
***
Aku hampir gila dibuatnya, Raka begitu tega mengkhianatiku. Aku menunggunya bertahun-tahun, ternyata dia sudah menikahi wanita lain.
Rasanya aku tak percaya, Raka yang ku kenal dulu kini telah berubah. Mana janjimu Mas? Yang akan selalu membahagiakanku bahkan menikahiku.
Kuputuskan untuk mengambil cuti beberapa hari, lalu pulang ke kampung halamanku. Aku sengaja tak meminta Pak Mansur mengantarku karena aku ingin pulang sendiri dengan menggunakan mobil kesayanganku, mobil hasil jerih payahku memeras otak dan keringat di perusahaan milik Pak Dewa.
Setelah berjam-jam perjalanan, aku pun sampai. Ku hentikan laju mobil ku disebuah pekarangan rumah. Kulihat kedua orangtuaku tengah duduk, menunggu kepulanganku.
"Assalamualaikum," ucapku saat turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam," ucap kedua orangtuaku, menyambut kedatanganku.
Kupeluk mereka satu persatu, melepas rindu yang selama ini terpendam. Yah, semenjak bekerja dengan Pak Dewa, aku jarang pulang menemui mereka.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu sampai teh. Ibu senang sekali," ucapnya dengan penuh bahagia.
"Iya, Bu. Semua berkat do'a Bapak dan Ibu." Ucapku.
Kami semua masuk kedalam rumah, berbincang-bincang dan bersenda gurau bersama melepaskan rindu yang selama ini terpendam. Aku bahagia, sangat bahagia. Apalagi melihat senyum bahagia kedua orang tuaku yang terpancar diwajahnya. Ternyata, bahagia itu sederhana, tak perlu mewah dan mahal, berkumpul dengan orang yang terkasih saja sudah cukup membuatku bahagia.
"Seandainya ada adek ya Bu, kita pasti jauh lebih bahagia," ucapku.
"Do'akan saja teh, semoga dia baik-baik saja disana." Ucap Ibu.
Adikku sedang melanjutkan sekolahnya di sebuah kampus di Bandung, selama ini akulah yang membiayainya. Aku ingin adikku menjadi orang sukses, menggapai mimpinya.
"Oya teh, Nak Raka kemana, kok nggak diajak kesini?" Tanya Bapak.
__ADS_1
"Iya, Ibu kangen sama Nak Raka sudah tiga tahun nggak bertemu. Apa dia baik-baik saja?" Tanya ibu.
Jelas dia baik-baik saja Bu, tapi aku yang sedang tidak baik-baik saja. Aku sengaja belum memberitahu mereka tentang Raka, bahkan Raka di tahan pun mereka tak tahu.
"Teh, kenapa?" Tanya Ibu kembali.
"Nggak papa Bu, nanti teteh ceritakan tentang Raka." Jawabku, aku tak tahu harus dari mana menceritakan tentang Raka kepada mereka. Tapi mereka pun berhak tahu, karena semua ini menyangkut tentang hidupku, anak yang mereka sayangi.
***
"Masak apa Bu?" Tanyaku, saat melihat Ibu sedang mengaduk sesuatu diatas wajan.
"Ini Ibu sedang masak gulai ayam kesukaanmu," jawab Ibu.
"Wahhhh," wajahku berbinar bahagia.
"Oya teh, katanya teteh mau memberitahu Ibu dan Bapak tentang Nak Raka. Sebenarnya apa yang terjadi dengan hubungan kalian?" Tanya Ibu penasaran.
"Tapi, Ibu dan Bapak harus janji dulu. Setelah nanti tahu semuanya, Ibu dan Bapak harus baik-baik saja," ucapku.
"Iya, Ibu dan Bapak janji."
Kuhelakan nafasku dalam-dalam, untuk mulai menceritakan semua yang terjadi. Hatiku mulai bergemuruh, mataku terasa panas, dan bibirku mulai kelu.
"Hubungan kami telah berakhir," ucapku.
"Apa?" Ibu dan Bapak terkejut mendengar ucapanku, mereka seperti tak percaya.
"Bagaimana ceritanya teh, bukankan Nak Raka sangat mencintaimu?" Tanya Bapak.
__ADS_1
"Raka sudah menikahi wanita lain Pak," jawabku.
"Tega-teganya dia menyakitimu Teh, Bapak nggak terima." Ucap bapak emosi.
Kulihat Ibu tak mampu berkata apa-apa, Ibu terus memegang dadanya, Ibu benar-benar syok dengan kenyataan sebenarnya. Mereka tak menyangka calon mantu yang selama ini di bangga-banggakan malah menghancurkan hati anaknya.
"Apa salahmu teh, sampai tega dia meninggalkanmu begini?" Tanya bapak.
"Teteh nggak tahu Pak, Mas Raka hanya berkata terpaksa menikahi wanita itu. Tapi tak menjelaskan, apa yang membuatnya terpaksa." Jawabku.
Ibu memelukku, Ibu paham dengan apa yang kurasakan saat ini. Aku pun menangis dipelukan Ibu, karena tak kupungkuri aku sangat mencintai Raka.
"Kamu harus kuat Teh, bersyukur sama Allah. Allah sudah menunjukkan siapa Raka sebenarnya, Ibu yakin Allah sudah menyiapkan jodoh terbaik untukmu." Ucapan Ibu membuatku tenang.
Ibu benar, aku tak perlu berlarut meratapi nasib cintaku dengan Raka, aku harus bangkit, menunjukan padanya jika aku baik-baik saja tanpa dia.
"Iya Bu, do'akan Teteh terus ya Bu," ucapku.
"Ibu selalu mendo'akanmu sayang, semoga kelak jodohmu orang yang benar-benar sayang, tulus dan yang pasti se iman dengan kita." Ucapan Ibu memang selalu memberikan ketenangan dalam hatiku, aku sangat bersyukur mempunyai orangtua seperti mereka.
"Bu, besok kita jalan-jalan yuk. Ibu mau kemana?" Tanyaku.
"Gimana kalau kita ke Pantai, pasti seru." Ucap Ibu.
"Bapak nggak di ajak nih?" tanya Bapak sambil tersenyum.
"Ya ampun Bapak, ya pasti di ajaklah. Bapak ini cemburu kayaknya Teh," ucap Ibu.
Kupeluk Bapak dengan erat, aku sangat menyayanginya. Bapak adalah pahlawaku, cinta pertamaku yang tak pernah melukaiku.
__ADS_1