Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 54 MASA LALU YANG DILUPAKAN


__ADS_3

Kantor polisi.


TOKK TOKK TOKK


"Pak, ada yang ingin bertemu," kata seorang anggota polisi.


"Masuk."


Suara dingin menyahut dari balik pintu.


"Agas, tidak biasanya kamu kesini."


Kapten Luca terkejud melihat kedatangan Agas. Meski sudah sering melihat anggota Zero wira-wiri di kantor polisi ini. Seingatnya tak ada kasus yang membutuhkan bantuan mereka saat ini.


"Maaf mengganggu ketua, tapi aku kesini atas perintah Alion," balas Agas serius.


Kapten Luca mengernyitkan dahi, sesuatu yang buruk pasti telah terjadi.


"Katakan."


Agas mulai menjelaskan seluk-beluk masalah kenapa dia datang kesini. Meski Alion tak menjelaskan secara langsung apa yang harus dia lakukan. Karena telah mengenal Alion sejak kecil, dia mengerti apa yang bosnya itu ingin dia lakukan.


"Aku mengerti, aku akan segera membawa tim ku kesana."


Agas langsung keluar dari kantor polisi setelah mendengar jawaban dari Luca. Dia tahu kapten tak akan mengecewakannya. Siapapun dalang di balik semua ini harus ditangkap. Tak akan mereka biarkan kasus ini hilang hanya karna seseorang yang berkuasa adalah dalang dibalik ini semua.


....


"Semuanya dengarkan aku, penculikan ini bukan kasus biasa. Aku ingin kalian menemukan siapa dalang dibalik semua ini. Besarkan apa yang perlu dibesarkan. Jangan tutupi apapun pada rakyat."


PENCULIKAN


Sebuah kata yang mengingatkan Luca pada kejadian di masa lalu. Bedanya Alion lah yang telah menjadi korban. Dia sangat mengingat kejadian itu, karena itu merupakan kasus pertamanya. Dan awal mula dia mengenal Alion. Pria yang terkadang bisa begitu gila di suatu waktu.


Flashback


Sebuah kasus yang mengguncangnya hingga ke tulang sumsum terjadi di tahun pertama Luca menjadi seorang polisi. Ini adalah kasus yang membawa dia ke dunia kejahatan terburuk, perdagangan anak.


Saat itu dia masih seorang detektif muda yang penuh semangat. Luca baru saja menjadi anggota divisi kriminal polisi Metroville City. Panggilan telepon itu membuat suasana kantor menjadi tenang. Kasus itu tentang kehilangan sekelompok anak yang bermain di sebuah taman kota.

__ADS_1


Luca segera memasukkan kasus itu ke dalam mobilnya dan meluncur ke lokasi yang dilaporkan. Dia tiba di sana dengan cepat, dan petugas polisi yang rajin mengelilingi seluruh area. Luca langsung menemui ibu Alion yang histeris dan menggambarkan anak lelakinya sebagai anak yang bahagia dan pintar.


Beberapa orang tua lainnya pun tak jauh berbeda. Semua tak pernah menyangka anak mereka yang tengah asik bermain tiba-tiba saja diculik. Dengan panik mereka mulai membuat keributan pada polisi yang tengah bertugas.


"Semuanya harap tenang, saya luca pemimpin tim untuk kasus. Saya janji akan segera menyelamatkan anak bapak dan ibu. Saya minta tolong kerjasama nya," kata luca dengan tegas. Melihat semua orang tua mulai bisa tenang, luca kembali melanjutkan kata-kata nya. "Disana ada anggota tim saya yang akan menanyai bapak dan ibu perihal anak-anak. Saya harap semuanya menjawab dengan jujur."


Semua orang tua yang memendengarnya pun dengan patuh bergerak ke arah yang ditunjuk luca. Setelah semua sesuai dengan apa yang Luca atur, dia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Luca tiba di lokasi dan mulai menyelidiki. Setelah berjam-jam mencari, anggotanya akhirnya menemukan jejak yang mengarah ke gudang tua di pinggiran kota yang terbengkalai.


"Davin, kau yakin semua petunjuk mengarah kesana?" tanya Luca serius.


"Saya sudah mengecek semua ketua. Memang tak ada CCTV yang merekam. Tapi beberapa orang telah mengaku melihat mobil itu," jelas Davin.


Mendengar hal itu, Luca langsung menyiapkan tim untuk bergerak ke tempat itu. "Semua dengarkan, ke selamat anak-anak adalah hal yang paling penting. Lakukan apapun untuk memastikan mereka tidak terluka."


Saat sampai di lokasi.


Dia menemukan ketenangan yang menakutkan saat masuk. Tapi hatinya tersentak oleh suara pelan di tengah kegelapan itu.


"Hikkss-hikss huuuu-"


Dia melihat Alion, yang tampak ketakutan dan kebingungan, berusaha melindungi seorang gadis kecil.


Sekelompok kriminal yang kejam yang menculik anak-anak itu telah berencana untuk menjual mereka ke dalam perdagangan gelap. Rupanya tak hanya anak-anak di taman. Masih banyak anak lainnya yang juga telah diculik oleh mereka.


Orang-orang itu begitu kejam memukuli beberapa anak-anak agar menurut. Dan Alion termasuk orang yang telah dipukuli.


Dengan tubuh kecilnya, Alion yang baru berusia sepuluh tahun berdiri di depan Lseorang gadis, berani melindunginya dari para penjahat yang mengancam mereka. Dia tak gentar meski tubuhnya penuh dengan luka.


Melihat hal itu tanpa ragu, Luca mengambil senjatanya dan dengan tegas melawan para pelakunya. Di dalam gudang tua itu, pertempuran sengit terjadi, dan Luca dengan cerdik mengalahkan penjahat-penjahat itu satu demi satu.


Meskipun ketakutan, Alion tidak pernah melepaskan tangannya dari gadis kecil itu dan terus melindunginya.


Pada akhirnya, anggota polisi tambahan tiba dan membantu Luca.


....


"Lio, bagaimana kamu bisa ada disini?" tanya Lily setelah dia tenang.

__ADS_1


"itu tidak penting," kata Alion. Matanya sibuk memperhatikan Lily dari atas hingga bawah. Memastikan tak ada satu hal pun yang kurang. "Katakan padaku apa ada yang terluka? Apa mereka melakukan sesuatu padamu?"


Melihat Alion yang begitu panik, Lily tak langsung menjawab, dengan erat dia kembali memeluk Alion.


"Ada apa, hmm?" tanya Alion lagi. Namun, kali ini nadanya lebih lembut.


"Aku takut."


Yahh, Lily benar-benar merasa takut. Dia begitu takut saat mengetahui dia telah diculik. Dan bahkan dia juga sangat ketakutan akan gagal saat menyerang penculik. Tapi dia lebih takut tak bisa melihat Alion lagi. Di kehidupannya yang kedua ini, Lily masih belum cukup membahagiakan Alion.


Hati Alion sakit saat mendengarnya. Dia telah gagal lagi melindungi Lily.


"Hmm, aku disini. Tak akan ada masalah lagi. Maaf aku tak melindungi mu," kata Alion serak.


Lily mendongakkan kepala, menatap tepat di mata Alion, bukan itu maksudnya. Dengan tergesa-gesa dia mulai menggeleng kencang.


"Hum, tidak. Lio selalu melindungi ku, jangan berkata begitu lagi," kata Lily cemberut.


Tentu saja dia tak terima mendengar hal itu. Entah itu di kehidupan sebelumnya atau di kehidupan ini Alion telah melakukan banyak hal untuknya. Bagaimana dia bisa menilai dirinya begitu buruk.


"Benarkah!?" balas Alion tak percaya.


"Iya, kalau Alion menjelekkan dirinya lagi. Aku akan marah," ancam Lily.


Alion terkekeh kecil akan tingkah gadisnya. Seharusnya dialah yang menghibur gadis itu. Tapi sekarang malah gadis ini yang menghiburnya. Hal ini makin membuat Alion semakin menyayangi nya.


"Baiklah, kamu begitu membela diriku. Apa kamu tak takut aku akan cemburu," kata Alion pura-pura kesal.


Lily yang mendengarnya hanya bisa terbengong-bengong. "Apa kata Alion tadi? Apa maksudnya, dia cemburu pada dirinya sendiri," batin Lily tak mengerti.


Lily yang memang dasarnya polis saat menghadapi Alion. Dia dengan mudah mempercayai kata-kata pria itu.


"Lio, aku tak mengerti. Kamu cemburu pada dirimu sendiri. Lalu aku harus bagamana, kan kalian orang yang sama. Hah, aku bahkan bingung dengan kata-kata yang aku ucapkan."


Terlihat mata gadis itu menatap begitu serius pada Alion. Seolah dia benar-benar takut melakukan hal yang salah.


"Baik-baik, aku hanya bercanda," kata Alion tak berdaya. Dia hanya ingin menggoda gadis itu. Tapi dia malah menganggapnya serius. Alion merasa semakin gemas dan kesal dia saat yang bersamaan.


"Huh, kamu menggodaku lagi," kata Lily kesal.

__ADS_1


Namun, entah sadar atau tidak. Percakapan kecil yang mereka lakukan. Membuat Lily melupakan rasa takutnya.


__ADS_2