Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 40 SEMAKIN RUMIT


__ADS_3

Seperti yang diharapkan ayah Geo tak berhenti saat mendapatkan penolakan dari Damar. Dengan pengaruh perusahaan yang dimiliki, dia mulai menghubungi beberapa orang kenalannya.


Ayah Geo begitu percaya diri bahwa semua orang akan membantunya. Namun, sayang sekali semua orang menolak saat mengetahui bahwa lawannya adalah seorang Damar Danuarta.


Awalnya hanya alasan omong kosong yang mereka katakan, seperti tak punya waktu, tak mengerti perihal hukum dll.


Sampai akhirnya beberapa orang mulai menjelaskan siapa pengacara Damar itu dan kenapa mereka taku kepadanya.


Baru saat itulah ayah Geo mengetahui identitas sebenarnya dari pengacara yang telah dia ancam.


Di sebuah rumah.


Dalam suatu ruangan kerja, dengan kesal, ayah Geo mulai membanting semua barang.


"Ayah apa yang terjadi, kenapa engkau marah?" tanya Geo heran.


Geo baru saja pulang bermain, perihal kasusnya, Geo tak khawatir sedikitpun. Dengan kekuasaan ayahnya pasti dia bisa bebas dari segala tuduhan.


Memang awalnya dia ketakutan saat menghadiri Alion. Banyangan Alion yang begitu menakutnya telah membekas di otaknya. Tapi setelah pulang, ketakutan itu hilang, dengan sombong dia menghubungi sang ayah untuk mengurusnya.


Saat dia pulang bermain, mengetahui ayahnya berada dirumah, dia ingin menanyakan perihal kasusnya pada sang ayah. Dia begitu tak sabar menampakkan wajah kemenangan di depan Alion.


"Apakah ada masalah di kantor?" tanya Geo lagi.


Melihat wajah sang anak, ayah Geo yang marah mengambil sebuah gelas, dan melemparnya ke arah Geo.


Pranggggg


Geo lebih dulu menghindar, sehingga gelas itu menabrak tembok dan jatuh ke tanah. Dia menatap tak percaya ke arah sang ayah.


"Kau berani menghindarinya!" bentak ayah Geo marah.


"Ayah, apa yang terjadi. Apakah ayah marah karena aku baru pulang bermain. Bukankah ayah tau aku kesal gara gara masalah Alion. Jadi, aku butuh sedikit hiburan," jelas Geo buru-buru.


Geo sedikit takut pada sang ayah, selama ini ayahnya tak pernah marah tentang apapun yang Geo lakukan.


Bahkan sang ayah lah yang mengajarkan untuk bermain dengan anak-anak kaya. Itulah mengapa geo sering bermain dengan anak-anak itu seperti saat ini.


Ayah geo menatap kesal pada sang anak. Beraninya dia bermain, setelah membuat kekacauan sebesar ini. jika sebelumnya, ayah Geo tak mempermasalahkan kan, tapi kali ini berbeda.


"Kau masih punya waktu bermain setelah membuat masalah sebesar ini," kata ayah Geo kesal.


Geo yang mendengarnya semakin tak mengerti. Meskipun kasusnya sedikit sulit, Geo yakin dengan uang ayahnya semua akan selesai.


"Bukankah ayah sudah menyelesaikannya," kata Geo bingung.


"Sial, apa kau tau bocah itu menyewa damar danuarta sebagai pengacara. Dia adalah pengacara muda yang belum sekalipun kalah di pengadilan. Bahkan pengacara paling handal dinegeri ini, tak yakin akan menang jika lawan dirinya," kata ayah Geo kasar.


Jika saja ayah Geo mengetahui dari awal, dia akan bertindak lebih sopan, sekarang habislah semua.


Geo menatap tak percaya mendengar kata kata ayahnya, tak mungkin Alion bisa mengenal seorang sehebat itu.


"Apa itu tak mungkin, bagaimana alion bisa mengenalnya," kata Geo tak percaya.


"Itu tak penting, sekarang kasus mu akan semakin sulit untuk mencari celah...."


Ayah Geo pun pusing memikirkannya, belum sempat kata-katanya selesai, telah dipotong oleh Geo.


"Ayah, lalu bagaimana?. Aku tak ingin dipenjara," potong Geo cemas.

__ADS_1


Dia benar benar ketakutan, Geo tak ingin di penjara, dia masih ingin hidup bebas. Jika dia sampai masuk penjara masa depannya akan hancur berantakan.


“kita tak bisa berbuat apa apa lagi, kecuali satu hal. kau harus minta maaf pada bocah itu."


"Tak mugkin, aku bahkan sudah minta maaf padanya sebelumnya, dan dia malah menghajarku," sanggah Geo.


"Sebenarnya dia takut di hajar lagi oleh Alion," sambung Geo dalam hati.


"Kau harus tahu kelemahannya bukan," kata ayah Geo memikirkan.


"Aku tahu, Alion dekat dengan seorang gadis. Dia juga yang terluka dalam insiden kemarin," Balas Geo cepat.


Ayah Geo menyipitkan mata, dia tak begitu tahu perihal kasus ini. Saat mengetahui anaknya membuat masalah, dia hanya ingin menyelesaikan dengan cepat, tanpa bertanya apa yang terjadi.


"Kau bahkan melukai seorang gadis," kata ayah Geo tak percaya.


"Ayah, kau tahu itu kecelakaan, dia tiba-tiba saja menghalangi saat orangku ingin menusuk Alion," jelas Geo terbata-bata.


Bisa gawat jika sang ayah menyelidiki lebih jauh, lalu tak mau lagi berada dipihaknya.


"Kalau begitu cari dia, kau harus minta maaf padanya," putus ayah Geo


"Baik," jawab Geo.


****


kejadian mengejudkan terjadi di sekolah, tiba-tiba saja Zidan yang tak dekat dengan gadis manapun, terlihat membonceng seorang gadis ke sekolah. Tak cukup dengan itu, saat turun dua orang berjenis kelamin berbeda itu saling bergandengan dengan begitu mesranya.


Gosib pun dengan mudah menyebar ke seluruh sekolah, tak terkecuali Lily dan Alion, mereka yang baru saja tiba pun mendengar kabar tersebut.


"Lio, apa yang aku tak salah dengar, mereka bilang Zidan memiliki hubungan dengan seorang gadis," kata Lily aneh.


"Mungkinkah mereka sudah bersama," batin Lily bertanya-tanya.


Alion yang mendengarnya pun menggelang tak tahu. Seingatnya Zidan tak pernah mengatakan perihal kedekatannya dengan seorang gadis.


"Jangan dengarkan, mereka hanya bergosib saja," kata Alion.


"Hmm," gumam Lily menanggapi.


Setelah mengatakan itu, mereka kembali berjalan menuju ke kelas mereka.


Saat istirahat.


Di belakang sekolah, tempat biasa geng Zero nongkrong, sudah terlihat Agas yang menginterogasi Zidan. Namun, pria yang ditatap hanya diam tak menanggapi, sampai akhirnya Alion tiba bersama dengan Lily.


"Hei, boss kau datang," sapa Alvaro.


Alion tak menanggapi dulu, dia masih sibuk menyiapkan tempat untuk Lily duduk, baru setelah itu Alion menoleh membalas sapaan Alvaro.


"Hmm, jika belum makan pesanlah biar aku yang membayarnya," kata Alion.


Semua yang mendengarnya pun bersorak senang, dan segera mulai berdiskusi makanan apa yang akan mereka pesan.


Tak ada yang bertanya mengenai kehadiran Lily disini. Semua sudah mengetahui posisi Lily sangat penting bagi pemimpin mereka.


Apalagi dengan tindakan heroik Lily yang menyelamatkan Alion malam itu. Membuat semua orang kagum dengan keberanian gadis itu. Dalam hati setiap orang pun timbul penerimaan diam-diam.


"Zidan, apakah benar kau berangkat dengan seorang gadis pagi tadi?" tanya Lily tiba-tiba.

__ADS_1


Lily begitu penasaran sejak tadi, karena dia sudah tak sebangku dengan Selli, Lily jadi tak bisa bertanya pada siapapun.


Agas yang mendengar pertanyaan Lily dengan semangat pun ikut menanggapi.


"Benar Ly, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahkan mereka bergandengan mesra. Aku sudah bertanya pada Zidan sejak tadi, apa yang terjadi, sejak kapan dia memiliki kekasih, dan kenapa dengan gadis itu," kata Zidan menggebu-gebu.


Lily terkejud mendengarnya, bahkan sampai bergandengan, pantas saja sekolah begitu meributkannya. Lily fikir mereka hanya bergosib saja.


"Ah, jadi gosib itu benar," kata Lily aneh.


Mendapat seorang pendukung, Agas pun mulai melakukan aksinya.


"Yah Ly, kau harus bertanya pada Zidan apa yang terjadi. Aku telah bertanya sejak tadi, tapi dia tak menjawabnya," kata Agas semangat.


Dengan mata provokasi dia melihat ke arah sahabatnya.


"Habislah kau, jika tak menjawab pertanyaan Lily, Alion yang akan maju," batin Agas senang.


"Benarkah itu Zidan, apa gadis itu kekasihmu?" tanya Lily.


Zidan menatap malas sahabatnya, dia tahu apa yang ada di fikiran Agas. Menoleh ke arah Alion, dia malah ikut menatap penasaran ke arahnya, seolah menunggu tontonan menarik.


"Hmm, benar," jawab Zidan singkat.


"Wahh selamat. Siapa gadis beruntung itu?" tanya Lily senang.


Dalam hati Lily, sudah tertera sebuah nama. Meski awalnya mereka bertemu dalam keadaan buruk. Saat acara kemah dirinya dan angel sudah cukup dekat.


Jadi, Lily ikut senang jika temannya itu mendapatkan balasan atas perasaannya. Dengan begini kecanggungan karena Alion pun bisa hilang.


Apalagi saat dia sakit dan angel menjenguknya, dengan jelas Lily melihat sikap Zidan pada Angel berbeda.


"Dia Arumi, senior kelas 3," jawab Zidan.


Lily yang mendengarnya pun terkejud, dia tahu kak Arumi adalah teman satu organisasi kakaknya. Tapi sejak kapan dia bisa dekat dengan Zidan.


Memikirkan perasaan temannya Lily merasa sedih. Namun, Lily tak bisa berbuat apa-apa, Zidan lah yang punya kendali atas perasaannya.


Lily hanya bertekad akan menghibur temannya nanti. Dia pasti sedih setelah mendengar kabar ini.


"Ah, begitu," tanggap Lily pelan.


Alion yang mendengarnya merasa aneh dan menatap sahabatnya. Dia tahu nama itu, nama orang yang telah bekerja sama dengan Febi. Dengan tajam Alion menatap ke arah Zidan, menuntut sebuah penjelasan.


Zidan yang mengerti arti tatapan Alion memberi isyarat bahwa sekarang bukan saat yang tepat.


Agas yang memang tak pekaan pun dengan tak sabar mulai mengoceh.


"Ini benar benar tak masuk akal. Sejak kapan kau dekat dengan senior itu. Bagaimana kau bisa menyembunyikannya dari kami," kata Agas.


"Sudahlah, mungkin Zidan tak bermaksud begitu," lerai Alvano.


"Tapiii...."


Belum sempat Agas protes Alion sudah memotongnya lebih dulu.


"Diam, makan saja makanan kalian," kata Alion.


Alion tahu ini bukan sebuah hal biasa, pasti sesuatu telah terjadi, menilai dari sikap Zidan saat ini, Alion mengerti sesuatu yang besar telah tersembunyi. Dia harus menyelidinya pada sahabatnya itu nanti.

__ADS_1


__ADS_2