Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 8 KERJA KELOMPOK


__ADS_3

Sesampainya di UKS Alion segera memanggil petugas untuk segera membalut luka Lily.


Raut muka Alion sedari tadi terlihat khawatir dan baru hilang saat ia yakin Lily baik-baik saja.


Karena bell sudah berbunyi dari tadi Alion pun tau gadisnya belum makan.


Alion pun memutuskan untuk mengajak Lily ke kantin. Tak perlu khawatirkan guru akan menanyakan kehadiran mereka, satu keinginan dari ketua geng Zero tidak akan ada yang bisa menolaknya.


"Lio, apa tidak apa-apa kita tidak masuk kelas. Bagaimana jika guru tau kita membolos," kata Lily khawatir.


"Tak perlu dipikirkan, aku sudah mengurusnya. Sekarang kamu makan, aku tidak ingin kamu sakit," kata Alion.


Alion pun menyodorkan nasi goreng yang telah ia pesan pada Lily. Setelah, Alion memperhatikan gadis itu memakan makanannya. Alion pun mengambil hpnya berniat menghubungi teman temannya.


...Room chat...


...Grub Zero...


^^^Alion^^^


^^^Bagaimana?^^^


Alvaro


Aman bos semua sudah


beres. Kita hanya menunggu perintah selanjutnya.


^^^Alion^^^


^^^Hmm, bagus.^^^


Agas


Bos bagaimana dengan Lily apa dia baik-baik saja.


Alvano


Hey buaya, kenapa kau perhatian pada Lily. Sudah tidak takut pada bos rupanya.


Agas


Sial, bukan itu maksudku. Jika hal buruk terjadi pada Lily pasti bos terpengaruh. Salah-salah kita bisa habis jika tak tau situasi.


Alvano


Ya-ya bagaimana bos?


^^^Alion^^^


^^^Dia baik.^^^


Agas


Baguslah, bos jaga baik-baik saja Lily. Antarkan dia pulang dengan tenang biar yang disini kita yang mengurus.


Alvaro

__ADS_1


(2)


Alvano


(2)


Zidan


(2)


dst.


Alion pun meletakkan kembali hp nya setelah semua beres. Alion tau teman-temannya tak mungkin mengecewakannya.


Heh, berani menyakiti gadisnya, kita lihat seberapa besar nyali mereka.


Alion kembali memperhatikan Lily yang asik dengan makanannya. Pipinya terlihat menggembung seperti tupai kecil, Lily terlihat sangat menggemaskan.


Alion tersenyum melihat gadisnya tidak terpengaruh dengan kejadian tadi. Semangat gadis itu masih seperti biasanya hal itu membuat Alion merasa lega.


"Apa seenak itu?" tanya Alion.


"Emm, syangat enyak," kata Lily dengan mulut penuh.


"Pelan-pelan saja. Tidak akan ada yang merebutnya," kata Alion lembut.


"Huh iya, Lio boleh aku bertanya," kata lily.


"Kau boleh menanyakan apapun. Tak perlu meminta izin," balas Alion.


"Eh baiklah. Kemana kau selama tiga hari ini?" tanya lily penasaran.


"Emh, aku hanya penasaran, Lio," jawab Lily malu-malu.


Alion mengelus pelan rambut gadis itu, ia sangat gemas dengannya. Tak tahukah gadis itu jika dia terlihat seperti bertingkah manja padanya.


"Ada beberapa hal yang mesti aku tangani di Zero. Itu sebabnya aku tidak masuk," jelas Alion.


"Ah, begitu rupanya," balas Lily.


Lily tiba-tiba saja teringat sebuah tugas kelompok yang belum dia sampaikan pada Alion. Dia pun melanjutkan kata-kata nya, "Lalu Lio, ada tugas kelompok, kita berdua diatur satu kelompok. Ehm, kapan kita akan mengerjakannya."


"Benarkah!? Kamu atur saja Lily," kata Alion.


"Hmm, bagaimana jika besok sepulang sekolah? Hari ini aku ada janji dengan Rena dan Febi, apa Lio bisa besok," kata Lily menyarankan.


"Baiklah, kalau begitu besok," balas Alion menyetujui.


Lily pun terlihat senang, dia tak sabar pergi bersama Alion besok. Tidak tau saja Alion bahwa kelompok itu tidak diatur oleh guru. Melainkan bebas bagi siswa untuk memilih mengerjakan dengan siapa.


Lily sempai meminta maaf pada teman sebangkunya saat menolak ajakannya. Jika saja Alion tau dia pasti amat teramat sangat senang. Sayang Alion tidak pernah perduli untuk sekedar mengonfirmasi hal kecil itu, dia terlalu percaya kata-kata gadisnya, dan menganggap kebetulan mereka satu kelompok.


****


Keesokan harinya, seperti yang Lily dan Alion sepakati mereka bertemu di perpustakaan kota untuk mengerjakan tugas bersama.


Mereka terlihat sangat serasi seperti pasangan yang penuh kasih. Lily yang terlihat sibuk mengerjakan tugasnya, dan Alion yang sedari tadi hanya memandangi gadis itu.

__ADS_1


"Lio, menurutku kita juga harus memasukkan data di internet sebagai opini pendukung. Jika hanya pendapat kita bukankah akan sangat kurang. Akan cukup menarik dengan pendapat orang lain menegenai masalah ini. Kemudian kita baru masukkan opini kita, bagaiman menurutmu," kata Lily panjang lebar.


"Baiklah, itu bagus," jawab Alion masih terus memandangi Lily.


"Hmm, aku serius Lio," kata Lily.


"Iya, Lily ide itu sangat bagus, kamu tidak perlu khawatir," kata Alion menenangkan.


"Lalu aku akan memasukkannya jika begitu," jawab Lily senang.


Mereka melanjutkan mengerjakan tugas itu dengan sangat harmonis. Alion yang sesekali membenarkan jika gadis itu salah dalam mengerjakan. Dan Lily dengan mata berbinar terlihat sangat serius memperhatikan penjelasan Alion.


Jika saja ada teman-teman yang melihat mereka berdua, mereka pasti sangat terkejut. Benar-benar kontras sekali dengan perilaku mereka biasanya. Alion yang biasanya dingin dan cuek terlihat sangat lembut dan penuh perhatian. Sedangkan, lily yang biasanya pendiam dan pintar, terlihat sangat ceria dan manis.


Mungkin benar jika di depan orang yang kita cintai sifat seseorang bisa berubah.


Setelah tugas mereka selesai alion pun mengantarkan Lily dengan motornya. Karena terakhir kali Alion memboncengnya dan membuat Lily memeluknya. Untuk yang kali ini Lily pun berinisiatif memeluk Alion.


Alion terseyum senang Lily mau berinisiatif dekat dengannya. Ia pun melajukan motornya dengan lambat.


Setelah sampai di depan rumahnya Lily pun turun dengan dibantu Alion.


"Terima kasih, Lio," kata Lily.


"Hmm, masuklah," balas Alion.


"Lalu kamu pergi lebih dulu, baru aku akan masuk," kata Lily.


"Iya baiklah, kalau begitu aku pergi. Selamat malam Lily," kata Alion.


"Ehm iya hati-hati. Selamat malam juga, Lio," kata Lily lembut.


Alion pun melajukan motornya meninggalkan rumah Lily. Lily beranjak dari tempatnya saat Alion sudah tidak terlihat lagi. Ia memasuki rumah dan melihat ayah dan ibunya di ruang tamu.


"Ayah ibu, Lily pulang," salam Lily


"Oh, nak kamu sudah pulang. Kamu pasti lelah segera ganti bajumu ibu sudah meninggalkan makanan untukmu," kata ibu Lily.


"Baiklah ibu, ayah aku ke atas dulu," kata Lily.


"Iya," balas ibu dan ayah Lily.


Lily pun naik ke lantai atas menuju kamarnya. Tanpa dia tahu ayah dan ibunya sedang membicarakan gadis itu. Lily tak tahu bahwa orang tuanya sudah memperhatikannya sejak mereka mendengar suara motor berhenti di depan rumah.


"Siapa pria itu, tidak biasanya Lily dekat dengan pria," kata ayah Lily heran.


"Hmm, aku juga tidak tahu sayang. Sepertinya gadis kita sudah dewasa dia sudah mulai jatuh cinta," balas ibu Lily.


"Huh, tidak boleh Lily itu masih kecil. Bagaimana jika itu anak nakal yang hanya ingin memanfaatkan anak kita," kata ayah Lily dengan penuh kebencian.


"Kau ini aku hanya bercanda, apa kau tidak percaya pada anak sendiri. Kita kenal Lily dengan baik, dia tidak mudah dekat dengan orang. Pria itu pasti cukup baik sehingga Lily mau berteman dengannya," kata ibu Lily.


"Maaf sayang aku tidak bermaksud begitu. Tentu saja aku percaya pada anak kita. Aku hanya tak percaya pada anak nakal itu," jelas ayah Lily.


"Sudahlah, biarkan Lily berteman. Kita harus mendukung keputusannya selama itu baik. Cukup baik Lily akhirnya bisa memiliki teman selain Rena dan Febi. Kau tahu kan sejak kejadian dulu anak itu menjadi pendiam dan tidak bisa dekat dengan orang lain," balas ibu Lily.


"Kamu benar sayang. Syukurlah Lily bisa keluar dari kenangan buruk itu," kata ayah Lily.

__ADS_1


"Ya syukurlah, aku berharap anak itu selalu bahagia," kata ibu Lily.


__ADS_2