
***
Beberapa hari kemudian, Maria akhirnya dibolehkan pulang oleh Dokter karena kondisinya sudah membaik. Dengan ditemani Dewa, Maria diantarkan pulang dengan pengawasan ketat. Namun Maria bingung karena Dewa membawanya ke sebuah rumah yang tidak diketahui sebelumnya.
"Pak, kok saya dibawa ke sini?" tanya Maria saat melihat bangunan rumah yang asing baginya.
"Sementara kamu tinggal dirumah ini." Jawab Dewa.
"Tapi Pak, barang-barang saya masih dihotel."
"Tadi siang anak buah saya sudah mengambilnya, dan menyimpannya didalam."
Mereka pun akhirnya turun, lalu berjalan masuk kedalam rumah.
"Terimakasih Pak," ucap Maria saat sampai didalam rumah.
"Iya sama-sama. Sekarang kamu istirahat, jangan khawatir anak buah saya akan menjaga kamu dan Bi Siti." Ucap Dewa.
Dewa mengirimkan empat orang lelaki kekar bertubuh besar bak petinju untuk menjaga Maria kemana pun.
"Terus kerjaan saya gimana Pak?" Tanya Maria.
"Urusan kerja kamu bisa kerjakan secara online, selebihnya saya akan kerjakan sendiri." Jawab Dewa.
"Tapi Pak...!"
"Sudahlah, semua demi keselamatanmu." Ucap Dewa lalu pergi.
Maria terdiam mendengar perhatian bosnya itu yang semakin hari semakim meresahkan hatinya. Maria tak memungkiri hatinya, hati wanita mana yang tidak resah mendapatkan perhatian dari seorang lelaki tampan, baik seperti Dewa.
***
__ADS_1
Ditempat lain Raka masih mencari keberadaan Maria, dia mencari kesana kemari namun nihil dia tak menemukannya.
"Dari mana kamu Mas, dua hari nggak pulang?" Tanya Winda sambil memegangi perutnya yang semakin besar.
"Nggak kemana-mana." Jawab Raka.
"Kamu pasti cari Maria kan?"
"Itu tahu, kenapa masih nanya."
Winda mengelakan nafasnya, karena dadanya terasa sesak saat mendengar pengakuan suaminya yang masih sibuk mencari keberadaan mantannya. Mata Winda mulai memerah diiringi bulir air mata yang siap untuk menetes, namun sepertinya Raka tidak pernah peduli dengan perasaannya.
Winda hanya menatap suaminya itu dengan tatapan sendu, haruskah ia akhiri pernikahannya atau bertahan bersama luka sampai Raka bisa melupakan Maria dan mencintainya.
Plakk!
Tiba-tiba Eli menampar Raka, Winda pun terkejut sambil menutup mulutnya.
"Kamu bilang kenapa? Otak kamu taro dimana Raka! Sampai kapan kamu mengharapkan gadis itu." Hardik Eli yang sangat kesal terhadap anaknya itu.
"Udah Ma cukup, percuma kita mengingatkannya. Dia akan tetap mencari Maria, biarkan saja Ma." Ucap Winda menahan bahu ibu mertuanya.
"Tapi Win, Mama nggak tega melihatmu dipermainkan oleh dia. Mama malu sama kamu,"
"Udahlah Ma, Winda sudah pasrah."
Raka hanya terdiam lalu pergi tanpa berkata apapun.
"Kemana lagi Mas?" Tanya Winda sambilberlari mengejar Raka.
"Kemana aja." Jawab Raka singkat lalu masuk kedalam mobilnya.
__ADS_1
"Mas, tolong jangan pergi."
Namun Raka tetap pergi tak menghiraukan ucapan apapun yang keluar dari mulut istrinya itu.
Ditengah perjalanan Raka menghentikan kendaraannya menepi ditepi jalan yang sudah sepi. Raka merenung, kemudian menangis. Yah, Raka menyesali semua perbuatannya terhadap Maria dulu, dan dia pun sangat menyesal karena menikahi Winda, yang pada akhirnya menghancurkan impiannya untuk bersanding dengan Maria yang sangat dia cintai. Karena rasa kantuk dan lelah, akhirnya Raka tertidur didalam mobil.
Pagi hari Raka terbangun karena memdengar suara bising bunyi kendaraan yang berlalu lalang mulai ramai.
Raka pun bergegas melajukan kendaraannya untuk mencari sarapan sebelum melanjutkan mencari Maria. Namun saat perjalanan, Raka melihat Bi Siti sedang berdiri di depan gerobag penjual bubur. Dengan semangat Raka menghentikan kendaraannya lalu menghampiri Bi Siti.
"Bi Siti," ucap Raka yang kemudian dihalangi oleh seorang pengawal.
"Den Raka!" Bi Siti terkejut.
"Bi, Maria dimana Bi?" Tanya Raka.
"Bi Siti, cepat masuk kedalam mobil. Biar saya urus lelaki ini." Ucap seorang lelaki yang mengawal Bi Siti.
Bi Sitipun segera berlari kedalam mobil.
"Kamu siapa sih?" Raka menghempaskan tangan pengawal yang menahan bahunya saat hendak mengejar Bi Siti
"Hentikan, atau saya akan menghajarmu." Ucap pengawal.
Namun Raka tak menghiraukan ucapan pengawal itu, Raka malah berusaha mengejar Bi Siti.
Bughh!!
Bogem mentah mendarat diperut Raka. Raka dan pengawal pun berkelahi, yang akhirnya Raka tersungkur tak mampu mengimbangi kekuatan pengawal.
Setelah melihat keadaan Raka tak berdaya, pengawal itu pun pergi dengan santainya lalu masuk kedalam mobil. Raka yang masih dalam keadaan kesakitan berusaha mengikuti arah mobil pengawal tadi. Namun ditengah perjalanan Raka kehilangan jejak.
__ADS_1