Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Aku bingung Mas...


__ADS_3

***


Sebulan berlalu, akhirnya aku mendapatkan toko baru yg lebih dekat dengan rumahku.


Ini hari terakhirku bekerja di toko Pak Hendi, mulai besok aku sudah pindah ketoko yang baru semoga saja aku betah.


Aku pun berpamitan dan bermaaf-maafan, tapi tidak dengan Romi orang yg pernah mencoba menghancurkan hidupku. Setelah berpamitan, aku pun keluar.


"Hai..." seseorang menyapaku.


Betapa terkejutnya aku, ternyata Raka berdiri dihapanku.


"Mas Raka, ngapain disini?" tanyaku.


"Mau jemput kamu lah." jawabnya.


"Kok nggak ngabarin?" tanyaku kembali.


"Sengaja, biar sureprize." jawabnya sambil tersenyum manis.


"Ayo.." ajaknya.


"Ok.."


Aku berjalan mengikutinya lalu masuk kedalam mobilnya. Entahlah saat Raka menyelamatkanku dari kejahatan Romi waktu itu, aku mulai merasa nyaman dengannya, kami pun semakin lama semakin dekat.


Selama perjalanan kami hanya bersenda gurau, tanpa rasa canggung lagi walau sudah lama tak bertemu.


"Mau makan apa?" Tanya Raka.


"Makan bakso aja kali Mas, kayaknya enak seger-seger melek gitu " sahutku sambil tersenyum.


"Duh kayak apa aja seger-seger melek!" ucapnya sambil tertawa.


"Dih, Mas Raka ini. Ngeres deh otaknya." ucapku kesal.


Dia tertawa terbahak melihat ekspresiku kesal.


"Ok, kita cari kedai bakso." ucapnya.


Yah, sikapnya lah yang membuatku nyaman dan tenang. Entahlah ini perasaan cinta atau bukan, yg jelas aku tak mau menaruh harapan lebih padanya karena takut kecewa.


"Tuh kayaknya kedai bakso deh, mau disitu atau mau cari tempat lain?" Tanya Raka sambil menunjukkan kedai yg ia katakan.


"Ya udah Mas disitu ajah." akhirnya kamipun berhenti dikedai tersebut.


Setelah sampai, kami pun bergegas turun lalu masuk. Kamipun segera memesan dua mangkok bakso yang akan kami santap. Setelah memesan kamipu duduk dikursi paling belakang.


Kulihat Raka terus menatapku sambil tersenyum, tapi mengapa tatapannya membuatku merasakan sesuatu, entah.. aku pun tak tahu.


"Mas, kenapa liatnya kayak gitu, ada yg salah dengan wajahku?" tanyaku sambil meraba wajahku sendiri.


"Nggak papa, kamu terlihat lebih cantik, beda saat pertama kita bertemu, juteknya super duper." ledeknya sambil tertawa kecil.

__ADS_1


"Oh.. jadi waktu itu saya terlihat jelek?" tanyaku kesal.


"Bukan begitu, kamu cantik kok, tapi sekarang lebih cantik." ucapnya gombal.


"Gombal..." ucapku tak percaya.


Namun dia hanya tersenyum mendengar ucapannku.


Tiba-tiba seorang pelayan menghidangkan pesanan kami, kamipun tanpa aba-aba langsung melahapnya hingga habis tak bersisa.


"Mau nambah?" tanya Raka.


" Nggak lah Mas, kamu kira saya samson wati!" jawabku.


"Hahahaha.. Siapa tahu kamu samson wati menjelma Maria." ucapnya meledek.


Aku tak menjawab bualannya itu, aku hanya diam sambil mengerutkan alis.


Kamipun bergegas keluar kedai, lalu melanjutkan perjalanan pulang.


" Mau kemana lagi?" Tanya Raka sambil mebenarkan duduknya.


"Pulang aja mas, pengen cepet rebahan." jawabku.


"Maria, saya boleh ngomong sesuatu?" Tanyanya serius.


"Ngomong apa mas?" tanyaku penasaran.


"Emmmm... tapiii nanti aja deh, belum siap." ucapnya.


"Nanti saja, mau mempersiapkan hati dulu." ucapnya.


"Maksudnya?" Tanyaku penasaran.


"Ya nanti, nunggu waktu yang tepat."


" Emang mau ngomong apa sih? sampe harus nunggu persiapan segala, kaya mau ngomong sama presiden saja." ucapku kesal karena penasaran.


"Nanti juga tahu,"


"Ya sudah terserah Mas saja." ucapku kesal.


"Nggak usah ngambek gitu dong, jelek tau." ucapnya meledek.


"Biarin jelek juga."


Dia hanya tertawa kecil, lalu melajukan kendaraanya.


Selama perjalanan aku diam, tak seceriwis tadi. Karena aku penasaran denga apa yang ingin dia katakan. Jelas jiwa kepoku meronta-ronta.


Namun kulihat dia hanya tersenyum melihatku manyun, sesekali menggoda agar aku tersenyum.


Sampai akhirnya, dia pun memberhentikan mobilnya ditepi jalan, entah ada apa lagi.

__ADS_1


Tiba-tiba dia menarik tanganku, lalu menatapku dalam dengan penuh perasaan.


"Baiklah, akan saya katakan sekarang. Sepertinya kamu penasaran," ucapnya sambil mengehala nafas panjang.


Sepertinya dia tahu apa yang sedang aku pikirkan, namun aku tak mengakuinya.


"Siapa bilang penasaran, biasa aja kok." ucapku berbohong, karena gengsi.


"Yakin gak mau tau?" ucapnya.


"Ya terserah Mas lah, mau ngomong apa disitu." ucapku kesal,


"Maria, sebenarnya saya sangat mencintaimu, semenjak pertama kali berjumpa. Semenjak itu bayangan wajahmu selalu mengganggu pikiranku," ucapnya sambil terus menggengam tanganku.


"Saya nggak mau jauh dari kamu, saya ingin memilikimu apa adanya, apa kamu mau menjadi kekasihku?" tanyanya dengan nada sendu.


Tatapannya begitu dalam, akupun terkejut mendengar ucapannya.


Aku bingung harus jawab apa, lalu dia bertanya kembali.


"Gimana Maria, apa kamu mau?" ucapnya penuh harap.


"Emmmm... saya bingung Mas. Jujur saja selama ini saya nyaman dekat denganmu, tapi saya nggak ngerti dengan perasaan ini." jawabku terisak.


Aku teringat kembali pengkhianatan dulu yang begitu menyakitkan.


"Saya ngerti, saya tidak akan memaksamu menjawab sekarang. Tapi aku harap sikapmu tidak akan berubah setelah mengetahui perasaan yang sebenarnya. Kita jalani saja apa adanya, sampai kamu benar-benar yakin." ucapnya sambil mengusap air mataku yg tak terasa membasahi pipi.


Aku hanya mengangguk, karena tak kuasa berbicara.


Tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu memberikan padaku.


"Ini untukmu, kemarin saat kerja diluar kota saya teringat kamu." ucapnya sambil memberikan.


Setelah ku buka ternyata jam tangan yg sangat indah, aku bahagia dimanjakan selalu olehnya.


"Terimakasih Mas," ucapku.


"Sama-sama, sini saya pakaikan pasti terlihat cantik ditanganmu." ucapnya sambil memakaikan jam itu ditanganku.


Setelah itu dia mulai melajukan kendaraanya kembali.


"Mas, emang Mas belum punya kekasih?" Tanyaku serius.


"Belum, selama ini wanita yg mendekatiku hanya ingin uangku, tidak ada yg tulus. Berbeda denganmu, sangat berbeda." jawabnya.


"Bisa aja Mas ini," ucapku tersenyum malu.


"Kamu memang sangat berbeda dengan wanita lainnya. Itu yang saya suka darimu, sederhana dan apa adanya." ucapnya.


Aku merasa tersanjung dengan ucapannya itu, apa iya aku se istimewa itu baginya.


"Saya harap, suatu saat nanti kamu menerimaku apa adanya." ucapnya kembali dengan penuh harap.

__ADS_1


Namun aku hanya terdiam tak menjawab apapun.


__ADS_2