
Rumah sakit.
Di ruang UGD, para dokter sedang menangani luka Lily. Beruntung pisau tak mengenai organ fital. Jadi, Lily hanya memerlukan operasi kecil untuk menjahit lukanya.
Saat Alion menggendong Lily dan mencari pertolongan. Alion bertemu dengan Zayyan dan Bobi yang sedang mencari mereka.
Tanpa banyak keributan mereka langsung membawa Lily masuk ke mobil dan pergi ke rumah sakit terdekat. Untunglah jarak rumah sakit tak terlalu jauh. Sehingga tanpa halangan apapun Lily langsung ditangani.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kau berjanji akan menjaga adikku kan, lalu apa ini Alion. Lily terluka dan tak sadarkan diri disana. Sedangkan kau baik-baik saja disini," Kata Zayyan marah.
Alion yang ditanyai hanya bisa terdiam. Hal ini memang salahnya, yang tak bisa menjaga Lily dengan baik. Alion sangat amat menyesal, tangannya bahkan tak berhenti bergetar sejak tadi. Tepat di pelukannya Lily tak sadarkan diri dengan tubuh penuh darah.
"Kau menjadi bisu sekarang. Jawab Alion, mana janjimu untuk melindungi Lily. Bulshit," bentak Zayyan.
"Tenang lah Zayy. Apa kau tak lihat alion juga terluka. Tak ada yang bisa mencegah musibah datang Zay, Alion juga pasti telah berusaha. Lily pasti akan baik-baik saja, kita hanya harus terus berdoa," kata Bobi mencoba melerai.
"Lily bahkan tak ku biarkan tergores sedikit pun, Bobi. Kau lihat Lily mengeluarkan darah sebanyak itu. Bagaimana dia bisa menahan luka separah itu. Apa yang harus aku jawab saat orang tuaku bertanya nanti. Aku tak becus sebagai kakak hiksss-" kata Zayyan mulai terisak.
Zayyan tahu Alion tidaklah salah sepenuhya, disini Zayyan juga bersalah. Sebagai ketua OSIS dia harus memastikan semua nya aman. Dan saat ini musibah menimpa adiknya karena kelalaiannya.
Sebenarnya Zayyan hanya merasa tak terima saat Alion bisa berdiri tegak namun, adiknya berbaring disana.
Tapi mendengar kata Bobi, bahwa Alion juga terluka. Zayyan juga melihatnya, tubuh Alion penuh luka bahkan darah masih mengalir di pelipisnya. Entah bagaimana pria itu menahannya.
Sejak dia bertemu mereka berdua, Alion terus menggendong Lily dalam pelukannya. Bahkan saat Lily sudah ditangani, netranya tak pernah lepas dari memandang Lily.
"Alion, pergilah mengobati lukamu dulu. Biar kita yang menjaga Lily disini," suruh Bobi.
Alion hanya diam, tak merespon apapun. Dia senantiasa memandangi Lily dengan tatapan kosong. Sakit di sekujur badannya benar-benar tak dia rasakan.
"Pergilah, apa kau mau Lily khawatir saat dia sadar nanti,” kata Zayyan enggan.
Zayyan benar-benar tak ingin perduli padanya, dia hanya memikirkan Lily adiknya. Jika Alion mati disini dan dia tak berbuat apapun, adikknya pasti akan membencinya.
Dengan kesal Zayyan hanya bisa menahan amarahnya saat ini. Pastikan untuk memberi pelajaran pada Alion nanti.
****
Setelah banyak paksaan akhirnya Alion mau untuk mengobati lukanya.
Namun, Alion tak ingin di rawat ataupun diperiksa. Dia hanya ingin lukanya dibalut agar tak terlihat terlalu buruk saja. Setidaknya lebih baik melihat perban di kepala dari pada daraha bercucuran bukan.
Karena pihak rumah sakit tak bisa memaksa pasien, dengan pasrah mereka hanya bisa menurutinya. Dan satu perawat di atur untuk membalut luka Alion. Mereka hanya akan memberi saran, untuk lebih baiknya Alion harus memeriksanya lagi nanti.
Saat mengobati luka nya, Alion terus berfikir mengenai kejadian malam ini. Tentang siapa kemungkinan kedua orang yang telah menyerangnya. Dan siapa yang telah menukar peta miliknya dan Lily. Ya, Alion sangat yakin bahwa peta ditangannya telah ditukar.
Untuk peta, hanya anggota OSIS yang bisa berurusan dengannya. Namun, ada Zayyan disana tak mungkin dia tak mengawasinya. Hanya ada kemungkinan bahwa seseorang di dalam OSIS lah yang telah melakukannya. Alion harus menanyakan perihal ini pada Zayyan nantinya.
__ADS_1
Lalu, kedua orang yang menyerangnya bukanlah orang biasa. Alion bisa merasakannya saat berkelahi dengan mereka. Kedua orang itu seolah tak menyerah sampai Alion mati. Perihal Lily, Alion yakin itu hanya ketidak sengajaan. Sejak awal kedua orang itu ingin melukainya.
Pertama Alion harus bertanya pada Zayyan mengenai peta. Siapa saja yang telah memegang peta itu dan mempunyai akses kesana. Situasi aneh sekecil apapun bisa menjadi petunjuk untuknya menemukan pelaku.
"Nah, luka nya sudah saya obati. Pastikan untuk tidak terkena air selama seminggu ini. Dan saya menyarankan untuk segera melakukan rongsen agar kita tahu apakah ada luka dalam atau tidak,” jelas perawat.
Alion hanya mengangguk, dan segera meninggalkan ruangan itu. Alion ingin melihat keadaan Lily. Beberapa menit meninggalkan sisi Lily membuat hati Alion tak tenang rasanya.
Sang perawat yang menyaksikan hal itu hanya menggeleng pasrah. "Anak muda zaman sekarang," desah nya.
Di luar ruangan sudah ada teman teman Alion. Mereka bergegas ke rumah sakit saat tahu Lily dan Alion terluka. Awalnya pihak sekolah tak memperbolehkan, apalagi tidak ada kendaraan lain selain bus sekolah.
Namun, karena mereka memaksa akhirnya pihak sekolah mengizinkan. Dengan bantuan kepala desa, teman teman Alion bisa meminjam mobil bak untuk sampai di rumah sakit.
"Bos apa kau baik-baik saja?" tanya Agas cemas. Agas benar-benar tak habis fikir bagaimana bisa perjalanan liburan biasa bisa membuat bos nya dan Lily terluka seperti ini.
"Hmm," jawab Alion dengan tatapan kosong.
"Sebenar nya apa yang terjadi dan bagaimana luka dikepalamu?” tanya Zidan khawatir.
Terlihat balutan perban di dahi Alion. Zidan tak pernah melihat Alion terluka separah ini. Apalagi dengan tatapan kosong seperti ini membuatnya sangat khawatir mengenai keadaan sahabatnya
“Hanya luka luar,” jawab Alion.
Lukanya bukan lah apa-apa bagi Alion. Dia tak merasakan rasa sakit apapun. Di dalam hati Alion lah yang paling sakit saat ini. Banyangan Lily tak sadarkan diri dengan tubuh penuh darah masih terus terngiang di fikirannya. Dan setiap mengingatnya hatinya seperti di remas.
Alion tahu dari tatapan Zidan, bahwa dia khawatir akan keadaannya. Tapi, dia tak punya waktu untuk menjelaskan lebih jauh. Yang terpenting saat ini adalah Lily, dengan tenang Alion bertanya,
"Kau tak perlu khawatir, Lily sudah baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggu efek obat bius habis agar Lily sadar. Lily bahkan sudah dipindahkan ke rawat inap saat kau mengobati lukamu tadi," jelas Zidan.
"Ya bos, ada Alvaro dan Alvano yang menjaga ruangan Lily. Kita berdua kesini karena khawatir akan keadaan mu. Ayo aku akan membawamu ke ruangan Lily," timpal Agas.
Alion mengikuti Agas menuju ruangan Lily. Dengan mata gelap, Alion mengeratkan kepalan di Tangannya. Mengingat orang yang telah melukai gadisnya. “Aku akan membalas kalian ribuan kali, siapaun yang telah membuat gadisnya tak sadarkan diri. Aku tak akan melepaskan kalian kemanapun kalian lari,” batin Alion benci.
****
Setelah beberapa jam Lily di operasi, saat ini efek dari obat bius mulai hilang. Perlahan Lily mulai sadar, dengan kaku Lily mulai menggerakkan jarinya. Detik berikutnya Lily mulai membuka matanya, dan mencoba membiasakan diri dengan cahaya di depannya.
Lily ingat kejadian sebelum dia tak sadar. Seseorang berusaha melukai Alion. Tanpa berfikir panjang Lily berlari dan melindungi Alion. Lalu dia merasakan sakit di perutnya, dan kemudian pingsan. Lily tak tahu apa yang terjadi setelah itu.
Saat tak sadar, Lily telah bermimpi panjang. Dimana dia telah kembali ke kehidupan sebelumnya. Tak ada Alion disana dan Lily hanya hidup bak robot.
Merasakan rasa sakit diperutnya,
"Aww, itu bukan mimpi. Aku fikir semua hanya mimpi bahwa Lio masih hidup dan keluarganya juga masih hidup,” lirih Lily.
Dengan senyum lega, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia bersyukur tuhan telah memberikan kesempatan kedua Untuknya.
__ADS_1
"Lily kamu bangun, hey kenapa sayang. Ada yang sakit, aku akan panggil dokter,” kata Alion cemas.
Alion baru saja masuk untuk mengecek keadaannya gadisnya. Melihat Lily meneteskan air mata. Alion berfikir bahwa Lily pasti kesakitan. Dengan segera Alion memencet tombol untuk memanggil dokter.
"Hum, hanya sakit sedikit tak perlu cemas Lio. Bagaimana denganmu, apa kamu baik baik saja? Dahimu, apa yang terjadi?" tanya Lily beruntut.
"Tak apa aku sudah mengobatinya," jawab Alion lembut.
"Benarkah, itu pasti sakit," kata Lily sendu.
Tanpa berkata kata, Alion dengan lembut memeluk Lily.
“Syukurlah kamu baik baik saja,” bisik alion.
Zayyan yang baru saja kembali, dikejutkan dengan dua pasangan yang saling berpelukan. Dengan suara keras Zayyan menaruh makanan dimeja. Namun, tetap saja kedua orang itu tak terganggu sedikitpun dan malah mengabaikannya. Dengan kesal Zayyan pura-pura batuk
"Uhukk uhukk,"
"Lio, ada kak Zay," tegur Lily pelan.
Dengan enggan Alion melepaskan pelukannya. Tak menghiraukan Zayyan, dengan tenang Alion berdiri disamping Lily dan menggegang tangan Lily yang tidak dipasangi infus.
Melihat hal itu Zayyan hanya mendengus marah dan berjalan ke sisi adiknya yang lain.
"Apa ada yang sakit adik kecil?" tanya Zayyan khawatir.
"Tak apa kak, hanya sakit sedikit saja kok," jawab Lily dengan senyum.
"Syukur lah, aku sudah mengabari ayah dan ibu mereka akan segera kesini. Besok kamu akan dipindahkan ke rumah sakit kota. Jadi, untuk sementara tahan dulu di rumah sakit ini ya," jelas Zayyan.
"Kakak memberi tahu ayah dan ibu?" tanya Lily khawatir.
"Tentu saja, ayah dan ibu harus tahu. Tak perlu khawatir mereka tak akan marah padamu,” kata Zayyan lembut.
Dengan provokasi dia menatap Alion, seolah berkata, "Habis riwayatmu Alion."
Alion yang ditatap tak menghiraukan, dengan tenang memainkan jari jari Lily.
Tokk tokk
Kriieeettttt
"Apakah, pasien sudah sadar. Kami akan memeriksa keadaan pasien. Dimohon untuk keluarga menunggu diluar agar tak mengganggu pemeriksaan," kata seorang perawat.
Diikuti beberapa orang mulai memasuki ruangan Lily. Dengan enggan Zayyan dan Alion hanya bisa mematuhi.
"Aku keluar dulu, setelah diperiksa aku akan kembali," pamit Alion dengan mengusap lembut kepala Lily.
__ADS_1
"Iya, Lio," jawab Lily lembut.
Zayyan yang melihatnya hanya memutar bola mata malas. Dengan kesal Zayyan meninggalkan ruangan Lily. Dan diikuti Alion dibelakangnya.