
Kembali ke kedai es cream.
Dimana Lily sedang menunggu Alion yang tengah memesan es cream.
"Bukankah pria itu sangat tampan, apakah dia punya kekasih," kata seorang gadis.
"Sepertinya tidak, dia terlihat mengantri seorang diri. Bagaimana jika kita mendekati nya," balas gadis yang lain.
Lily bisa mendengar dari tempatnya duduk saat ini, bisik-bisik para gadis yang membicarakan Alion. Lily melihat kedua gadis itu tiba-tiba saja menghampiri Alion.
Entah apa yang Alion katakan pada mereka, wajah mereka berubah masam. Lily bisa menebak bahwa respon Alion tak begitu baik. Dia sendiri saja kadang heran dengan kekasihnya itu.
Saat dulu awal mereka dekat Alion selalu saja menggodanya, Lily sempat berfikir bahwa Alion tipe pria playboy. Tapi dia tahu dengan jelas bagaimana Alion dengan orang lain.
Dia begitu dingin dan tak tersentuh. Lily jadi penasaran kenapa Alion bisa begitu berbeda dengannya bahkan sedari awal mereka bertemu.
Alion telah selesai memesan sebuah es cream, membawa es cream coklat ditangannya, dia menghampiri Lily.
Sejak dia tiba, gadis itu memandangnya dengan mata nakal. Entah apa yang dia rencanakan, Alion merasa semakin tak bisa memahami fikiran gadis kecil didepannya ini.
"Apa yang kamu fikirkan?" tanya Alion penasaran.
Lily yang ditanya hanya cengengesan, bagaimana mungkin dia memberi tahu Alion tentang apa yang dia fikirkan.
Dia tadi sempat berfikir bagaimana jika Alion menggoda seorang gadis seperti pria itu menggodanya dulu. Lily pasti tak akan segan-segan memukul Lio jika hal itu sampai terjadi.
"Tidak ada kok, berikan es krim ku," balas Lily ceria.
Alion hanya bisa menggelengkan kepala bingung dan menyerahkan es cream di tangannya pada Lily.
Dia hanya memesan satu buah es cream coklat, karena memang Alion tak menyukai makanan penutup seperti ini.
Hanya gadis kecil seperti Lily yang begitu menyukai makanan manis seperti itu. Es cream itu adalah jenis es cream dengan cone, diatasnya ditaburi berbagai toping tambahan yang sama sama manis.
Melihatnya saja membuat Alion merasa kenyang tanpa berniat memakannya.
"Hmm, ambilah," kata Alion pelan.
Dengan senang hati Lily mengambil es cream di tangan Alion. Lily menjilatnya dan merasakan rasa manis dan dingin menyerang lidahnya. Perpaduan yang nikmat, apalagi dinikmati saat cuaca sedang hangat seperti saat ini.
"Es cream memang makanan penutup terbaik," seru Lily semangat.
Tatapan Alion saat melihat Lily begitu lembut, berbeda sekali saat dia menghadapi orang lain.
"Pelan-pelan saja, tak akan ada yang merebutnya," tegur Alion halus.
Alion merasa geli dengan sikap imut Lily. Gadisnya begitu mudah dipuaskan hanya dengan sebuah es cream. Alion tak bisa memahami kenapa dia begitu menyukai benda manis itu.
Awalnya alion akan memberikan apapun yang Lily minta. Namun, saat dia mengetahui dari orang tua Lily bahwa gadis itu sempat sakit karena terlalu banya memakan makanan manis.
Alion menjadi sedikit ketat akhir-akhir ini.
Jadi, tak heran jika Lily menjadi begitu bersemangat saat dia membelikan jatah makanan manisnya minggu ini.
****
__ADS_1
Usai Lily menghabiskan es cream miliknya, mereka berdua pun mulai mencoba berbagai wahana yang ada di taman hiburan.
Sejak tadi mata Lily menatap penasaran saat menyaksikan keseruan orang-orang bermain. Melihat sebuah wahana dimana terdengar teriakan saat sebuah kereta melaju kencang. Lily menjadi tertarik, matanya berbinar-binar.
Alion yang mengerti pun berinisiatif mengajaknya untuk bermain.
"Ingin mencoba itu?" tanya Alion menunjuk sebuah wahana.
Lily tersenyum dan mengangguk penuh semangat.
Alion menggenggam tangan Lily erat, mereka memutuskan untuk memulai dari permaian roler coaster. Meski Lily seorang gadis dia terbilang cukup berani dengan permainan ekstrem seperti ini. Sudah sejak lama Lily ingin mencoba memainkannya, hanya saja karena kakaknya penakut saat pergi bersama ke taman hiburan, mereka hanya memainkan wahana biasa.
Teriakan dari pengunjung terdengar hingga di posisi antri mereka berdua.
Hal tak membuat Lily lantas takut, dia malah semakin bersemangat untuk segera mencoba keseruannya juga.
Saat mereka berdua akhirnya naik, Lily merasakan sensasi luar biasa. Kereta itu melaju begitu kencangnya. Membuat Lily berteriak kencang, tapi itu bukan teriakan ketakutan, melainkan teriakan kegembiraan.
Permainan seperti ini sangat seru menurut Lily, dia bisa merasakan hembusan angin di ketinggian ini, jantungnya berdebar setiap kali kereta menurun. Hal ini merupakan pengalaman yang sangat seru menurutnya.
Berbeda dengan Alion, sejak tadi pria itu tak bersuara. Namun, siapapun yang mengenalnya pasti akan menyadari bahwa sudut bibir nya naik, tanda bahwa dia juga menikmati permainan ini.
Mereka berdua begitu asik bermain, hampir semua wahana telah mereka coba. Hingga saat malam hari tiba, mereka masih ingin mencoba satu wahana terakhir. Tapi sebelum itu, mereka berniat untuk makan malam terlebih dahulu.
Di sebelah taman hiburan, terdapat salah satu restoran bintang lima. Restoran itu menjual berbagai hidangan barat. Karena tempat makan lainnya terlihat tak meyakinkan. Lily dan alion memutuskan untuk makan malam disana.
Setelah mereka berdua duduk, langsung saja seorang pelayan menghampiri mereka, dengan membawa sebuah menu. Alion dengan tenang mulai memesan makanan untuknya dan Lily.
"Secangkir kopi tanpa gula, satu milkshake stroberi dengan es cream diatasnya, 1 steak tenderloin medium,1 steak wangyu medium rare," kata Alion mulai memesan.
Arumi saat ini duduk tak jauh di tempat Lily berada, dia tak sendiri di depannya ada seorang pria. Lily tak tahu siapa pria itu, dari bentuk tubuhnya dia tak terlihat seperti Zidan. Lily merenung sejenak, meski hanya terlihat punggungnya, Lily merasa pernah melihatnya di suatu tempat.
Alion yang sepertinya menyadari keanehan gadisnya pun ikut menoleh ke arah pandangan Lily. Namun, itu hanya terjadi seperkian detik. Karena setelahnya Alion kembali memfokuskan pandangan nya kepada Lily.
Seolah tak terjadi apa-apa, Alion mencoba menarik perhatian Lily kembali padanya.
"Apa kamu yakin akan ke rumah hantu?" tanya Alion dengan suara rendah.
Lily yang ditanya mengalihkan pandangan nya pada Alion. Fikiran nya perihal Arumi dan pria itu hilang dalam sekejap. Seolah tak terima Alion mengangganya penakut. Dengan cemberut Lily mulai berceloteh.
"Hum, tentu saja tidak. Lagi pula aku tahu mereka adalah manusia seperti kita, hanya saja mereka memakai riasan," balas Lily panjang lebar.
Merasa jawabannya tak cukup meyakinkan, Lily berniat menjelaskan nya lagi. Namun, seorang pelayan telah menyela, dengan membawa pesanan mereka ditangan nya. Mereka pun mulai menikmati makanan mereka.
Sesekali mereka masih berbincang dengan harmonis. Mereka membicarakan berbagai hal, tanpa kembali memikirkan keberadaan Arumi di seberang mereka.
****
Di tempat Arumi berada.
Berbeda dengan Lily yang menemukan keberadaan nya. Arumi malah tak tahu bahwa ada Lily di tempat ini. Dia begitu ketakutan pada pria didepannya, itulah mengapa dia tak memperhatikan sekitar nya.
Pria yang bersama dengan Arumi terlihat cukup tampan. Sebanding dengan ketampanan yang dimiliki Alion. Hanya saja yang mebedakan adalah aura keduanya.
Saat dalam keadaan tenang aura Alion terasa dingin dan hanya terbatas pada kata tidak ingin didekati. Tapi pria ini memiliki aura dingin namun terkesan berbahaya.
__ADS_1
Suara pria itu begitu tajam dan menusuk, begitu angkuh dan mendominasi.
"Bukankah kau bilang akan segera bisa masuk ke Zero. Apa kau coba mempermainkanku," kata pria itu dingin.
Tubuh Arumi bergetar, suaranya mengecil tanpa sadar.
"Aku tak tahu jika rupanya cukup sulit memanfaatkan Zidan," cicit Arumi hati-hati.
Pria itu mengangkat matanya untuk menatap tajam gadis di depannya.
"Aku akan memberimu waktu lagi. Tapi jika kau tak segera melakukan tugas yang kuberikan. Nasibmu akan lebih buruk dari apa yang menimpa Geo," ancam pria itu.
Setelah mengatakannya dia pergi meninggalkan tempat itu. Arumi yang ditinggalkan dengan lega menarik nafasnya.
Dia benar-benar ketakutan menghadapi pria itu. Saat seorang kakek memberitahunya mengenai orang asing di hutan. Arumi benar-benar tak melakukan apapun untuk menyelidiki.
Namun, saat dia keluar desa untuk membeli beberapa keperluan OSIS. Dia tak sengaja berpapasan dengan pria itu.
Arumi hanya sedikit mengagumi ketampanannya, karena di tak menyangka di tempat terpencil seperti itu ada seorang yang sangat tampan.
Arumi tak mencurigai apapun, bahkan saat dia terlibat dengan rencana Febi. Arumi hanya memiliki kecurigaan pada orang asing yang diceritakan kakek tua itu.
Dia sama sekali tak mencurigai pria yang telah berpapasan dengannya. Baru lah saat semuanya terbongkar. Pria itu tiba-tiba menemui Arumi dan mulai mengancamnya.
Mengambil sebuah ponsel di tasnya, Arumi mulai menghubungi seseorang.
...Room Chat...
^^^Arumi^^^
^^^Zidan, ayo kita bertemu. Ada hal yang ingin ku bicarakan denganmu^^^
Zidan
Aku sibuk.
^^^Arumi^^^
^^^Bukankah kamu membutuhkan informasi itu.^^^
^^^Arumi^^^
^^^Aku akan mengatakan semuanya padamu.^^^
Zidan
Dimana?
^^^Arumi^^^
^^^Di cafe XX, aku akan menunggumu disana.^^^
Arumi menutup ponselnya dan berniat pergi ke cafe XX.
Tanpa dia ketahui sebelum dia mengirim pesan itu. Seseorang telah melaporkan pertemuan Arumi dan pria itu. Arumi hanya akan terperangkap dalam jebakan yang dia buat.
__ADS_1