaimanapun masalahku akan berpotensi dengan kinerjaku.


"Entahlah, sepertinya Dia masih mencintaiku, namun aku tak sudi untuk kembali padanya karena dia telah berkhianat."


"Berkhianat gimana maksudnya?"


"Dia telah menikahi wanita lain, dan saya baru tahu setelah tiga tahun pernikahannya."


"Terus kamu akan menemuinya nanti malam?"


"Iya Pak, saya sudah terlanjur janji. Saya khawatir, dia akan berbuat lebih jika saya tak menemuinya."


Pak Dewa hanya terdiam mendengar penjelasanku.


"Nanti malam saya ikut menemui Raka,"


"Tapi Pak, Raka pasti marah jika Bapak ikut."


"Saya tidak akan datang denganmu, tapi saya akan mengikutimu dari kejauhan."


"Apa tidak merepotkan Bapak nantinya?"


"Tidak sama sekali, saya khawatir dia berbuat macam-macam denganmu."


"Tapi, bagaimana dengan Mbak Raisya jika tahu. Dia pasti akan marah besar?"


"Saya dengannya tak ada hubungan apapun lagi, saya sudah mentalaknya. Hubungan kami telah berakhir, hanya menunggu surat cerai dari pengadilan saja."


"Semoga Bapak mendapatkan jodoh wanita yang baik dan sholehah."


"Terimakasih."


"Kalau begitu saya permisi Pak, saya mau melanjutkan perkerjaan saya."


"Silahkan."


Aku langsung bergegas menaruh kotak obat, lalu kembali ke meja kerjaku. Namun pikiranku masih terganggu dengan tawaran Pak Dewa yang akan menemaniku bertemu dengan Raka.

__ADS_1


Bagaimana jika Raka tahu?


__ADS_2