
Sejak kelahiaran kembali, Lily jarang bermimpi kejadian di kehidupan sebelumnya. Selain dari kecelakaan itu, kejadian lainnya seolah kabur. Tapi, Lily tak terlalu ambil pusing karena mungkin itu harga yang harus di bayar untuk kehidupan kedua nya ini.
Malam ini sedikit berbeda mungkin karena Alion mengucapkan selamat malam padanya. Lily memimpikan kehidupan sebelumnya.
Lily tak ingat kejadian ini, Lily tak ingat apa yang terjadi setelah kematian Alion. Saat itu sepertinya tepat setelah Alion meninggal, di hari pemakaman itu lah tepatnya Lily pertama kali bertemu keluarga Lio.
"Ayah ibu," salam Lily dalam mimpi.
"Siapa yang mengizinkanmu memanggil kami begitu. Dasar pembunuh, pergi kau dari sini," kata ibu Alion dengan marah.
"Aku bukan pembunuh," suara Lily sangat pelan tanpa bisa di dengar siapapun.
Ya dia bukan pembunuh dia juga tak ingin kehilangan Alion. Dia juga tak tahu kenapa Alion begitu melindunginya. Lily bukan lah apa-apa, dia tak pantas Alion selamatkan.
Tiba-tiba layar berubah, setelah kematian Alion. Lily habiskan hari harinya menangisi kebergian Alion. Setiap malam ia selalu mimpi buruk dan di siang hari ia harus menguatkan diri menghadapi dunia sendiri tanpa Lio nya.
Lily kini bak robot, dia menyibukkan diri bekerja dari pagi hingga malam. Tanpa menghiraukan kesehatannya, hanya dengan bekerja ia bisa lupa akan Lio nya walaupun itu hanya sesaat. Saat libur misalnya, ia kembali memikirkan saat saat bersama Lio.
Tiba tiba ada yang mengetuk pintu apartemennya. Lily pun membukanya dan mendapati Zidan ada disana.
"Kau terlihat sangat buruk," kata Zidan.
"Itu bukan urusanmu," ketus Lily. Lily pun hendak menutup pintu tapi zidan cegah.
"Tunggu, aku datang karena alion," kata Zidan.
"Lio diaaa...."
Sebuah nama yang mengingatkan luka dihatinya. "Masuklah."
Terlihat Lily dan Zidan dalam mimpu masuk ke apartemen dan duduk di ruang tamu saling berhadapan.
Apa ini, Zidan pernah menemuinya. Apa yang terjadi dengan ingatannya. Dia tak sedikitpun ingat dengan kenangan ini. Apakah ini ingatan masa lalunya atau hanya sebuah mimpi.
"Apa maksud kata-katamu tadi, bagaimana kau bisa datang karena Alion," tanya Lily dalam mimpi.
"Kau tak perlu heran, Alion sudah menyampaikan ini jauh hari. Jika sesuatu sampai terjadi padanya," kata Zidan.
"Apa maksudmu, Lio sudah tau dia akan pergi. Bagaimana dia bisa hiks-hiks," kata Lily mulai menangis.
"Alion tahu dia memiliki banyak musuh. Itu sebabnya setelah menikah ia membatasi untuk bertemu denganmu. Hah, sebegitu cintanya dia padamu. Bahkan dia meminta Zero untuk selalu menjagamu jika sesuatu terjadi padanya yang membuatnya tak bisa menjagamu lagi," kata Zidan.
Aku pun menangis dia tak tahu hal ini. itulah sebabnya di kehidupan sebelumnya saat Lio telah pergi Lily kadang mendapati anggota Zero di sekitarnya. Lily fikir itu hanya kebetulan rupanya Lio yang meminta mereka untuk melindunginya.
Layar kembali berubah begitu cepat, tiba tiba saja Lily sudah ada di tempat lain. Sebuah tempat yang selalu ingin dia lupakan. Tempat kecelakaan yang merenggut nyawa Alion.
Di dalam mobil itu Alion terus memeluknya tanpa menghiraukan tembakan demi tembakan yang di la yang kan. Lily menangis, dia ingin menjangkaunya dan melindungi Alion. Tapi saat ini tubuhnya menembus Alion hingga membuatnya terlempar keluar dari mobil.
"Tidak, aku ingin kembali. Aku harus menyelamatkan Alion," kata Lily putus asa.
Namun, tubuhnya seolah ditarik paksa oleh kekuatan. Matanya hanya mampu menangkap mobil yang telah melewatinya. Dan tiba tiba saja semua nya menjadi gelab. Dalam ruangan gelab itu lily tak bisa melihat apapun tapi samar-samar dia mendengar sebuah bisikan.
"Apa maksudmu mengatakan semua ini Alion. Kenapa tidak kau berikan saja barang-barang itu sendiri."
"Aku hanya ingin berjaga jaga saja, kau mengerti aku Zidan. Jika aku mampu maka aku akan menjaga Lily sendiri. Dan memastikan dia selalu bersama dengan diriku."
__ADS_1
"Tunggu, apa kau akan meninggalkan Lily. Kau yakin kau sanggup jauh darinya. Apalagi melihat dia bersama pria lain."
"Entahlah. Pasti aku tak akan sanggub, hahaha. Memikirkannya saja sudah membuatku gila."
"Lalu jangan pergi. Kau saja yang mengurus Lily. Aku tak ingin terlibat."
"...."
"Nanti, jika dia mencintai seseorang. Kamu harus memastikan pria itu baik padanya, seperti aku baik padanya."
****
Pagi yang cerah, dan sinar matahari masuk melalui celah gorden. Lily terbangun dari mimpinya, air mata masih terus mangalir ke pipinya.
Mimpi itu masih teringat jelas difikarnanya, setiap kata-kata yang dia dengar menusuk ke relung hatinya.
"Lio, apa yang sebenarnya kamu fikirkan. Kau tahu aku tak mencintaimu tapi kau memaksa menikahiku dan menjaga aku disisihmu. Lalu saat aku mulai mencintaimu kamu pergi. Bagaimana bisa kamu berfikir aku akan mencintai orang lain. Kenapa kamu tak pernah berfikir bahwa aku akan mencintaimu. Bagaimana aku bisa menikah dengan orang lain setelah kepergianmu, Lio. Kenapa kamu begitu bodoh, harusnya kamu bertahan sedikit lebih lama. Aku mencintaimu Lio, sangat mencintaimu."
Lily menangis terisak-isak selama beberapa menit. Hingga dia bisa menenangkan diri barulah Lily beranjak dari tempat tidurnya.
Ia menyegarkan diri dengan mencuci muka. Munurut mimpinya ada masa setelah kematian alion yang telah lily lupakan.
Pertemuan dengan orang tua Alion dan Zidan membuka fikirannya. Ia mengerti sekarang kenapa kematian Alion selalu menjadi mimpi buruknya. Karena Lily merasa dia adalah pembunuh. Iya saat itu Lily yang meminta untuk bertemu dengan Alion dan keluar untuk makan bersama.
Ibu alion tak salah, seandainya Lily tak mengajak alion saat itu. Kecelakaan itu tak akan terjadi, Lily menghelas nafas berat.
Tingg trinining.
Bunyi suara ponsel menghetikan lamunan Lily. Lily mengambil hp nya dan menemukan pesan Alion ada disana.
Alion
Selamat pagi, Lily.
Alion
Sudah bangun?
^^^Lily^^^
^^^Selamat pagi, Lio.^^^
^^^Lily^^^
^^^Sudah, kenapa Lio?^^^
Alion
Turun.
^^^Lily^^^
^^^Hah, apa maksudmu, Lio?^^^
Alion
__ADS_1
Turun, aku ada di bawah.
^^^Lily^^^
^^^Benarkah, kenapa tiba-tiba.^^^
Alion
Aku ingin mengajakmu kesuatu tempat.
^^^Lily^^^
^^^Tapi, aku belum minta izin pada ayah dan ibu Lio.^^^
Alion
Tak perlu khawatir aku sudah meminta izin, bersiaplah dan segera turun.
^^^Lily^^^
^^^Okey, tunggu aku akan cepat.^^^
Alion
Hmm, tak perlu buru-buru.
Alion selalu saja bisa membuat Lily bahagia. Segala rasa sakit yang Lily rasakan menghilang begitu saja. Semua itu terjadi di kehidupan sebelumnya, kini semua nya berbeda. Lily tersenyum menyemangati dirinya.
Bunyi langkah kaki di tangga membuat Alion menoleh dan melihat Lily ada disana. Gadis itu memakai celana jins dengan baju berwarna biru langit. Sangat cocok dengan pakaian yang Alion kenakan saat ini. mereka terlihat seperti pasangan padahal tidak janjian memakai pakaian yang sama.
"Sudah siap?" tanya Alion.
"Sudah," jawab Lily dengan senyuman.
"Kalau begitu kita pergi," ajak Alion.
"Paman bibi, saya ijin membawa Lily pergi," pamit Alion pada orang tua Lily.
"Ya, baiklah hati-hati nak," kata ibu Lily dengan senyuman.
"Hmm, jaga putriku baik-baik," peringat ayah Lily.
"Iya, paman tenang saja," kata Alion tenang.
"Aku pergi ayah ibu," kata Lily sembari bersalaman dengan orang tuanya diikuti Alion.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan pekarangan rumah Lily.
"Lio, kemana kita akan pergi?" tanya Lily saat sudah jauh dari rumah.
"Kamu akan tahu nanti," jawab Alion.
"Huh, sok misterius sekali," dengus Lily sebal.
Alion hanya tersenyum kecil memperhatikan Lily dari spion.
__ADS_1