Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Malam pernikahan Dewa dan Maria


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Maria dan Dewa menikah. Acara digelar di rumah Dewa pada saat malam hari, hanya pihak keluarga yang menghadiri acara tersebut dan hanya digelar secara sederhana.


Pihak keluarga dan Pak Penghulu pun sudah hadir. Beberapa menit kemudian, acara pun di mulai.


Dengan lantang dan sekali tarikan nafas, Dewa berhasil mengucap ijab kabul. Semua pihal yang hadir, bernafas lega. Terlebih, kedua orangtua Dewa dan Maria yang meneteskan air mata.


Walaupun bukan pernikahan pertama Dewa, namun pernikahan ini begitu sangat bermakna. Karena Dewa berhasil menikahi wanita yang sangat di cintanya.


"Alhamdulillah!" ucap serentak, saat para saksi berkata syah.


Setelan itu pun, Dewa mengempaskan nafasnya yang sedari tadi tertahan karena gugup. Kemudian, memakaikan cincin pernikahan nya secara bergantian. Lalu, menandatangani buku nikah.


Senyum bahagia, terpaut diwajah Dewa dan Maria. Maria, tidak menyangka bisa menikah dengan bos nya yang dulu sangat menyebalkan.


Semua tamu undangan yang hadir, memberikan selamat kepada Dewa dan Maria.


Setelah acara selesai, Dewa mengakak Maria ke dalam kamar.


"Sayang, kita ke kamar yuk!" Ajak Dewa.


Namun, Maria hanya terdiam. Merasa tak enak, karena kedua orang tua mereka masih belum beranjak istirahat.


"Sayang!" panggil Dewa.


"Tapi Mas, mereka belum istirahat."


"Nggak apa-apa, sayang. Mereka juga ngerti kok,"


Dewa pun mengenggam tangan Maria, lalu membawanya ke kamar untuk pertama kalinya.


Maria pun tidak bisa mengelaknya, dengan rasa malu Maria mengikutinya.


Saat masuk ke dalam kamar, Maria terkesima. Karena kamar pengantin yang telah disiap kan Dewa begitu cantik, bunga mawar yang indah bertaburan di ranjang pengantin mereka.


"Kamu suka?" Tanya Dewa.


"Sangat suka, terimakasih ya, Mas." jawab Maria, lalu memeluk Dewa.


"Alhamdulillah, akhirnya kita syah juga, sayang." Ucap Dewa saat berada duduk diranjang bersama Maria.


"Iya, Mas. Saya bersyukur, acara kita berjalan lancar." Ucap Maria.


"Iya, Mas juga sangat bersyukur. Terimakasih yah, sudah mau menjadi istriku?"


"Saya pun senang bisa jadi Istri, Mas."


Malam ini, mereka sangat bahagia. Bisa bersatu tanpa ada halangan apa pun.


"Mas, kita sholat dulu yuk!" Ajak Maria.


"Oh, iya. Mas lupa, hehehe." Ucap Dewa cengengesan.


Setelah melaksanakan shalat, Maria dan Dewa melanjutkan dengan ritual malam pertama mereka. 


"Sayang. Kamu cantik sekali," ucap Dewa saat Maria menggunakan baju dinasnya.


Dewa terus memandang Maria tanpa henti. Penampilan Maria malam itu, benar-benar membuat Dewa terpesona. 


Setelah itu, mereka pun menikmati malam pertama mereka dengan bahagia.


***


Adzan subuh berkumandang, Maria Pun terbangun dari tidur lelapnya. Lalu, membangunkan suaminya, yang masih terlelap tidur.


"Mas, bangun. Udah subuh," ucap Maria pelan berbisik di telinga Dewa.


"Hem!" Dewa pun membuka matanya, karena mendengar suara lembut dari istrinya.

__ADS_1


"Bangun, udah subuh. Kita sholat dulu," ucap Maria, yang masih berada dipelukan Dewa.


"Boleh nambah lagi, sayang." Ucap Dewa berbisik sambil tersenyum.


"Nanti ya sayang, kita sholat dulu. Kita juga kan, mau kerja." 


"Hari ini kita nggak kerja dulu, saya mau menghabiskan waktu seharian bersamamu, sayang."


"Tapi, Mas. Nanti karyawanmu,curiga."


"Biarin, tinggal pecat aja kalau ada yang macem-macem."


"Ok, deh. Bosku sayang, tapi kita sholat dulu, lalu sarapan."


"Iya, sayang."


Setelah selesai mandi dan shalat, Maria turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan.


"Pagi, Bi." Sapa Maria, saat Bibi sedang sibuk memasak.


"Duh, pengantin baru. Auranya bahagia sekali," ucap Bibi sambil tersenyum.


"Ih, Bibi ngeledek aja." 


"Gimana, Non?"


"Gimana apa nya?"


"Malam pertamanya," ucap Bibi berbisik.


Maria menyerngitkan dahi, setelah mendengar ucapan Bibi. Tiba-tiba, Bu Dewi menghampiri.


"Bibi!" Ucap Bu Dewi sambil menggelengkan kepalanya.


"Eh, Nyonya. Maaf, hehehe." Ucap Bibi cengengesan.


"Iya, Mi. Nggak apa-apa,"


"Maaf ya, Non." Ucap Bibi.


"Nggak apa-apa, Bi."


"Sekarang, Nyonya dan Nona tunggu saja di meja makan. Biar Bibi dan Bi Siti saja yang menyiapkan,"


"Ya udah, sayang. Kita tunggu di meja makan aja." Ajak Bu Dewi.


Maria dan Bu Dewi pun pergi dari dapur, lalu duduk di kursi meja makan.


Beberapa menit kemudian, makanan pun sudah siap dihidangkan.


"Sayang, Dewa mana?" Tanya Bu Dewi.


"Tadi, pas Maria keluar, Mas Dewa lagi ditoilet. Ya udah, Maria keatas dulu." Jawab Maria, lalu bergegas ke kamar.


Saat sampai di kamar, ternyata Dewa tertidur. Maria yang melihatnya, hanya tersenyum lalu berusaha untuk membangunkannya.


"Mas, bangun. Kita sarapan dulu, yuk!" Ucap Maria, sambil mengusap lengan Dewa.


Namun,  Dewa belum bangun juga.


"Mas!" Panggil Maria kembali.


"Iya, sayang." Ucap Dewa, lalu menarik Maria ke pelukannya.


"Aw!" Teriak Maria karena terkejut.


"Kenapa, sayang?" Tanya Dewa.

__ADS_1


"Mas, lepasin. Kita sarapan dulu yuk, nggak enak semua udah nunggu di meja makan." 


"Iya deh," 


Akhirnya, Dewa pun mau bangun. Lalu berjalan ke meja makan.


"Maaf, Dewa tadi ketiduran." Ucap Dewa saat berada di meja makan.


"Iya, Papi ngerti kok." Ucap Pak Bima, sambil tersenyum.


"Ya sudah, kita makan dulu aja." Ucap Bu Dewi.


Setelah selesai makan, Dewa dan Maria bergegas kembali ke kamar. Namun, baru saja beberapa langkah, Bu Dewi bertanya.


"Kalian, nggak ke kantor?" Tanya Bu Dewi.


"Nggak, Mi. Kita libur dulu sehari," jawab Dewa.


"Oh, yasudah kalau begitu." 


Maria dan Dewa pun kembali ke dalam kamar. Lalu, memadu kasih kembali.


***


Saat siang hari, salah satu karyawan Dewa menelpon. Dewa pun bergegas menerima panggilannya.


"Hallo!" Ucap Dewa.


"Pak, tolong kami. Beberapa orang bersenjata, mengobrak-ngabrik kantor dan beberapa orang menyekap kami." Ucap Saipul salah satu karyawan staf Dewa.


"Apa? Siapa mereka?" Tanya Dewa terkejut.


"Saya nggak tahu, Pak. Tolong kami, Pak!"


"Ok, kamu tenang. Saya akan segera ke sana."


Dewa pun bergegas, memakai pakaiannya yang berserakan dengan tergesa-gesa. Melihat suaminya tergesa-gesa, Maria pun penasaran.


"Ada apa, Mas?" Tanya Maria.


"Di kantor ada masalah, sayang. Mas ke kantor dulu yah." Jawab Dewa sambil mengenakan pakaiannya.


"Saya ikut ya, Mas."


"Jangan, ini bahaya."


"Tapi, Mas. Saya juga berhak tahu,"


"Ya Sudah, tapi disana jangan jauh-jauh dari Mas."


"Iya, Mas."


Setelah selesai, mereka pun bergegas keluar.


"Mau kemana?" Tanya Bu Dewi saat berpapasan.


"Kita mau ke kantor, Mi." Ucap Dewa.


"Loh, katanya hari ini kalian libur?"


"Di kantor ada masalah, Mi. Jadi, kita harus segera kesana. Do'akan ya, Mi. Semoga tidak terjadi apa-apa."


"Iya, Sayang. Kalian hati-hati, jangan lupa hubungi polisi."


"Iya,Mi.


Dewa pun bergegas melajukan mobilnya, lalu menghubungi polisi saat dalam perjalanan.

__ADS_1


Siapa sebenarnya, yang coba menghancurkan Dewa?


__ADS_2