
Dengan mengendarai motor Alion yang berwarna silver, mereka pun meninggalkan rumah Lily menuju ke suatu tempat. Lily merasa sangat penasaran kemana Alion akan membawanya pergi. Lily tak menyangka bahwa Alion akan mengajaknya keluar berdua. Memikirkan hal ini senyum di bibir Lily semakin lebar.
"Apa kau akan terus memelukku," kata Alion tiba-tiba.
"Hah," Lily tersetak tak mengerti maksud Alion. Sejak tadi rupanya Lily sedang melamun
Alion terkekeh melihat wajah Lily yang kebingungan. "Kita sudah sampai"
"Ah, ehm maaf," Lily pun turun dan melihat kesekelilingnya. Tempat yang sangat indah, ada danau alami yang jernih didepannya. Deretan pohon pohon hijau dengan petak petak bunga berwarna warni disekeliling nya. Bahkan samar samar lily mencium aroma manis buah. Lily tak pernah tahu ada tempat seperti ini.
"Lio, ini dimana," tanya Lily penasaran.
"Rahasia," jawab Alion misterius.
"Huh, tak mau memberi tahu ya sudah," kesal Lily.
"Ayo...." seru alion dengan menarik tangan lily.
Alion membawa Lily ke pondok di seberang danau. Ternyata itu adalah rumah dengan kebun buah di belakangnya. Pantas saja Lily mencium aroma manis buah. Lily sangat terkejud danau itu saja sudah sangat cantik. Siapa yang membangun rumah disini, Lily merasa sangan penasaran.
"Lio, rumah siapa ini? Kenapa kita kesini? Apa boleh kita masuk begini?" tanya Lily beruntut.
Alion menggeleng tak berdaya menghadapi pertanyaan Lily yang tiada habisnya. "Hmm, jadi yang mana harus kujawab dulu," balas Alion.
Sedangkan Lily sang pelaku hanya bisa cengengesan.
"Ini pondok milikku. Aku mengajakmu karna kau bilang ingin memetik buah kemarin ingat. Dan ya kita boleh masuk," jawab Alion.
"Ah, aku hanya bercanda kemarin," kata Lily tercengang.
Padahal ia hanya menyebutkan hal itu saat melihat berry dijalan. Lily iseng berkata jika dia ingin memetik buah itu jika saja tak ada orang lewat disana. Dan Alion malah menganggap hal itu serius dan mengajaknya kesini.
"Jadi, kau tak ingin memetiknya," kata Alion menunjuk ke kebun di depannya.
"Tentu saja mau, jangan marah jika aku ambil semuanya," gurau Lily.
"Kau bisa ambil berapapun," jawab Alion tenang.
Alion lalu mengambilkan sebuah keranjang kecil dan memberikannya pada Lily. Alion juga menyiapkan sepatu bot dan memasang kan nya pada Lily. Sedang Lily asyik menoleh ke kanan kiri penasaran akan semua hal.
"Lalu lio, apa kamu yang mengurus semua ini sendiri," tanya Lily.
Ia penasaran bagaimana pria itu merawat kebun ini sendiri. Karena sedari tadi tak ada siapapun selain mereka berdua disini.
"Tidak, ada orangku yang merawatnya," Sedari tadi pria itu sibuk memasang segala pelindung bagi gadis itu. Dari mulai topi, obat nyamuk, dan yang lainnya. Hmm, benar-benar pria yang perhatian.
"Ah, bagitu. Lalu aku akan kesana," kata Lily menunjuk ke arah buah berry.
"Pergilah," balas Alion.
__ADS_1
Alion dengan tenang mengikuti dibelakang Lily. Gadis itu terlihat sangat senang. Alion senang melihat rencananya berhasil. Alion tau bahwa Lily memang bercanda kemarin. Agas lah yang mengatakan jika bisa saja diam-diam Lily masih menyimpan apa yang terjadi pagi itu. Alion tak mau jika Lily jadi menjauhinya karna takut akan di bully lagi.
"Lio, cepatlah kesini berry ini sangat manis," seru Lily gembira.
Alion tersenyum menghampiri gadis itu.
Tentu saja alion akan melindungi gadis itu. Tapi ia tak ingin Lily menyimpan kenangan buruk. Gurauan Lily kemarin yang meberinya ide untuk mengajak gadisnya kesini.
Tempat ini adalah tempat dimana ia biasa menenangkan diri. Teman-temannya tahu jika dia tak dirumah, maka disinilah dirinya berada. Ide temannya lah yang ingin menanami buah agar mereka bisa makan sepuasnya.
Dan dia bersyukur menyetujui ide itu. Melihat gadisnya gembira Alion merasa hatinya penuh kehangatan.
Mereka berdua menghabiskan hari itu dengan penuh kebahagiaan. Memetik buah, memancing di danau, dan terakhir makan ikan bakar. Hari sudah mulai sore barulah mereka sadar harus pulang.
****
"Tak perlu cemberut, lain kali kita kan bisa kesini," kata Alion lembut.
"Benarkah?!" seru Lily semangat.
"Hmm, iya," kata alion.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pulang," kata Lily dengan senyum merekah di bibirnya.
Deru suara motor pun meninggalkan tempat itu.
Lily baru mengetahui Alion remaja ternyata sangatlah hangat. Di kehidupan sebelumnya saat ia bertemu Alion, dia terlihat sangat dingin dan kejam. Walaupun saat bersamanya Alion sedikit lebih baik, aura yang dia miliki masilah mengintimindasi. Entah apa yang telah Alion alami sampai dia berubah begitu.
Mereka pun akhirnya sampai di rumah Lily. Lily dengan semangat yang tak pernah luntur pun turun dari motor Alion.
"Terima kasih, Lio," Lily mengatakannya dengan senang hati. Dia benar benar merasa senang hari ini, bahkan mimpi buruk nya telah terlupakan.
"Senang," tanya Alion.
"Emm, senang sekali, aku akan membagi buah ini dengan orang rumah mereka pasti suka," kata Lily.
"Lakukan semaumu," kata Alion.
"Kamu ingin mampir, Lio," tanya Lily.
"Tidak, aku masih ada perlu," kata Alion.
"Ahh, begitu," kata Lily kecewa. Lily masih ingin menghabiskan waktu dengan Lio. Tapi apa boleh buat mereka saat ini masih belum menjadi suami istri. Lily cemberut memikirkan kapan mereka tak harus berpisah lagi.
Alion mengacak pelan rambut Lily membuat gadis itu tersipu. Mereka berdua terus saling memandang seolah tak mau berpisah. Takut mengetahui orang tuanya khawatir kenapa dia tak segera masuk. Lily pun berpamitan dengan Alion.
"Emm, kalau begitu sampai jumpa Lio, hati-hati jangan ngebut. Selamat malam," kata Lily.
"Hmm, selamat malam," balas Alion.
__ADS_1
****
Flassback
Di salah satu markas genk Zero terlihat empat gadis terikat di kursi dengan mulut di lakban. Mereka hanya bisa menangis ketakutan memikirkan nasib mereka.
"Hah, takut! Mana keberanian kalian tadi," sinis Agas.
"Cupu begini sok-sok an ngelabrak ibu negara," timpal Alvano.
"Makanya jangan sok, baru segini saja sudah takut," ejek Alvaro
"Ayo pergi, tinggalkan mereka disini," kata Zidan.
Mereka pun meninggalkan kempat gadis itu di ruangan gelab. Jika saja mulut mereka tak dilakban sudah pasti mereka akan menjerit minta tolong.
"Bagaimana?" tanya Alion.
"Boss- kau sudah sampai rupanya," kata Alvaro terkejud melihat Alion sudah ada di markas.
"Hmm," dehem Alion.
"Tenang boss, kita hanya mengurung mereka di gudang belakang. Biar saja mereka menginap dengan tikus dan kawan-kawannya," jelas Alvaro.
"Bagus, kita memang tak boleh mengkasari wanita," kata Alion dengan menyeringai.
Jika saja mereka pria sudah pasti habis di tangan Alion sedari tadi. Mengurung mereka disini itu sudah pelajaran paling ringan yang Alion berikan.
"Alion, bagaimana dengan orang tua Angel," tanya Zidan.
"Hmm, aku akan bilang pada ibu nanti," jawab Alion mantab.
"Ah, apa kau akan memberi tau perihal Lily," kata Agas.
"Hmm," Alion hanya berdehem tak menyangkal. Alion memang berniat memberi tahu ibunya. Ibunya itu selalu saja mengenalkannya pada putri teman temannya. Itu sangat menyebalkan. Alion tak mau masalah ini terulang lagi. Dia tak ingin siapapun menyakiti gadisnya. Mengingat tangan gadis itu terluka membuat hati Alion kesal.
"Lalu bagaimana keadaan Lily, bos," tanya Agas.
"Dia baik," Mengingat gadis itu membuat suasana hati Alion langsung baik.
"Mungkinkah dia pura-pura agar kau tak khawatir. Huh, sepupu ku saja saat dulu pernah di bully karna gemuk dia menangis dan menolak makan selama beberapa hari," kata alvaro.
"Ya benar, bos," kata Alvano menyetujui. Yahh, mereka memang kembar jadi, sepupu Alvaro sudah pasti sepupu Alvano juga. Lalu benarkah Lily pura-pura baik-baik saja.
"Menurutku sih pasti benar begitu. bos harus mengajak Lily kencan misalnya, dia pasti senang dan melupakan apa yang terjadi pagi tadi," kata Agas sok-sok an.
"Hmm, kau harus melakukan sesuatu agar dia lupa," timpal Zidan.
"Uuhh, Zidan aja setuju bos," kata Alvaro.
__ADS_1
"Hmm, baiklah," jawab Alion.
Alion memikirkan apa yang harus dia lakukan. Ngomong ngomong besok Alion dan Lily akan kerja kelompok mungkin dia bisa mencari tahu besok.