
Di kantor polisi.
Seorang pria baru saja keluar dari sebuah ruangan. Pria itu adalah seorang pengacara terkenal, namanya Damar Danuarta.
Meski usianya masilah terbilang muda saat memasuki dunia hukum, tak ada satupun kasus yang pernah gagal jika ditangani oleh dirinya.
Tidak ada yang pernah menduga, seorang remaja yang dulunya nakal, sekarang berubah menjadi pengacara yang menegakkan keadilan.
Dulu saat akan ujian kelulusan SMA, dia tiba-tiba pergi tanpa mengikuti ujian, semua orang menyangka bahwa di akan putus sekolah. Namun, rupanya dia telah pergi ke luar negeri, untuk mengeyam pendidikan disana dan dalam waktu singkat Damar telah kembali membawa gelar tinggi di bidang hukum.
Yang aneh dari dirinya, dia tak pernah mau memiliki klien seorang wanita, tak perduli dibayar berapapun, dia akan langsung menolaknya.
Bahkan diumurnya yang hampir kepala tiga ini, tak pernah sekalipun Damar digosibkan dekat dengan wanita. Karena nya Damar salah dituduh menyukai sesama jenis sangking antinya dia pada wanita. Namun, hal itu terbantah saat undangan pernikahan tersebar luas.
Semua orang berfikir Damar akan terus melajang. Jadi, tak ada yang pernah menduga bahwa pria itu akan tiba-tiba menikah.
Dan bahkan kabarnya wanita yang akan dia nikahi rupanya adalah teman semasa sekolah nya dulu. Tebakan pun muncul di hati banyak orang, bahwa damar telah setia pada satu wanita selama ini.
Sebuah kisah romantis pun akhirnya mulai bermunculan. Setiap orang menjadi semakin penasaran, siapa gadis beruntung yang telah disukai seorang Damar Danuarta.
Saat ini disaat seharusnya dia sibuk mempersiapkan pernikahan, entah apa yang dia lakukan di kantor polisi.
"Kau sudah sampai, Alion," sapa Damar saat berpapasan dengan Alion.
Saat ini Damar terlihat tampan dengan memakai setelan jas, dengan kacamata di pangkal hidungnya.
"Hmm," balas Alion dingin.
Damar terkekeh ringan saat mendengar balasannya. Damar mengenal juniornya ini dengan baik. Mereka sering kali bertemu saat Zero mengadakan acara.
Benar, Damar merupakan mantan anggota Zero. Itulah sebabnya saat mendengar bahwa Alion terkena masalah. Dia mengajukan diri untuk menangani kasus Alion.
"Aku mendengar kau sedang dekat dengan wanita akhir-akhir ini. Benarkah, siapa gadis itu?" tanya Damar dengan mata nakal.
Alion menatap seniornya dengan ringan, pria itu tak pernah berubah. Tak ada yang pernah tahu bahwa seorang pengacara yang memiliki wajah galak setiap hari. Saat bersama dengan orang terdekatnya akan menjadi seorang yang jail dan kekanakan.
"Bukankah kau juga akan menikah," kata Alion bosan.
Alion sudah mendengar kabar itu dengan baik. Akhirnya setelah penantian yang panjang, seniornya itu bisa bersama dengan gadis yang dia sukai. Alion tahu dengan jelas kisah cinta seniornya itu.
"Kau benar-benar tak asik Alion, aku bahkan meninggalkan semua hal saat mendengar kau dalam masalah. Bukankah harusnya kau bersikap baik padaku," keluh Damar kekanakan.
"Hmm, namanya Lily," balas Alion tenang.
Mendengar balasan singkat yang dikatakan juniornya, damar tak kesal, dan malah semakin gencar bertanya.
Damar telalu penasaran dengan gadis yang sedang dekat dengan Alion. Apalagi yang dia dengar gadis itu terluka saat melindungi Alion dari serangan malam itu.
"Ohh, jadi Lily namanya. Lalu dimana dia sekarang? Apa dia tak ikut denganmu? Apa dia cantik? Kapan kau akan mengajaknya menemuiku?" tanya Damar beruntut.
Alion meninggalkan Damar yang terus saja bertanya mengenai gadisnya. Dia terlalu malas menghadapi seniornya yang berisik itu. Lagi pula nanti juga mereka akan bertemu.
****
Memasuki sebuah ruangan, sudah ada Geo bersama pengacara nya yang tengah dimintai keterangan oleh polisi. Matanya menjadi gelap, dia berjalan masuk, diikuti damar dibelakangnya.
Seorang petugas polisi yang baru saja selesai memberi pertanyaan, dikejudkan saat melihat seseorang tiba-tiba masuk. Aneh nya bukan anggota polisi yang dia lihat, malah seorang bocah SMA. Dia pun berniat menegur anak laki-laki itu.
__ADS_1
"Apa yang kalau lakukan, bagaimana bisa kau masuk ke sini?" tegur petugas polisi.
Damar tahu pasti petugas polisi ini salah paham, menilai dari pangkat yang dia miliki. Dia pasti masih baru disini, dan tak penah melihat Alion sebelumnya.
"Anda pasti tahu saya bukan, saya Damar Danuarta pengacara yang menuntut Geo. Dan ini adalah klien saya Alion dia merupakan salah satu korban kejadian malam itu. Ada yang ingin kami sampaikan pada tersangka. Saya sudah meminta ijin pada pimpinan, jika anda tak percaya bisa menanyakan ke pimpinan langsung,” jelas Damar panjang lebar.
Mendengar nama dari seorang pengacara yang sangat terkenal. Tentu saja petugas itu langsung percaya. Apalagi nama damar danuarta, siapa yang berani memakainya selain orang nya sendiri.
"Oh, tuan Damar. Kalau begitu sudah pasti benar, tak perlu saya konfirmasi. Silahkan, saya akan keluar lebih dulu, harap hati hati karena status Geo masih tersangka," kata petugas polisi hati hati.
Setelah mengatakan hal itu, dengan cepat dia pergi, meninggalkan ruangan introgasi.
Alion yang melihat tak ada lagi gangguan, tanpa basa basi mengatakan langsung pertanyaannya.
"Kau sepertinya sudah bosan hidup," kata Alion dingin.
Semua orang yang ada diruangan itu menggigil ketakutan. Aura yang Alion keluarkan saat ini begitu gelab, sama seperti saat terakhir kali saat Geo dihajar habis habisan.
"Apa kau tahu ini ka-kantor polisi, aku bisa mela-laporkanmu jii-ka kau-u berani macam-macam," kata Geo tergagab.
Alion tak perduli sedikitpun ancaman Geo, dengan langkah pasti dia mulai mendekat ke arah nya. Sontak Geo pun mundur hingga terjatuh karena kursi dibelakangnya.
Brrukkkkk
"Aa-apa yangg a-ka-an kau lakukann. Alioooon pergi menjauh dariku. Kau pengacara!! cepat cegah dia," panik Geo.
Alion secara alami memperhatikan segala nya, dengan ringan dia menatap tajam pengacara Geo.
Pengacara Geo yang hendah menolong kliennya gemetar ketakutan. Dan kata-kata yang hendak keluar dari mulutnya pun ditelan kembali.
"Bukankah sudah kubilang sekali lagi kau menyentunya, kau akan mati," kata Alion kejam.
"Aku ti-tidakkk, bukan aku ya-ngg melakukannya," sangkal Geo.
Alion tak memperdulikannya, dengan kejam Alion mulai memukul Geo, dan itu bukanlah pukulan ringan. Alion dengan membabi buta mengeluarkan kekutan nya untuk membalaskan dendam gadisnya.
Damar tak mencegahnya dengan tenang dia menonton pertunjukan didepannya. Sudah lama dia tak melihat Alion kalap seperti ini.
Sepertinya gadis bernama Lily benar benar berarti untuknya. Melihat pukulan demi pukulan yang Alion layangkan, Damar menghelas nafas.
"Biarlah dia yang akan mengurus sisanya nanti," batinnya
"Maaf kan aku Alion... aku tak akan berani lagi," kata geo kesakitan.
Melihat kondisi mengenaskan Geo, Alion menghentikan pukulannya. Namun, cengkraman dikerahnya masilah kuat tak mengendur sedikitpun.
Melihat penampilan Geo setelah dipukuli. Damar benar-benar tak berdaya. Alion sepertinya benar-benar marah. Baru beberapa detik berlalu dan keadaan Geo telah separah ini.
"Sudahlah, Alion. Kau tak mungkin berniat membunuhnya sekarang bukan. Bukankah kau harus kembali ke sekolah," kata Damar.
Tentu saja Alion tak ingin mengotori tangannya untuk membunuh Geo. Alion hanya ingin sedikit membalaskan dendam gadisnya. Dan tentu saja ini masih belum cukup baginya. Akan Alion pastikan hidup Geo di pejara seperti di neraka.
Mendengar kata-kata terakhir seniornya, dengan ringan Alion melepaskan cengkramannya, dan berdiri di hadapan Geo.
"Ini tak akan berakhir disini," ancam Alion.
Geo menggigil ketakutan, dia tahu Alion tak main-main. Dia menyesal telah mendengarkan pria itu. Seandainya waktu bisa diutar, Geo akan memilih tidak memprovokasi Alion lagi.
__ADS_1
Setelah berbicara, Alion berniat untuk pergi dari sana, ketika membuka pintu, Alion kembali menoleh ke arah seniornya.
"Tenang saja, aku yang akan membereskannya," kata Damar menyakinkan.
Melihat Alion telah pergi, dengan sakit kepala, Damar mulai memikirkan apa yang harus dia lakukan.
****
Alion keluar dari kantor polisi, dia mengeluarkan ponselnya, dan melihat pesan spam dari kontak yang sangat dikenalnya. Lily telah mengirimi nya banyak pesan. sepertinya gadisnya khawatir padanya.
Hatinya yang semula penuh kemarahan, langsung membaik. Alion tersenyum kecil, dan membalas pesan Lily dengan senang hati.
...Room chat...
Lily
Lio.
Lily
Apakah semua baik-baik saja?
Lily
Kapan kamu kembali?
Lily
Saat ini istirahat, dan aku sedang makan. Kamu jangan lupa makan juga, Lio.
Lily
Apa kamu tak akan kembali, Lio. Sebentar lagi masuk pelajaran terakhir.
Lily
Baiklah aku tak akan menggagumu lagi, sebentar lagi bell. Jaga dirimu baik-baik.
^^^Alion^^^
^^^Semua baik-baik saja, tak perlu khawatir.^^^
^^^Alion^^^
^^^Tadinya aku tak lapar, tapi karena kamu mengingatkanku. Setelah ini aku akan makan.^^^
^^^Alion^^^
^^^Sebentar lagi aku akan kembali ke sekolah.^^^
^^^Alion^^^
^^^Baiklah, fokus lah belajar. Aku akan menunggumu di gerbang^^^
Alion tak menunggu balasan dari Lily, karena dia tahu pada jam ini pelajaran terakhir pastilah sedang dimulai. Dengan cepat Alion bergegas menuju ke sekolah.
Dia bisa menunggu kepulangan Lily, di warung pojok, sembari makan nanti.
__ADS_1