
Di kantor guru, Lily menghampiri meja guru seninya. Disana sudah ada seorang pria duduk, melihat dari pakaiannya dia sepertinya senior Lily. Dengan sopan Lily menyapa gurunya.
"Sore Bu, apakah ibu mencari Lily," tanya Lily sopan.
"Benar ibu mencarimu, duduklah dulu," kata Bu Rahayu. Lily pun duduk disebelah seniornya itu
Bu Rahayu adalah salah satu guru seni di SMA Lily. Meski guru seni dia terkenal galak karena dia juga merupakan guru BK. Dia mengetahui bahwa Lily terkenal populer di sekolah karna cantik dan pintar. Melihat gadis di depannya yang sopan tanpa kesombongan sedikitpun. Bu Rahayu terseyum dalam hati dia memuji sikap Lily, "anak ini sangat baik."
"Begini ada lomba melukis satu kabupaten. Dan ibu tahu kamu pernah menjadi juara satu saat SMP sebelumnya. Ibu sudah melihat hasil lukisanmu. Jadi, ibu ingin kamu mengikutinya. Tenang saja waktunya masih 3 bulan lagi. Masih banyak waktu untuk kamu mempersiapkannya," jelasnya dengan begitu lembut. Sangat berbeda sekali dengan sikapnya saat menghadapi murid lain.
Lily yang mendengar terdiam. Dia sudah lama tak memegang alat lukisnya. Lily sedikit tak yakin, tapi mendengar waktu tiga bulan. Cukup bagi dia untuk membiasakan diri kembali.
"Baik, saya ikut pengaturan ibu guru," kata Lily mengangguk.
Melihat Lily setuju Bu Rahayu senang, mungkin tahun ini sekolahnya bisa menang dalam bidang seni.
"Bagus kalau kamu mau. Ini adalah seniormu, Gevan namanya. Dia akan ikut berpartisipasi bersama kamu. Kalian bisa saling menasehati satu sama lain nanti. Baiklah hanya itu yang ingin ibu sampaikan kalian berdua bisa pulang," kata Bu Rahayu.
"Baik, Bu," ucap keduanya serempak.
****
Meninggalkan ruang guru bersama. Lily dan Gevan berjalan beriringan menuju gerbang sekolah.
Gevan sudah terpana sejak pertama kali melihat kecantikan Lily. Gadis itu terlihat sangat manis dan imut diasaat yang bersamaan. Dia yang tidak biasanya dekat dengan perempuan. Dengan sengaja berjaan disamping gadis itu.
"Aku sudah melihat lukisanmu. Itu terlihat sangat indah," kata Gevan memulai pembicaraan.
"Terima kasih senior," kata Lily singkat.
"Tak perlu memanggilku senior, Gevan saja," kata Gevan. Dia ingin lebih dekat dengan Lily, panggilan senior terkesan jauh.
Lily sedikit canggung mendengar kata seniornya. Dia fikir itu tak sopan. Lagipula mereka hanya akan bekerja sama saat lomba saja.
"Aku fikir itu tidak sopan," tolak Lily.
__ADS_1
"Lalu bagaimana jika kak Gevan saja. Senior terlalu jauh bukan. Lagipula kita akan sering berdiskusi," bujuk Gevan lagi.
Tak enak menolak permintaan seniornya lagi. Lily pun hanya bisa mengangguk pelan.
"Bagaimana jika kita pulang bersama, kita bisa berdiskusi sambil berjalan," ajak Gevan.
"Maaf, kakakku sudah menunggu ku di depan. Aku pergi dulu senior," dengan sedikit berlari Lily meninggalkan seniornya itu.
Mendengar Lily masih saja memanggilnya senior Gevan hanya menghelas nafas. "Sepertinya akan sulit mendekati adik kelasnya," batin Gevan.
Tanpa disadari oleh siapapun ada mata yang memandang tak suka ke arah mereka.
Dari kejahuan Alion melihat Lily berbicara dengan seorang pria. Mereka terlihat sangat dekat, Alion menyipitkan mata. Suasana hatinya berubah buruk. Dia tahu tatapan pria itu adalah tatapan tertarik. Mata Alion pun mendingin.
Zidan merasa ada yang tak beres dan melihat ke arah tempat yang di tatap Alion. Bukankah itu seniornya, ketua basket tim senior.
"Ada apa, Alion?" tanya Zidan tak mengerti.
"Hah, memang ada apa," Agas yang sedari tadi sibuk bercerita pun ikut menoleh heran.
"Bodoh," kata Zidan sembari memutar bola mata mendengar pikiran temannya itu. Jelas-jelas itu tatapan kebencian.
"Bukankah di final kita tak jadi turun kelapangan," kata Alion dingin.
"Ya benar, bukankah itu hanya permainan senior yang ingin kita mempermalukan diri," jelas Alvaro.
"Huh, itu-itu menyebalkan!. Jelas-jelas senior itu yang salah tapi kita yang disalahkan. Kalau saja bos tak berkata untuk tak membuat keributan lagi. Aku benar-benar ingin menghabisi mereka," kata Agas kesal.
"Bukankah dia membuat alasan sakit sebelumnya, lalu kita buat itu menjadi kenyataan," kata Alion dengan penuh dendam.
Semua yang ada di sana langsung heran dengan apa yang dikatakan alion. Kenapa tiba-tiba dia berubah pikiran. Bagus akhirnya mereka bisa balas dendam.
Flashback
Di lapangan indor SMA X. Terlihat ramai sorak-sorai dukungan penonton.
__ADS_1
Terlihat pertandingan final basket antar sekolah sekota X sedang diadakan. Tepat sebelum pertandingan dimulai para tim Cheerleader menampilkan tarian mereka untuk menyemangati tim basket SMA mereka masing-masing.
Tim Alion yang telah siap, segera bergegas turun kelapangan. Tetapi tiba-tiba ada yang menghalangi mereka. Mereka adalah tim basket senior.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini?" tanya Agas bingung.
"Kalian tidak bisa bertanding. Kita yang akan turun kelapangan hari ini," jawab Gery wakil ketua basket senior.
"Apa maksudmu, ha!" kata alvaro marah.
"Tenang, tak perlu marah. Lagipula kalian hanya tim pengganti karna Gevan tidak bisa bertanding. Dan kita tak mau diketuai Alion tentu saja. Nah, sekarang Gevan ada disini jadi kalian tak perlu bertanding lagi," kata Gery mengejek.
"Sialand, kalian pasti sengaja," kata Agas mulai marah.
"Jadi, bagaimana jika kita sengaja," kata Gery dengan seringai.
Mengetahui mereka telah dipermainkan. Mereka pun mulai berkelahi. Kedua belah saing memukul dengan keras tak ada yang mau mengalah. Situasi makin memanas Alion yang sedari tadi diam pun angkat bicara.
"Berhenti!" kata Alion dingin.
Seketika perkelahian itu berhenti. Guru olahraga yang mendapati tak ada tim basket di lapangan. Segera pergi keruang ganti untuk mencari tahu apa yang terjadi. Mengetahui semua muridnya berantakan dengan mulut robek dan lebam biru. Guru olahraga pun marah.
"Apa yang kalian lakukan, Gevan jelaskan!" bentak guru olahraga.
"Kami hanya memberi tahu mereka bahwa tim senior yang akan bertanding karna aku sudah sembuh guru. Tapi mereka tiba-tiba marah dan memukuli kami," jelas Gevan dengan menyeringai.
"Benar begitu, Alion?" tanya guru menoleh pada Alion.
"Ya," jawab Alion dingin.
"Kalian itu masih tim baru. Sudah jelas tim Gevan lebih berpengalaman. Memang di pertandingan penyisihan kalian telah menang. Tapi saat ini final dan musuh kalian kuat. Gevan sudah memberi tahu guru tentang hal ini. dan mereka bilang yang akan memberi pengertian pada kalian. Tapi malah seperti ini sikap kalian," jelas guru olahraga kesal. Awalnya dia berfikir tim ini sangat bagus tapi melihat mereka begitu arogan hanya memenangkan pertandingin sekali. Dia mulai tak sabar dan berkata sembarangan.
"Sudah, Gevan dan tim mu bersihkan diri. Untuk Alion kali ini saya maafkan tapi tidak ada lain kali. Setelah pertandingan kalian harus minta maaf dengan benar pada senior kalian," perintah guru olahraga dengan tegas.
Teman teman Alion hendak protes tapi Alion telah memberi tanda untuk mereka diam. Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu dengan kesal.
__ADS_1
Saat Gevan dan tim nya tiba di lapangan keributan pun terjadi. Banyak dari fans tim basket junior yang protes. Bahkan tim lawan pun melaporkan bahwa SMA X telah curang dengan mengganti tim secara tiba-tiba. Menilai situasi tak benar pertandingan hari itu dihentikan. Dan akan ditinjau kembali.