
Di dalam kelas.
Alion berjalan ke kursi dimana Lily duduk. Dia duduk di kursi kosong di sebelah Lily.
Merasa gerakan disampingnya. Lily yang sedang sibuk mengerjakan tugas rumah pun menoleh. Melihat Alion di sampingnya, langsung saja mata Lily berbinar.
Lily yang tadinya ingin marah karna diabaikan pun melupakannya. Benar saja jika itu menyangkut Alion, Lily benar-benar lemah.
Atau mungkin lebih tepat jika dibilang mereka berdua sama-sama lemah jika menyangkut satu sama lain.
Lily menutup bukunya dan tersenyum pada Alion.
"Lio," panggil Lily begitu lembut.
Melihat Lily masih saja tersenyum, Alion semakin merasa bersalah. Alion menyerahkan teh susu di tangannya pada Lily.
Lily memiringkan kepala bingung melihat teh susu di tangan Alion.
"Untuk kamu," kata Alion dengan suara serak.
"Ah, kenapa tiba-tiba memberiku teh susu," tanya Lily tak mengerti. Sedetik pria ini mengabaikannya, kemudian dia perhatian padanya. Lily benar-benar di buat bingung dengan Alion.
"Permintaan maaf, soal di lapangan aku tak bermaksud begitu padamu," kata Alion dengan suara agak rendah. Dia merasa sedikit malu, Alion tak pernah meminta maaf sebelumnya. Jadi dia sedikit tak terbiasa.
Lily yang mendengar penjelasan Alion pun langsung mengambil teh susu itu dan meminumnya dengan gembira.
"Ini enak, terima kasih," kata Lily tersenyum lebar.
Lily benar-benar suka segala makanan manis.
"Sama-sama," kata alion. Mata Alion melembut melihat senyum Lily. Benar-benar gadis kecil, bagaimana dia bisa begitu mudah dibujuk.
"Tapi jangan begitu lagi ya, Lio. Emm, jangan mengabaikanku," cicit Lily.
"Kenapa? Kamu tak tahan," goda Alion.
Alion selalu saja ingin menggertaknya. Lily benar benar terlihat menggemaskan saat malu.
"Huh, pria jahat. Baru saja minta maaf Dia sudah menggodaku lagi. Aku jadi menyesal telah memaafkannya," batin Lily.
Lily memilih diam dan mengabaikan godaan Alion.
"Baiklah, aku hanya bercanda," kata Alion tak berdaya.
__ADS_1
Alion mengerti gadisnya memiliki kulit tipis dia begitu mudah merasa malu. Lagipula mereka masih muda. Alion tak ingin membuat gadisnya terkejud jika dia tiba-tiba menyatakan perasaannya. Biarkan Lily terbiasa dengan kehadirannya disampingnya dulu.
Alion pun beranjak dari bangku Lily hendak kembali ke bangkunya. Tetapi baru beberapa langkah dia mendengar suara Lily kembali.
"Hum, aku tak tahan. Jadi jangan begitu lagi," kata Lily dengan kepala menunduk.
Meski Lily menunduk, Alion bisa melihat samar-samar telinga gadisnya memerah. Alion tersenyum dan berkata.
"Hmm, tidak akan ada lain kali," kata Alion lembut.
Melihat Alion telah pergi, Selli teman sebangku Lily yang sedari tadi diabaikan pun dengan penasaran bertanya pada Lily.
"Apa yang kulihat ini, sejak kapan kamu akrab dengan Alion," tanya Selli.
Saat terakhir kali Alion memberi Lily boneka, hari itu masih pagi. Hanya beberapa murid yang hadir tapi tak memperhatikan Lily. Dan hanya Rena dan Febi yang tahu. Karena mereka sempat melihat boneka itu di tas Lily. Dan Lily hanya bisa berkata jujur bahwa itu dari Alion.
Di sekolah pun Lily dan Alion jarang berinteraksi saat banyak orang. Tak heran jika Selli pun merasa terkejud.
"Kita kan teman sekelas," jawab Lily tersenyum. Lily berkata jujur bukankah mereka memang teman sekelas.
Selli menatap bodoh sahabatnya. Teman sekelas apa yang memberikan teh susu sambil melempar senyum. Selli bahkan diabaikan padahal dia tepat ada dihadapan mereka berdua. Selli lebih percaya jika Lily berkata mereka adalah sepasang kekasih.
"Baiklah, aku mengerti. Jangan khawatir aku akan merahasiakannya," kata Selli penuh tekad.
"Lily, aku mendukungmu!" Selli menggenggam tangan Lily dengan erat.
Lily benar benar hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan Selli. Lily mengerti niat baiknya tapi dia benar-benar tak memiliki hubungan itu dengan Lio. Setidaknya belum....
****
Sepulang sekolah, Lily tak langsung pulang.
Lily di panggil Bu Rahayu untuk memberi tahu bahwa patnernya telah di diskualifikasi. Memang peraturan cukup ketat bahwa peserta lomba tak boleh terlibat masalah pada saat lomba berlangsung. Sebetulnya waktu lomba masilah lama, namun masalah kakak kelasnya sampai masuk dalam berita TV. Itulah sebabnya dia di diskualifikasi.
Sebagai pengganti kakak kelasnya itu, guru telah memilih orang lain. Lily cukup mengenalnya, orang itu adalah Zidan. Saat melihat pria itu Lily benar-benar terkejud. Lily tak pernah tahu Zidan bisa melukis.
Dalam kehidupan sebelumnya Lily hanya fokus untuk belajar. Saat guru menawarinya di kehidupan sebelumnya Lily menolak dengan tegas. Karena Lily yang hanya dekat dengan Rena dan Febi. Lily benar-benar tak tahu kejadian apa saja yang terjadi di sekolahnya.
Termasuk kerusuhan pertandingan basket itu. Lily benar-benar tak tahu. Lily benar-benar merasa tak berguna tak bisa membantu Alion. Memikirkannya Lily menghelas nafas berat.
"Apa yang sedang kamu fikirkan?" tanya Alion. Sejak Lily meninggalkan ruang guru Alion telah mengikuti tepat dibelakang nya.
Mendengar suara Alion yang tiba-tiba membuat Lily terkejud. Lily yang sedari tadi tenggelam dalam fikiran cukup sadar ada orang yang berjalan dibelakangnya. Tetapi dia fikir itu hanya orang yang menuju ke arah yang sama.
__ADS_1
Lily berhenti, dan menoleh melihat Alion telah berada di sampingnya.
"Hanya perihal lomba saja. Kau tahu patnerku telah diganti dan itu ternyata adalah temanmu Zidan. Aku tak menyangka jika dia bisa melukis," jelas Lily.
"Hmm, yahh dia memang bisa melukis. Hanya saja dia tak ingin menunjukkannya karena beberapa hal," kata Alion.
"Ah benarkah. Kenapa?" tanya Lily penasaran.
Mendengar pertanyaan Lily, Alion mengerutkan dahi. Dia merasa sedikit cemburu. Tapi jika itu Zidan tak mungkin. Alion cukup percaya padanya.
"Orang tuanya tak membolehkannya," jelas Alion singkat.
"Lalu kenapa dia tiba-tiba mau menunjukkannya," tanya Lily sedikit bingung. Seharusnya ini juga alasan dikehidupan sebelumnya Zidan tak menunjukkan bakatnya. Lalu kenapa tiba-tiba berubah.
"Orang tuanya telah tiada," jawab Alion dengan suara rendah.
Lily benar-benar tak memikirkan jawaban ini. Dia tak menyangka jika sikap dingin Zidan rupanya menyembunyikan banyak hal. Memikirkannya Lily merasa sedih.
Alion yang mengetahui Lily sedih pun merasa tak perdaya. Hati gadisnya benar-benar lembut. Perihal temannya Alion tahu dengan jelas. Melukis benar-benar masa lalu kelam pria itu. Alion tak menyangka demi dirinya Zidan melawan traumanya.
Meski temannya itu tak mengakuinya Alion tahu Zidan melakukannya karena merasa telah berutang banyak padanya. Padahal Alion tak pernah meminta balasan apapun.
Tapi, Alion tak mencegahnya lebih jauh bukan karena Lily. Tapi Karena Alion tahu melukis benar benar mimpi Zidan.
"Tak perlu dipikirkan kejadian itu sudah lama. Saat kejadian itu Zidan masih muda, dia tak melukis lagi karena merasa bahwa itu mengingatkannya pada hal buruk saat masih kecil. Aku rasa sekarang dia sudah memaafkan apa yang terjadi di masa lalu. Itulah sebabnya dia berani melukis kembali," kata Alion menjelaskan dengan lembut.
"Emm, lalu baguslah," kata Lily bersyukur.
"Kenapa kau begitu perhatian padanya," tanya Alion sedikit penasaran.
"Bukankah dia temanmu," jawab Lily tanpa sadar.
"Hah jadi, apa kau sedang merayuku gadis kecil," kata Alion tersenyum.
"Maksudku kita kan teman jadi dia juga temanku," jawab Lily sedikit panik.
Alion yang melihat kepanikan di mata Lily tertawa kencang. Gadisnya benar-benar tak pandai berbohong. Alion benar-benar mengerti maksud gadisnya.
Melihat Alion tertawa Lily dibuat terpesona. Dia tak pernah tahu Alion terlihat sangat tampan saat tertawa.
"Ehem, ayo pulang aku akan menemanimu ke depan. Kamu pulang bersama kakakmu bukan," kata Alion dengan suara rendah.
"Hum, ayo Lio," kata Lily lembut.
__ADS_1
Di temani sinar jingga, bayangan keduanya saling berdampingan meninggalkan tempat itu.