
Pagi itu, setelah selesai sarapan. Dewa masih duduk menemani Maria dikamar, Maria pun merasa bingung karena Dewa belum berangkat ke kantornya.
"Mas, kamu nggak ke kantor?" Tanya Maria.
"Nggak, Mas kerja dari rumah aja." Jawab Dewa.
"Kenapa?"
"Mas mau temani kamu."
"Tapi, Mas. Ini kan dirumah, aku juga nggak sendiri. Ada Ibu, Bapak, dan Mami juga."
"Tapi Mas nggak tenang, sayang. Harus jauh dari kamu,"
Tiba-tiba Bibi mengetuk pintu kamar.
Tok, tok, tok!!
Dewa bergegas berjalan, lalu membuka pintu.
"Ada apa, Bi?" Tanya Dewa.
"Itu, Den. Ada Pak Arya di depan," jawab Bibi.
"Ok, suruh Pak Arya tunggu di ruang kerja saya." Ucap Dewa.
"Baik, Pak." Ucap Bibi lalu pergi menemui Arya.
Setelah Bibi pergi, Dewa menghampiri Maria kembali.
"Sayang, kamu ikut Mas yah ke ruang kerja." Ajak Dewa.
"Iya, Mas." Ucap Maria menuruti ajakan suaminya tanpa banyak tanya.
Setelah itu, Dewa pun menggandeng Maria berjalan menuju ruang kerjanya.
"Selamat Pagi, Pak, Bu!" Sapa Arya saat melihat bosnya masuk.
"Pagi, silahkan duduk." Ucap Dewa, dan diikuti senyum Maria.
Setelah itu, Dewa menyuruh Maria duduk di kursinya.
"Kamu duduk disini, yah." Ucap Dewa lalu memberikan kursinya kepada Maria.
"Nggak usah, Mas. Aku bisa duduk di sebelah Pak Arya, lagian kalau aku duduk disini, Mas mau duduk dimana?" Ucap Maria.
Dewa tak menjawab apapun yang Maria ucapkan, dia malah mengambil satu kursi untuknya.
Maria tersenyum melihat kelakuan suaminya itu yang terlalu berlebihan meratukannya.
"Makasih ya, Mas." Ucap Naima, saat Dewa menggeser kursi.
Setelah itu, Dewa pun mulai berbicara dengan Pak Arya.
"Arya, tolong kamu carikan asisten dan sekretaris untuk saya," ucap Dewa yang membuat Maria terkejut.
"Baik, Pak." Ucap Arya.
"Tunggu, Mas. Maksudnya apa? Mas pecat aku?" Tanya Maria bingung.
"Nggak, malah Mas naikan jabatanmu?" Jawab Dewa tersenyum.
"Jabatan apa?" Tanya Maria serius
"Jadi Nyonya PT. Dewangga Group." Jawab Dewa.
"Mas ini, itu bukan naik jabatan tapi dipecat." Ujar Maria.
Melihat kemesraan bosnya, Arya pun pamit segera memberikan berkas-berkas yang diminta Dewa.
__ADS_1
"Maaf, Pak. Ini berkas-berkas yang Bapak minta," ucap Arya.
Yah, sebelum Arya kerumah, Dewa telah menghubunginya lewat telepon untuk membawakan berkas-berkas penting yang harus ditanda tanganinya.
"Ok, terimakasih." Ucap Dewa setelah mengecek berkas yang diberikan Arya padanya.
"Ada lagi Pak, yang bisa saya kerjakan." Tanya Arya.
"Nggak, saya rasa cukup. Tapi nanti jika saya butuh sesuatu lagi, saya akan menghubungimu." Jawab Dewa.
"Ya sudah, kalau begitu, saya permisi. " Ucap Arya.
"Tunggu. Ini kriteria yang saya inginkan, saya ingin asistennya laki-laki yang jago beladiri." Ucap Dewa sambil menyerahkan berkas yang berisi persyaratan kriteria karyawan baru yang diinginkannya.
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Arya.
"Silahkan." Ucap Dimas.
Setelah Arya pergi, Dewa mulai mengerjakan tugas nya sambil ditemani Maria yang masih duduk disampingnya.
Satu jam berlalu, Maria merasa kesal menemani Dewa tanpa mengerjakan apapun.
"Mas, kasih aku kerjaan apa kek. Aku kan kesel, cuma liatin kamu kerja." Protes Maria manja.
"Kamu nggak perlu kerja apapun, cukup temaniku sampai akhir hayat." Ucap Dewa sambil tersenyum dan mengusap lembut wajah Maria.
"Aduh gombalanmu, membuatku meleleh." Ucap Maria bercanda sambil menyandarkan tubuhnya ke Dewa.
Dewa pun menyambutnya dengan belaian mesra.
"Mas, aku keluar yah." Rengek Maria.
"Nanti, bentar lagi." Ucap Dewa sambil mengutak ngatik laptopnya.
"Aku keluar sendiri, Mas disini aja." Ucap Maria.
"Iya, boleh. Tapi nanti setelah kerjaan selesai," ucap Dewa.
Beberapa menit kemudian, Dewa menutup laptopnya.
"Selesai. Ayo, kita mau kemana?" Tanya Dewa.
"Kedepan aja deh, Mas." Jawab Maria.
Mereka Pun bergegas keluar, lalu duduk di taman halaman rumah.
"Mas, terimakasih yah. Sudah selalu ada untukku," ucap Maria saat duduk bersama.
"Iya, sama-sama." Ucap Dewa, sambil tersenyum lalu memeluk Maria dengan hangat.
Dewa dan Maria sangat bahagia, bisa dipertemukan bersama. Mengingat perjuangan mereka sangatlah rumit.
Berbagai cobaan silih berganti mereka lalui bersama, dan pada akhirnya tuhan tetap menyatukan cinta mereka berdua.
Hari semakin terik, membuat mereka tidak merasa nyaman.
"Mas, kita masuk yuk! Udah panas," ajak Maria.
"Yuk," ucap Dewa.
Mereka pun masuk kedalam. Bu Dewi yang melihat nya langsung bertanya.
"Kalian dari mana?" Tanya Bu Dewi.
"Kami dari taman, Mi." Jawab Dewa.
"Maria, kamu harus banyak istirahat. Jangan nurut saja dibawa-bawa Dewa keluar," protes Bu Dewi.
"Nggak kok, Mi. Saya yang minta," ucap Maria.
__ADS_1
"Yaudah, sekarang kamu ke kamar, istirahat yah." Ucap Bu Dewi, lalu dibalas senyum Maria.
Setelah itu, Dewa dan Maria masuk kedalam kamarnya.
"Tunggu bentar ya, Mas mau ambil laptop dulu." Ucap Dewa.
Maria hanya mengangguk, lalu Dewa pun bergegas jalan ke ruang kerjanya.
Setelah mengambil laptop, Dewa segera kembali menemani Maria.
Namun saat masuk ke dalam kamar, Dewa Cemas, karena tidak melihat Maria.
Dewa langsung mencari keberadaan istri tercintanya itu. Namun, tiba-tiba Maria masuk.
"Sayang, kamu dimana?" Tanya Dewa sambil menghampiri Maria, dengan nada khawatir.
"Oh, itu Mas. Aku habis dari dapur, ambil minum." Jawab Maria, sambil menunjukan segelas air minum di tangannya.
"Ya ampun, sayang. Kamu bikin Mas khawatir aja," ucap Dewa lalu memeluk Maria.
"Iya, Mas maaf." Ucap Maria.
***
Beberapa hari kemudian, keadaan mulai tenang. Maria dan Dewa, bisa melakukan aktifitas seperti biasanya.
Kedua orang tua Maria, memutuskan untuk kembali ke kampung.
Siang itu, kedua orangtua Maria bersiap-siap. Maria, yang mengetahui akan kepulangan kedua orangtuanya membuatnya sedih.
"Bu, Ibu yakin mau pulang?" Tanya Maria sambil memeluk Ibunya dari belakang.
"Iya, teh. Ibu sama Bapak udah kangen sama rumah. Lagian, Ibu juga sudah tenang teteh udah ada yang melindungi." Jawab Ibu.
"Iya, sayang. Ibumu benar, lagian Bapak juga kepikiran sama kebun." Imbuh Bapak.
Maria hanya terdiam, mendengar ucapan kedua orang tuanya.
Setelah selesai berkemas, kedua orang tua Maria berpamitan kepada besannya.
"Bu Dewi, kami pamit yah. Maaf selama ini, kami merepotkan Ibu sekeluarga." Ucap Ibu saat berada di depan rumah.
"Nggak, Bu. Kami tidak merasa direpotkan," ucap Bu Dewi.
"Ibu, nitip Maria yah," ucap Ibu kepada Dewa.
"Iya, Bu. Dewa pasti menjaga Maria dengan baik." Ucap Dewa lalu menyalami kedua mertuanya.
"Salam sama Pak Bima ya, Bu." Ucap Bapak.
"Iya, Pak. Hati-hati dijalan." Ucap Bu Dewi.
Maria memeluk kedua orangtuanya, hatinya sedih karena harus berpisah.
Setelah berpamitan, kedua orang tua Maria pun masuk ke dalam mobil lalu diantar oleh salah satu anak buah Dewa.
Dewa, Maria, dan Bu Dewi melambaikan tangannya. Air mata Maria berlinang, setelah mobil yang membawa kedua orang tuanya sudah tak terlihat dari pandangannya.
"Udah, Sayang. Kita doakan saja, semoga mereka selamat sampai tujuan." Ucap Dewa menenangkan.
"Iya, sayang. Nanti lain waktu kita, kita sempatkan main ke kampungmu." Imbuh Bu Dewi sambil mengelus bahu Maria
Maria hanya terdiam, lalu bergegas masuk bersama suami dan Ibu mertuanya.
Beberapa jam kemudian, hati Maria merasa resah dan gelisah. Dia teringat kedua orang tuanya yang belum menghubunginya, dia pun cemas tak karuan menunggu kabar.
Beberapa menit kemudian, Maria mencoba menghubunginya. Namun, tak ada jawaban.
Tak lama kemudian, seseorang menghubungi Maria.
__ADS_1
Setelah itu, Maria menangis meraung saat panggilan telepon masih berlangsung.
Apa yang sebenarnya terjadi?