Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Ungkap perasaan Dewa


__ADS_3

***


Saat dikantor, Dewa masih memikirkan ucapan orangtuanya dan orangtua Maria untuk menikahi dengan Maria.


Namun lamunannya buyar saat Maria menghampirinya.


"Maaf Pak, ini ada berkas-berkas yang harus ditandatangani." Ucap Maria sambil memberikan beberapa berkas.


"Iya, terimakasih." Ucap Dewa.


Dewa pun langsung mengecek dan menandatangani berkas yang Maria berikan.


Yah, hari itu Maria sudah mulai bekerja, namun dibawah pengawasan Dewa secara ketat.


Setelah selesai ditanda tangani, Maria mengambil kembali berkas-berkasnya.


Namun saat hendak kembali ke meja kerjanya, Dewa mengajaknya bicara.


"Maria, kalau mau makan siang keluar, saya temani ya. Saya khawatir, Raka melihat kamu." Ucap Dimas.


"Nggak Pak, tadi pagi Ibu membawakan bekal."ucap Maria.


"Tapi saya nggak liat kamu bawa bekal," ucap Dewa setelah meihat tidak ada bekal apapun dimeja kerjanya Maria.


"Oh iya Pak, saya lupa. Tadi pagi Ibu menaruhnya di kursi belakang, saya lupa membawanya." Ucap Maria.


"Oh ya udah kita makan disini aja."


"Iya Pak, nanti saya ambil."


"Nggak perlu, biar nanti Pak mansur saja yang mengambilkan."


"Baik Pak, kalau gitu saya kembali kerja dulu."


Dewa hanya menganggukan kepalanya, lalu Maria pun kembali kemeja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannnya seperti biasa.


***


Jam istirahat pun tiba, Maria bergegas keluar untuk menunaikan sholat dzuhur seperti biasanya.


"Pak, saya sholat dulu yah." Ucap Maria.


"Tunggu, saya juga mau sholat." Ucap Dewa sambil membereskan berkas-berkas dimeja.


Maria kaget mendengar ucapan Dewa, karena sebelumnya Dewa tidak pernah sholat sama sekali.


"Ayok!" Ajak Dimas.


Mereka pun berjalan beriringan keluar menuju mushola.


Setelah selesai sholat, Dewa menghampiri Maria yang sedang menunggunya diluar, lalu kembali keruang kerja.


Saat sampai, Maria langsung menyiapkan makanan dan mereka pun makan bersama.

__ADS_1


"Maria, kamu mau nggak ajarin saya sholat?" Tanya Dewa disela makan siangnya.


Namun Maria tersedak, Dewa pun segera memberikan minum kepada Maria.


"Maaf Pak," ucap Maria setelah minum.


"Iya nggak apa-apa, makanya pelan-pelan makannya." Ucap Dewa.


"Emang Bapak belum bisa sholat?" Tanya Maria heran.


"Dulu sih bisa, tapi sekarang udah lupa. Kamu mau kan ajari saya sholat?"


"Iya Pak, nanti dirumah saya ajari sholat."


Beberpa menit kemudian, mereka pun telah selesai makan siang. Mariapun segera merapihkan kembali dan membawanya ke pantry.


Setalah itu merekapun melanjutkan pekerjaan seperti biasanya, namun Dewa sesekali mencuri pandang kepada Maria yang tidak begitu jauh dari meja kerjanya.


Dewa teringat kembali dengan perkataan orangtuanya untuk mendekati Maria, lalu menikahinya. Namun sepertinya sulit bagi Dewa, karena Maria masih menyimpan luka pengkhianatan yang dilakukan Raka.


Sore pun tiba, saat nya mereka menghentikan pekerjaannya. Dewa sengaja mengurangi semua pekerjaannya, agar bisa pulang lebih cepat.


Maria merasa aneh dengan sikap Dewa, yang sudah bersiap untuk pulang padahal masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Dengan rasa penasaran, Mariapun menghampirinya.


"Hari ini nggak lembur Pak?" Tanya Maria.


"Nggak, biar dilanjutkan besok aja." Jawab Dewa.


"Bapak yakin?" Tanya Maria kembali sambil menatap Dewa dengan tatapan aneh.


"Tapi kan masih ada pekerjaan yang belum selesai,"


"Udah besok aja, saya kan mau belajar sholat sama kamu. Kalau saya lembur, kapan waktu belajarnya."


"Oh ya udah kalau Bapak maunya seperti itu."


Setelah mendengar alasan Dewa, Mariapun kembali kemejanya untuk merapihkan mejanya lalu pulang dengan Pak Dewa.


Maria dan Dewa pun bergegas keluar, lalu pulang bersama. Semua karyawan menatap heran kepada Dewa dan Maria, yang selalu bersama kemanapun.


Beberapa menit kemudian mereka pun sampai lalu masuk kedalam rumah. Saat masuk, kedua orangtua Maria dan kedua orangtua Dewa duduk bersama diruang tamu.


"Assalamualaikum," ucap Maria, yang diikuti Dewa.


"Wa'alaikumsalam." Ucap Bu Dewi.


Maria dan Dewa pun menyalaminya.


"Maria, Dewa, duduk dulu." Ajak Bu Dewi.


"Iya Mi." Ucap Dewa, lalu duduk.


"Papi kapan datang?" Tanya Dewa.

__ADS_1


"Baru tadi siang." Ucap Pak Bima, ayahnya Dewa.


"Oya, sebenarnya kami sedang membicarakan tentang kalian." Ucap Bu Dewi.


"Maaf Tan, maksudnya apa ya?" Tanya Maria.


"Maksud Tante, tentang saran tante kamaren." Jawab Bu Dewi.


Maria dan Dewa hanya saling pandang setelah mendengar ucapan Bu Dewi.


"Kami sudah sepakat untuk menikahkan kalian," ucap Pak Bima.


"Mohon maaf sebelumnya, tapi Maria keberatan." Ucap Maria.


"Kenapa?" Tanya Pak Bima.


"Saya tidak mau Pak Dewa menikahi saya hanya karena ingin melindungi saya dari Raka, saya ingin Pak Dewa menikahiku karena Pak Dewa mencintai saya dengan tulus." Jawab Maria.


Semua terdiam mendengar jawaban Maria.


"Teh, apa kamu tidak menyadari sikap Pak Dewa selama ini? Pak Dewa sangat mencintai kamu, Nak." Ucap Pak Rudi.


"Iya sayang, Ibu juga tahu itu. Ibu rasa, Pak Dewa pasangan yang tepat untukmu." Ucap Bu Susi.


Maria hanya tertunduk, karena bingung harus berkata apa. Maria sebenarnya sudah mulai mencintai Dewa, namun Maria tidak mau terlalu berharap karena Dewa tidak memberikan kepastian.


"Dewa, Maria butuh kepastian dari kamu. Apa kamu benar-benar mencintai Maria?" Tanya Pak Bima.


"Iya Pi, Dewa sebenarnya


Sangat mencintai Maria." Ucap Dewa.


Jantung Maria tiba-tiba berdebar kencang mendengar ucapan Dewa, Maria hanya menatap Dewa tanpa berkata apapun. Maria merasa tidak percaya, jika Dewa mencintainya.


"Maria, maaf jika saya lancang. Semua yang dikatakan Mami itu benar adanya, saya sangat mencintai kamu. Apa kamu mau menikah denganku?" Tanya Dewa, sambil menatap Maria dengan penuh harapan.


"Bapak yakin?" Maria balik bertanya.


"Sangat yakin, saya ingin menikahimu bukan hanya untuk melindungimu dari Raka. Tapi saya benar-benar mencintaimu, saya harap kamu percaya." Jawab Dewa.


Setelah mendengar ucapan Dewa, Maria menoleh kedua orangtuanya. Maria manarik nafas dalam, untuk menyakinkan hatinya kepada Dewa.


"Iya Pak, saya mau." Ucap Maria.


"Alhamdulillah," ucap syukur kedua orangtua Maria dan Dewa.


Bu Dewi dan Bu Susi lalu memeluk Maria secara bergantian.


"Terimakasih ya sayang, Tante sangat senang kamu mau jadi menantuTante." Ucap Bu Dewi sambil tersenyum bahagia.


"Ibu yakin Pak Dewa bisa membahagiakanmu." Ucap Bu Susi.


Dewa tersenyum bahagia, karena Maria menerima pinangannya.

__ADS_1


Apakah Dewa dan Maria benar-benar akan menikah?


__ADS_2