
Zidan menatap tajam pria tua didepannya. Jika bukan karena permohonan bibi, dia tak akan datang ketempat ini.
Meskipun sebelumnya Zidan telah salah paham padanya. Tetap saja dia tak akan mau untuk meminta maaf.
"Kau akan terus seperti ini?" tanya Raka.
Raka menatap sang anak dengan pandangan sendu.
Waktu telah terlewat, entah sampai kapan permusuhan antara mereka akan terus berlanjut.
"Bukankah sudah jelas, ayah tak ikut campur dalam kejadian yang menimpa Alion."
"Lalu, kau ingin aku meminta maaf. Teruslah bermimpi," balas Zidan dingin.
"Jangan tidak sopan pada ayahmu," tegur Raka sedikit keras.
Zidan mencibir mendengar kata-kata Raka. "Heh, saya bukan lagi putra anda."
Raka hanya mampu diam, memang salahnya yang dulu tak perduli pada Zidan. Namun, dia tak perah menyesali keputusannya. Karena jika saat itu dia tak menerima permintaan Rendra untuk mengadopsi Zidan.
Sudah pasti Raka akan kehilangan putra semata wayangnya ini.
"Itu hanyalah masa lalu, ayah meminta maaf untuk itu. Sekarang kamu sudah dewasa harusnya kamu sudah bisa mengerti. Kamu itu satu-satunya putra ayah. Kepada siapa lagi ayah memberikan perusahan jika bukan padamu," jelas Raja.
"Akhirnya dia mengatakan tujuannya," batin Zidan malas.
Zidan benar-benar malas mendengarkan omong kosong ayah kandungnya itu. Yahh Zidan mengakui dia memang ayahnya. Bagaimanapun juga jika bukan karena pria didepannya dia tak mungkin ada.
Tapi itu bukan berarti dia akan memaafkan nya hanya karena pria itu mengatakan maaf.
"Aku tak membutuhkan perusahaan mu. Lebih baik kau simpan untuk dirimu sendiri." Zidan berdiri dari sofa dan melangkahkan kaki menuju keluar pintu. Belum jauh dia berjalan, Zidan kembali mengatakan sesuatu.
"Dan yahh, aku minta maaf untuk yang terakhir kali. Jangan khawatir jika kau sudah tak mampu lagi bekerja. Aku akan tetap menanggung biaya hidupmu. Dengan uang hasil jirih payahku sendiri. Untuk yang terakhir kalinya berhenti mengurusi hidupku," kata Zidan dengan penuh kebencian.
Raka menatap kepergian anaknya tanpa bisa mencegahnya. Dia bisa mengerti kebencian Zidan padanya.
Dulu Raka memang telah menjadi Ayah yang buruk. Tapi ada alasan atas semua ketidak perduliannya pada sang anak.
Raka bukanlah berasal dari keluarga berada. Dia merintis perusahaannya dari nol seorang diri.
Memang salah nya yang tak bisa mengontrol emosi saat masa-masa kritis. Hingga membuat dia menjadi kasar.
Tapi semua itu tak akan terjadi jika dia tak menemukan rahasia istrinya. Sebuah fakta bahwa sang istri telah berhubungan dengan bos perusahan tempat ia bekerja. Itulah kenapa dia dipecat, karena istri bos nya telah memergoki mereka bersama.
Lucunya Raka hanya memendam sendiri, mencoba balas dendam dengan berselingkuh. Tapi dia haya menemukan hatinya lebih sakit lagi.
__ADS_1
Rasa sakit yang menimpanya begitu bertubi-tubi. Hal itu lah yang membuat Raka memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja. Tanpa perduli pada anaknya.
Tapi Raka tak akan pernah memberi tahu Zidan. Karena dialah yang memang telah bersalah.
****
Pada akhirnya kejadian penculikan Lily menjadi rahasia dan hanya beberapa orang saja yang mengetahuinya.
Perihal dalang di baliknya, Lily tak terlalu memikirkannya. Dia mempercayakan semuanya kepada Alion dan kepolisian.
Cuaca bulan ini sedikit berubah-ubah kadang saat hari cerah hujan tiba-tiba datang. Dan Begitupun sebaliknya saat langit mendung hujan yang diharapkan malah tidak kunjung turun.
Beruntung pagi ini langit cukup berawan sehingga bisa menghalangi sinar matari menembus kulit secara langsung.
Sebentar lagi ujian akhir akan segera dilakukan. Pada upacara hari senin pun menjadi ajang bagi para guru untuk mulai membuat petuah-petuah.
Kepala sekolah membahas hal ini di pidatonya saat upacara pagi ini.
"Saya harap semua murid mempersiapkan diri dengan baik. Ujian kali ini akan menjadi penentu apakah kalian akan naik kelas atau tidak. Kurangi bermain-main dan fokuslah belajar...."
Sama seperti murid lainnya yang tak mendengarkan dan asik sendiri. Lily pun juga tengah asik mengobrol dengan teman-temannya.
"Lily kan pintar pasti bisa mengajari kita. Bagaimana jika kita membuat kelompok belajar?" usul Selli dengan suara pelan.
"Ehm, aku tak masalah untuk mengajari kalian. Hanya saja aku tak yakin punya waktu," jawab Lily ragu-ragu.
"Ide yang bagus. Tapi aku tidak janji bisa ikut dari awal hingga akhir Sell. Kalian tahu bukan ayahku siapa." Balas Fika.
Bagaimana mungkin mereka tak tahu, jika yang sedang berpidato di hadapan mereka semua adalah ayah Fika. Hampir setiap murid Di SMA X bahkan selalu mendengar sang kepala sekolah menyebut nama anaknya.
"Seperti Fika itu, dia meskipun sibuk dengan make up setiap hari. Saya selalu mengawasi waktu belajarnya. Bahkan saya sampai menghadirkan guru terbaik. Lihat saja nilai...."
Lihat baru saja disinggung namanya kembali disebutkan.
"Ehem, yahh. Kami mengerti," kata Selli dan Lily Bersamaan.
"Ah, pokoknya kalian lakukan saja. Aku akan bergabung nanti," kata Fika sedikit kesal.
Tahu temannya berada dalam suasana hati buruk, Selli kembali mengalihkan pembicaraan.
"Lily, jadi bagaimana keputusanmu?" tanya Selli memastikan.
"Sebenarnya ada hal lain yang mesti ku urus. Bagaimana jika begini, aku siapkan materi untuk kalian. Nanti jika kalian tak mengerti akan aku jelaskan lewat ponsel," kata Lily menyarankan.
Tak masalah jika untuk membuat materi. Dia bisa melakukannya dalam beberapa menit. Hanya saja dia tak punya waktu untuk berkumpul dan saling berdiskusi.
__ADS_1
Bukannya dia sok pintar tapi untuk saat ini ada satu hal penting yang harus dia lakukan.
Alion yang berdiri di bagian depan pun mendengar semua pembicaraan para gadis.
Dia tak tahu jika gadisnya memiliki banyak hal yang harus dilakukan. Dan sepertinya dia begitu sibuk sampai tak bisa berkumpul dengan teman-temannya.
Dia jadi penasaran urusan apa yang dilakukan gadisnya itu.
****
"Dahh, Lio. Kalau begitu aku akan masuk," kata Lily dengan ceria.
"Kamu tak akan mencegahku?" tanya Alion dengan heran.
Lily menatap aneh pada sang kekasih. Kenapa juga aku harus mencegahnya untuk pergi.
"Um, kamu bisa pulang kok. Aku tidak akan mencegahmu," balas Lily mantap.
Alion menaikkan satu alisnya, "Apa gadisnya mulai bosan dengannya," pikir Alion buruk.
"Kalau begitu aku masuk dulu ya, Lio."
Dengan penuh semangat Lily masuk ke dalam rumahnya. Tanpa mengetahui Alion tetap tinggal setelah kepergiannya.
"Haruskah aku mulai khawatir sekarang," gumam Alion was-was.
"Kau sudah gila ya. Berbicara seorang diri."
Zayyan yang baru saja tiba, menatap heran pada juniornya itu. Apalagi Alion memasang raut muka aneh, seolah sesuatu yang besar telah terjadi.
Alion hanya diam, tanpa menanggapi kata-kata Zayyan.
"Heh, aku bicara padamu," kata Zayyan kesal.
Alion mendongak dan menatap calon kakak iparnya itu. "Apa menurut mu aku tampan?"
Mata Zayyan membulat, "Kau benar-benar tak waras ya, Alion." Zayyan mulai tak habis fikir dengan pria itu. "Jika ingin belok tidak usah mengajak diriku," lanjutnya dengan nada jijik.
"Bodoh," umpat Alion.
Setelah mengatakan hal itu, Alion melakukan motornya meninggalkan pekarangan rumah Lily.
Zayyan yang ditinggalkan hanya bisa terbengong-bengong tak mengerti.
"Apa maksudnya aku bodoh. Hah, apa pria itu mencari masalah dengannya," kata Zayyan kesal.
__ADS_1
Sia-sia niat baiknya untuk perhatian pada Alion. Pria itu malah mengatainya bodoh. Mengingat kemungkinan Alion telah belok. Zayyan merasa merinding, dia harus segera memperingatkan adiknya.