
Baik lily maupun zidan tak ada yang memulai pembicaraan sejak mereka sampai. Keduanya sama sama terdiam, asik dengan fikiran nya sendiri.
Saat ini mereka berdua berada di atap sekolah.
Sma X memiliki sebuah atap tanpa genteng di beberapa gedung, hal ini untuk memudahkan mereka yang ingin melakukan pembangungan lanjutan nantinya. Namun, karena tak adanya yang menjaga baik itu manusia maupun cctv. Tempat ini dijadikan tempat nongkrong anak anak nakal. Bisa dilihat di berapa sudut, terdapat beberapa putung rokok berserakan. Tentunya kecuali anggota zero, mereka telah memiliki wilayah mereka sendiri.
Zidan yang tadinya mengajak lily untuk membicarakan sesuatu, saat ini dia malah menjadi ragu harus mengatakan nya atau tidak. Karena ini adalah keputusannya sendiri tanpa mendiskusikannya dengan alion terlebih dahulu. Dia tak mau hubungan alion dan lily buruk karena hal ini. Apalagi hal ini berhubungan dengannya. Dia tak mau alion kembali harus berkorban untuknya. Akhirnya zidan berinisiatif untuk memberi tahu lily. Tetapi, entah kenapa setelah berhadapan langsung dengan lily, zidan mulai menyesali keputusannya itu.
Lily sendiri merasa kebingungan, di kehidupan sebelumnya zidan tak pernah berhubungan dengan nya. Zidan baru berbicara hanya setelah alion pergi. Sekarang tiba tiba saja pria itu ingin membicarakan sesuatu dengannya. Lily tak berfikir buruk, bagaimanapun tak mungkin zidan akan berbuat buruk. Hanya saja hatinya cemas, menduga apakah sesuatu yang buruk telah terjadi.
Tak tahan dengan keheningan, lily berinisiatif bertanya.
"Jadi, apa yang ingin kau katakan padaku?" tanya lily hati hati.
Zidan menghelas nafas pasrah, sudah kepalang tanggung, dia harus mengatakannya.
"Kau tahu kenapa febi begitu bermusuhan denganmu?" tanya zidan ragu.
Lily menaikkan satu alis, dia tak langsung menjawab pertanyaan zidan. Hatinya masih menimbang apa yang harus dia jawab.
Aku tahu dengan jelas informasi yang diberikan kak Sasha juga menyangkut febi sahabatnya. Hal itu berhubungan dengan kejadian buruk di masalalu. Hanya saja dia sedikit takut, jika zidan sampai bertanya darimana dia mengetahui hal itu. Hubungannya dengan kak sasha bisa saja terbongkar. Dan saat ini belum waktunya mereka tahu.
Setelah sekian detik terdiam, akhirnya lily memutuskan untuk angkat bicara.
"Jika maksudmu adalah hal itu berhubungan dengan masa lalu kalian, aku tahu," jawab lily.
Zidan terkejud, meski lily tak menjelaskan secara gamblang, dia mengerti maksud lily. "Bagaimana gadis itu mengetahuinya, mungkinkah alion telah memberitahunya," batin zidan bingung.
"Bagaimana...."
Belum sempat zidan menyelesaikan pertanyaannya. Seseorang telah membuka pintu akses ke atap.
"Rupanya benar kalian disini," kata alion dengan nada rendah.
"Lio," seru lily terkejud.
Dengan semangat dia menghampiri alion. Alion pun menyambutnya dengan hangat.
"Apa rapat mu sudah selesai?" tanya lily perhatian.
"Sudah, kita bisa pulang sekarang," kata alion.
Tentu saja lily ingin segera pulang bersama alion. Namun, lily sedikit tak yakin sudah berapa lama dia berada disini bersama zidan. Jadi, dia merasa ragu apakah eskul telah selesai atau belum.
"Ahh, tapi eskul ku belum selesai," kata lily cemberut.
Alion mengacak rambut lily gemas, gadisnya selalu saja tampak menggemaskan. Apalagi saat dia memasang raut muka cemberut seperti sekarang.
"Eskul kriya sudah lama selesai. kenapa lagi aku mencari kamu dengan membawa barang barang ini, hmm," kata alion gemas.
Mendengar hal itu, lily menggaruk kepala tak gatal. Dia melihat tas nya berada di tangan alion. Rupanya pria itu telah membawa barangnya bersamanya.
"hehe, ak tak melihatnya," kata lily cengengesan.
Alion yang melihat tingkah gadisnya hanya menggeleng kan kepala tak berdaya. Mengalihkan pandangannya, alion melihat ke arah zidan sahabatnya.
"Sudah selesai?" tanya alion singkat.
Karena kehadiran alion yang tiba tiba, zidan tak lagi berniat melanjutkan pembicaraannya dengan lily. Bukannya dia berniat menyembunyikan sesuatu dari alion. Hanya saja mengingat lily telah mengetahuinya, namun masih berhubungan baik dengan alion, zidan sudah cukup lega. Berarti gadis itu tak salah paham pada alion.
"Sudah," balas zidan singkat.
Setelah zidan menjawab pertanyaannya, alion kembali memfokuskan diri pada lily. Dia menggenggam tangan lily, membawanya pulang, meninggalkan tempat itu.
Bukannya alion tak penasaran apa yang dibicarakan sahabatnya dengan kekasihnya. Tapi dia memilih untuk mempercayai mereka berdua tanpa syarat. Mungkin dia akan menanyakannya nanti tapi bukan sekarang.
....
Setelah sampai di rumah.
Alion tak langsung pulang, rupanya di rumah lily tak ada orang, tak tega melihat raut wajah kesepian lily, dia pun memutuskan untuk menemaninya.
"Lio, ingin minum apa?" tanya lily ceria.
__ADS_1
Dia baru saja selesai mengganti pakai nya dan langsung turun menghampiri alion.
"Apa saja," jawab alion cepat.
Dengan penuh semangat lily menuju dapur membuatkan minuman untuk alion dan dirinya sendiri. Dia juga cukup haus, sejak pulang sekolah dia langsung buru buru berganti pakaian tanpa sempat minum air. Alhasi dia menjadi kehausan sekarang.
Membuka lemari pendingin, aku mulai menimbang apa yang harus dibuat. Melihat beberapa buah jeruk, dia pun mengambil gelas, dan memutuskan membuat jus jeruk.
Alion yang sempat teralihkan dengan kehadiran lily, setelah kepergian lily ke dapur, dia kembali memusatkan pandangannya ke layar ponsel.
...Room Chat...
^^^Alion^^^
^^^Apa kau bisa mendapatkannya.^^^
Damar
Aku sedikit tak yakin, karna ini adalah kasus yang cukup lama, dan bukan aku yang menanganinya.
Damar
Tapi, untukmu aku akan mengusahakannya.
Damar
Kenapa kau tiba tiba meminta kasus itu?
^^^Alion^^^
^^^Hmm bukan hal penting.^^^
Damar
Kau yakin tak butuh bantuan ku.
^^^Alion^^^
^^^Tidak.^^^
^^^Alion^^^
Damar
Yahh baiklah, jika kau bilang begitu.
Damar
Kalau begitu aku akan menyiapkan nya dulu.
Damar
Kamu bisa mengambilnya saat datang ke pernikahanku nanti.
^^^Alion^^^
^^^Hmm, terima kasih.^^^
Damar
Hahaha, tentu tak masalah.
Damar
Ingat kau harus membawa hadiah yang mahal.
^^^Alion^^^
^^^Tak perlu khawatir, kau pasti puas.^^^
Damar
Baik baik, aku percaya padamu. Aku akan menantikannya.
__ADS_1
end
Kembali ke dunia nyata.
Lily telah keluar dari dapur dengan membawa dua minuman ke ruang tamu.
"Nah, aku membuat kan mu jus jeruk lio. Minumlah agar kamu merasa segar," kata lily dengan senyum.
Alion mengambil satu gelas dan meminumnya. Lily benar, setelah minum alion merasakan rasa segar di tenggorokannya. Setelah menghilangkan rasa hausnya. Kembali menaruh gelasnya di meja, alion memusatkan perhatian nya pada lily, dan mulai berbicara.
"Malam ini kita pergi," kata alion tiba tiba.
"Pergi kemana?" tanya lily bingung.
"Ingat, pengacara damar. Dia mengundang kita berdua ke pesta pernikahannya," jawab alion.
"Ahh, lalu kita harus membawa hadiah bukan. Aku juga belum menyiapkan gaun. Huh, kenapa kamu tak memberitahu ku dari kemarin. Bagaimana ini lio apa waktunya cukup," celoteh lily panik.
Alion yang ditanya hanya terkekeh kecil.
"Ish, kenapa kamu malah tertawa," sungut lily kesal.
"Tak perlu panik, aku sudah menyiapkan semuanya. Kamu hanya perlu mempersiapkan diri nanti," balas alion tersenyum hangat.
Dengan segera alion mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas nya.
Pantas saja tas alion sedikit menggembung hari ini, rupanya ada kotak sebesar itu di dalamnya. Aku merasa penasaran dan langsung membukanya saat alion menyerahkannya. Di sana terdapat sebuah gaun berwarna putih yang sangat cantik. Aku mengeluarkannya nya dari kotak dan semakin terkagum kagum dengan keindahannya.
"Apa ini untukku," kata lily tak percaya.
"Untuk siapa lagi jika bukan untuk tunangan ku ini, hmm," kata alion lembut.
Dengan senang hati lily memeluk alion, dia begitu bahagia mengetahui alion membelikan gaun untuknya. Dan lagi itu bukan gaun biasaaa, tapi gaun yang sangat cantik.
"Suka?" tanya alion berbisik.
Lily mengangguk patuh, pelukan alion pun menjadi semakin erat, sore itu pun mereka berdua habiskan pelukan yang hangat.
....
Malam harinya.
Sebuah mobil hitam berhenti di sebuah gedung, seorang pria kharismatik bersetelan jas keluar. Dia terlihat sangat tampan hingga membuat para tamu yang ada disana memusatkan perhatian pada pria itu.
Semua orang menduga dia adalah pria lajang, karena keluar seorang diri, tak ayal beberapa gadis mulai berfantasi untuk mendekatinya. Namun, bukannya langsung masuk ke dalam gedung pria itu malah beralih ke pintu di sebelahnya dan membukanya. Di sana keluarlah seorang gadis mungil yang sangat cantik dengan balutan gaun putih menjuntai panjang.
"Lio, apakah riasanku sudah baik," bisik lily hati hati.
Benar kedua orang yang baru saja tiba adalah lily dan alion. Sejak mereka berdua hadir, mereka langsung menjadi pusat perhatian semua orang.
Alion yang mendengar bisikan lembut gadisnya pun menghentikan langkahnya.
Lily pun di buat heran dengan tingkah alion, apakah benar ada masalah di riasannya, dia menatap lekat mata alion, seolah bertanya "Apakah ada sesuatu."
Alion yang ditatap, dengan tiba tiba mendekatkan kepalanya ke telinga lily, dan berbisik.
"Kamu sangat cantik malam ini," kata alion serak.
Lily yang mendengarnya pun tersipu malu, entah mungkin karena efek pemerah pipi yang dia pakai, ditambah rasa malunya dipuji alion, pipinya terlihat begitu merah. Dia hendak menunduk menyembunyikan nya, namun lebih dulu dihentikan oleh alion yang mengangkat dagunya.
"Jangan menunduk, nanti mahkotamu jatuh," kata alion.
Tangan alion memegang dagu lily dengan lembut, semua orang yang melihat kejadian itu pun dibuat terpana.
"Apakah mereka akan menyaksikan adegan ciuman."
"Mungkinkah ini adegan romantis abad ini."
"Ahhh, bukankah mereka sangat manis."
"Apakah benar mereka tamu undangan dan bukan nya sang pengantin."
Tentu saja dengan jelas lily bisa mendengar bisikan bisikan itu. Bukannya malah senang, lily semakin dibuat malu oleh alion. "Uhh, kenapa alion malah semakin romantis sekarang," keluh lily dalam hati. Namun, meski mengeluh terlihat dia begitu senang, karena sedari tadi senyum di bibirnya tak pernah luntur.
__ADS_1
Alion juga panstinya mendengar bisikan orang orang itu. Tak ingin terlalu lama disana, alion pun mengajak lily masuk.
"Ayo kita masuk," ajak alion.