Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Bi Siti


__ADS_3

***


Malam hari, saat aku sedang asik menonton sinetron favoritku dengan Bi Siti, ponselku berdering. Kulihat ternyata Pak Dewa menelponku, aku pun segera mengangkatnya.


"Malam Pak, ada yang bisa saya bantu?" Sapaku.


"Malam Maria, maaf malam-malam saya mengganggu." Ucapnya.


"Nggak sama sekali Pak, ada apa?" tanyaku.


"Apa benar Raisya tadi sore menamparmu?" tanyanya.


Aku terdiam sejenak, sebenarnya aku tak ingin memberitahukan sebenarnya. Karena aku berharap hubungannya dengan Mbak Raisya membaik, dan aku pun tak selalu disalahkan oleh Mbak Raisya.


"Maria, kamu dengar saya?" tanya Pak Dewa kembali.


"Oh iya Pak maaf,"


"Apa benar Raisya menamparmu?" tanyanya dengan nada emosi.


"Iya Pak, tapi sepertinya Mbak Raisya tak sengaja." Jawabku berbohong.

__ADS_1


"Kamu nggak perlu berbohong, Mami sudah menceritakan semuanya."


Kalau udah tahu ngapain juga nanya Pak Dewa, duh bikin nggak enak aja, apa dia mau mengetes kejujuranku atau gimana sih? Aku pusing dengan semuanya, masalahku saja sudah pening, tambah lagi dengan masalah Pak Dewa. Rasanya ingin pergi ke dunia lain, tanpa ada yang tahu.


"Iya Pak maaf, bukan maksudku membohongi Bapak, hanya saja saya ingin hubungan Bapak dengan Mbak Raisya membaik. Ucapku.


"Maaf ya Maria, kamu lagi-lagi kena imbas masalah rumah tangga kami. Saya janji, secepatnya saya akan selesaikan masalahku dengan Raisya."


"Iya Pak nggak papa, saya mengerti. Saya hanya bisa mendo'akan semoga semuanya cepat selesai."


"Ya sudah kalau begitu, terimakasih.


Panggilan pun berakhir, ku letakan ponselku dimeja. Lalu kurebahkan tubuhku yang terasa sangat lelah dengan kasar di atas sofa panjang, kutarik nafasku dalam-dalam dan ku hembuskan lagi dengan kasar.


"Kenapa Neng, kok kayaknya banyak pikiran? Bibi pijitin yah" tanya Bi Siti.


"Boleh Bi, kayaknya enak juga kalau dipijitin." ucapku, lalu Bi Siti pun dengan sigap memijit kakiku.


"Kenapa sih Neng, coba ceritakan sama Bibi. Yah, walaupun Bibi nggak bisa bantu masalahnya, tapi setidaknya pikiran dan hati Neng Maria bisa sedikit berkurang."


"Saya pusing Bi, Bibi tahukan yang kemaren marah-marah disini. Tadi sore dia menamparku Bi," jawabku lirih, bukan hanya karena tamparannya yang membuatku sakit, tapi hinaannya itu yang lebih menyakitkan.

__ADS_1


"Apa Neng, keterlaluan sekali wanita itu, kalau ada Bibi, pasti udah Bibi bejek tuh mukanya. Mukanya doang cantik, tapi akhlaknya buruk. Tapi Neng nggak papa kan?" ucapnya kesal.


"Nggak papa Bi, tapi saya pusing Bi. Apa saya berhenti saja yah dari kantor itu?"


"Bibi mah nggak bisa ngasih pendapat apapun Neng, Bibi juga bingung. Tapi Bibi do'ain, semoga masalah yang Neng hadapi ini cepat selesai."


"Makasih Bi, udah selalu menjadi pendengar yang baik." ucapku tersenyum.


Bi Siti bagiku bukanlah hanya sekedar asisten rumah tangga biasa, namun sudah ku anggap seperti ibu kandungku. Selama disini dia lah yang selalu setia membantuku dalam hal apapun, walaupun hanya sekedar menjadi pendengar keluh kesalku, namun sangat berarti bagiku.


Aku bersyukur masih dikelilingi orang baik disekitarku, walaupun segerintilan orang selalu berusaha ingin menjatuhkanku.


"Saya ke kamar duluan ya Bi, terimakasih udah dipijitin dan mau dengerin curhatan Maria" ucapku.


"Iya sama-sama Neng. Oya ini sinetronnya belum selesai, masa mau langsung tidur sih Neng, tanggung bentar lagi bersambung." Ucapnya.


"Ya sudah Bibi aja yang lanjutin nontonnya, besok pagi jangan lupa ceritain yah."


"Siap Neng, besok Bibi ceritain kelanjutan sinetronnya."


Akupun berjalan menuju kamar, meninggalkan Bi Siti yang sedang asik menonton sinetron sambil tertidur dikasur lantai. Bibi sudah tak canggung denganku, dia sudah menganggapku sebagai anaknya sendiri. Bi Siti tak mempunyai siapapun, anak dan suami nya sudah meninggal dunia. Hanya Bi Imah lah keluarga satu-satunya di dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2