Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 27 TEMPAT KEMAH


__ADS_3

Setelah semua orang turun dari bus masing-masing. Anggota OSIS mulai membagi mereka dalam beberapa kelompok.


Satu kelompok terdiri dari 12 orang, terbagi menjadi 5 siswa perempuan dan 7 siswa laki-laki. Karena memang siswa laki-laki lebih banyak yang ikut dibandingkan dengan siswa perempuan. Hal ini menjadikan ada beberapa kelompok yang tidak memiliki anggota perempuan.


Kelompok yang dibagi diminta untuk mendirikan tenda yang telah disediakan. Tentu saja tenda perempuan dan laki-laki terpisah.


Untuk kegiatan kemah kali ini, tidak semua siswa hadir. Itulah sebabnya untuk pengelompokan pun tercampur antar kelas yang satu dengan yang lainnya. Terhitung ada 12 kelompok yang terbagi.


Kelompok Alion terdiri dari Agas, Bagas, Lily dan Selli dari kelas MIPA 1. kemudian Zidan, Pandu, dan Angel dari IPS 1. Lalu terakhir Alvaro, Alvano, Anggi, dan Maura dari MIPA 3.


Mereka berkumpul dan mulai membagi tugas. Anggota laki-laki bertugas mendirikan tenda sedangkan anggota perempuan akan mengambil air dan mengumpulkan ranting.


Selli, Anggi dan Maura ditugaskan untuk mencari ranting untuk digunakan memasak nantinya. Di sisi lain Lily satu kelompok dengan Angel mencari air untuk memasak.


Berjalan berdampingan, Lily dan Angel menyusuri jalan kecil menuju sungai. Pertemuan pertama yang buruk antara mereka berdua, seolah tak pernah terjadi. Dengan akrab mereka mulai mengobrol.


"Lily, apakah kamu sudah pacaran dengan Alion saat ini?" tanya Angel penasaran.


"Emh, belum," jawab Lily ragu-ragu.


Melihat penampilan Lily yang ragu-ragu, Angel merasa kasihan padanya. Alion memang sangat buruk, bagaimana dia bisa mempermainkan gadis sebaik Lily. Yahh, Angel sepertinya lupa dia pernah mengejar ngejar Alion dulu.


"Aku mengerti, pria memang sangat buruk. Bagaimana dia masih belum menembakmu sampai sekarang. Tak perlu memikirkannya Ly, banyak pria lebih baik darinya. atau kau mau aku carikan?" jelas Angel salah paham.


"Bukannya kamu menyukai Alion sebelumnya," kata Lily bingung.


Lily tahu dari Selli bahwa Angel telah menyukai Alion sedari SMP. Dia bahkan bersekolah SMA X untuk mengejarnya. Lalu kenapa dia malah begitu mudah mengatakan hal buruk tentang alion sekarang.


"Yahh dul-lu emm, kau tahu mungkin hatiku terlalu terobsesi mendapatkan pria terbaik. Dann-dann sekarang aku tersadar bahwa aku hanya menyukai wajahnya yang tampan dan bukannya mencintainya," jelas Angel terbata-bata.


"Baiklah aku mengerti, itu hanya masa lalu kita lupakan saja. Dan kurasa kamu salah paham pada Alion. Dia benar-benar baik padaku. Perihal kami belum resmi berpacaran karena memang waktunya belum tepat. Kamu tahu kan kita baru selesai ujian. Lagi pula tak masalah kita pacaran atau tidak. Selama kita saling mempercayai satu sama lain," kata Lily mencoba membela Alion.


"Ohh, begitu rupanya. Ya mungkin kamu benar. Lagi pula Alion terlihat benar-benar mencintaimu," kata angel mengerti.


"Sudahlah lupakan tentang membicarakan Alion. Lalu bagaimana denganmu apa ada seseorang yang kamu suka sekarang?" tanya lily Perhatian.


Lily benar benar penasaran, bagaimana perasaan Angel berubah secepat itu. Walaupun dia bilang hanya menyukainya tetap saja itu telah bertahan sangat lama. Seharusnya Angel tak sebiasa ini.


"Ah it-u tii-dak a-da kok," jawab Angel panik.


Dan benar saja mendengar Angel panik. Lily mengerti Angel telah jatuh hati pada orang lain. Tapi kenapa Angel panik begitu, apakah mungkin Lily mengenalnya. Sudahlah dia tak ingin memaksa Angel bercerita. Lagi pula itu masalah privasi nya.


Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di tepi sungai.


"Baiklah kita lanjut mengobrol nanti, ayo cepat kita mengambil air. Atau makanan untuk makan malam tak akan siap," ajak Lily.


****

__ADS_1


Meninggalkan dimana tempat Lily berada.


Di tempat kemah, Alion dan teman-temannya sibuk membangun tenda.


Alion, Zidan dan Bagas akan membuat tenda untuk para gadis sedangkan sisa nya akan membuat tenda untuk para pria.


Melihat Zidan yang sedikit jauh darinya, Agas menduga dia tak akan bisa mendengar suaranya. Sembari memegang tali tenda Agas mulai berbisik dengan si kembar dan Pandu.


"Apakah kalian tahu dimana mencari dukun terbaik," kata Agas.


Si kembar dan Pandu yang diajak bicara hanya diam, saling bertukar pikiran lewat tatapan mata. Seolah mereka bertiga bisa membaca fikiran satu sama lain.


"Apa kah Agas mulai gila lagi."


"Kurasa benar."


"Aku tak mau tertular gila nya."


"Apa kita abaikan saja dia."


"Yah aku setuju."


"Hei, kenapa kalian malah diam saja," kata Agas merasa diabaikan.


Sepertinya hari ini benar-benar hari sial baginya. Sudah terhitung dua kali agas diabaikan. Di bus dia harus menahannya karena tak berani dengan Zidan. Kali ini tentu saja Agas tak bisa terima jika mereka mengabaikannya juga.


"Apa kau sudah gila, untuk apa mencari dukun. Pegang saja tali itu dengan benar. Atau kita tak akan punya tempat tidur malam ini. Dan saat itu terjadi bos akan membunuhmu," kata Alvaro tak sabar.


Agas yang mendengar nama Alion merasa merinding. Agas telah dekat dengan Alion sedari kecil. Dia benar-benar tahu bos nya itu sangat menyeramkan saat marah.


"Hei aku tak gila, dan aku sudah memegang talinya dengan benar. Huh, apa kau tahu Zidan akrab dengan seorang gadis di bus tadi. Hal ini bahkan lebih mengejudkan dari pada bos yang suka pada Lily," kata Agas menjelaskan.


"Akrab dengan gadis? Siapa? Apa kau tak salah?" tanya Pandu.


"Tentu saja aku benar. Aku bahkan menyaksikannya secara langsung. Dan gadis itu adalah Angel. Gadis yang pernah mengejar bos bahkan hampir menyakiti Lily. Bukankah sudah jelas Zidan pasti kesurupan atau mungkin dia di pelet oleh gadis itu," kata Agas mulai ngelantur.


"Jika keserupan tak mungkin, di pelet apalagi. Aku lebih percaya jika Zidan hanya iseng saja," kata Alvano yakin.


"Haruskah kita benar-benar mencari dukun," kata Pandu mulai takut.


Agas yang mendapat dukungan, mulai bersemangat, dan tanpa sadar mengeraskan suaranya.


"Tentu saja kita harus mencari dukun unt-"


Belum sempat kata-kata Agas selesai, orang yang sedari tadi mereka bicarakan sudah menyela.


"Dukun apa," kata Zidan dingin.

__ADS_1


Mendengar suara itu, dengan gugup mereka menelan ludah secara kasar, secara bersamaan mereka menoleh ke belakang. Terlihat Alion, Zidan dan Bagas telah selesai membangun tenda dan berdiri dibelakang mereka.


"Haha, tidak Agas hanya bercanda ingin mempelet seorang gadis," kata Alvaro panik.


"Ya benar itu sebabnya dia mencari dukun. Kalian tahu kan Agas memang gila," kata Alvano menimpali. Dengan tak sabar Alvaro menyenggol Agas untuk segera bicara.


"Hahahaha, ya benar itu," kata Agas cengengesan.


Zidan mengeryitkan dahinya tanda tak mengerti. Begitu pula dengan Alion dan Bagas yang tak bisa memahami jalan pikiran teman mereka.


"Tak perlu banyak bicara dan selesaikan dengan cepat," perintah Alion.


Mendengar perintah Alion, dengan segera mereka berempat mulai membangun tenda lagi. Dalam hati mereka benar benar bersyukur Zidan tak mendengar kata-kata mereka dengan jelas. Jika tidak habislah mereka semua.


****


Para perempuan yang telah selesai mengambil air dan ranting pun kembali ke tempat kemah. Dengan segera mereka mulai mengambil bahan makanan yang telah disiapkan sekolah.


Berjalan ke arah tenda bersama.


Lily dan teman-temannya kerepotan membawa berbagai macam hal. Melihat hal itu tentu saja para pria langsung membantu mereka.


Setelah menaruh berbagai macam bahan, mereka mulai memasak. Untuk makan malam ini mereka harus memasak nasi, sayur asam, tempe orek dan ayam goreng. Setiap tenda memiliki 1 jatah bahan masak. Jadi jika gagal mereka hanya akan diberi mie instan sebagai gantinya.


"Apakah ada yang bisa memasak?" tanya Selli kepada teman temannya.


"Hmm, aku bisa melakukannya jangan khawatir," kata Lily yakin.


Alion yang mendengarnya, menoleh dan menatap ke arah Lily. Beberapa kali Lily telah membawakan bekal untuk nya. Dan Alion tahu gadis itu bisa memasak. Alion fikir Lily akan terus menyembunyikan bakatnya itu.


"Benarkah, wahh kamu hebat sekali Ly," kata Angel takjub.


"Ya Angel benar, aku bahkan tak bisa masak air," timpal Anggi.


"Kalau begitu kami akan membantu," kata Maura.


"Ya kamu bisa memerintahkan kami," kata Selli penuh semangat.


Mendengar perkataan teman-temannya Lily pun ikut terbawa suasana. Dengan semangat Lily mulai memberikan tugas pada mereka semua. Mulai dari mencuci sayur, memotong serta membuat bumbu. Dengat telaten lily mengajari satu persatu.


Para anggota pria yang melihat mereka begitu sibuk pun tak tinggal diam. Mereka mulai membantu Menyiapkan perapian.


Dengan kerja sama yang kompak dari masing masing orang. Akhirnya sebelum matahari terbenam dan berganti malam. Tenda telah siap dan makanan pun sudah matang dan bisa disajikan.


Tentu saja tidak semua kelompok berhasil, beberapa masih sibuk mendirikan tenda. Yang lain gagal memasak dan berakhir makan mie instan saja.


Tetapi meski begitu setiap orang merasa senang akan kegiatan kemah ini.

__ADS_1


__ADS_2