Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 33 MULAI MENCARI


__ADS_3

Setelah sepanjang malam berada di rumah sakit dengan Alion yang menemaninya. Di pagi hari berikutnya orang tua Lily akhirnya sampai di rumah sakit.


Melihat keadaan Lily tentu saja membuat orang tua nya sangat cemas. Ibu Lily bahkan tak berhenti menangis sejak memasuki bangsal anaknya.


Lily yang tak tahan melihat ibunya menangis, berusaha untuk menenangkannya.


"Bu, aku tak apa. Ini hanya luka kecil saja," kata Lily.


Sang ibu melihat baik-baik wajah Lily anaknya, jelas kulitnya terlihat pucat tanpa tanda kemerahan, hatinya sakit mengetahui anaknya mencoba menghiburnya di kondisi seperti ini.


"Dasar anak nakal, bagaimana kau bisa berbohong pada ibumu. Dengan jelas aku mendengar berapa jahitan yang kamu terima. Kau fikir ibumu ini bisa kau tipu,” kata ibu Lily marah.


"Uhh, ibu jangan marah. Masa ibu tega saat Lily sedang sakit begini," bujuk Lily dengan raut pura-pura sakit.


"Kau ini makanya jangan banyak bergerak. Membuat orang khawatir saja. Iya iya ibu tak marah. Apa masih sakit, ibu panggil kan dokter ya," kata sang ibu cemas.


"Tidak perlu, aku hanya ingin ibu temani saja," kata Lily manja.


Tentu saja Lily tak benar-benar sakit, dia hanya berpura-pura agar sang ibu tak jadi marah padanya. Siapa yang tahan untuk menolak tingkah Lily saat sedang manja. Dengan mudah dia berhasil memenangkan hati orang tuanya.


Alion yang tidak ingin mengganggu, telah lama keluar dari ruangan Lily dengan alasan mencari makanan.


Tentu saja yang sebenarnya adalah alion ingin menemui teman temannya. Untuk menanyakan mengenai petunjuk orang yang telah menyerangnya tadi malam.


"Apa yang kalian dapatkan?" tanya Alion dingin.


Dengan segera Agas dan Alvaro melaporkan apa yang mereka temukan.


"Kita telah bertanya ke banyak penduduk desa. Beberapa orang memang melihat sebuah mobil hitam telah melewati desa. Mobil itu menuju hutan dan baru pergi saat kita telah sampai disana. Namun, tak ada yang melihat siapa yang membawa mobil itu dan berapa orang didalamnya," lapor Agas.


Agas diam-diam mengeluh, telah banyak orang yang melihat mobil itu. Namun, tak ada satupun penduduk desa yang pernah melihat penumpang di dalamnya. Bukankah mereka terlalu percaya pada orang asing.


"Aku juga menemukan hal yang hampir sama, Bos. Menurut pemburu disana, mobil itu berdiam di dalam hutan dua hari dua malam. Namun, saat mereka mendekatinya tak ada siapapun didalamnya. Hari saat kita tiba mobil itu tiba-tiba saja kembali melewati desa," lapor Alvano.


"Hmm, temukan CCTV terakhir yang mengarah ke jalan menuju desa. Lacak mobil itu di hari dia datang dan pergi, temukan dimana terakhir kali dia terlihat," perintah Alion.


Setelah terdiam cukup lama, Alion mengganti perintahnya. Matanya acuh tak acuh saat melihat kedua temannya.


"Serahkan tugas ini pada anggota Zero, kalian istirahat lah," kata Alion secara langsung.


Setelah mengatakannya, Alion pergi kembali ke bangsal tempat Lily berada. Meninggalkan dua temannya yang menatap bodoh kepergian pria itu.


****


Di sisi hutan.


Saat mereka selesai mengumpulkan petunjuk. Mengetahui pandu dan Alvaro yang pasti lelah karena begadang semalaman.


Zidan memerintahkan mereka berdua untuk istirahat di desa, sebelum pulang kembali ke kota.


Memegang barang bukti di tangannya, dia ingin segera ke rumah sakit untuk menemui alion.


Bohong jika Zidan tak lelah karena tak tidur semalaman. Namun, dia tak bisa mempercayai siapapun untuk memegang bukti ini selain dirinya sendiri. Dia hanya harus bergegas menyerahkan bukti ini dan kemudian istirahat.


Namun, saat hendak pergi untuk menemui Alion. Dia berpapasan dengan Zayyan yang hendak kembali ke rumah sakit.


Karena tujuan yang sama mereka pun memutuskan untuk pergi bersama.


****


...Room chat...


Alion


Agas telah menemukan ada mobil hitam mencurigakan masuk ke desa.


Alion


Aku telah meminta anggota zero untuk mengecek cctv.


Alion


Zidan, apa kau sudah memeriksa tempat aku berkelahi.


^^^Zidan^^^


^^^Ya, kami sudah memeriksanya dan mengumpulkan bukti di tempat kalian berkelahi.^^^

__ADS_1


^^^Zidan^^^


^^^Hanya ada balok kayu dan beberapa bercak darah di tanah.^^^


^^^Zidan^^^


^^^Kita juga telah menelusuri tempat sekitar. Namun, tak ada hal mencurigakan lainnya.^^^


Alion


Serahkan semua itu pada polisi.


Alion


Biarkan mereka mengidentifikasi DNA pelaku.


^^^Zidan^^^


^^^Baiklah.^^^


^^^Zidan^^^


^^^Bagaimana Lily?^^^


Alion


Dia akan dipindahkan hari ini.


Alion


Istirahatlah dulu. Kalian bisa datang nanti, saat Lily sudah di rumah sakit kota.


^^^Zidan^^^


^^^Baik.^^^


****


Zidan yang telah mengabari Alion mengenai temuannya, memasukkan ponselnya ke saku, dan kembali fokus pada jalanan di depannya.


Memperhatikan tanda jalan di depannya, Zidan memutuskan sesuatu di dalam hatinya.


Zayyan yang fokus menyetir, dibuat terkejud mendengar suara Zidan. Sejak tadi pria ini tak banyak bicara. Bahkan Zayyan lah yang berinisiatif mengajaknya pergi bersama.


Zayyan sebenarnya penasaran apa yang telah teman Alion temukan mengenai kejadian malam ini. Namun, saat hendak bertanya dia terlalu merasa canggung.


Jadi, sepanjang jalan Zayyan hanya fokus pada menyetir tanpa memperhatikan apa yang Zidan lakukan.


"Kau tak ingin ke rumah sakit lagi?" tanya Zayyan heran.


Zidan yang memang tak suka menjelas kan, dengan singkat dia hanya berkata.


"Ada hal yang harus aku urus," kata Zidan dingin.


"Ohh baiklah, lalu aku akan menurunkanmu disini," kata Zayyan.


Dengan perlahan Zayyan mulai menepikan mobilnya. Dan menurunkan Zidan di pinggir jalan.


Tanpa menunggu lama mobil Zayan pun pergi ketempat tujuan semula yaitu rumah sakit.


Zidan yang telah ditinggalkan, mengambil kembali ponselnya, mencari sebuah kontak untuk dihubungi.


Tutt tutt tuttt


"Hallo."


"Hmm, jemput aku sekarang."


"Aku akan mengirim alamatnya padamu."


****


Setelah menyelesaikan dokumen pemindahan, Lily dibawa oleh ambulan ke rumah sakit kota. Untuk masalah kenyamanan, hanya ibu Lily yang akan ikut bersama ambulan menemani Lily. Sedangkan Alion, Zayyan dan ayah Lily akan mengikuti dibelakangnya.


Rumah sakit yang mereka tuju berada di dekat rumah Lily. Sehingga untuk sampai disana membutuhkan waktu beberapa jam.


Saat Lily menaiki ambulan, di saat yang bersamaan peserta kemah juga kembali. Betapapun cemasnya mereka memikirkan apa yang terjadi malam kemarin. Semua orang tak lagi membuat keributan seperti sebelumnya. Mereka hanya dengan tenang mengikuti arahan anggota OSIS.

__ADS_1


Di kamar inap Lily yang baru, perawat baru saja selesai memasang infus baru.


Cuaca pagi itu cerah tak berawan, jadi suhu ruangan terasa sedikit hangat. Lily yang memang lelah selama perjalanan mulai mengantuk. Semalam Lily tak tidur, mungkin karena efek obat bius yang mulai menghilang. Lily merasakan rasa sakit di perutnya.


Tak ingin membuat Alion cemas, Lily berusaha menyembunyikannya. Dia berpura pura tak mengantuk dan berkata ingin menonton Tv.


Tak seperti biasanya malam itu pikiran Alion penuh akan pelaku yang melukai Lily. Jadi, dia pun tak menyadari keanehan Lily. Dengan tenang Alion hanya menemani Disampingnya.


Saat ini melihat gadisnya dengan imut menahan kantuk, Alion menggeleng kepala tak berdaya.


Semalam dia begitu keras kepala tak ingin tidur. Sekarang melihatnya kelelahan membuat Alion ingin memarahinya. Tentu saja itu tak akan mungkin dia lakukan.


"Tidurlah, aku akan menjaga disini" kata Alion perhatian.


Merasakan usapan lembut di kepalanya, mata Lily memberat dan dalam hitungan detik dia sudah terlelap di alam mimpi.


Beberapa menit setelah Lily tertidur, dengan setia Alion menemani disampingnya. Bahkan saat kedua orang tua Lily kembali dari mengurus berkas. Dan memintanya untuk pulang, Alion bersikeras untuk tinggal.


Tapi, kekeras kepalaan Alion tak bertahan lama, karena beberapa saat kemudian dia jatuh pingsan.


Dokter yang memeriksa Alion mengatakan bahwa dia kelelahan ditambah luka dikepalanya ternyata cukup dalam.


Namun, untungnya itu bukanlah masalah besar. Alion hanya membutuhkan istirahat untuk sementara waktu.


Jadi, saat ini di dalam ruangan Lily terdapat dua pasien yang terbaring.


Entah ide siapa awalnya, menilai Alion yang begitu keras kepala menjaga Lily. Orang tua Lily pun meminta ranjang tambahan di samping putrinya.


****


Setelah menyerahkan bukti ke Kepolisian, Zidan tak langsung pulang. Dia datang ke sebuah rumah yang telah lama tak ia datangi. Menguatkan tekatnya untuk memasuki rumah, dia mangangkat kakinya dan menekan bel pintu.


Seorang wanita paruh baya membuka pintu, dia menyambutnya dengan hangat. Zidan sangat mengenalnya, meski hanya sebentar wanita tua ini sempat merawatnya dulu. Saat itu kondisi Zidan tidaklah baik, jadi dia begitu menentang untuk bertemu orang.


Sebelum Alion mengeluarkan nya dari kegelapan, wanita tua ini lah yang memberikan kehangatan padanya.


Apalagi saat tak ada satupun dari orang tuanya peduli adanya. Kehadirannya memberikan setitik cahaya di hati nya. Tanpa sadar suara Zidan melembut saat menghadapinya.


"Bi dimana dia?" tanya Zidan.


Melihat tuan mudanya yang telah dewasa membuat wanita tua itu berkaca kaca. Meski tak lama bersamanya, dia telah menganggap tuan muda sebagai cucunya sendiri. Melihat nya masih tak mau menyebut tuan dengan ayah, membuat nya sedih. Entah kapan keluaga ini akan bersatu.


"Tuan berada di ruang kerja. Bibi akan memanggilnya, tuan muda duduklah dulu," jawab bibi hangat.


Namun, belum sempat bibi pergi. Sudah ada suara berat dari arah tangga.


"Tak perlu, aku disini," kata ayah Zidan.


Bertahun tahun tak melihatnya, Zidan melihat pria tua itu jauh berbeda dari gambar dalam ingatannya.


Rambutnya terlihat memutih sebagian, dengan kerut diwajah yang terlihat jelas. Zidan hanya melihatnya sebentar, lalu dia membuang muka tak perduli.


"Bibi pergilah dan buatkan kita minum. Dan kau duduklah, aku ingin mendengar apa kepentingan tuan muda ini datang jauh jauh kesini," cibir ayah Zidan.


"Tak perlu, aku akan segera pergi. Aku tahu kau telah pergi ke desa Gading. Aku tak perduli apa yang kau lakukan disana. Tapi, jika sampai aku tahu kau dibalik serangan itu. Aku tak akan tinggal diam," ancam Zidan.


Tak menunggu jawaban apapun, Zidan langsung pergi meninggalkan tempat itu.


Tak lupa ia berpamitan pada wanita tua yang sempat merawatnya.


Mobil hitam yang telah memasuki hutan, Zidan ingat dengan benar. Mobil itu adalah milik ayah kandungnya.


...Room chat...


Agas


Rekaman cctv.


Agas


Ini adalah rekaman yang menangkap mobil hitam itu terakhir kali.


Agas


Tak ada lanjutannya, karena sepertinya mobil itu sengaja menjauhi CCTV.


^^^Zidan^^^

__ADS_1


^^^Hmm.^^^


__ADS_2