Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 39 DAMAR DANUARTA


__ADS_3

"Kau puas,” kata Zidan dingin.


Saat ini Zidan tengah berhadapan dengan seorang gadis. Tak pernah ada sejahrahnya Zidan diancam oleh seseorang. Dan tak ada yang pernah menebak bahwa seorang yang mengancamnya adalah seorang gadis.


"Yahh bagus, lalu aku minta sekarang kita berpacaran. Jika aku rasa semuanya telah aman di pihakku, barulah aku akan mengatakan apa yang aku ketahui," balas gadis itu.


"Kau mengancamku," kata Zidan tajam.


"Kamu bisa menganggapnya begitu. Jika kau tak mau, tak masalah. Lagi pula bukan aku yang butuh informasi itu," ejek gadis itu.


Zidan tak berdaya, dia membutuhkan informasi itu. Gadis ini lah yang memintanya membuat Angel menjauh darinya. Meski tak mengetahui apa hubungannya, Zidan tetap mengikuti.


Padahal Angel tak ada hubungan apapun dengan dirinya, karena beberapa hal yang terjadi sebelumnya, Zidan hanya berlaku baik sebagai permintaan maaf.


Mengingat kata kata kasar tadi, malah membuat Zidan semakin bersalah pada gadis itu. Tapi Zidan tak bisa menolak permintaan gadis didepannya, gadis ini menyimpan informasi yang sangat dia butuhkan.


Setelah Zidan menuruti persyaratan yang gadis ini untuk mendapatkan informasi yang dia butuhkan. Kini sikap gadis ini malah semakin melunjak, tapi mengingat informasi penting itu, dengan enggan Zidan menyetujui.


"Lakukan semaumu," kata Zidan menahan marah.


"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi. Besok pagi kita akan berangkat bersama, ingat kau harus menjemputku, dahh beby,” kata gadis itu puas.


****


Kantor pengacara.


Alion memasuki gedung bersama dengan Lily, dia tak perlu khawatir akan diusir seperti saat di kantor polisi, karena dia memakai baju seragam. Tepat sebelum dia kembali ke sekolah untuk menjemput Lily tadi, Alion telah mampir ke toko baju, dan mengganti pakaiannya.


Meski tetap saja pasangan itu terlihat begitu muda, tak ada yang meragukannya, mengingat banyak kasus pasangan muda yang marak akhir-akhir ini.


Namun, saat Alion dan Lily lewat, beberapa orang hanya menoleh karena kecantikan dan ketampanan mereka, tanpa ada prangsaka buruk apapun.


Di sebuah pintu bertuliskan Damar Danuarta, Alion mengetuknya.


Tokkk tokkk tokkk


"Masuk," suara dari dalam terdengar.


Alion membuka pintu, dan berjalan masuk ke dalam ruangan.


Lily mengikuti tepat di belakang Alion, awalnya dia sedikit tak menyangka akan dibawa ke kantor pengacara. Lily fikir mereka akan ke markas Zero atau kantor polisi. Tapi Lily dengan cepat mengerti bahwa untuk kasus semacam itu, mereka memang harus memiliki pengacara.


Saat sampai di depan pintu, sebuah tebakan muncul di hatinya. "Apakah mungkin ada kebetulan seperti ini. Mungkin kah hanya namanya saja yang sama," batin Lily bertanya-tanya.


Di dalam ruangan, seorang pria duduk bersandar di sandaran kursi, pria itu berbicara dengan seseorang di seberang telepon. Melihat seseorang telah masuk, dengan isyarat pria itu menyuruh mereka untuk duduk. Sedangkan dia masih sibuk berbicara dengan telepon.


"Hmm, tidak. Ada hal yang masih aku urus."


"Apa kau fikir aku takut dengan rubah tua itu,"


"Aku tidak perduli, aku yang akan menanggung semua sendiri...."


Dst....


Lily mendongak melihat pria itu, membaca sebuah nama dia atas meja, dia semakin yakin bahwa tebakannya benar. Sebuah pertanyaan lalu muncul di hatinya, "Bagaimana pria ini mengenal Alion?"


Brukkk


Bunyi telepon di taruh.


Memikirkan musuhnya membuat kepalanya sakit. Si rubah tua itu masih saja kuno, bahkan argumennya begitu abstrak seolah dibuat buat. Damar benar benar tak mengerti bagaimana orang tua itu bertahan sampai sekarang.


Menghilangkan masalah di fikirannya. Dia kembali menatap alion yang duduk didepannya, disebelahnya ada seorang gadis kecil yang begitu manis.


"Gadis ini...." kata Damar menggantung.


"Lily," potong Alion.


Lily yang di panggil mengangguk sopan, dengan suara malu-malu, dia berinisiatif mengenalkan diri.


"Hallo, saya Lily teman sekelas Alion," salam Lily sopan.


Damar mengerti rupanya gadis ini lah yang telah membuat juniornya jatuh hati. Menelisik wajah Lily baik baik, dia sedikit tak menyangka, rupanya Alion menyukai tipe seperti ini. Tentu saja tak ada masalah dengan Lily, dia terlihat polos dan manis. Hanya saja banyak yang menduga Alion akan menyukai tipe gadis dewasa yang seksi.


Melihat tatapan senior nya pada gadisnya, membuat Alion menatap tajam pengacara di depannya itu. Meskipun Alion tahu senior nya itu tak mungkin menyukai gadisnya. Tetap saja Alion merasa kesal mengetahui gadisnya ditatap seperti itu.


"Apa yang kau lihat," kata Alion dengan nada mengancam.

__ADS_1


Menggaruk kepala tak gatal, otak Damar mulai memikirkan alasan agar alion tak salah paham padanya. Meski dia juniornya, Damar benar-benar sedikit takut, Alion saat marah sangatlah menyeramkan.


"Hahaha, tidak. Hanya saja kalian terlihat sangat serasi," kilah Damar.


Mata Alion memincing tajam, tapi dengan mudah dia tenang, saat merasakan elusan lembut di tangannya.


Menoleh pada gadisnya yang menatap nya dengan polos, Alion menelan kekesalannya, dan tak mempermasalah kan tatapan seniornya lagi.


Damar yang melihat perubahan Alion didepannya, bertepuk tangan takjub di dalam hatinya. Sepertinya lain kali, jika dia membuat marah pria ini, Damar harus membawa Lily untuk menenangkannya.


"Ehm, kalau begitu aku akan menjelaskan mengenai kasus kalian. jadi begini...."


Pembicaraan mulai mengalir dengan lancar, Alion sesekali menanggapi kata kata damar. Sedangkan Lily hanya diam tak ingin mengganggu. Tapi meski diam saja sebenarnya Lily menyimpan semua pembicaraan di otaknya.


"Meski Geo masih muda membuat dia dipenjara beberapa tahun bukanlah masalah. Apalagi mengingat sifat sombong nya, hidup dipenjara bukanlah hal yang mudah. Kalian tak perlu khawatir, Geo pasti dihukum atas kesalahannya," kata Damar menyakinkan.


"Hmm, terima kasih," balas Alion tulus.


"Tak perlu, ini tugasku. Kau pastikan saja membawa kekasihmu ke acara pernikahanku nanti,” kata Damar.


"Pasti, kalau begitu kita pergi," jawab Alion.


****


Keesokan harinya.


"Saya akan membayar berapapun asalkan pak damar bisa membuat kasus ini tak di lanjutkan lagi. Mengenai Alion, saya akan meminta anak saya untuk meminta maaf. Geo benar-benar sudah menyesal, dia berjanji untuk tidak melakukan hal seperti ini lagi, saya rasa Pak Damar mengerti maksud saya," kata ayah Geo bangga.


Kelakuan yang telah di lakukan anaknya tentunya membuatnya marah. Tapi bagaimanapun Geo adalah anakknya, tentu saja dia akan mendukungnya.


Damar paling membenci kesombongan semacam ini, bukannya meminta maaf lebih dulu, malah berusaha menutupi kasus anaknya, orang tua seperti ini lah yang membuat perilaku anak menjadi buruk.


Apakah pria ini tak tahu siapa dirinya, beraninya dia mencoba menyuapnya. Satu kasus yang dia kerjakan saja setara dengan pendapatan perusahan nya dalam setahun. "Bodoh," batin Damar.


"Heh, apa anda yakin bisa membayar jasa saya," cibir Damar.


"Tentu saja, Pak Damar katakan saja. Saya pasti akan segera menyiapkan nya," jawab ayah Geo yakin.


Ayah Geo cukup percaya diri, perusahaannya termasuk perusahaan besar. Baginya menyuap pengacara dari bocah cilik adalah hal yang mudah, uang bukanlah masalah baginya. Masalahnya kasus ini membuat saham perusahaan menurun. Dia hanya ingin segera menutup kasus ini dan mengembalikan uang yang telah hilang.


Terlalu percaya diri tak akan ditolak membuat ayah Geo tak memperhatikan kata-kata Damar dengan jelas.


"Benar, akhirnya anda meng.... Ah apa yang kau maksud," kata ayah Geo tak percaya.


"Seperti yang anda dengar. Saya akan terus melanjutkan kasus ini sampai pelaku sebenarnya dihukum," jawab Damar sinis.


Ayah Geo melotot tak percaya, berani sekali pengacara pemula ini menolak tawarannya. Dengan marah dia mulai mengatakan kata-kata kasar.


"Apa kau tahu siapa aku, karir mu akan hancur selama aku berbicara," teriak ayah Geo.


Damar mencibir di dalam hati. Dia bahkan tak takut pada hakim pengadilan. Bagaimana dia bisa takut pada gertakan seorang pengusaha kecil seperti nya.


"Kalau begitu saya akan menunggu," balas Damar dingin.


Damar memencet sebuah tombol untuk memanggil security.


Tikkk


Tutttt


"Keruanganku sekarang dan usir pengganggu disini," perintah Damar.


"Hei, kita belum selesai," sela ayah Geo.


Menaruh ganggang telepon ditangannya, Damar menatap acuh ayah Geo. Tak memperdulikannya lagi, damar memilih mengambil berkas kasus di mejanya.


Ayah Geo tak percaya, baru kali ini dia diabaikan. Biasanya dia yang selalu mengabaikan orang lain selama ini.


"Kau!! Kau mengabaikanku!" kata ayah Geo tak percaya.


Tokk tokk


Krietttt


Pintu ruangan damar dibuka, dua orang pria memakai seragam bertuliskan security masuk, dan segera bergerak ke samping ayah Geo.


"Bawa pengganggu ini pergi dan jangan biarkan dia masuk kesini lagi," kata Damar angkuh.

__ADS_1


"Baik."


Dengan mudah kedua security itu menyeret ayah Geo keluar dari ruangan.


Merasa tak terima ayah Geo mulai berteriak.


"Hei lepaskan aku!! Tunggu saja aku akan menghancurkan mu dan bocah itu," teriaknya.


Akhirnya setelah beberapa keributan diruangan Damar menjadi hening. Memijat kepalanya, Damar menghubungi seseorang.


****


...Room chat...


^^^Damar^^^


^^^Sayang.^^^


^^^Damar^^^


^^^Apa yang sedang kamu lakukan?^^^


^^^Damar^^^


^^^Apa kamu sudah makan, sayang?^^^


My Love


Hanya mengerjakan beberapa hal.


My Love


Sudah.


^^^Damar^^^


^^^Ah, padahal aku baru saja ingin mengajakmu makan bersama.^^^


^^^Damar^^^


^^^Begitu membosankan makan sendiri. Tentu saja sebenarnya aku juga merindukanmu.^^^


My Love


Ingin ku temani?


^^^Damar^^^


^^^Apa tak masalah, aku takut mengganggu pekerjaanmu.^^^


My Love


Tak apa, bukan hal penting.


^^^Damar^^^


^^^Tapi aku tak enak jika kau hanya melihatku makan.^^^


My Love


Kau terlalu bertele-tele.


My Love


Ingin pergi atau tidak.


^^^Damar^^^


^^^Hehe, baik. Aku semakin mencintaimu.^^^


My Love


Cepat!


^^^Damar^^^


^^^Siapp, aku akan berangkat sekarang sayang.^^^

__ADS_1


__ADS_2