
Markas zero.
Semua anggota zero terlihat berkumpul di dalam suatu ruangan. Alion duduk di posisi tengah, mata gelabnya memandang salah seorang pria yang tengah terluka. Pipinya lebam lebam biru, sudut bibirnya bahkan robek, terlihat betapa parah dia telah dipukuli.
"Bos, jelas jelas mereka semua menantang kita dengan melakukan ini," kata alvano marah.
Alion mengalihkan pandangannya, tak langsung menerima mentah mentah perkataan alvaro, dia menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Katakan, kenapa kau dipukul?" tanya alion dingin. Dia tak langsung terprovokasi, meski jelas anggotanya lah yang terluka, bisa saja kenyataannya malah dia yang salah. Alion tak akan memafkannya jika sampai hal itu terjadi. Sudah jelas tujuan zero dibentuk bukan untuk perkelahian antar geng.
Karena alvaro kebetulan satu kelas dengan bima. Dia pun cukup tahu dengan cerita itu. Hampir setiap hari dia selalu mendengar bagaimana bima bisa dekat dengan seorang gadis dari kelas pintar. Yang rupanya mantan kekasih dari salah satu murid sekolah musuh mereka. Jadi, saat alion bertanya alvaro pun berinisiatif untuk menjawab.
"Gadis itu adalah murid sekolah SMA Y. Tetapi, mantan pacarnya rupanya bersekolah di SMA D. Yang kebetulan musuh bebuyutan sekolah kita. Sepertinya mereka terlibat masalah lalu putus. Lalu beberapa hari kemudian gadis itu dekat dengan bima anggota zero yang baru bergabung. Dan sekolah mereka menganggap bahwa bima yang merebut gadis itu. Padahal itu tak benar," jelas alvaro.
"Benar begitu?" tanya alion pada bima.
Bima saputra adalah orang yang telah dipukuli dengan parah. Berbeda dengan alion dan teman temannya yang telah bergabung sejak SMP. Dia merupakan anggota yang baru saja bergabung. Namun, kesialan menimpanya karena mendekati seorang gadis. Yang rupanya mantan dari musuh sekolah SMA X.
"Iya bos itu benar," balas bima takut takut.
Bima tentunya berkata jujur, hanya saja menghadapi alion yang memiliki aura menyeramkan, dia menjadi sedikit takut.
"Tak perlu takut jika itu bukan salahmu. Memang sekolah mereka yang selalu membuat masalah dengan sekolah kita. Terakhir kali geo yang membuat masalah. Sekarang muncul satu orang bodoh lagi," kata agas jengkel.
Agas bahkan tak habis fikir, mereka itu terlalu berani atau bodoh sebenarnya. Baru saja masalah geo dipenjara mereda. Sekarang mereka malah membuat masalah baru lagi.
"Sepertinya mereka tak tahu jika bima adalah anggota zero. Apalagi kan dia baru bergabung, mereka pasti tak pernah melihatnya," kata pandu mencoba mendamaikan.
"Tahu ataupun tidak, tetap saja mereka mengusik anak SMA X," balas alvano tak suka.
Sejak tadi dia sudah sangat marah dengan kelakuan SMA D. Jika, saja tak ada alion bos nya. Sudah pasti dia akan membalas dendam pada mereka.
Alion yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. Akhirnya mengatakan keputusannya dengan nada tegas.
"Kumpulkan anak lainnya. Kita temui mereka. Ingat jangan bergerak sebelum aba aba ku. Kita hanya akan berdiskusi untuk berdamai. Kecuali mereka memulai kita tetap diam, mengerti," putus alion.
"Siapp, kami mengerti," seru semua orang.
.....
Ketiga gadis lainnya yaitu lily, seli dan angel menghabiskan hari ini dengan bersenang senang. Waktu sudah menjelang malam barulah mereka menyudahi acara belanja dan memutuskan untuk pulang ke rumah.
Tadinya saat berangkat ke mall mereka diantar oleh sopir angel. Namun, rupanya saat waktunya mereka pulang orang tua angel menghubungi dan meminta agar angel cepat pulang. Alhasil angel tak bisa mengantarkan lily ataupun selli dulu karena rumah mereka berlawanan arah.
"Maaf teman teman aku tidak tahu bahwa hal ini akan terjadi," kata angel penuh rasa bersalah.
"Tak apa, kita bisa naik taksi. Kamu pulanglah dulu sana," balas lily penuh perhatian.
"Benar, pergilah cepat. Tak perlu memikirkan kami," timpal selli menyetujui.
Dengan penuh rasa bersalah angel hanya bisa meminta maaf dan pergi meninggalkan lily dan selli.
"Jadi, lily apakah kita akan memesan taksi?" tanya selli memberi usul.
"Sepertinya kita hanya bisa melakukan itu," balas lily menyetujui.
"Ah lalu aku akan memesannya," kata selli berinisiatif mengambil penselnya. Namun, tiba tiba saja suara seseorang menyela dan membuat selli menghentikan gerakannya
"Lohh sayang," seru seorang pria.
Baik selli dan lily sama sama menoleh ke asal suara itu. Selli yang sangat mengenal wajah itu pun berlari menghampirinya meninggalkan lily seorang diri.
__ADS_1
Lily yang ditinggalkan pun memiringkan kepala bingung. Namun, dia tak mencegahnya dan memilih diam menunggu.
Tak jauh dari tempatnya lily bisa mendengar percakapan mereka berdua dengan sangat jelas.
"Sayang, kamu kok bisa disini. Bukannya kamu sedang kerja kelompok bersama temanmu?" tanya selli terkejud.
"Yahh kami sudah selesai, aku mampir mengambil barang milik ibu," kata bagas.
Rupanya dia adalah pacar baru selli yang tadi mereka bicarakan. Lily tak menyangka bahwa orang itu adalah bagas. Bukannya dia adalah ketua kelompok saat kemah kemarin. Jadi, apakah sejak saat itu mereka menjadi dekat.
"Ah begitu rupanya. Emh aku bersama temanku lily, kami baru saja selesai berbelanja, dan akan pulang," jelas selli.
"Kalau begitu ayo kita pulang bersama," ajak bagas.
"Baiklah, tapi aku mengajak temanku. Tak apa kan?" tanya selli takut takut.
Bagas melirik ke arah lily berdiri, matanya menyipit, memikirkan sesuatu, dia pun berkata.
"Hmm, tentu." kata bagas tanpa emosi.
"Lalu aku pergi dulu," kata selli penuh semangat.
Selli kembali ke tempat dimana lily berada. Dan menjelaskan maksud dari kekasihnya.
Namun, karena lili telah mendengarkan semuanya sejak tadi. Dia lebih dulu menolak ajakan selli sebelum dia menjelaskannya.
"Tidak perlu sell, kamu bisa pergi bersama kekasihmu saja. Ehm sebentar lagi kakak ku akan menjemput ku. Jadi Kamu tak perlu khawatir," tolak lily.
Sebenarnya lily telah berbohong, kakaknya sendiri tengah sibuk mengikuti kelas tambahan untuk persiapan ujian nasional. Jadi, tak mungkin dia punya waktu untuk menjemputnya. Lily menolak karena dia merasa tak nyaman saja. Entah kenapa tatapan bagas padanya. Seolah tidak menyukai nya.
....
Lily akhirnya memutuskan untuk menunggu di halte terdekat. Sejak tadi dia saling bertukar pesan dengan ibu alion.
^^^Lily^^^
^^^Banyak barang baru yang bagus bagus bibi.^^^
Ibu lio
Benarkah, ah bibi sangat iri sekali. Bibi juga ingin sekali berbelanja tapi tak memiliki teman.
Ibu lio
Lalu apa yang kamu beli nak?
^^^Lily^^^
^^^Ehm, lily bisa menemani bibi jika bibi tak keberatan.^^^
^^^Lili^^^
^^^Lily sebenarnya tak membeli apapun bibi. Lily hanya menemani teman teman saja.^^^
Ibu lio
Ah benarkah apakah lily tak masalah menemani bibi. Bibi kan sudah tua pasti berbeda dengan kalian anak muda saat bersenang senang.
Ibu lio
Loh kenapa sayang.
__ADS_1
^^^Lily^^^
^^^Tentu saja lily tak keberatan. Bibi masih awet muda sekali kok. Lily bahkan ingin nanti tetap awet muda seperti bibi.^^^
^^^Lily^^^
^^^Ah tak apa bibi. Hanya tak menemukan yang lily sukai.^^^
Ibu lio
Kamu ini bisa saja nak. Kalau begitu lain kali kita pergi bersama. Nanti kita cari barang yang lily sukai.
^^^Lily^^^
^^^Baik bibi.^^^
Ibu lio
Lalu sekarang kamu dimana sayang? Sudah pulang?
^^^Lily^^^
^^^Ini lily baru akan pulang. Masih menunggu taksi di halte, bibi.^^^
Ibu lio
Apa!! Tidak boleh. Bagaimana jika terjadi sesuatu nanti. Tunggu biar bibi panggil alion untuk menjemputmu.
^^^Lily^^^
^^^Ah tidak perlu bibi, nanti merepotkan lio.^^^
Ibu lio
Tidak akan, itu memang tugasnya. Kamu tunggu disana jangan kemana kemana.
^^^Lily^^^
^^^Baik bibi.^^^
Lily menutup ponselnya dengan pasrah. Padahal dia tak ingin mengganggu alion. Tadi sewaktu di mall alion telah mengabarinya bahwa akan mengurus beberapa hal di markas zero. Tapi melihat sang bibi begitu memaksa. Lily jadi tak bisa menolaknya. Dia hanya bisa berharap semoga alion telah selesai dengan masalahnya.
Brummm brumm ckiiettttttt.
Bunyi mobil bergesekan dengan rem berhenti di depan lily. Lily tak memperdulikannya dan memilih melihat ke arah lain.
Seorang pria memakai masker keluar dari salah satu pintu. Pria itu berjalan ke arah tempat lily duduk. Dan berhenti tepat di hadapan lily. Lily tak tinggal diam dan berusaha pindah dari posisi duduknya. Tapi pria itu terus mengikuti pergerakan lily saat dia berusaha untuk menyingkir.
Merasakan risih dengan kelakuan orang asing itu, lily berdiri dari duduknya, berniat untuk pergi dari tempat itu. Namun, sebelum dia melangkahkan kakinya. Tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh pria itu.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan," kata lily memberontak.
Pria itu tak mengatakan apapun dan menyeret lily ke arah mobil. Lily terus berusaha untuk melawan. Dengan sekuat tenaga dia memukul pria itu. Namun, karena tenaga nya tak cukup besar. Pukulan itu tak menimbulkan rasa sakit apapun.
"Siapa kau, lepaskan aku. Tolonggg tolonggg," teriak lily kencang.
Namun, berhubung lokasi halte cukup jauh dari mall. Dan langit yang semakin gelap. Tak ada lagi orang yang lewat kesana.
Meski begitu lily tak kehilangan akal, berpura pura menyerah, dia mengumpulkan seluruh kekuatan pada kaki, dan melayangkan satu tendangan pada bagian paling sensitif pria. Dan benar saja, pria itu kesakitan, dan melepaskan cekalan tangannya. Lily langsung lari meninggalkan tempat itu.
Namun, rupanya pria itu tak sendiri. Seseorang langsung keluar dan mengejar lily. Mungkin karena takut lily akan berulah lagi. Orang itu menggunakan obat bius dan membekapnya. Sedikit demi sedikit lily mulai kehilangan kesadaran setelah menciumnya.
__ADS_1
Dan tepat setelah lily pingsan, dia langsung dibawa masuk ke dalam mobil, dan mobil melaju dengan kencang meninggalkan halte.