Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 29 CERITA SERAM


__ADS_3

Pada hari terakhir kegiatan kemah diadakan.


Segala macam keseruan berlangsung begitu meriahnya. Dari pagi hingga malam hari, banyak kegiatan seru telah dipersiapkan oleh anggota OSIS. Untuk membuat suasana tak terlupakan. Mereka telah berusaha sangat keras.


Karena kegiatan kemah ini adalah kegiatan terakhir yang mereka adakan sebagai pengurus OSIS. Setelah ini, mereka akan fokus menghadapi ujian kelulusan. Jadi, mereka mati matian menjadikan acara ini sukses besar.


Puncaknya adalah malam ini yaitu acara uji nyali dan juga unjuk bakat di depan api unggun.


Untuk menambah keseruan, setiap kelompok akan diundi siapa yang akan ikut uji nyali dan siapa yang harus menampilkan bakat mereka.


Dan yang harus mengambil undian adalah tim lawan mereka. Jadi, bagaimana nasib kalian nantinya bergantung pada kelompok yang mengundi nama kalian.


Tentu saja jika memenangkan acara malam ini baik itu di uji nyali ataupun unjuk bakat. Akan mendapatkan hadiah yang sangat luar biasa. Namun, jika kalah hukuman yang menanti juga tak biasa.


Kelompok 7 akan diundi oleh kelompok 3, entah kebetulan atau tidak, di kelompok 3 ada kedua sahabat Lily. Febi dan Rena, kedua orang yang terlibat pertengkaran dengan Lily sebelumnya. Dalam lomba kali ini pun mereka harus menjadi lawan.


Tak ada yang menyadari suasana tegang antara mereka bertiga. Semua berfikir mereka hanyalah lawan dalam lomba saja itu sebabnya suasananya sedikit tak nyaman.


Namun, Alion menyadarinya dengan jelas. Di mulai dari Lily yang duduk di bus bersamanya. Sampai di tempat kemah pun mereka tak terlihat bertegur sapa. Alion sudah curiga pasti ada sesuatu yang salah.


Alion berfikir mungkin mereka sedang bertengkar. Tapi Alion tak akan ikut campur masalah Lily. Apalagi Lily tak membahasnya. Mungkin itu hanya perkelahian biasa antar sahabat.


****


Di Depan kotak undian.


Kelompok 7 dan kelompok 3 saling berhadapan.


"Baiklah, kalian akan mengambil masing-masing satu undian untuk ditunjuk kan pada Kelompok lawan. Silahkan kalian tentukan undian siapa yang akan di ambil siapa,” kata Zayyan.


Sesaat setelah arahan dari Zayyan selesai, setiap kelompok mulai berdiskusi panjang.


Setelah memutuskan masing-masing orang mengambil undian untuk tim lawan.


Untuk uji nyali dari tim 7 terpilih Maura, Anggi, Lily, Bagas, Alion, dan Alvaro.


Sisanya akan menunjukkan bakat mereka di depan api unggun.


Melihat ke-6 nama itu Zayyan merasa sedikit khawatir mengenai adiknya. Namun, melihat nama Alion juga ada disana Zayyan yakin bahwa Lily akan baik-baik saja.


"Baiklah karena semua undian telah Diputuskan. Bagi yang akan menampilkan bakat bisa bersiap ditenda masing-masing. Nanti anggota OSIS akan mmemanggil kalian untuk tampil. Dan bagi kalian yang akan uji nyali masing-masing kelompok akan saya berikan 3 peta. Untuk itu kalian bisa berangkat berpasangan dengan selisih waktu beberapa menit nantinya," terang Arumi Sekretaris OSIS.


Setiap orang pun mulai Bersiap di tempatnya masing masing menunggu arahan dari OSIS untuk mulai uji nyali.


Setiap selang 5 menit akan ada 1 pasangan yang memasuki hutan.


Tibalah saat nya giiliran Alion bersama dengan Lily.


Tepat sebelum mereka berdua berangkat, Zayyan telah diam-diam memperingatkan Alion untuk menjaga Lily dengan baik.


Di tempat uji nyali sendiri, sebetulnya tidak sebegitu menyeramkan, hanya saja kondisi cukup gelab dan mereka hanya memiliki satu penarangan yaitu senter.


Setelah beberapa saat Lily dan Alion memasuki hutan. Suasana langsung berubah menyeramkan bagi Lily.


Salahkan temannya kemarin malam yang telah menceritakan kisah menakutkan di hutan ini. Awalnya Lily tak merasakan apapun saat pertama kali bermalam di tempat ini. Namun, setelah mendengar cerita itu Lily merasa paranoid. Seolah ada mata yang memerhatikannya dari balik pepohonan.


****


Malam kemarin.


Di tenda tempat anggota perempuan dari tim 7 tidur.


Saat semua orang tertidur karena lelah. Kelima gadis ini malah sedang asik mengobrol hingga larut malam.

__ADS_1


Mereka mulai menceritakan kisah-kisah seram dengan fersi masing-masing. Puncaknya adalah saat Selli menceritakan kisah menyeramkan mengenai tempat mereka kemah saat ini.


"Teman-teman apa kalian tahu bahwa ada kisah menakutkan di hutan ini. Pernah terjadi kejadian buruk kepada seorang gadis. Konon pada malam malam tertentu teriakan menyakitkan dari gadis itu sering terdengar," kata Selli menambah suasana tegang.


Keempat gadis yang mendengarnya mulai merasa merinding. Entah kebetulan atau tidak angin berhembung cukup kencang ke arah tenda mereka, membuat suasana semakin menegangkan.


Lily sebenarnya cukup pemberani di hari-hari biasa. Namun, di saat saat tertentu dia bisa menjadi orang yang penakut. Dengan ragu-ragu Lily mulai bertanya, "kau pasti hanya sedang mengarang kan Sel?"


Tiga teman Lily lainnya pun ikut mengangguk, seolah mendukung perkataan Lily. Dalam hati mereka benar-benar berharap itu hanya cerita bualan Selli saja. Sangat menyeramkan memikirkan tempat mereka tidur pernah terjadi sebuah kejadian yang buruk.


"Tentu saja tidak. Aku benar-benar mendengarnya dari orang desa. Hal ini benar benar pernah terjadi, bahkan kasus itu pernah masuk koran. Aku sudah mengecek kebenarannya," kata Selli.


Dia benar benar jujur pada teman-temannya. Awalnya dia hanya iseng bertanya pada Penduduk desa. Namun, dia malah menemukan cerita semenyeramkan ini. Selli bahkan langsung merinding saat pertama kali mendengangarnya, padahal saat itu masih siang hari.


"Apa yang sebenarnya terjadi, bisakah kamu menceritakan dengan jelas?” tanya Angel mulai penasaran.


"Emh, tidak bisakah kita tidur saja. aku rasa itu bukan hal bagus untuk diceritakan," Usul Anggi ketakutan.


"Hah, bilang saja kau takut," ejek Maura.


"Aku memang takut, lihat Lily juga takut," balas Anggi.


Lily yang disebut namanya pun mengangguk menyetujui. Dia harusnya langsung tidur tadi dan bukannya ikut mendengarkan teman-teman nya yang asik mengobrol. Sekarang Lily menyesali tak mengikuti kata hatinya.


"Mari kita dengarkan dulu mungkin saja itu tak terlalu menyeramkan. Setelah ini kita bisa tidur bagaimana,” bujuk Angel.


Tentu saja Lily benar-benar tak bisa setuju. Namun, terlihat teman-teman lainnya mulai terbujuk oleh kata-kata Angel. Lily hanya bisa dengan pasrah mendengarkan. Dengan erat Lily menutupi tubuhnya dengan selimut dan mulai mendengarkan cerita Selli.


"Jadi...."


Dini, Elen, Dimas, dan adit.


Empat orang sahabat memutuskan untuk berkemah di hutan asli. Mereka ingin mesarakan bagaimana berkemah tanpa adanya pemandu ataupun pekemah lainnya. Dan hutan di dekat desa gading lah tempat yang mereka tuju.


Setiap harinya selalu saja ada aktivitas-aktivitas baru yang mereka lakukan. Salah satunya adalah mengunjungi desa Gading untuk sekedar Explorer kegiatan orang-orang desa.


"Wahhh, bukankah ini sawah," kata Dini takjub.


"Apa kau tak pernah melihat sawah?" Elen yang melihat tingkah Dini memutar bola mata malas. Dia tahu sahabatnya ini memiliki sifat polos. Namun, tidak biasakah dia bertindak biasa.


Sedangkan, Dimas dan Adit melihat mereka berdua seperti sedang menunggu tontonan yang menarik.


Dini memiringkan kepala bingung, bukankah mereka sedang melihatnya sekarang. "Tentu saja pernah, bukankah kita sedang melihatnya sekarang. Kamu ini bagaimana sih."


"Hahaha."


Tertawa kedua pria saat mendengar jawaban Dini, yang sebenarnya dia tak bermaksud jahat. Tapi bagi orang lain sudah pasti merasa kesal saat mendengarnya


Hari-hari terus berlalu dengan sangat mengasyikkan. Malam-malam terlewati dengan menyenangkan. Tak pernah ada sesuatu yang aneh. Sampai di suatu malam, disaat seharusnya mereka menikmati malam terakhir mereka dengan bergembira.


Sesuatu yang mistis tiba-tiba terjadi pada salah satu dari mereka. Di tengah malam Dini tiba-tiba terbangun dan mulai tertawa sendiri. Seolah sesuatu merasukinya dia mencoba mencekik leher Elen yang sedang tidur.


"Ehem."


Selli terdiam sejenak, merasa tenggorokannya nya kering. Dengan tenang dia mengambil minum mengabaikan tatapan menuntut dari teman temannya.


"Ah, apa yang terjadi Sel?" tanya Anggi penasaran.


"Hmm, bukankah kau tadi takut," kata Lily keheranan. Lily bahkan tak ingin mendengarnya lebih lanjut. Tapi kenapa teman-temannya begitu penasaran dengan cerita seperti ini.


"Hehe, ya aku masih takut kok," jawab Anggi sembari menggaruk kepala padahal tak gatal.


Selli yang baru saja selesai minum, dengan sabar kembali ke tempat tidurnya dan mulai melanjutkan cerita.

__ADS_1


"Kalian ini tidak sabaran sekali sih. Aku haus setelah berbicara panjang lebar. Baiklah aku hanya akan melanjutkannya. Sampai dimana aku tadi? Ahh aku ingat...."


Elen yang sedang tertidur pun langsung bangun, dia mencoba melepaskan tangan Dini dari lehernya.


"Dinn, ap-pa yang kamu lakuk-kan uhukk-uhukk," cengkraman Dini begitu kuat pada lehernya, Elen tak mampu melawannya. Merasa tak berdaya Elen pun mulai berteriak,


"Toolongggg."


Dimas dan Adit yang sedang berjaga pun langsung bergegas ke tenda para gadis. Dan saat melihat Dini yang sedang mencekik Elen dengan sekuat tenaga mereka berusaha melepaskannya.


Saat sudah terlepas ketiga orang itu mundur menjauh dari Dini. Mereka tak tahu apa yang harus dilakukan.


Dini tiba-tiba diam tak bergerak. Dia mendongakkan kepala dan menatap ke arah mereka bertiga.


Ketiga orang yang melihat mata Dini yang memutih pun semakin ketakutan. Dan mereka lari menjauh dari tempat itu.


Baik Elen, Dimas, dan adit terus berlari. Namun, mereka terus saja kembali pada posisi semula dimana ada Dini disana.


Sedangkan Dini mulai tertawa terbahak-bahak kembali.


Semakin lama satu persatu dari mereka mulai kelelahan. Mereka merasa sudah tak sanggup lagi berlari. Mereka pun jatuh tertunduk di tanah. Saat itulah Dini tiba-tiba berjalan ke arah mereka, dengan memegang sebuah pisau di tangannya.


Mereka bertiga sudah sangat ketakutan, tubuh mereka pucat pasih saat Dini semakin dekat.


Dini mengangkat pisau ditangannya, menusuk tubuhnya sendiri, sembari tertawa terbahak-bahak. Sampai tusukan terakhir tepat di jantungnya dan dia jatuh tak sadarkan diri.


Ketiga orang itu menjerit ketakutan, mereka kembali berlari. Namun, kali ini mereka tak kembali ke tempat semula. Sampailah mereka ke desa Gading.


Warga desa yang mendengarnya pun langsung menuju ke tempat kejadian. Namun, anehnya teman yang mereka maksud sama sekali tak terlihat dimanapun. Lokasi kejadian bersih tanpa ada tanda kekerasan apapun.


"Itu tak mungkin kami benar-benar melihatnya dengan mata kepala kami sendiri," kata Dimas tak percaya.


Kepala desa yang sudah tua pun berusaha menenangkannya, "Sudahlah, kalian mungkin hanya sedang bermimpi. Tenangkan diri kalian dulu. Besok kita akan mencari teman kalian itu. Mungkin nak Dini sedang tersesat dan kalian berhalusinasi karena panik."


Dengan bantuan beberapa orang desa, di pagi harinya pencarian pun dilakukan. Elen, Diman, dan Adit pun ikut terlibat saat pencarian itu.


"Pak, disana ada mayat."


Seru salah satu penduduk desa. Yang lain mendengarnya langsung bergegas mendekatinya. Disana terlihat 4 mayat terbujur di dasar jurang. Saat semua orang melihatnya, mereka langsung sadar dan mencari ketiga orang yang ikut dengan mereka. Namun, nihil ketiga orang itu hilang dan berganti mayat dihadapan mereka.


"Tunggu, apa yang terjadi kenapa tiba-tiba ditemukan empat mayat. Lalu siapa yang malam itu menemui warga desa?" tanya Angel menuntut.


"Tak ada yang tahu, mungkin itu arwah mereka yang meminta tolong. Namun, sejak hari itu takut terjadi hal buruk penduduk desa memutuskan untuk mengadakan doa di malam hal itu terjadi," jelas Selli.


"Wahh, itu menakutkan sekali. Bisakah kita tidur saja sekarang," usul Maura merasa merinding.


Semua orang diam-diam menyetujui dan mulai memejamkan mata. Namun, tak ada satupun yang benar benar tidur.


Takk Takk Takkk


Tiba tiba terdengar langkah kaki, sebuah bayangan mendekat ke tenda mereka. Dengan segera semua orang ketakutan dan saling memeluk.


kriiiiiiieeetttt


Bunyi resleting terbuka, membuat Lily dan teman-temannya makin menyusut ketakutan. Dan saat tenda tiba-tiba terbuka mereka mulai berteriak ketakutan.


"Haha, kenapa kalian penakut sekali," ejek Agas menggoda.


Mendengar hal itu langsung saja mereka sadar bahwa mereka telah dikerjai.


"AGAAAAAAS KAMI AKAN MEMBUNUHMU."


Terjadilah aksi kejar kejaran di malam itu. Hingga membuat semua orang terbangun mendengar keribuatannya.

__ADS_1


__ADS_2