
Semakin masuk ke dalam hutan, Penerangan dari tempat berkemah mulai tak terlihat. Jauh memasuki hutan Lily semakin merasa takut. Sadar tidak sadar dia mulai merapat ke arah Alion.
Alion menyadari ketakutan Lily, dengan tenang dia menggegam tangan Lily, dan mencoba menenangkannya.
"Apa kamu takut?" tanya Alion.
"Hum, kapan kita akan sampai di tempat tujuan," jawab Lily menggretakkan gigi.
"Sebentar lagi kita sampai, tak perlu khawatir aku akan menjagamu. Itu hanya cerita buatan kamu tak perlu takut," jawab Alion mencoba menenangkan.
"Hmm," gumam Lily menanggapi.
Lily terbujuk, dan akhirnya mulai sedikit tenang. Alion benar, mungkin itu hanya cerita buatan saja, meski ada di koran bisa saja memang terjadi kecelakan kepada empat orang itu. Dan mungkin tidak semenyeramkan itu.
Melihat Lily mulai tenang Alion menghelas nafas lega. Jujur saja dia tak begitu mempercayai cerita seperti ini. Jika pada hari biasa Alion akan mengejek orang yang takut hanya karena cerita seperti ini. Namun, Lily berbeda Alion tak tahan melihatnya ketakutan. Alion hanya ingin gadisnya dalam kenyamanan dan kebahagiaan.
"Mana Lily yang sangat berani saat memarahiku sebelumnya," canda Alion.
"Huh, kapan aku memarahimu. Kamu lah yang selalu menggertak ku," sangkal Lily. Dia tak pernah ingat pernah memarahi Alion. Yang ada Alion yang selalu menggodanya. Dengan cemberut Lily meninju pelan tangan Alion, tanpa sadar dia mulai melupakan rasa takutnya tadi.
Alion yang melihat terkekeh pelan. Dia telah berhasil membuat Lily melupakan ketakutannya.
Setelah berjalan cukup lama dan semakin memasuki hutan. Alion mulai dilanda perasaan aneh.
Seharusnya ada suatu tanda yang ditinggalkan OSIS, untuk menandai jalur uji nyali. Namun, sejak tadi Alion tak menemukan tanda apapun.
Melihat kembali ke peta di tangan nya tak ada yang salah. Mereka berdua telah berjalan dengan benar. Kecuali jika peta itu di tukar maka itu akan menjadi cerita lain.
Alion mengangkat tangan, dan melihat jam di pergelangan tangan kirinya.
"Shiti, sudah hampir setengah jam mereka berjalan. Tak mungkin OSIS membuat pos pemberhentian sejauh ini. Ada yang salah dengan peta ini," batin Alion mulai khawatir.
Tak masalah jika Alion sendiri, dia bisa bertahan di hutan hingga esok hari. Namun, ada Lily bersamanya Alion tak bisa berbuat sembarangan. Dia harus segera mencari jalan keluar.
"Lio, apakah ada sesutu yang salah?" tanya Lily bingung.
Kenapa tiba-tiba Alion menghentikan langkahnya. Lily melihat raut muka Alion yang begitu buruk. Tak biasanya Alion memasang wajah seperti itu.
"Tak apa aku hanya sedang mencari jalan yang benar di peta ini," jelas Alion.
“Ah begitu, lalu apa kamu sudah menemukannya?” tanya Lily lagi.
Belum sempat Alion menjawab tiba-tiba saja terdegar suara.
Srekk srekk srekk
Mendengar itu mereka berdua menoleh. Lily mulai takut lagi saat memikirkan cerita semalam. Dia berfikir mungkinkah itu hantu.
Dibandingkan fikiran Lily mengenai hantu. Alion bahkan lebih khawatir bahwa itu adalah binatang buas. Alion tak tahu dimana mereka saat ini. Mereka bisa saja telah memasuki hutan cukup dalam.
Dengan segera Alion menarik Lily dibelakangnya untuk melindunginya. Mencoba untuk tenang, Alion mulai mengarahkan cahaya senter ke arah suara tadi.
Srek srek srekk
__ADS_1
Tuingggg
Seekor kelinci melompat dari semak semak. Seolah beban berat terangkat dari pundak mereka, Alion dan Lily menghelas nafas lega.
"Ah, itu hanya kelinci, Lio," kata Lily.
"Benar, ayo kita lanjutkan perjalanan," balas Alion.
"okey, ayo kita pergi, Lio," seru Lily semangat. Lily benar benar tak ingin terlalu lama berada di sini.
"Aku harus segera menemukan jalan kembali. Saat ini hanya kelinci yang mereka temui. Jika semakin lama, aku tak tahu apa yang akan mereka temui nantinya," batin Alion semakin khawatir.
****
Di pos pemberhentian sudah banyak pasangan sampai dengan aman. Tersisa satu pasangan terakhir yang belum sampai, mereka adalah Lily dan Alion.
Sudah hampir satu jam lebih lamanya mereka belum terlihat juga. Zayyan merasa khawatir tentang keadaan adiknya. Meski Lily urutan terakhir harus nya tidak selama ini. Pasangan sebelum Lily telah sampai 20 menit yang lalu.
"Aku akan pergi ke jalur uji nyali untuk melihat keadaan," kata Zayyan dengan nada khawatir.
"Haruskah kita menunggu beberapa saat lagi. Mungkin mereka terhambat sesuatu," cegah Arumi.
"Tidak ini sudah sangat lama, seharusnya mereka telah sampai sedari tadi. Kalian bawa dulu mereka kembali ke tempat kemah. Aku akan mencari Lily dan Alion," putus Zayyan.
"Aku akan ikut denganmu Zay, biar Arumi yang membawa mereka. Akan lebih cepat jika kita berdua mencarinya nanti," usul Bobi.
"Baiklah, kamu bisa ikut," jawab Zayyan.
Dengan segera mereka berdua pergi meninggalkan pos. Dan mencari dimana keberadaan Lily dan Alion.
Entah bagaimana ceritanya saat ini Lily dan Alion telah terpisah. Lily tadi merasa ingin buang air kecil. Karena malu Lily mencari tempat sedikit jauh untuk buang air kecil. Namun, saat dia kembali ketempat semula, Alion tidak terlihat dimanapun.
"Dimana Lio? Aku yakin meninggalkan Lio disini. Tapi kenapa Lio tak terlihat dimanapun,” kata Lily panik.
Lily ketakutan dan mulai mencari Alion dengan panik. Dia mulai berteriak memanggil nama Alion. Namun, tak mendapat sahutan apapun. Lily memutuskan untuk berkeliling mencari keberadaan Alion.
Namun, setelah berjalan cukup lama masih saja tidak ditemukan keberadaan Alion dimana-mana. Berteriak sejak tadi membuat tenggoroan Lily kering. Lily berniat untuk beristirahat, dia lalu menemukan sebuah batang kayu yang tumbang dan kemudian duduk disana.
Di tempat Alion, kondisi sedang sangat buruk.
Di dahi Alion mengalir darah merah segar yang tampak mengerikan. Saat menunggu Lily buang air kecil, Alion melihat sosok berbaju hitam.
Khawatir akan keselamatan Lily, Alion mengejarnya. Namun, dia telah salah langkah karena orang itu tak sendiri.
Saat Alion lengah dia memukul kepala alion dengan menggunakan balok kayu. Alion yang telah dipukul tumbang seketika.
Sebenarnya Alion masih sadar saat ini. Hanya saja dia sedang berpura-pura untuk mengetahui tujuan sebenarnya dari kedua orang ini.
Di posisi Alion tengan berbaring saat ini, kedua orang yang berdiri disampingnya tengah berdiskusi. Mereka berdua seolah sedang memutuskan apa yang akan mereka lakukan selanjutnyya. Namun, tiba-tiba mereka mendengar sebuah suara seorang gadis.
"Lio, kamu dimana," teriak seeorang.
Ya orang itu adalah Lily. Setelah istirahat, Lily memutuskan untuk mencari Alion kembali. Dan tak jauh dimana Lily berada, ada Alion yang dalam bahaya.
__ADS_1
Alion dengan jelas mendengar suara itu. Sinyal waspada langsung berdering di dalam hatinya. Dengan segera dia bangkit dan berniat menyerang kedua orang dihadapannya. Mengambil sebuah balok kayu yang telah digunakan untuk memukulnya. Alion mengangkatnya dan memukul salah satu di antara mereka berdua.
Kedua orang yang fokus pada suara Lily pun tak sadar akan gerakan Alion. Dengan keras salah seorang dari mereka terkena pukulan Alion dan jatuh tumbang. Melihat kawan nya telah dilukai, amarah menguasai nya dan hendak membalas perbuatan Alion.
Dan terjadilah perkelahian sengit antara mereka berdua. Pukulan demi pukulan dilayangkan oleh satu sama lain. Tak ada yang mengendur ataupun mengalah.
Waktu berjalan semakin lama, meski tubuh penuh luka Alion tak tumbang dan terus menyerang. Namun, keberuntungan Alion masilah bagus. Karena lawan nampaknya mulai kehabisan energi. Dengan segera Alion memusatkan seluruh tenaga dan menyerang orang itu.
Bammm
Pria itu pun jatuh pingsan dihadapan Alion. Dengan tertatih-tatih Alion meninggalkan tempat itu. Dan berjalan ke arah suara Lily berada. Saat mendengar teriakan Lily, Alion tahu gadisnya pasti ketakutan.
Dengan segera Alion bergegas, dia hanya ingin segera menghampiri Lily. Dan tak memperdulikan rasa sakit di tubuhnya. Bahkan identitas ke dua orang yang menyerangnya tak Alion fikirkan lagi.
"Lily, aku disini" panggil Alion dengan suara serak.
Lily yang mendengar suara Alion berbalik kebelakang. Air mata yang sedari tadi dia tahan mulai mengalir deras. Lily ketakutan tak menemukan Alion dimanapun. Namun, dia tak menangis karena takut Alion dalam bahaya dan membutuhkannya.
Melihat Alion dihadaannya dengan tubuh penuh luka. Keluarlah segala emosi yang dia pendam. Perasaan takut, cemas, lega semua bercamur menjadi satu.
"Shut, jangan menangis. Maaf aku membuatmu takut,” bujuk Alion. Dengan lembut Alion mendekap Lily dalam pelukannya. Menyalurkan kehangatan ditubuhnya untuk memberi tahu bahwa semua baik-baik saja.
"Aku takut huuuu-huuuu, saat kembali hiks- kau tidak ada dimanapun, lio. Aku benar-benar takut huuuuuu-. Dann-dann sekarang kamu terluka Lio, hiks-hiks," kata Lily sesenggukan.
"Tak apa ini tak sakit. Tak perlu takut aku disini, hmm,” balas Alion lembut.
Dengan penuh kasih Alion menengakan Lily. Hingga tangis Lily mulai mereda. Barulah mereka hendak beranjak dari tempat itu, untuk segera kembali ketempat kemah.
"Sudah tenang, kita pergi sekarang,” kata Alion pada Lily yang masih dipelukannya.
Dengan patuh Lily mengangguk, mereka benar-benar harus segera kembali. Alion harus segera mendapatkan penanganan luka.
Namun, saat mereka hendak pergi seseorang telah menghalangi dengan pisau ditangannya. Orang itu adalah pria yang telah alion pukul dengan balok kayu. Saat dia sadar satu satunya yang dia fikirkan adalah balas dendam.
Alion menyembunyikan Lily tepat dibelakangnya.
"Lily, kamu harus mendengarku. Saat aku menghadapinya larilah dan cari bantuan. Shut, jangan membantah percaya padaku,” bisik Alion pada Lily.
Seorang diri dia mulai menghadapi pria itu. Tapi, kondisi Alion tidaklah sebaik tadi. Serangan Alion mulai melambat dan kehilangan kekuatan. Melihat Alion melemah, dengan segera pria itu menyerang Alion habis-habisan.
Dengan seringai kepuasan, pria itu mengayunkan pisaunya. Dan menusuk tubuh Alion dengan kejam.
Memejamkan mata, “Untunglah dia telah meminta Lily lari,” kata Alion dalam hati. Namun, bukannya rasa sakit yang Alion terima malah pelukan hangat yang ia rasakan.
Dengan gemetar Alion membuka matanya.
"tidak, Lily aa-apa yang...tidak-tidak," kata Alion dengan gemetar.
Lily tersenyum dan menatap tepat dimata Alion,
"Syuk-urlah uhukk... Kali ini a-ku yang akan melin-dungi Lio," kata Lily terbatas-bata. Merasakan rasa sakit ditubuhnya Lily mulai kehilangan kesadaran.
"Tidak Lily, hei bangun sayang. Jangan bercanda okey," kata Alion ketakutan.
__ADS_1
Melihat dia telah melukai orang lain, pria itu ketakutan dan hendak lari dari sana. Alion tak memperdulikannya, seluruh fikirannya saat ini tertuju pada Lily. Menahan rasa sakit di tubuhnya dengan putus asa Alion membawa Lily dalam pelukannya dan berlari mencari bantuan.
"Kamu harus bertahan sayang. Aku akan marah bila kamu meninggalkanku," kata Alion putus asa.