
Raka tak menghiraukan ucapanku, dia hanya tersenyum, lalu memilah-milih ponsel di depannya.
"Yg ini mbak," Raka menunjukkan ponsel pilihannya.
Setelah ku lihat ternyata sebuah ponsel cantik dengan harga selangit. Seketika aku langsung menarik lengannya.
"Mas jangan, saya nggak sanggup buat ganti uang mas Raka." Ucapku.
Bagaimana saya tidak menolak, ponsel yang dipilihnya setara dengan harga motor keren.
Namun lagi-lagi Raka hanya tersenyum.
"Siapa juga yg suruh kamu ganti, ini aku belikan secara cuma-cuma." ucapnya sambil memberikan kredit card kepada pelayan.
"Tapi ini terlalu mahal Mas," rengekku berharap Raka mengurungkan niatnya.
Tapi Raka hanya tersenyum tanpa menjawab apapun.
"Tolong sekalian aktifkan ya Mbak," ucap Raka pada pelayan.
"Baik Pak."
Pelayan itu pun langsung mengotak ngatiknya.
"Ini udah selesai Pak," ucapnya sambil memberikan ponsel itu kepada Raka.
"Ok, terimakasih." sambil menerima ponsel yg diberikannya.
"Sama-sama." ucap pelayan itu dengan ramah.
"Ini terima, saya tahu kamu butuh. Jadi, kamu tak usah menolak, dan saya pun tak suka jika kamu menolak." Ucap Raka seraya memaksa.
Dengan terpaksa akhirnya akupun menerimanya. Yah, bukan karena hanya tak enak hati menolak etikad baiknya, namun sebenarnya akupun suka dengan ponselnya, hehehhe.
"Terimakasih." ucapku.
"Ya sudah kita jalan-jalan yuk, kita ketoko pakaian. Saya mau membeli sesuatu," ajaknya kembali.
Setelah muter-muter, Raka berhenti didepan sebuah toko branded yang sudah pasti harganya membuat dompetku menangis.
"Maria, kita lihat-lihat toko yang ini dulu ya, sepertinya pakaiannya bagus-bagus," ucapnya sambil menarik tanganku.
Namun akupun hanya terdiam lalu mengikuti langkahnya.
"Tolong pilihkan pakaian wanita yg menurutmu bagus," ucapnya.
"Untuk siapa?" tanyaku penasaran.
"Untuk seseorang yang sepesial." jawabnya.
Apa? Wanita spesial. Ternyata dia sudah punya kekasih, tapi kenapa dia malah mencoba mendekatiku.
Ah, apa mungkin dia hanya kasihan padaku saja?
"Iya mas. Oya wanita itu memakai ukuran apa?" Tanyaku menyelidik.
"Ukuran tubuhnya seperti kamu, jadi ukur saja dengan badanmu." jawabnya.
Aku pun mulai memilih-milih, tak perlu menunggu lama akhirnya aku menemukan pakaian yang cocok sesuai seleraku.
"Ini Mas," ucapku sambil memberikan pakaian yang sudah kupilih.
"Ok, aku yakin dia pasti suka." ucapnya.
__ADS_1
Raka pun bergegas membawanya ke kasir, setelah selesai membayar, Mas Raka mengajakku makan.
"Kita makan siang dulu yah," ucapnya.
"Iya." ucapku.
Kami pun berjalan menuju sebuah restoran mewah. Kami pun segera duduk, setelah itu seorang pelayan cantik mengahmpiri kami sambil memberikan buku menu.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Raka padaku sambil melihat-lihat menu.
"Terserah Mas Raka saja, aku pasti suka." jawabku singkat.
"Ya sudah mbak, saya pesan ini 2 sama minumnya yg ini juga 2," ucapnya sambil menunjukkan gambar yang tertera di buku menu.
Pelayan itupun dengan cepat mencatat pesannan kami, lalu pergi.
"Kamu kenapa?" Tanya Raka karena mungkin melihatku merasa tak nyaman ditempat mewah ini.
"Nggak papa, cuma nggak biasa aja makan ditempat mewah begini." jawabku dengan sejujurnya.
Namun Raka hanya tersenyum mendengar ucapanku, mungkin menurutnya aku norak.
"Ya sudah kalau kamu tidak nyaman, kita pindah tempat saja ke tempat yang menurutmu nyaman."
"Nggak usah mas, nanggung juga udah pesan."
Tak lama kemudian pesananpun datang.
"Silahkan," ucap pelayan sambil menghidangkan makanan.
Tanpa malu aku langsung menyantapnya, selain enak, perutku pun lapar. Kulihat Raka hanya tersenyum melihat tingakahku.
"Kamu lucu yah, jadi cewek kok nggak ada jaim-jaim nya. Biasanya kan cewek kalau makan diluar sangat elegant, takut lipstiknya luntur." ucapannya sambil tertawa kecil.
"Saya suka cewek sepertimu,"
Tiba-tiba aku tersedak mendengar ucapannya.
"Maaf-maaf," aku segera mengelap bibirku.
"Iya nggak papa, makanya kalau minum pelan-pelan." nasihatnya.
Setelah beberapa menit akhirnya makanan yg kami pesan habis.
"Oya, ini buat kamu," ucapnya sambil memberikan pakaian yang kupilih tadi.
"Loh, kok buat saya. Katanya buat wanita spesial kamu Mas!" ucapku bingung.
"Iya buat kamu, wanitanya ya itu kamu."
Apa, aku? Aku terdiam mendengar ucapannya.
"Mas, saya mau sholat dulu. Mushola atau masjid disini dimana yah?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan, kebetulan juga waktu sudah menunjukkan jam setengah satu siang.
"Nanti saya antar, tapi saya harus membayar makanan nya dulu, kamu tunggu sebentar."
Raka pun memanggil pelayan lalu memberikan sebuah Credit Card sebagai alat pembayaran.
Setelah selesai kami pun bergegas keluar menuju menuju parkiran mobil.
Raka pun melajukan kendaraannya lalu mengantarkanku kesebuah masjid.
Akupun bergegas turun lalu berjalan memasuki masjid, setelah itu akupun langsung menunaikan kewajibanku.
__ADS_1
Lima belas menit kemudian, akupun kembali menghampiri Raka, kulihat dia sedang berbicara lewat ponselnya, entah apa yg dia bicarakan, samar-samar ku dengar dia tengah memarahi seseorang.
"Mas..," Panggilku.
"Eh Maria, udah selesai sholatnya?" tanyanya dengan wajah gugup.
"Udah mas." akupun masuk kedalam mobilnya.
"Kamu kenapa Mas?"
"Nggak papa, cuma kepikiran kerjaan aja kayak nya ada masalah sedikit."
Aku mengangguk, walaupun sebenarnya aku tak mengerti.
Tak lama kemudian akhirnya sampai dikediaman rumahku, akupun bergegas turun dari mobinya.
" Terimakasih Mas,"ucapku.
Namun dia hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, lalu melajukan kendaraannya.
Aku bergegas masuk kedalam rumah, kulihat Ibu sedang duduk menonton sinetron favoritnya.
"Assalamualaikum," ucapku.
"Wa'alaikumsalam. Udah pulang sayang," ucap Ibu.
"Udah bu." ucapku sambil duduk.
"Kok sebentar banget, katanya sampe sore?" tanya Ibu.
"Teteh capek bu pengen istirahat, lagian kayanya Mas Raka ada kerjaan." jawabku.
Ibu melihat tentengan yg kubawa, lalu memeriksanya.
"Ini apa teh?" tanya ibu sambil membuka hanbag yang berisi pakaian dan box bekas ponselku.
"Oh ini, ini baju sama ponsel pemberian Mas Raka." jelasku.
"Bagus teh, pasti mahal nih harganya. Baik banget yah nak Raka itu baru kenal aja udah ngasih ini itu."
Aku hanya tersenyum mendengar perkataan ibu.
"Oya, emang ponsel teteh kemana?" tanya ibu.
" Ponselku rusak bu terjatuh semalam." jawabku.
"Owalah bagus banget ponselnya, kaya ponsel artis-artis di tv itu."
"Ya sudah bu, teteh mau istirahat dulu yah,"
"Ya sudah sana istirahat."
Aku langsung bergegas masuk ke kamarku, karena aku khawatir ibu bertanya lebih jauh. Aku tak mau terus berbohong pada Ibu. Ku baringkan tubuhku diatas ranjang sederhana yang selama ini menadi tempat ternyaman untukku.
Oh iya, aku harus menghubungi Pak Hendi tentang kejadian semalam, akupun bergegas mengambil buku catatan nomor ponsel. Ya, aku memang sengaja mencatat semua nomor yang penting, agar tak susah meminta kembali jika ponselku hilang ataupun rusak.
"Maaf Pak Hendi, ini saya Maria. Maaf Pak sebelumnya, saya ingin pindah toko Pak karena saya sudah tidak mungkin kerja ditoko Bapak. Saya trauma dengan sikap Mas Romi tadi malam yg hampir melecehkanku, saya harap Bapak bisa mengerti." pesanku.
Tak lama kemudian Pak Hendi menjawab.
"Baik lah, akan Bapak usahakan. Tapi kamu harus bersabar dulu sampai ada kasir baru yang bisa menggantikanmu. Untuk sementara akan saya buatkan jadwal ulang agar tidak satu shift dengan Romi. Saya pun sangat menyayangkan kejadian itu."
"Baik pak terimakasih."
__ADS_1
Aku lega setelah melaporkannya, setidaknya aku bisa terhindar dari Romi.