Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 12 KAKAK IPAR


__ADS_3

Melihat semua orang pergi dan tersisa Alion sendirian, Lily berlari menghampiri Alion. Lily berlari kecil ke sisi Alion, dia memperhatikan dari atas sampai bawah memastikan tak ada luka di tubuh Alion.


"Apa kamu baik baik saja Lio? Tak ada yang luka bukan?" Lily masih sedikit khawatir Alion telah terluka akibat perkelahian itu.


Melihat Lily dengan wajah pucat ketakutan tapi matanya menatap cemas kearahnya. Hati Alion melembut, dan berkata dengan tenang. "Tak apa, mereka bukan lawanku."


"Syukurlah," ucap Lily lega.


Alion tersenyum kecil, dia mengusap kepala Lily dengan lembut.


"Anak baik," kata Alion dengan nada membujuk.


Lily yang tak mengerti apa maksud alion, memiringkan kepalanya bingung. Apakah Alion fikir dia anak kecil, apa-apaan nada membujuk itu.


Lily berfikir mungkinkah maksud Alion saat dia lari mencari bantuan. Atau saat dia tidak mengganggu Alion berkelahi. Memahami pria ini sangatlah sulit baginya. Biarlah asal dia senang, dia bisa melakukan apapun padanya. Jika dia ingin memperlakukan ku seperti anak kecil, maka jadilah itu.


"Apa yang kamu lakukan disini Lio? Apa kamu sendirian?" tanya Lily dengan rasa ingin tahu.


"Hanya lewat," kata Alion sedikit canggung.


Lily menyipitkan mata tak percaya. Seingatnya rumah Lio tak ada disekitar sini bagaimana ada kebetulan seperti itu. Lagi pula jalan ini hanya menuju ke arah pasar malam. Lily merasa Alion menyembunyikan sesuatu.


"Kamu belum menjawab pertanyaan keduaku," tanya Lily menyelidik.


"Tentu saja sendiri," jawab Alion tenang.


Lagipula Alion memang sendirian ke sini. Perihal kenapa ia kesini, jelas bukan kebetulan. Agas yang mengerjainya mengatakan bahwa Lily terlihat pergi dengan seorang pria. Membuat Alion langsung bergegas kesini. Tapi Alion benar-benar harus berterima kasih pada kebohongan temannya itu. Jika saja dia terlambat, Alion tidak bisa membayangkan apa yang akan Geo lakukan pada Lily. Mengingat kata menjijikkan pria itu tentang Lily membuat senyum Alion menjadi dingin.


Melihat suasana hati Alion berubah, Lily menjadi bingung. Apakah dia mengatakan sesuatu yang salah.


"Emm, lalu terima kasih Lio. Aku tidak tahu jika tidak ada kamu disini. Siapa yang akan menolongku," ucap Lily penuh syukur. Benar, tak peduli di kehidupan sebelumnya atau kehidupan ini Alion selalu ada saat Lily paling membutuhkan. Ucapan Lily sangat tulus mengingat kebaikan Alion padanya, dia memang belum cukup berterima kasih.

__ADS_1


"Sama-sama," jawab Alion. Melihat mata gadis itu Alion kembali tenang.


"Kalau begitu ayo pulang, aku akan mengantarmu," kata Alion.


"Ah, tidak perlu Lio. Kak Zay akan segera kesini. Dia akan marah jika aku pulang dulu," jawab Lily tak enak.


Lily merasa sedikit menyesal mengatakan ini. Jika saja tak memikirkan kakaknya yang menyebalkan itu marah. Dia ingin menghabiskan waktu dengan Alion.


Ngomong ngomong setelah pertemuan terakhir dengan Alion di kebun buah itu. Lily jarang menemui Alion di kelas. Setahunya Alion sedang sibuk dengan jabatan barunya sebagai ketua OSIS. Dan jangan lupakan final basket antar SMA yang kemarin sempat di tunda karena kericuhan. Lily tahu prianya sangat sibuk, jadi Lily berusaha untuk tidak mengganggunya.


"Hmm begitu, aku akan menemanimu sampai kakakmu datang," kata Alion.


"Terima kasih, Lio. Aku memang masih merasa sedikit takut jika kelompok itu datang lagi," kata Lily dengan senyum tulus.


"Tak perlu khawatir, mereka tak akan berani," jawab Alion tegas.


Setelah beberapa saat, suara motor memenuhi pendengaran mereka. Pada saat yang sama Lily segera menoleh, melihat orang yang dikenalnya dia melambai. Sedangkan Alion memilih tak perduli dan hanya menatap ke arah Lily.


"Alion, apa yang dilakukan pria itu bersama Lily," batin nya.


Zayyan turun dari motornya dan berdiri di samping Lily. Zayyan menarik Lily ke belakangnya dan menatap adik kelasnya itu dengan tajam.


"Apa yang kau lakukan disini," tanya Zayyan dengan marah.


Lily yang tau kakanya pasti salah paham langsung berdiri di hadapan Alion. Lily berkata dengan cemas, "Kakak, jangan salah paham. Lio tadi sudah menolongku. Ada beberapa orang yang berniat berbuat jahat padaku. Lio lah yang mengusir mereka."


Melihat Lily melindunginya, Alion tersenyum senang. Alion menatap provokatif pada Zayyan. "Jadi bagaimana jika dia adikmu, lihat dia melindungiku."


Zayyan kesal, seolah dia tahu maksud tatapan pria itu. Tapi mendengar ada yang berbuat jahat pada adiknya dan Alion telah menyelamatkannya. Zayyan akan memafkan Alion kali ini dan tak memperdulikan provokasinya.


"Apa kamu baik-baik saja, adik kecil," tanya Zayyan cemas.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kak Zay," jawab Lily.


Memastikan Lily tak kurang apapun dari atas hingga bawah. Zayyan menghelas napas lega, dia kembali menoleh ke arah alion.


"Terima kasih," kata Zayyan tulus.


"Tak masalah," jawab Alion tenang.


Setelah mengatakan terima kasih, Zayyan pun tak memperdulikan Alion lagi dan memilih bicara pada adiknya.


"Kalau begitu ayo kita pulang, Lily," ucap Zayyan menoleh pada adikknya. Zayyan segera menarik Lily menaiki motor nya.


Lily yang ditarik pun hendak protes, tapi dia segera mengurungkan niatnya. Ini memang sudah malam, ayah dan ibu pasti khawatir. Lily yang sadar belum berpamitan pada Alion pun menoleh ke arahnya.


"Sampai jumpa, Lio. Kamu juga harus segera pulang," Tangan Lily melambai dengan penuh semangat, senyum tak luntur dibibirnya.


"Hmm, sampai jumpa," jawab Lio.


Melihat adiknya seperti ini, Zayyan hanya bisa segera pergi dari tempat itu. Atau dia mungkin akan melihat adegan kissing. Memikirkannya saja Zayyan benar-benar ingin memukul adik kelasnya itu.


Melihat motor itu melaju dengan cepat, Alion hanya bisa menggelengkan kepala. Dia tahu Zayyan pasti menolak keras kedekatannya dengan Lily. Pria itu benar-benar menyimpan dendam padanya.


Pada saat Alion masih SMP dia memang sangat memberontak. Tawuran dan bolos kelas sudah jadi rutinitasnya. Alion tak takut pada apapun dan menghajar siapa saja yang memprovokasinya. Sampai dia mendengar geng Zero, dan berniat menantangnya.


Saat itu Zayyan adalah ketua Zero yang baru. Menghadapi Alion yang tak tahu aturan, akhirnya dia pun kalah. Peraturan di Zero adalah siapapun yang telah mengalahkan ketua Zero, dia akan menggantikannya. Zayyan yang saat itu masih baru menjabat dan dikalahkan bocah SMP, tentu saja merasa kehilangan harga diri. Karenanya Zayyan pun memutuskan untuk keluar.


Mengetahui Zeyyan ingin keluar, Zero tentu saja berusaha membujuknya. Karna mereka tahu kemampuan tidak terbatas pada usia. Kalaupun dia kalah dengan Alion yang usianya jauh darinya, itu bukan lah hal yang memalukan.


Sebagi ketua pun Zayyan sudah sangat hebat, hanya Alion memang lebih darinya. Zayyan yang sebenarnya berat meninggalkan Zero pun luluh. Dia memutuskan untuk menjadi anggota tak aktif. Jika Zero butuh bantuannya dia pasti datang, tapi dia tak bisa bergabung di kegiatan mereka karena ada Alion disana.


Walaupun tak ada konflik yang terlihat. Sebenarnya Alion tahu, kakak kelasnya itu masih menyimpan dendam padanya. Alion jadi kesal dengan dirinya yang dulu. Melihat bagaimana calon kakak iparnya memandangnya, dia pasti akan menghalangi hubungannya dengan Lily. Haruskah dia menyerahkan kepemimpinannya itu untuk mendapat restunya. Apapun perihal Lily, alion benar-benar bisa menyerahkan apapun.

__ADS_1


__ADS_2