
Hari berlalu dalam sekejap mata. Liburan 2 minggu setelah ujian telah berakhir dan ini saatnya untuk kembali ke sekolah.
Keadaan Lily telah lama membaik, dan sudah bisa kembali bersekolah seperti biasa.
Begitu dia turun dari mobil banyak pasang mata telah menatap penasaran ke arah nya.
Pagi ini Lily diantar oleh ayahnya, mungkin keluarganya masih khawatir akan keadaan Lily. Jadi, begitu Lily memutuskan untuk berangkat ke sekolah pagi ini. Langsung saja sang ayah memaksa untuk mengantarnya.
Mengenai luka diperutnya sebenarnya sudah lama sembuh, bahkan saat ini hanya terlihat bekas samar disana. Tapi memang keluarga Lily yang terlalu khawatir saja, sehingga bertindak berlebihan.
Melewati banyak pasang mata mengawasinya, Lily terus menghelas nafas sepanjang jalan. Semua orang terlalu berlebihan rasanya, padahal Lily hanya tak masuk beberapa hari, dan berhubung tepat liburan semester. Hal itu manambah liburan untuknya.
Dalam suasana hati yang buruk, Lily pun bergegas menuju ke kelasnya. Memasuki kelas sudah ada Selli, teman sebangku Lily, yang telah sampai lebih dulu.
"Selamat pagi, Selli," sapa Lily dengan sedikit senyuman.
"Ah Lily, selamat pagi juga," balas Selli.
Melihat suasana buruk dari teman sebangkunya, dengan penasaran Selli bertanya.
"Apakah sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Selli penasaran.
"Tidak," jawab Lily.
Banyak pasang mata yang penasaran, sejak Lily memasuki gerbang sekolah, Lily hanya merasa sedikit tak nyaman. Tapi Lily tak menyalahkan semua orang, wajar saja mereka penasaran tentang dirinya. Apa yang terjadi padanya memanglah kejadian yang mengagetkan.
Selli yang sedikit menebak apa yang telah dialami Lily, dengan hati hati berkata.
"Apakah ini mengenai semua siswa yang terlalu kepo itu," tebak Selli.
Dengan pelan Lily menggangguk, sepertinya temannya mengerti kesulitannya. Selli sempat menjenguknya sebelumnya, bahkan semalam mereka semat chating hingga larut.
Jadi tak heran jika dia biasa saja saat melihatnya memasuki kelas. Berbeda dengan teman sekolahnya yang tak menyangka bahwa dia akan masuk hari ini.
"Aku hanya sedikit tak nyaman dengan tatapan penasaran mereka," kata Lily menghelas nafas berat.
Melihat Lily menjadi lesu, dengan senang hati Selli mencoba menghiburnya. Dengan penuh semangat dia melaporkan kabar yang diharapkan membuat sahabatnya senang.
"Bukankah aku memberitahumu bahwa kamu peringkat satu semalam," kata Selli berbisik.
"Hmm, benar," jawab Lily.
Tanpa sadar dia ikut merendahkan kepalanya dan menurunkan suaranya. Padahal jelas kelas belum lah dimulai, entah hal rahasia apa yang akan temannya ini katakan.
Saat membaca pesan Selli semalam, dia sedikit terkejud, meskipun dia telah memperkirakan nilainya tak akan buruk. Masuk ke tiga besar kelas bukanlah masalah, tapi menjadi peringkat paralel benar benar bukan harapannya, dan itu masih juara menjadi pertama.
"Kamu kan tahu setiap semester akan ada satu siswa di peringkat terakhir yang akan dipindahkan ke kelas satu tingkat lebih rendah. Selain itu ada satu hal lagi, untuk siswa yang lainnya, pengaturan tempat duduk akan berubah. bukankah kamu juara pertama sedangkan Alion juara kedua," kata Selli menggoda.
Awalnya Selli sedikit sedih saat memikirkan akan berpisah dari Lily, tapi sebagai teman dia ikut bahagia jika Lily bahagia.
Dan lagi Selli merupakan pendukung nomor satu CP Lily dan Alion. Tentu saja dengan semangat dia akan mendorong mereka untuk semakin dekat.
Mendengar hal itu, ekspresi Lily akhirnya berubah. Dia merasa sedikit bersemangat, dan harap-harap cemas, menanti kebenaran kata-kata temannya.
"Itu bukan hal luar biasa, seperti kami tak pernah duduk bersama saja," bisik Lily mencoba mengelak dari godaan Selli.
****
Jam pelajaran pertama dimulai, guru bahasa inggris sekaligus wali kelas MIPA 1, masuk dengan membawa buku ditangannya.
__ADS_1
Melihat wali kelas mereka, kelas yang tadinya ramai pun hening seketika.
"Pagi, anak-anak," salam guru bahasa inggris.
"Pagi, Pak guru," seru semua orang.
"Bagaimana liburan kalian, sudah puas bersenang senang pastinya. Sekarang kita akan membicarakan hasil ujian kalian," kata guru bahasa inggris.
Mengawali dengan suara ceria yang mengandung makna dalam, guru bahasa inggris melanjutkan, "Semua nya pasti telah melihat hasil ujian masing masing, sekarang buka kertas ujian kalian, kita koreksi kesalahan kalian bersama sama. Ohh sebelum itu kita akan mengatur tempat duduk kalian. Peringkat pertama akan duduk dengan peringkat ke dua, peringkat ke tiga dengan peringkat ke empat, dan selanjutnya terus seperti itu."
Tak ada yang berani membuat keributan, semua nya dengan patuh membereskan barang barang mereka. Karena setiap orang telah mengetahui hasil nya seperti ini, drama perpisahan dengan teman sebangku telah lama mereka lakukan.
Semua orang mulai berpencar, untuk menempati bangku baru mereka. Tak terkecuali Lily yang bersiap menuju tempat dia duduk untuk akhir semester ini.
Cukup lama baginya untuk membereskan barang barang milik nya, karena awalnya dia tak menduga hal ini. Saat Selli memperingatinya Lily terlalu malu karena digoda, sehingga dia lupa menata bukunya.
Akhirnya saat setiap orang telah duduk dibangkunya, Lily masih berdiri membawa barang barang di tangan nya. Di kursi belakang sudah ada Alion yang menempati tempat duduk bagian luar. Karena memang Alion tak pindah dari bangkunya, hal itu membuatnya tak perlu bersusah payah membereskan barang barang.
Tanpa mengatakan apa-apa, dengan mudah Alion mengambil buku dan tas yang Lily bawa. Kemudian Alion menempatkannya di bangku sebelahnya.
"Terima kasih, Lio," kata Lily dengan senyum lembut.
Semenjak kejadian dia terluka, Alion semakin perhatian padanya. Baik Alion dan keluarganya tak membiarkannya tinggal sendirian, takut dia akan bertindak sembrono, dan membuat lukanya terbuka lagi. Mereka dengan tegas melarang nya untuk melakukan pekerjaan apapun.
Alion bahkan tak membiarkan nya membawa barang barang berat. seperti saat ini, tanpa Lily meminta bantuan, Alion telah membantunya lebih dulu.
Tentu saja awalnya Lily protes, bahwa lukanya telah lama sembuh. Namun, tak ada yang mendengarkan kata katanya. Alhasil dengan pasrah Lily mengikuti mau mereka.
Bagi Alion tentu saja ini harapannya sejak lama, menurutnya Lily hanya harus duduk manis, sedangkan hal lainnya biar dia yang mengurus.
Melihat betapa imut gadisnya, bibirnya melengkung ke atas, dia berbisik dengan ringan.
"Duduklah, atau guru itu akan mulai mengomel," kata Alion dengan nada bercanda.
"Semua sudah menempati bangku barunya masing masing. Sekarang kita langsung saja, dimulai dari pertanyaan pertama, siapa yang telah salah menjawab, guru akan menjelaskan jawaban yang benar," kata guru bahasa inggris.
Mendengar hal itu, pandangan Lily kembali fokus kedean. Dengan ringan dia membuka kertas ujiannya. Disana tertulis angka besar, dengan tinta warna merah, menunjukkan nilai sempurna. Meski begitu dengan fokus Lily memperhatikan penjelasan guru di depannya.
Pintar berbicara bahasa inggris tak menjamin akan mendapat nilai bagus dalam ujian. Lily tahu benar pertanyaan di ujian, berbeda dengan bahasa yang telah lama dia kuasai itu. Jadi, mengkipun dia telah mendapatkan nilai bagus tak menutup kemungkinan akan menjadi buruk jika dia tak terus mengasahnya.
Beberda dengan Alion, pandangan yang biasanya melihat punggung gadisnya, kini beralih melihat tepat wajah manis Lily disampingnya.
Bagaimana dia bisa melewatkan kesempatan baik seperti ini. Dengan tenang Alion menopang satu tangannya dan memperhatikan segala perubahan raut muka yang dikeluarkan Lily.
Kadang dia akan menkerutkan dahi tanda tak mengerti, dan saat kemudian menemukan jawaban, binar bahagia langsung terpancar cerah. Dengan asik Alion merekam segala perubahan gadisnya di dalam otaknya.
Drettt drettt
Melihat lily tak terganggu, dengan pelan alion membuka ponselnya.
****
...Room Chat...
Zidan
Alion, mereka sudah mengaku.
Zidan
__ADS_1
Geo lah yang telah memerintahkan mereka untuk melukaimu. Dengan sengaja Geo membebaskan kedua pria itu agar mereka menuruti perintahnya.
^^^Alion^^^
^^^Aku akan segera kesana.^^^
Zidan
Bagaimana dengan Lily? Kau akan meninggalkannya?
^^^Alion^^^
^^^Ada Agas disini.^^^
^^^Alion^^^
^^^Aku tak akan lama disana, sebelum jam pulang sekolah aku akan kembali.^^^
Zidan
Oke
...Lanjut.......
...Alion & Agas...
^^^Alion^^^
^^^Aku pergi, jaga Lily baik-baik^^^
Agas
Loh bos akan kemana?
Agas
Tenang aku akan menjaga Lily baik-baik.
^^^Alion^^^
^^^Kantor Polisi^^^
Agas
Lalu bagaimana bos akan mengatakan nya pada Lily.
****
"Mungkin dia bisa sedikit berbohong," batin Alion.
Tanpa berniat membalas pesan Agas lagi. Alion mematikan ponsel ditangannya.
Menaruh kembali ponsel ke sakunya, Alion dihadapkan pada tatapan bertanya gadisnya. Alion menatapnya, matanya sangat jernih dan jujur. Di tatap seperti ini, Alion tak tahan untuk membohongi gadisnya.
"Aku harus pergi, ada hal yang mesti ku urus. Tak akan lama, sebelum jam pulang aku pasti akan kembali untuk menngatar mu pulang," jelas Alion dengan suara pelan.
Setelah penjelasan Alion selesai, ada keheningan yang aneh diantara mereka berdua. Alion menunggu dengan sabar, jika Lily mencegahnya, tentu saja dengan patuh dia akan tinggal.
"Baiklah, tapi kamu harus hati hati,” kata Lily lembut.
__ADS_1
Mendengar persetujuan gadisnya, Alion tersenyum tipis dan menggangguk. Membuat alasan pergi ke toilet, dengan mudah Alion keluar kelas, dan menuju ke belakang sekolah bergegas ke kantor polisi.
Lily melihat kepergian Alion, tanpa berniat mencegahnya. Dia bisa menebak apa yang akan Alion lakukan. Hal itu pasti tidak jauh dari kejadian malam itu. Entah apa bukti yang mereka temukan lagi. Dengan tenang Lily menunggu saat Alion mengatakan semuanya.