Terjerat Cinta Sang Narapidana

Terjerat Cinta Sang Narapidana
Amarah Raka!


__ADS_3

"Mami pulang dulu ya, titip salam untuk Maria." Ucap Bu Dewi.


"Iya Mi, hati-hati." Ucap Dewa, sambil menyalami Bu Dewi.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam."


Setelah memastikan Maminya pergi, Dewa kemudian masuk kedalam ruangan Maria. Tak lama kemudian, seorang dokter masuk.


"Selamat siang Pak," sapa Dokter.


"Siang Dok." Dewa menimpali sapaan Dokter.


"Bagaimana keadaan Bu Maria?" Tanya dokter.


"Seperti yang Dokter lihat, Maria sepertinya sudah cukup tenang." Jawab Dewa.


Mendengar percakapan Dewa dan Dokter Mariapun terbangun.


"Maaf mengganggu Bu Maria," ucap Dokter.


"Nggak papa Dok,"


"Hasil Laboratorium Bu Maria sudah keluar, menurut hasil Lab Bu Maria kekurangan cairan dan Hb nya pun rendah. Jadi, untuk beberapa hari Bu Maria harus dirawat." Ucap Dokter.


"Baik Dok," ucap Dewa.


"Setelah ini Pak Dewa harus segera mengurus administrasinya, agar Bu Maria bisa cepat dipindahkan ke ruangan."


"Baik Dok,"


"Saya permisi dulu."


"Silahkan."


Dokter pun pergi keluar ruangan di iringi seorang perawat berjalan dibelakangnya.


"Maria, saya ke depan dulu ngurus administrasi." Ucap Dewa.


"Iya Pak,"


"Saya hanya sebentar,"


Mariapun mengangguk, lalu Rakapun bergegas jalan menuju meja administrasi.


Maria kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, lalu menghubungi Bi Siti.


"Halo Bi," ucap Maria saat panggilan tersambung.


"Iya Neng ada apa?" Ucap Bi Siti.


"Bi tolong kesini ya Bi, temenin Maria."


"Oh iya Neng, dimana?"


"Rumah sakit Medika,"


"Baik Neng, Bibi siap-siap dulu yah."


"Iya Bi, nanti kalau udah sampe depan Rumah sakit, Bibi kabarin yah."


"Iya Neng."


Panggilan berakhir, dan tak lama kemudian Dewa kembali.


"Maria, sebentar lagi kamu dipindahkan keruang perawatan." Ucap Dewa.


"Iya Pak. Oya Tante Dewi mana?" Tanya Maria sambil melihat ke arah keluar.


"Mami pulang, tadi Mami titip salam untukmu." Jawab Dewa.


"Maaf ya Pak, tadi saya ketiduran."


"Nggak papa, Mami ngerti kok."


Tiba-tiba beberapa orang perawat masuk dengan membawa kursi roda.


"Permisi! Maaf Bu Maria harus dipindahkan ke ruang perawatan," ucap salah seorang perawat.


"Iya sus, silahkan." Ucap Dewa.


Para perawat pun mulai membantu Maria turun dari ranjangnya, lalu didudukan dikursi roda, dan dibawa ke ruang perawatan. Dewa pun mengikuti langkah para perawat membawa Maria ke ruang perawatan.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, mereka sampai disebuah ruang perawatan VVIP, tempat perawatan Maria untuk beberapa hari kedepan. Setelah Maria berbaring dengan baik, para perawatpun pergi.


"Pak Dewa, kalau Bapak mau pulang nggak papa." Ucap Maria.


"Kalau saya pulang kamu sama siapa?" Tanya Dewa.


"Nanti Bi Siti kesini," jawab Maria.


"Kapan Bi Siti datang?"


"Mungkin satu jam lagi sampai."


"Kamu yakin, nggak mau saya temenin."


"Bapak sudah terlalu banyak membantu saya, dan sepertinya Bapak kecapean. Lebih baik, Bapak istirahat saja dulu."


"Saya akan beristirahat disini, saya khawatir Raka akan menemukanmu."


"Bapak yakin?"


"Nggak yakin kenapa?"


"Tapi pekerjaan Bapak gimana?"


"Nanti supir saya akan mengantarkan semuanya, jadi saya bisa kerjakan disini. Dan untuk meeting, mulai besok akan dihandle Pak Rayhan sementara."


Maria terdiam sejenak, Maria sangat bersyukur karena dia selalu dikelilingi orang baik. Dulu Raka yang selalu ada untuknya, namun setelah Raka berubah sekarang Pak Dewa yang selalu melindunginya.


Ting!


Notifikasi sebuah pesan diponsel Dewa.


Setelah membaca pesan, Dewa bergegas untuk keluar.


"Saya keluar dulu sebentar, Herman sudah sampai didepan. Saya mau mengambil berkas dan laptop," ucap Dewa sambil menatap Maria.


"Iya Pak." Ucap Maria.


"Maj nitip apa? Sekalian saya kedepan."


"Nggak Pak."


"Ya sudah kalau gitu, saya keluar sekarang."


Dewa pun pergi keluar menemui Herman, supirnya.


"Ini Pak, pesanan Bapak semua." Ucap Herman sambil menyerahkan laptop, berkas-berkas, makanan dan sebuah koper mini yang berisi pakaian.


"Terimakasih." Ucap Dewa.


"Sama-sama, kalau begitu saya pamit dulu." Pamit Herman.


Dewapun membawa barang-barangnya kedalam kamar perawatan Maria. Saat berjalan dikoridor rumah sakit, beberapa orang melihat Dewa dengan tatapan kagum.


Sesampainya di ruang perawatan Maria, Dewa langsung menyimpan barang-barangnya lalu kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Tiba-tiba seorang perawat masuk dengan membawakan makanan.


"Permisi! Ini makanannya ya Bu, tolong dihabiskan. Biar Ibu cepat pulih," ucap seorang perawat sambil meletakan makanan dimeja.


"Terimakasih, Sus." Ucap Maria.


Perawat itu hanya tersenyum lalu keluar kembali mengantarkan makanan untuk pasien lain.


Dewapun keluar, dengan wajah lebih segar dan wangi. Mata Maria tertuju padanya, dengan senyum Maria mentap Bosnya itu.


"Kenapa senyum-senyum?" Tanya Dewa saat hendak duduk.


"Nggak papa," jawab Maria santai.


Maria berusaha untuk mengambil makanan dimeja, namun sepertinya Maria kesulitan karena tangannya tak sampai meraih, dengan cepat Dewa langsung membantunya.


"Terimakasih Pak,"


"Iya,,,"


Dewa langsung menyuapi Maria sampai makanannya habis.


"Masih kurang?" Tanya Dewa.


"Nggak Pak, cukup." Jawab Maria dengan tersenyum.


Dewa langsung kembali ke sofa, untuk mengerjakan pekerjaannya yang tertunda sambil sesekali manyantap roti yang berisi daging dan sayuran.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Bi Siti menghubungi Maria.


"Neng, Bibi didepan."


"Bibi langsung ke ruangan saya aja ya Bi, di ruang VVIP."


"Iya Neng."


Seleng beberapa menit, Bi Sitipun datang.


"Assalamualaikum,"


"Wa'alaikumsalam."


"Permisi Pak!" Ucap Bi Siti saat melihat Dewa sedang duduk di sofa.


Dewa hanya mengangguk sambil tersenyum melihat kedatangan Bi Siti.


"Ya ampun Neng, kenapa begini?" Ucap Bi Siti terisak.


"Nggak papa Bi."


"Orangtua Neng tahu, kalau Neng sakit?"


"Nggak Bi, saya sengaja tak memberitahunya. Takut khawatir, lagian jauh juga kan."


"Ya sudah Neng istirahat yah, biar cepet sembuh."


***


Setelah mengantar Winda ke rumah sakit, Raka bergegas kembali ke rumah kosong tempatnya menyekap Maria dengan membawa Dokter. Namun sesampainya disana, Raka terkejut karena pintu kamar sudah terbuka.


"Kemana Maria pergi?" Ucap Raka kesal.


"Pasuennya mana Pak?" Tanya Dokter.


"Maaf Dok, sepertinya dia sudah pergi."


"Kalau begitu saya permisi."


Setelah kepergian Dokter, Raka berusaha mencari ke setiap sudut ruangan berharap Maria masih ada didalam rumah itu. Nihil, Raka tak menemukannya, dan membuat emosinya memuncak. Raka pun menghubungi teman-temannya untuk mencari keberadaan Maria.


Raka kembali kerumahnya, untuk menanyakan kepada Winda. Raka menduga Winda terlibat dengan perginya Maria, lalu dilajukannya kendaraan dengan kecepatan tinggi.


"Winda, keluar kamu Winda!" Teriak Raka saat sampai di rumahnya.


"Raka, apa-apaan kamu teriak-teriak?" Tanya Riska. Riska adalah wanita yang telah melahirkannya.


"Winda mana Ma?"


"Ada dikamar sedang menemani Lani."


"Ada apa Mas?" Tanya Winda saat mengahmpiri Raka.


"Kamu tahukan Maria kemana?" Tanya Raka dengan mata membulat tajam.


"Ya nggak tahu lah Mas, kan saya dari tadi sama kamu." Jawab Winda berbohong.


"Jangan coba-coba berbohong Winda."


"Beneran Mas, saya nggak tahu."


"Raka, kamu ini ngapain masih saja ngurusin Maria. Dia itu udah nggak mau sama kamu, udahlah jangan ngejar dia terus. Kamu fikirkan Winda yang tengah mengandung anak kamu." Ucap Riska.


"Mama nggak ngerti, Raka sangat mencintai dia Ma." Ucap Raka.


Plakkk!


Tamparan keras mendarat di pipi Raka.


"Kamu jangan bodoh Raka, sadarlah. Dia bukan jodohmu, kamu harus belajar mencintai Winda. Dia yang sudah mau menerimamu dengan segala kekuranganmu, ingat Raka selama ini Windalah yang menanggung hidup kita. Harusnya kamu malu Raka, ayo sadarlah. Buka matamu Raka,"


Dewa hanya terdiam mendengar ucapan Ibunya itu, lalu pergi.


"Kamu mau kemana Mas?" Ucap Winda mengejar Raka.


"Bukan urusanmu!" Ucap Raka.


Winda hanya pasrah melihat suaminya itu pergi entah kemana.


Raka melajukan kendaraannya untuk mengunjungi rumah sakit, dia yakin Maria pasti dibawa kerumah sakit. Beberapa rumah sakit Raka kunjungi, namun taka ada data yang menunjukkan keberadaan Maria.


Tiba-tiba temannya menghubunginya, dan memberi kabar bahwa ada pasien wanita yang baru masuk disebuah rumah sakit. Raka pun langsung tancap gas mengarah kesana untuk memastikannya.

__ADS_1


Sesampainya, Raka menyamar sebagai perawat. Dia menelusuri setiap ruangan untuk mencari keberadaan Maria, tanpa menyerah Raka menelusuri satu persatu ruangan. Sampai akhirnya, Raka melihat seorang pasien wanita yang mirip dengan Maria.


Apakah itu Maria?


__ADS_2