Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 26 PERJALANAN


__ADS_3

Jam 9 pagi siswa siswi sudah mulai berkumpul di sekolah.


Setelah semua murid yang terdaftar hadir, satu per satu mulai memasuki bus masing-masing.


Lily yang memang terlambat datang, masuk paling akhir ke bus. Melihat ke sekelilingnya sudah banyak bangku yang terisi, berjalan memasuki bus lebih dalam, Lily menemukan Alion yang sedang menutup matanya.


Melihat bangku disebelahnya kosong, Lily memutuskan untuk duduk disebelah Alion.


Alion yang tengah memejamkan mata terusik dengan gerakan disebelahnya.


Bukannya dia sudah memberi tahu Agas bahwa dia ingin duduk sendiri. Apakah bocah itu berani menentang perintahnya sekarang. Dengan mata gelap Alion menoleh melihat orang yang berani duduk di sebelahnya.


"Apa aku mengganggumu, Lio. Ehm, apakah bangku ini kosong?" Lily bertanya sembari mengangkat tas yang dia bawa.


"Hmm, tentu saja tidak. Ya kamu bisa duduk dibagian dalam," kata Alion.


Alion benar-benar tak terfikir bahwa Lily akan duduk bersamanya dalam perjalanan ini. Biasanya gadisnya akan berkumpul bersama teman-teman nya. Itulah mengapa Alion tak mencarinya tadi.


Setelah Lily mengiriminya pesan bahwa dia akan terlambat. Karena kakaknya yang merupakan pengurus mesti membeli barang.


Alion yang memang lelah karena bekerja sampai larut, berniat memejamkan matanya sebentar.


Namun, saat membuka mata sudah ada gadisnya yang dia rindukan disampingnya.


"Berikan tas mu aku akan menyimpannya," perintah Alion.


"Terima kasih, Lio," kata Lily menyerahkan tas nya.


Alion mengangkat tas Lily, dan menyimpannya di rak atas bus. Alion baru duduk setelah menutup pintu rak.


Bus yang tadinya diam pun mulai bergerak perlahan, meninggalkan sekolah.


Beberapa menit kemudian, Lily yang memang biasa mabuk perjalanan mulai mengantuk. Rupanya efek obat mabuk yang Lily minum cukup kuat sehingga tak lama mata Lily memberat.


"Apa kamu mengantuk, tidurlah," kata Alion dengan suara rendah.


Alion menarik kepala Lily kearahnya dengan lembut, agar Lily bisa bersandar di bahunya.


Lily yang memang sangat mengantuk tak protes. Dan hanya dengan patuh tidur di bahu Alion.


****


Tak jauh dari bangku Alion dan Lily. Sepasang mata menatap tajam ke arah kedua orang itu.


Febi melihat bagaimana Lily dan Alion semakin dekat setiap harinya.


Mengingat akhir-akhir ini dirinya dan Lily sudah jarang berkumpul karena perselisihan terakhir kali yang membuat mereka bertiga terpecah.


Febi tak mengira mereka berdua sudah sedekat ini.


Flashback


Di taman.


Ada suasana tegang menyelimuti 3 sahabat yang sangat dekat.


"Apakah kau lebih memilih Alion dari pada sahabatmu, Ly," kata Febi kasar.


Lily yang ditanya hanya diam mematung. Lily tak akan bisa memilih salah satu dari mereka. Mereka sama-sama berarti untuk Lily.


Febi dan Rena adalah sahabat terbaik Lily. Namun, Alion berbeda, Alion adalah hidup Lily.


"Febi sudahlah, bukankah kita harus mendukung Lily," kata Rena berusaha mendamaikan.


"Diam Ren, sekarang kau pilih kita sahabatmu atau Alion yang baru kau kenal!" bentak Febi.


Febi benar-benar berharap bahwa Lily akan memilih sahabatnya. Agar dia tak perlu menyakiti Lily nantinya.


Mengingat dia dan Alion baru saja dekat perasaan nya pasti belum cukup dalam. Sedangkan mereka bertiga sudah saling mengenal sejak SMP.


Tapi yang Febi tak tahu perasaan Lily pada Alion lebih dalam dari yang dia duga. Lily telah hidup dalam dua kehidupan, dan dalam hidup kali ini Lily akan melakukan apapun demi bersama Alion.


Jawaban Lily hanya akan mengecewakan Febi pada akhirnya.


"Maaf teman-teman," kata Lily lirih tak berani melihat wajah kedua sahabatnya.

__ADS_1


"Baiklah, kita bukan sahabat lagi," kata Febi. Dengan menarik Rena dia meninggalkan tempat itu.


Lily yang ditinggal hanya bisa mulai terisak sedih.


****


"Apa kau puas sekarang, Febi?" tanya Rena dingin.


Mendangar ini, Febi menoleh melihat tatapan sakit dimata Rena. Febi tak bisa berkata apa-apa. Tak akan ada yang pernah mengerti bahwa dia melakukan hal yang benar.


Dari pada Lily merasa dikhianati oleh sahabatnya nanti.


Lebih baik gadis itu membenci nya lebih dulu. Dengan begitu dia bisa dengan jelas menunjukkan Alion buruk untuknya. Saat itulah mereka bisa kembali, menghiburnya, dan menjadi sahabat terbaik nya lagi.


****


Di sisi lainnya, Agas yang telah salah dituduh Alion, berada di bus lainnya.


Agas melihat di depannya. Di mana kedua orang berjenis kelamin berbeda saling melempar perhatian.


"Apa yang ini berat biar aku saja, apa mereka sedang syuting adegan Dilan," batin Agas tak mengerti.


Melihat bagaimana mereka saling berebutan hanya karena ingin menaruh sebuah tas saja. Membuat dia ingin menyerahkan tas ditangannya. Dengan ringan Agas mengangkat tas nya ke arah kedua orang itu.


"Tak perlu berebut, kalian bisa menaruh tas ditanganku," kata Agas.


Namun, kedua orang itu mengabaikannya. Sang pria berhasil merebut tas dari gadis itu dan menaruhnya.


Setelah tas berada di rak, mereka berdua duduk dengan tenang seolah tak terjadi apa apa. Meninggal kan Agas yang masih mengangkat tas nya ke arah mereka.


Saat ini Agas benar-benar mulai meragukan kehidupan.


Bangku yang diduduki Agas, menampung 3 orang. Agas berada di posisi luar, di posisi tengah ada Zidan, dan terakhir di dekat kaca adalah Angel.


Gadis yang pernah mereka kurung karena mengganggu Lily.


Suasana antar kedua nya sangat tidak biasa. Bahkan agas seolah tak terlihat di mata mereka.


Detik berikutnya, Agas mendengar suara temannya. Hal itu benar-benar membuatnya merinding seketika.


"Sial, apa temannya ini dirasuki hantu," umpat Agas dalam fikiran.


Agas yang sudah mulai tak tahan memilih tidur meninggalkan mereka berdua. Dia benar-benar takut akan melihat adegan ciuman setelah ini. Mungkin dia bisa meminta Alion untuk mencari dukun setelah turun nanti. Zidan benar benar telah dirasuki hantu.


Mendengar pertanyaan Zidan, pipi Angel memerah malu, dengan lembut Angel menjawab.


"Oh, mungkin aku sedikit mabuk kendaraan," jawab Angel malu.


Angel lupa meminum obat mabuk tadi. Sehingga tepat setelah bus jalan dia mulai merasa sedikit mual.


Zidan terdiam, dia tak berbicara lagi setelah beberapa lama. Angel yang berfikir mungkin Zidan hanya basa basi saja, memalingkan muka untuk melihat jalanan.


Angel benar-benar tak berharap banyak, lagi pula dia telah berbuat salah sebelumnya. Zidan tak akan mungkin menyukainya, ya Angel sepertinya memang telah jatuh cinta sejak kejadian terakhir kali.


Namun, tiba-tiba sebuah suara terdengar serak di sampingnya.


"Makanlah," kata Zidan menyodorkan sebungkus permen jahe.


Mendengar nya, Angel menoleh, dan melihat tangan terulur padanya.


Melihat sebungkus permen jahe tertulis disana. Angel menatap nya dengan mata berbinar. Meski dalam hati angel sangat bersemangat namun dia menahannya.


"Apakah ini untukku?" tanya Angel memastikan. Dia benar-benar takut telah salah memahami.


"Hmm," suara Zidan menyaut.


Meski hanya deheman, Angel mengerti bahwa itu Persetujuan diam diam dari Zidan. Dengan mata cerah angel mengambilnya dan memakan satu buah. Merasakan rasa manis dan asam dimulutnya, rasa mual diperutnya sedikit mereda.


"Terima kasih, permen nya," kata Angel.


Zidan tak membalasnya dan hanya diam. Namun, hal itu tak menurunkan semangat Angel sedikit pun.


Mungkin ini pertanda bahwa masih ada kesempatan untuk nya. Angel hanya harus lebih berjuang.


Di sisi lain, Zidan juga sedang sibuk dengan berbagai fikiran. Dia juga tak mengerti kenapa dia begitu baik pada gadis ini. Mungkin itu hanya rasa bersalah perihal terakhir kali dia telah salah pada angel. Zidan tak begitu mengerti apa yang terjadi padanya, pasti benar itu hanya rasa bersalah.

__ADS_1


****


Kembali di bus dimana Lily berada.


Saat berada di setengah perjalanan. Bus yang tadinya tak ada suara, mulai berisik dengan berbagai nyanyian. Semua orang benar benar mulai mengeluarkan bakat menyanyinya.


Tentu saja kecuali Lily dan Alion.


Lily sudah lama terjatuh dalam mimpinya. Sedangkan Alion disampingnya dengan lembut melindunginya dari guncangan bus.


Karena takut suara bising akan membangunkannya. Alion menutup sebelah telinga Lily dengan tangannya yang hangat dan lebar.


Lily yang merasakan sentuhan itu bukannya terbangun malah semakin terlelap.


Selang beberapa saat, setelah menyanyikan banyak lagi. Beberapa orang mulai kelelahan menyanyi.


Mobil bus yang tadinya bising lama kelamaan menjadi tenang. Satu persatu siswa mulai jatuh tertidur.


Namun banyak juga yang masih bangun dan sibuk mengobrol atau memakan camilan. Namun, tentunya tak seberisik tadi.


Matahari yang Tadi nya berada di timur, mulai bergerak ke arah barat. Sinar cahaya mulai berubah ke jingga-jingga an. Burung-burung mulai berbalik arah ke sarang mereka.


Alion benar-benar tak tidur, dan hanya menjaga Lily sepanjang jalan.


Sampai akhirnya mereka tiba di tempat tujuan, dan bus berhenti.


Barulah dengan pelan Alion membangunkan Lily.


"Hei, bangun," kata Alion berbisik.


Melihat Lily benar-benar tak terganggu Alion benar-benar merasa tak berdaya. Dengan lembut Alion mulai menepuk pipi Lily agar dia segera terbangun


Lily yang di tepuk, akhirnya mulai terbangun. Dengan mata mulai terbuka, Lily duduk tegak dengan linglung.


"Apa kita sudah sampai?" tanya Lily.


"Hmm, ya," jawab Alion.


Masih mengumulkan nyawa, dengan mengangkat tangannya, Lily ingin menggosok matanya menghilangkan keburaman. Namun, belum sampai hal itu terjadi Alion sudah menahan tangannya.


"Jangan digosok, kamu bisa mencuci muka saat turun nanti," tegur Alion.


Lily yang ditegur hanya mengangguk patuh. Dia benar benar masih belum benar-benar sadar sepenuhnya.


Di depan sudah ada anggota OSIS yang membangunkan siswa dengan suara keras. Melihat mereka semua satu persatu terbangun. OSIS mulai mengarahkan mereka untuk turun.


"Dengar semua, periksa barang kalian dan pastikan tak ada yang tertinggal. Bus akan pergi setelah kita turun jadi pastikan kalian tak kehilangan barang. Setelah itu, kalian bisa turun satu per satu. Di bawah akan ada yang mengabsen kalian nanti."


Ketika suara itu berhenti Lily pun mulai sadar sepenuhnya. Mendongak ke arah Alion yang sibuk mengambil barang-barang miliknya dan milik Lily.


Dengan rasa bersalah Lily berniat untuk membantu.


"Lio, biar aku bawa barangku," kata Lily.


"Tak perlu ini tak berat," tolak Alion.


Setelah menolak Alion yang tadinya berhenti kembali menaruh tas milik Lily di punggung nya.


"Tapi lenganmu pasti sakit, Lio. Aku sudah tidur di bahumu cukup lama," kata Lily malu.


Lily benar-benar merasa malu, bagaimana dia bisa terus tertidur tanpa terbangun sedikitpun. Dilihat dari mata Alion yang cerah, Lily menebak bahwa Alion sama sekali tidak tidur.


"Apa kamu merasa bersalah?" tanya Alion.


Lily yang ditanya hanya mengangguk mengiyakan. Alion yang melihatnya tersenyum sangat tipis. Namun segera matanya berkilat licik. Alion menurunkan matanya dengan santai berkata.


"Lalu kamu bisa meminjatnya nanti," kata Alion.


Lily yang mendengarnya tertegun, sepertinya tangan Alion benar-benar sakit. Lily semakin merasa bersalah padanya.


"Baiklah aku akan memijatmu," kata Lily bertekad.


Mendengar jawaban Lily benar-benar membuat otak Alion berikir banyak. Tentu saja maksudnya memijat lengannya. Salah kan otak Alion yang mesum dan berfikir kemana mana.


"Hmm, ayo turun," kata Alion dengan suara serak.

__ADS_1


__ADS_2