Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 56 PEMAHAMAN DIAM-DIAM


__ADS_3

"Uhuukk-uhukk." Seteguk cairan merah keluar dari mulut pria itu.


"Ampun, tuan," lirih nya diselingi rintihan sakit.


Danung Admaja tak pernah memiliki belas kasihan pada siapapun. Apalagi pada bawahan yang telah gagal menjalankan tugasnya. Tanpa memandang pria itu dia langsung menembak tepat di kepalanya.


Dorrr


"Jika bukan karena kebodohanmu rencanaku tak akan hancur. Sekarang Rendra pasti tahu aku dibelakang semua ini," kata Danung marah.


Namun, sepertinya dia tak sadar orang yang dia ajak bicara sudah tidak bernyawa.


"Tuan, tak perlu marah. Lagipula meskipun mereka mengetahuinya. Mereka tetap tak akan mampu melawan."


Mendengar hal itu Danung mulai tenang, ketua pelayan yang telah lama mengikutinya mengatakan hal yang benar.


Dia tak seharusnya kehilangan kesabaran. Lalu memang kenapa jika mereka mengetahuinya. Mereka tetap tak akan bisa melakukan apapun padanya.


Melihat tuan yang telah lama dia layani mulai tenang. David memerintahkan pelayan lainnya untuk membereskan tubuh pria itu.


Padahal dia adalah salah satu orang terpilih setelah melewati banyak tes. Sepertinya David harus mencari pengganti yang lebih baik.


****


Kembali ke dalam kamar Lily, sejak tadi dia bergerak begitu gelisah di atas kasur karena merasakan lapar.


Lily pikir dengan memakan beberapa camilan bisa mengganjal perutnya. Namun, rupanya itu tidak cukup membuatnya merasa kenyang.


Sudah lewat tengah malam namun Lily masih belum bisa memejamkan matanya. Perutnya terus memprotes untuk segera diisi.


Tukk tukk tukk


Sebuah suara dari arah jendela kamar Lily terdengar nyaring. Dia menelan ludah gugup, menatap kaca jendela nya yang tertutup. Harusnya dia tak memperdulikan perutnya dan langsung tidur tadi.


"Tidak mungkin itu hantu bukan," gumam Lily takut-takut.


Tapi rasa penasaran yang dia miliki lebih besar daripada ketakutan yang dia miliki. Dengan takut-takut Lily turun dari tempat tidurnya. Tak lupa memakai sandal dia berjalan mendekati jendela kamarnya.


Meski di luar gelap gulita, lampu taman di halaman rumah Lily begitu terang. Sehingga meskipun Lily berada di lantai dua dia bisa melihat dengan jelas seseorang berdiri di bawah sana.


Seorang pria yang memiliki tubuh tegap berdiri menatap ke arahnya.


"Lio," seru Lily tak percaya.


TAke my hands now


You are the cause of my euphoria....


Dengan keadaan masih terkejud, Lily mengangkat teleponnya yang berbunyi.


"Lio."


"Turunlah...."

__ADS_1


Tuttt


Alion yang belum menyelesaikan kata-katanya menatap tak berdaya pada sambungan telepon yang telah mati.


Padahal dia ingin mengatakan agar gadis itu memakai pakaian tebal saat turun karena udara di luar cukup dingin. Namun, belum sempat dia mengatakannya Lily telah menutup teleponnya.


Kriettt


Lily keluar dari pintu rumahnya dan berlari kecil ke arah Alion.


"Kenapa kamu suka sekali berlari, hmm," tegur Alion dengan muka galak.


Lily yang ditegur sama sekali tidak takut dan malah memasang wajah tersenyum cerah. Dia begitu senang melihat Alion lagi.


"Kenapa kamu kembali?" tanya Lily ceria.


Melihat bagaimana Lily tak tak kenal takut padanya, Alion hanya bisa dengan pasrah menyerahkan bingkisan di tangannya. Lagipula dia memang tak berniat membuat Lily takut. "Untukmu."


Lily tentu saja menerimanya dengan senang hati, meskipun tak tahu apa yang Alion berikan padanya.


"Apa ini?" tanya Lily penasaran.


Namun alion tak langsung menjawab dia malah melepas jaket yang dia pakai dan mengenakannya di tubuh Lily.


"Kamu ini seorang gadis, kenapa tak bisa menjaga diri sendiri," kata Alion lembut.


Setelah memastikan tubuh Lily tertutup, barulah dia kembali melanjutkan kata-katanya. "Itu makanan. Aku tahu kamu pasti lapar."


"Ah, bagaimana kamu tahu?" tanya Lily tak percaya.


"Hmm, banyak sekali pertanyaamu," balas Alion.


Lily hanya cengengesan saja mendengar kata-kata Alion. Lily sendiri tak sadar dia telah banyak bertanya.


"Syukurlah," Batin Alion lega. Melihat bagaimana Lily begitu ceria tak berbeda dari biasanya. Sepertinya kejadian malam ini tak meninggalkan bayangan buruk darinya.


Jujur saja Alion sempat heran gadis kecil seusia Lily harusnya tidak sekuat ini. Namun, dari banyak hal yang telah terjadi. Gadisnya itu seolah sudah biasa menghadapinya.


Meskipun Zayyan telah mengatakan bawa Lily pernah mengalami sesuatu sebelumnya. Tapi calon kakak ipar nya itu berkata bawa Lili telah melupakan semua kejadian buruk itu.


FLASHBACK


Zayyan mendatangi markas Zero dengan emosi Yang meluap luap. Dia duduk tepat di hadapan Alion, menatapnya dengan tajam, seolah meminta penjelasan.


Anggota Zero yang cukup peka pun memilih menyingkir dan meninggalkan alion dan Zayyan berdua.


"Ehem, lalu kita pergi," kata Agas berpamitan.


"Panggil kami jika perlu apapun," timpal Alvaro.


Sepeninggal semua orang, udara seperti turun drastis. Baik Alion dan Zayyan sama-sama mengeluarkan aura tak enak.


"Seperti yang kau tahu Lily telah diculik saat pulang dari mall. Tak perlu khawatir aku telah mengurus semuanya," jelas Alion singkat.

__ADS_1


Kapten Luca telah mencari siapa-siapa yang terhubung di lokasi Lily ditemukan. Apalagi Alion juga telah mendapatkan informasi tentang siapa yang bekerja sama dengan Geo di kejadian terakhir.


Hanya tinggal masalah waktu semua bukti bisa dikumpulkan. Dan mereka bisa menangkap pelaku sebenarnya.


"Bukan itu," kata Zayyan ragu-ragu.


Harus menceritakan hal ini pada Alion atau tidak. Dia tahu sang adik telah melupakan masa lalu. Namun, tetap saja dia takut Lily kembali menjadi pendiam.


"Karena kecerobohanku keluarga kami hampir kehilangan Lily. Dia diculik oleh pedagang anak," kata Zayyan memulai ceritanya.


"Jika bukan karena an...."


****


"Lio, kenapa diam saja," tegur Lily.


Alion kembali fokus pada kekasihnya. Dia hanya tersenyum tipis dan mengelus pelan rambut Lily.


"Naiklah, udara semakin dingin. Dan jangan lupa dimakan lalu segeralah tidur."


"Hum, baiklah," balas Lily enggan.


"Ingin ku temani?" tanya Alion. Mungkin bukan masalah untuk tinggal selama beberapa waktu. Apalagi Lily sepertinya enggan untuk meninggalkannya.


"Tidak perlu, Lio. Sudah malam kamu juga pasti sudah lelah," tolak Lily halus.


"Yakin," kata Alion memastikan.


Dengan penuh semangat Lily menggangguk, "Aku juga harus segera naik atau orang rumah akan marah."


"Baiklah, lalu aku akan pergi," balas Alion.


Namun, Lily yang telah menyuruhnya pergi malah dengan erat menggenggam sudut pakaiannya. Dengan mata berair gadis itu menatapnya dengan tatapan polos.


"Hmm, aku akan tinggal sampai kamu menghabiskan makanan. Masalah orang rumah biar menjadi urusanku nanti," putus Alion tiba-tiba.


Tanpa perlawanan Alion membawa Lily ke kursi di terah rumah nya.


Kruyukkkk-krukk


Bunyi perut Lily memprotes terdengar kencang, membuat sang empunya memerah malu.


Alion hanya menatap kekasihnya dengan lembut tanpa berniat untuk membuatnya malu. Dengan telaten dia membuka bungkus makanan agar Lily bisa langsung menyantapnya.


"Makanlah," kata Alion dengan lembut.


Lily yang diperhatikan tentu saja merasa senang. Namun, dalam hati dia merasa sedikit aneh. Bukannya Alion tak baik, tapi biasanya pria itu tak pernah absen untuk menjailinya.


"Lio, makan," kata Lily sembari menyodorkan sendok ke arahnya.


Dengan patuh Alion menerima suapan yang Lily berikan. "Sudah, habiskan sisanya."


Dengan senang hati Lily kembali menikmati makanannya. Dia benar-benar kelaparan malam ini. Tanpa sadar dia telah makan semua nya seorang diri. Padahal porsi yang di belikan Alion untuknya merupakan porsi untuk dua orang.

__ADS_1


__ADS_2