
Lily begadang semalaman, kak Zayyan sangat kejam padanya. Dia tak membiarkan Lily tidur sampai Lily setuju untuk tidak akan dekat dengan Alion lagi. Lily tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya dan Alion.
Lily hanya bisa pura-pura menyetujui untuk menenangkan kak Zayyan. Lagi pula kakaknya itu akan sibuk dengan ujian jadi dia tak akan mengawasinya setiap saat.
Lily dengan lesu berjalan ke kelasnya dan langsung duduk ditempatnya.Lily ingin memejamkan kepalanya sebentar sebelum pelajaran dimulai.
Saat alion sampai di kelasnya hal pertama yang dia lihat, adalah lily yang sedang tidur. Melihat sekeliling kelasnya yang penuh keributan. Alion menyandarkan tubuhnya dan menatap tajam mereka semua.
Teman sekelas alion sepertinya menyadari pria itu marah, mereka pun langsung terdiam. Dengan dingin Alion berkata, ‘’berisik.’’
Takut Alion akan marah, mereka semua pun kembali ke tempat duduk masing-masing dan tak lagi bicara.
Setelah beberapa saat, Lily pun terbangun. Lily heran melihat kelasnya walaupun ini kelas unggulan. Lily tahu teman sekelasnya berbeda dengan yang lain. Saat kelas pintar lainnya saling bersaing memperebutkan juara. Maka kelasnya ini malah saling mendukung satu sama lain.
Kelas MIPA 1 yang harusnya damai dengan orang-orang yang rajin belajar. Malahan kelas ini paling ramai saat pelajaran usai.
Tapi saat ini kenapa hening, bukankah bell masih 15 menit lagi berbunyi. Lily merasa heran, dia ingin bertanya pada teman sebangkunya.
"Sel, apa yang terjadi. Kenapa kelas tiba-tiba begitu hening?’’ tanya Lily berbisik.
"Oh, kau sudah bangun, Ly. Kamu tidak tahu Ly, tadi Alion marah dan menyuruh semua orang untuk diam," kata Selli ikut berbisik.
"Kenapa?" tanya Lily lagi.
"Aku juga tak tahu. Mungkin ada yang membuatnya kesal," jawab Selli.
Lily ingin bertanya lagi, tapi bell tiba-tiba berbunyi. Lily pun segera diam tidak jadi berbicara. Lily menoleh ke arah belakang. Dia melihat ke arah Lio dan menemukan Lio juga melihat ke arah nya. Lily pun terseyum menyapa.
Alion yang sedari tadi memang mengawasi Lily, sedikit terkejud saat Lily tiba-tiba melihat ke arahnya. Alion sedikit malu ketahuan melihat ke arah nya sedari tadi, hanya saja dia langsung mengembalikan raut wajahnya seperti biasa seolah tak ada yang terjadi. Hanya saja jika diperhatikan dengan jelas telinganya sedikit merah.
****
Bulan ini mendekat awal oktober, dimana musim mulai berubah. Yang tadinya hangat mulai sering rintik rintik gerimis. Di jam istirahat saat semua teman nya berhamburan ke kantin. Lily terdiam ditempatnya, dia menoleh ke arah alion. Pria itu sedang menelungkupkan kepala. Lily berjalan ke bangku Alion dengan membawa kotak makannya.
Agas teman sebangku Alion, menatap heran ke arah Lily yang datang ke arahnya dan bukannya ke kantin seperti anak lainnya.
Agas baru saja ikut pindah ke kelas Lily. Dia tak ingin ketinggalan melihat bagaimana Alion mengejar seorang gadis. Jadilah saat Alion tiba-tiba ingin pindah tak lama dia pun mengikuti. Untunglah nilainya terbilang bagus. Jadi tak masalah jika dia masuk MIPA 1.
__ADS_1
Agas melihat kotak bekal di tangan Lily, sepertinya dia bisa mengerti apa yang akan dilakukannya. Dia pun berdiri menyuruh Lily untuk duduk dibangkunya. Dan kemudian meninggalkan kedua orang itu.
Lily yang ditinggalkan pun paham maksud Agas. Lily mengulurkan tangannya dengan lembut menggoyang bahu Alion.
Tak beda dengan Lily yang begadang karna diceramahi kakaknya. Alion pun tak pulang sehabis bertemu Lily semalam. Saat ini, Alion begitu mengantuk dan ada seseorang yang membangunkannya.
Alion mendongak marah, dengan dingin dia menatap siapa yang berani mengganggu tidurnya. Alion terkejud, saat dihadapkan dengan mata polos yang menatapnya. Seketika Alion tak tahu bagaimana dia harus berekspresi.
"Maaf mengganggumu, Lio," suara Lily terdengar.
Alion yang mendengarnya hanya bisa menghelas napas tak berdaya dan berkata dengan lembut.
"Tak apa, aku tak marah. Aku tak tahu jika itu kamu," kata Alion.
Lily tersenyum manis, melihat Alion tak marah. Segera Lily menaruh bekal nya di meja dan membukanya satu persatu.
Alion pun hanya terdiam melihat apa yang sedang dilakukan Lily. Tanpa menggagunya Alion diam menunggu gadis itu kembali bicara.
"Ibu takut aku sakit karna musim sekarang sedang berubah. Jadi, dia membawakan aku bekal agar tidak jajan sembarangan. Tapi, ini terlalu banyak dan aku takut tak akan bisa menghabiskannya. Apakah Lio mau membantuku menghabiskannya?" Akhirnya Lily pun menjelaskan maksudnya.
Alion tahu Lily berbohong, terlihat jelas gadis itu tak mau menatap matanya. Entah apa tujuannya Alion tak perduli. Bahkan jika makanan ini ada racunnya, jika Lily menyuruhnya makan maka dia akan menghabiskannya tanpa bertanya.
"Apakah enak," tanya Lily dengan hati-hati.
Alion yang melihat tertegun. Jika ini masakan ibunya tak mungkin Lily menatapnya saperti itu. Hal ini hanya bisa terjadi jika dia yang membuatnya sendiri. Melihat ke arah jari gadis itu yang dibalut, Alion mengerti.
Tatapannya pun seketika melembut.
"Enak sekali. Jika saja aku bisa memakan makanan ini setiap hari. Berat badanku pasti akan bertambah," gurau nya.
"Benarkah, lalu aku akan membawanya setiap hari," kata Lily semangat.
"Apakah itu tak akan merepotkan bibi?" kata Alion dengan geli.
"Ehh, ibu tenn-tentu tidak. Aku akan bilang jika temanku menyukai masakannya," ucap Lily malu.
Alion bisa melihat pipi gadisnya memerah. Dia terlihat sangat manis, hatinya langsung menghangat rasanya.
__ADS_1
"Hmm, jadi apakah aku temanmu," goda Alion.
"Tentu saja bukankah kita teman sekelas, Lio," jawab Lily percaya diri.
"Baiklah, lalu aku akan berterima kasih pada temanku ini karna membiarkanku memakan makanan yang sangat enak," kata Alion. Ya saat ini mereka memang teman tapi itu tak akan lama.
Lily senang Alion suka masakannya. Dia sudah bangun sangat pagi agar orang rumah tak tahu. Mereka akan terkejud jika mengetahui Lily yang bahkan tak pernah masuk dapur, tiba-tiba bisa memasak. Jadilah lily sembunyi-sembunyi melakukannya.
Ini semua sebenarnya berkat pengalaman hidupnya sebelumnya.
Lily mulai belajar mengurus segala sesuatu sendiri termasuk memasak. Lily sebenarnya yakin makanan nya tak kurang dari makanan di restoran bintang 5. Tapi jika menyangkut Lio dia menjadi kurang percaya diri.
Lily hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Alion.
"Lio suka makanan apa? Aku akan meminta ibuku membuatnya," tanya Lily.
Lily meminta maaf dalam hati untuk membawa nama ibunya dalam kebohongan ini.
"Hmm, aku tidak pilih-pilih makanan, aku suka semuanya," jawab Alion.
"Apakah tak ada yang Alion ingin makan," tanya Lily lagi.
"Kalau begitu bawakan bento seperti ini lagi saja aku menyukainya," kata Alion.
"Ah begitu. Baiklah," ucap Lily kecewa.
Lily cemberut, Padahal dia ingin tahu apa yang Alion suka makan. Di kehidupan sebelumnya mereka hanya beberapa kali makan bersama dan semua makanan itu adalah kesukaan Lily.
Lily fikir Alion punya kesukaan yang sama dengannya. Tapi, lambat laun Lily baru menyadari bahwa Alion melakukan itu semua sengaja ingin menyenangkannya.
"Aku suka iga asam manis, jika itu tak merepotkan bibi," kata Alion tiba-tiba. Lily yang mendengar pun langsung tersenyum cerah.
"Ehm, kalau begitu aku akan menanyakannya," jawab Lily semangat.
Alion benar-benar tak berdaya menghadapi Lily. Alion tak ingin gadis itu kesulitan memasak, tapi melihat dia kecewa Alion langsung luluh.
Mungkin dia harus mulai belajar memasak. Sehingga saat menikah nanti gadis itu tak akan kelelahan. membayangkan dia dan Lily memakai apron yang sama. Dan saling membantu. Alion menggelengkan kepala geli.
__ADS_1