Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 2 ALION


__ADS_3

Tettt...tetttt


Bell istirahat berbunyi, segara semua siswa pun berhamburan keluar dari kelas. Lily pun juga keluar bersama teman-temannya menuju ke kantin sekolah.


"Kalian ingin pesan apa biar aku yang memesannya," ucap Lily pada ke-2 temannnya.


"Wahh emang Lily paling baik deh, kalau begitu aku mau bakso sama jus jeruk," balas Febi salah satu teman Lily.


"Kalau begitu samakan saja biar kamu enggak kerepotan," ucap Rena.


"Baiklah," ucap Lily sambil lalu.


Segera Lily beranjak mengantri di tempak bakso langganan nya. Tanpa Lily sadari ada sepasang mata yang menatapnya sedari ia di kantin sampai dia pergi. Tatapan tajam seolah menetapkan kepemilikan akan mangsa buruannya.


Lily yang telah usai memesan makanan pun kembali ke tempat teman temannya. Sembari menunggu pesananan diantar, mereka pun saling bersenda gurau. Bahkan saat makanan sampai obrolan mereka pun masih terus berlanjut.


"Apa kalian tau besok di final basket, Alion beserta teman temannya yang akan turun langsung kelapangan. Itu pasti akan sangat seru, bagaimana jika kita menonton?" ajak Rena pada ke-2 temannya.


"Wahh bernakah!? Lalu ayo kita pergi," seru Febi.


"Bagaimana ly, kau ikut kan?" tanya Rena pada Lily.


"Ya, baiklah aku ikut," balas Lily lembut.


Pembicaraan mereka pun terus berlanjut hingga makanan habis dan bunyi bell terdengar. Mereka pun bergegas kembali ke kelas bersama sama. Tepat setelah Lily pergi ada diskusi mengenai ia tanpa sepengetahuannya.


Diskusi itu tidak lain dilakukan oleh teman teman Alion. Mereka tidak memperdulikan meskipun bell telah berbunyi dan malah asikk dengan obrolan mereka.


****


"Ahh, apa kalian tahu. Ehem tadi pagi ada kejadian yang menarik," kata Agas sembari melirik ke arahku.


Aku pun hanya memutar bola mata malas, sudah tertebak apa yang akan ia katakan.


"Iya itu benar benar kejadian yang sangat sangat langka sekali," timpal Alvaro berlebih.


"Ada apa sih, jangan bikin kepo deh," tanya Alvano penasaran.


"Ada si bos tiba-tiba nyamperin cewek cantik di pinggir lapangan. Hehehe aku bahkan melihat cewek itu terlihat merona saat pergi, entah apa yang dikatakan bos sampai dia begitu," kata Agas ambigu.


"Hahhh!!" seru mereka serentak.


Terlihat mereka sangat terkejut seolah tidak percaya. Agas dengan mulut embernya memang menyebalkan.

__ADS_1


"Berisik," tukasku ketus.


"Wahhh-wahhh ini sih bener-bener kejadian luar biasa. Bos kita yang dingin sedingin kutup utara, yang gak pernah deket sama cewek. Yang kalau disamperin cewek jarak 1 meter aja udah keluar aura gelapnya. Siapa sih yang bisa buat bos sampek terpesona," kata Nando bertele-tele.


Aku akui aku memang tidak dekat dengan cewek manapun. Mereka hanya segerombolan penggangu yang menjijikan. Bagaiman bisa ia samakan dengan gadisku. Yah gadisku aku sudah mengklaimnya sebagai milikku.


"Kalian tau Lily anak MIPA 1 yang terkenal cantik dan pinter itu kan." Balas Agas makin makin membuat riuh.


"Duhh, si bos pinter juga milih cewek nya, hahaha," kata Alvaro mengejek.


"Kapan nih pajak jadiannya,’’ kata Alvano menimpali uacapan kembaran nya Alvaro.


"Segera," balasku singkat sembari beranjak menuju gerbang belakang.


"Hah! Itu bos kita kan," gumam mereka tak percaya yang masih bisa aku dengar jelas.


****


Sekolah pun berakhir akupun berpamitan dengan kedua temanku. Dan beranjak menuju ke kelas kak Zay untuk pulang bersama.


Kelas kakakku tepat berada di seberang gedung tempat kelasku berada. Tetapi aku tidak perlu turun ke lantai bawah karena terdapat jalan penghubung di antara gedung kita.


Aku berjalan dan tepat melewati lorong dimana ada Alion dan teman temannya menghalangi jalan.


Lio berdiri tanpa mengalihkan pandangannya padaku dan berjalan menuju ke arahku. Suara siulan teman-teman Lio pun membuatku malu dan menundukkan kepala.


Tepat sesaat setelah aku menunduk, Lio telah sampai tepat di depanku, dan akupun mendongak kan kepala menayapnya.


Telihat tatapan yang tajam mengintimindasi kearahku. Hingga membuat ku kembali mengingat kenangan terburuk saat ia dengan berlumuran darah tidak membiarkan aku terluka sedikitpun. Hingga tak terasa membuat mataku berkaca-kaca.


Lio pun nampak terkejut dan gugup melihat reaksiku. Aku tidak bisa mengendalikan rasa sedih menyeruak dari dalam hatiku.


Tanpa sadar isak tangis ku pun mulai terdengar.


"Aku begitu merindukan mu, Lio. Syukurlah kamu masih hidup," batinku menahan sesak di hati.


Lio pasti tidak menyangka aku akan menangis dia terlihat diam mematung. Aku memilih berbalik dan pergi dari sana untuk menenangkan diri.


Tepat saat aku baru saja berbalik ada tangan yang menarikku dan membuatku jatuh pada pelukan hangat.


"Hei ... Merasa takut. Bukankah sedari tadi tau kamu curi pandang ke arahku. Mana keberanianmu tadi," ejeknya padaku.


Entah kenapa aku merasakan bahwa nadanya melembut, mendengar suaranya membuat hatiku merasa tenang dan tangisku pun mereda.

__ADS_1


Kita terdiam dan masih dalam pososi yang sama, sampai akhirnya dengan enggan aku melepas pelukan itu.


"Aku tidak takut padamu," ucapku pada Lio pelan.


"Hah, benarkah? Lalu siapa yang baru saja menangis," goda Lio padaku.


"Tidakk akuu...."


Sanggahku tidak selesai, karna tidak mungkin aku bilang bahwa aku mengingat kehidupan yang lalu.


"Sudahlah mengaku saja, kelinci penakut," ejek Lio padaku.


Pipiku memerah mendengar ejekannya.


Aku semakin menundukku kepala karna malu akan tindakanku yang tiba tiba menangis. Sungguh memalukan!!


"Baiklah-baiklah kau tidak takut. Lalu katakan kenapa sedari tadi kau menatapku, hmm," tanya Lio penasaran.


"Apakah kamu percaya jika aku katakan, aku hanya ingin lewat, dan tidak sengaja menatap kearahmu," jawabku dengan hati-hati.


Lio terdiam menatap tepat dimataku, dan aku hanya bisa memberi tatapan polos yang terlihat jernih agar dia percaya.


Karna Lio hanya terdiam, aku pun berinisiatif mengatakan tujuanku.


"Aku ingin pergi ke kelas kakakku, tepat di gedung sebelah," ucapku malu malu.


Lio akhirnya bereaksi dan memalingkan mukanya.


"Hmm, ikuti aku," ucapnya padaku.


Aku terdiam dan hanya menatap punggungnya dengan pandangan kosong. Apa maksudnya tadi, kulihat Lio berhenti dan berbalik.


"Kenapa belum berjalan, huh," ucap Lio sambil menarik tanganku tidak sabar.


Akupun hanya bisa mengikuti langkahnya dengan terseok-seok karna langkah kakinya yang lebar.


Tapi tidak lama karna sepertinya Lio memahami kesulitanku. Dia memelan dan menyamakan langkahnya denganku.


Dengan mudah kita berjalan beriringan melewati teman-teman Lio, walaupun dengan godaan teman teman Lio yang membuatku malu. Tapi aku tak menghiraukannya karna segera setelah melewati mereka. Aku melepas genggaman Lio dan berlari menjauh.


Jantungku berdebar dan nafasku terengah-engah, aku berhenti setelah dirasa telah jauh.


Aku bingung dengan perlakuan lio, seingatku kita tak pernah bicara di kehidupan yang lalu. Saat SMA kami tak pernah saling mengenal. Aku bahkan baru tau bahwa kita satu alumni yang sama setelah di perguruan tinggi. Lalu apa yang terjadi dalam kehidupan ini, kenapa semua berubah.

__ADS_1


Apakah aku melakukan kesalahan. Seingatku aku hanya tidak sengaja ketahuan menatapnya lamat di lapangan waktu itu. Mungkinkah itu penyebabnya. Apapun itu biarlah aku senang ini awal yang bagus bukan.


__ADS_2