Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 52 GEO


__ADS_3

Di penjara kota.


Kondisi Geo setelah dipenjara tidaklah baik-baik saja. Semua orang disana tak memperlakukan Geo dengan baik sedikitpun. Baik narapidana yang ditahan maupun polisi yang bertugas. Tak ada satupun yang tidak menindas Geo di dalam penjara. Terlihat dari tubuh nya yang turun drastis dan beberapa luka pukulan. Sudah dipastikan hidupnya sangat sulit.


Seorang sipir baru saja mengabarinya bahwa seseorang ingin menemuinya. Kata katanya bahkan kasar saat berbicara dengan Geo. "Cepat, aku tidak punya waktu untuk menunggumu."


Geo yang telah terbiasa diperlakukan begini hanya bisa dengan patuh menurut. Dengan lesu dia melangkahkan kaki mengikuti sipir itu, menuju ke ruang pertemuan.


Tangan Geo tak diborgol ataupun di tahan. Tapi dia tak berani membuat ulah, kesombongannya seolah sudah habis, dia menjadi begitu pengecut saat ini. Setelah memasuki ruangan, sipir mendorongnya masuk dan kembali menutup pintu.


Dari tempatnya berdiri Geo bisa melihat seorang pria yang telah lama dia tak lihat setelah kejadian terakhir kali. Dengan penuh amarah dia mulai berkata.


"Kau puas!" bentak geo.


Untungnya hanya mereka berdua di tempat itu. Sepertinya pria itu telah menebak kejadian ini, jadi dia sudah mengatur semuanya.


"Kondisimu sepertinya buruk," kata pria itu dengan seringai.


"Kauuu-"


Geo ingin kembali marah. Namun, tiba tiba dia melihat pria itu memperlihatkan sebuah foto di ponselnya. Di sana ada seorang gadis yang tengah diikat dan mulutnya di lakban. Mata Geo membulat terkejud, dia sangat mengenal gadis itu.


"Bukankah itu Lily?! Apa yang terjadi," kata geo terkejud.


Pria itu kembali menaruh ponselnya setelah melihat reaksi Geo. Dengan serius dia menatap tepat pada mata Geo.


"Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," kata pria itu tiba tiba.


"Apa maksudmu, apa kau tak lihat bagaimana kondisiku saat ini. Dan lagi aku tak ingin kembali berurusan dengan alion," balas Geo takut-takut.


Geo sudah cukup kapok dengan akibat dari memprovokasi Alion. Dia bahkan lebih takut lagi dengan pria didepannya, itulah mengapa dia tak membocorkan apapun perihal dia, dan mengakui semua kesalahan sendiri.


"Aku akan membantu perusahaan ayahmu. Tapi kau harus memastikan ayahmu menuruti semua perintahku," balas pria itu tak perduli.


Geo tahu dia tak akan bisa mengelak lagi. Pria didepannya bukanlah lah orang biasa. Dibandingkan dengan Alion dia bahkan lebih kejam. Dengan terpaksa Geo hanya mampu menjawab, "Aku tak bisa berjanji, ayahku belum tentu akan menuruti perkataanku lagi."


Pria itu menyerahkan ponsel ditangannya, yang menunjukkan sebuah nomor untuk dihubungi.


"Hubungi ayahmu, katakan waktunya tak banyak. Setelah Alion menemukan Lily, perusahanmu tak akan memiliki kesempatan lagi." kata pria itu memerintah.

__ADS_1


Geo mengambil ponsel itu dan mulai menghubungi ayahnya. Sekarang dia mengerti kenapa pria itu tiba tiba menunjukkan foto Lily diculik. Rupanya ini rencananya untuk mengalihkan Alion, agar dia bisa bergerak tanpa ada yang menyadarinya.


"Hallo, ayah ini aku Geo."


....


Alion yang telah sampai di halte yang dimaksud ibunya, menghentikan motornya dan turun. Perasaan nya makin kacau saat tak menemukan keberadaan Lily dimanapun. Matanya menatap keseliling, mengepalkan tangan dengan erat, Alion mengumpat dengan kasar.


Alion kembali menjalankan motornya untuk segera mencari keberadaan Lily.


"Jika sampai dia kehilangan satu helai rambut, siapa pun kalian aku tak perduli, aku pastikan hidup kalian hancur," Dengan mata gelab Alion kembali menaiki motornya. Dia melajukan motornya dengan kecepatan yang tinggi. Tanpa memikirkan keselamatannya. Dia hanya berfikir untuk segera menemukan kekasihnya.


Alion melajukan motornya sampai di depan sebuah warnet. Tanpa basa basi dia bergegas masuk dan menyewa sebuah komputer disana. Alion berniat melacak keberadaan Lily, dari halte tempat terakhir Lily terlihat, ada beberapa CCTV yang dia lihat. Dengan lihai Alion memasukkan beberapa kode di komputer itu.


Dia mengklik keyboard tanpa henti, sampai akhirnya dia menemukan sebuah rekaman yang menunjukkan sebuah mobil hitam yang lewat di jam saat Lily sudah tidak bisa dihubungi.


Klikkk klikkk.


Alion terus mengklik mouse ditangannya, mencari setiap detail yang mencurigakan. Dia melihat rekaman demi rekaman, yang terus dilewati mobil itu. Sampai di rekaman terakhir dimana mobil itu mengarah ke hutan.


Alion mengangkat teleponnya, mencari minta sahabatnya dan menghubunginya.


"Aku butuh anak-anak yang lainnya untuk bersiap."


"Tidak, aku akan kesana lebih dulu. Aku akan mengirimkan lokasinya setelah sudah sampai."


Alion menutup kembali ponselnya. Dia tak bisa menunggu teman-temannya yang lain. Waktu akan terbuang banyak dan dia tak tahu bagaimana kondisi Lily. Dengan cepat Alion bergegas meninggalkan tempat itu.


Kembali di tempat Lily berada.


Lily sudah menemukan ide untuk kabur dari tempat ini. Meski tangan dan kakinya terikat, dia masih sedikit bergerak. Dia berniat untuk menggerakkan ikat pinggang nya dan menempatkan posisi tajam di bagian belakang agar bisa mematahkan tali yang mengikat tangannya. Lily benar benar cukup beruntung, meski tas dan ponselnya di ambil, dia memakai sabuk yang bisa dia gunakan.


Meski terasa sulit mengenakan bagian tajam di sabuknya, selama dia berusaha keras tak ada yang tidak mungkin.


Anehnya selama waktu itu para penculik sama sekali tak masuk untuk sekedar memeriksa keadaan Lily. Tentunya Lily sangat bersyukur, dia jadi punya banyak waktu untuk membebaskan diri.


Mengenai bagaimana rencananya setelah ikatannya terlepas. Lily hendak menarik penculik itu masuk dan menyerangnya. Tentunya Lily tak berniat menyerangnya dengan tangan kosong. Di pergelangan tangannya terpasang jam khusus. Jam ini telah di modif oleh kak Sasha, sehingga bisa mengeluarkan arus listrik kecil.


Meski tak bisa sampai menyakiti orang, tapi masih bisa untuk membuat lawan tak sadarkan diri selama beberapa saat.

__ADS_1


Saat pertama kali diculik, Lily telah melupakan barang pertahanan yang dia miliki karena panik. Namun, setelah tenang saat menunggu obat bius hilang. Dia kembali mengingat jam ini.


....


"Bagus, dengan ini semua kan menjadi mudah."


Suara seorang pria terdengar sangat puas. Terlihat sekali pria itu telah menduga bahwa hasil nya kan sesuai yang dia rencanakan. Dengan senang hati dia meninggalkan penjara.


Geo yang tak berdaya pun hanya bisa diam. Dia tak menyangka ayahnya akan langsung tergoda saat pria itu mengatakan akan membuat perusahan bangkit. Rupanya ayahnya tak kapok dan malah semakin ingin balas dendam setelah kejadian ini.


Berbeda dengan sang ayah, Geo benar-benar telah menyesal. Kehidupan di dalam penjara telah banyak memberinya pelajaran.


Meski pria itu telah berjanji akan membebaskannya setelah ini semua berhasil. Geo sama sekali tak berniat untuk mengusik Alion kembali. Hanya saja dia tak bisa mengatakan pada sang ayah tadi. Karena nasibnya dalam penjara berada di tangan pria itu saat ini.


Di parkiran kantor polisi.


Pria yang telah menemui Geo memasuki sebuah mobil mewah. Di masuk dan duduk dibagian kursi pengemudi.


"Bagaimana?"


Suara serak pria terdengar dari bangku penumpang.


Pria itu memiliki rambut berwarna putih. Postur tubuhnya tetap tegak dan berwibawa meski dia sudah terlihat tua. Bahkan aura yang dikeluarkan pria yang menemui geo seperti di tekan saat ini.


"Semuanya seperti rencana, pak," jawab pria itu.


Pria tua itu memejamkan mata, seolah mengingat sebuah kenangan, dia kembali berbicara. "Hmm, pastikan yang kali ini tidak gagal."


Pria di depan menelan ludah gugup, dengan hati hati dia berkata, "Saya akan mengatur semuanya. Bapak tak perlu khawatir."


"Mengenai kejadian terakhir kali itu karena gadis itu yang telah mengacau," lanjut pria itu membela diri.


Kegelapan di mata pria tua itu terlihat saat dia membuka matanya. Dia menatap lurus ke arah kaca, bertatapan langsung dengan orang didepannya. "Kau ingin menyalahkan orang lain atas kesalanmu."


Pria tua itu paling membenci orang yang melamparkan kesalahan pada orang lain. Apalagi pada gadis kecil, memang apa yang bisa gadis itu lakukan. Jika bukan Karana kecerobohannya yang menganggap segalanya gampang. Alion tak akan hidup sampai sekarang.


"Hentikan omong kosong mu. Pastikan saja semua selesai seperti yang aku mau. Atau kau tahu akibatnya mempermainkanku," katanya dingin. "Jalan," lanjutnya memerintah.


Dengan segera pria itu menjalankan mobilnya meninggal kan kantor polisi.

__ADS_1


__ADS_2