Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu

Terlahir Kembali Untuk Lebih Mencintaimu
BAB 18 MASA LALU ZIDAN (1)


__ADS_3

Di sekolah dasar.


Terlihat ketiga orang anak yang sedang menunggu jemputan bersama. Ketiga anak itu tidak lain adalah Zidan, Agas dan Alion. Sembari menunggu orang tua mereka menjemput mereka asik mengobrol.


"Alion akan lanjut bersekolah dimana nanti?" tanya Zidan kecil.


"Hmm, tidak tahu aku ikut apa kata ibu," jawab Alion kecil.


"Lalu kita harus bertanya pada bibi, agar bisa mendaftar di sekolah yang sama," seru Agas kecil.


"Humm, baiklah," kata Alion kecil menyetujui.


Beberapa saat kemudian terlihat orang tua Agas dan Alion telah datang.


"Ibu ayah," seru alion dan zidan bebarengan.


"Nah ayo pulang, Agas," kata ibu Agas.


"Aku duluan ya Alion, Zidan. Besok kita main lagi," kata Agas kecil.


"Ya hati-hati," balas Alion dan Zidan bersamaan.


"Ayah, orang tua Zidan belum menjemput, bagaimana jika kita pulang bersama lagi?" kata Alion kecil.


"Tidak perlu, Alion," tolak Zidan kecil tak enak.


"Tak apa nak ayo lagi pula kita bertetangga bukan," kata ibu Alion.


"Baiklah, terima kasih paman bibi," kata Zidan kecil.


Sudah biasa bagi Zidan dan Alion untuk pulang bersama jika orang tua salah satu dari mereka tak menjemput. Karena memang kedua orang tua Zidan yang sibuk bekerja. Apalagi rumah Zidan dan Alion hanya terpaut dua rumah jadi tak heran jika kedua keluarga cukup dekat.


"Aku pulang," salam Zidan saat masuk rumah.


Tak menunggu balasan Zidan langsung saja pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dia tahu tak akan ada yang membalas salamnya, Zidan sudah terbiasa dengan keheningan. Orang tuanya jarang ada di rumah bahkan di saat wekend pun mereka masih disibukkan bekerja. Zidan menghelas napas sedih dia sendiri lagi.


"Zidan, ayo cepat kita bermain," suara teriakan anak kecil terdengar memecah keheninngan.


Zidan kecil yang mendengarnya tersenyum, tahu itu suara temannya Alion. Dengan segera Zidan menghampirinya. Benar sejak kehadiran Alion, Zidan tak lagi kesepian. Dia beruntung telah bertemu dengannya.


****


Tak seperti biasanya orang tua Zidan ada di rumah wekend ini. Zidan yang baru saja bangun pun langsung semangat.


"Ayah dan ibu tak bekerja," tanya Zidan kecil penuh harap.

__ADS_1


"Tidak nak, bagaimana jika hari ini kita ke taman hiburan bersama," kata ibu Zidan keibuan.


"Yeyy, kalau begitu aku akan bersiap," kata Zidan penuh semangat.


"Haha, kau ini semangat sekali," kata ayah Zidan menggoda.


"Tentu saja, jarang-jarang kita berkumpul bersama," seru Zidan kecil semangat.


Tanpa Zidan sadari kedua orang tuanya sedih mendengarnya. Mereka merasa telah gagal sebagai orang tua. Mereka mulai berfikir untuk meluangkan waktu bagi Zidan. Sejak hari itu meski tak sering mereka berusaha meluangkan waktu mereka.


Zidan kecil tentu saja senang, bisa berkumpul dengan orang tuanya adalah impiannya. Sesungguhnya dia juga iri dengan teman temannya. Tapi Zidan tahu kesulitan orang tuanya itulah sebabya Zidan tak pernah menuntut apa-apa.


****


"Ayah, lihat gambarku bagus bukan. Ini ayah ibu dan juga aku," seru Zidan kecil semangat.


"Ya, itu sangat bagus," puji ayah Zidan.


"Benar sangat indah. Ibu tak menyangka Zidan pandai menggambar," puji ibu Zidan.


"Hum, bagaimana jika ayah membelikan alat lukis untukmu?" tanya ayah Zidan.


"Ah, benarkah ayah?" kata Zidan kecil penuh harap.


"Apakah Zidan suka melukis?" tanya ibu Zidan.


"Iya Zidan ingin menjadi seorang pelukis. Zidan ingin lukisannya di lihat orang banyak dan menjadi terkenal. Lalu ayah dan ibu tak perlu bekerja karena lukisan zidan akan terjual sangat mahal," Seru Zidan kecil semangat.


"Haha baiklah. Lalu ayah akan menunggu untuk kamu menjual lukisanmu," kata ayah Zidan mendukung cita-cita putranya.


"Ya ibu juga akan menunggu Zidan sukses," kata ibu Zidan tersenyum.


****


Hari-hari buruk pun datang tanpa pernah kita duga. Keluarga kecil yang awalnya harmonis penuh cinta. Mulai dipenuhi perkelahian setiap harinya. Semenjak ibu Zidan dipecat dari tempat kerjanya dan menjadi ibu rumah tangga. Ayah Zidan sebagai tulang punggung mulai sering berlaku kasar.


Tiada hari tanpa perkelahian di rumah. Ibu Zidan yang mulai tak betah di rumah sering keluar bermain tak memerdulikan anaknya. Ayah Zidan yang merasa bosan dengan keluarganya mulai mencari kebahagiaan di luar.


Zidan kecil ditinggalkan sendirian tanpa ada yang mengurusnya. Jika saja Alion tak menariknya kerumahnya. Maka Zidan pun tak akan ada yang memperdulikan.


Meski apa yang terjadi di rumahnya Zidan tak putus semangat. Zidan kecil berfikir jika dia menjadi pelukis hebat maka kedua orang tuanya akan kembali. Dengat giat Zidan mulai berlatih melukis. Zidan juga mulai mengikuti lomba. Dan saat memenangkannya Zidan sangat senang dan ingin mengabari kedua orangtuanya.


Tepat malam itu ayah dan ibunya ada di rumah dengan semangat Zidan menunjukkan piala dan lukisannya.


"Ayah ibu, lihat ini," seru Zidan kecil semangat.

__ADS_1


"Pergi Zidan!" perintah ibu Zidan.


"Hoo, lihat begini perilaku seorang ibu pada anakknya," ejek ayah Zidan.


"Kamu diam, aku tak ingin Zidan mendengar pertengkaran kita," bentak ibu Zidan.


"Biar anak ini tahu. Ayah dan ibu mu akan berpisah Zidan. Kamu tinggal memilih ingin ikut siapa,"kata ayah Zidan dingin.


"Tidak Zidan tak ingin memilih. Zidan ingin bersama kalian," lirih zidan kecil.


"Ck, diam. Kau hanya perlu memilih ayah atau ibu," kata ayah Zidan tak sabar.


"Kalau begitu, ibu," kata Zidan mulai terisak.


"Bagus. Aku pergi! rumah ini untuk kalian," kata ayah Zidan meninggalkan rumah itu.


Sepeninggal ayah Zidan, ibu Zidan jatuh tertunduk merasa menyesal. Dengan isak tangis dia memeluk Zidan kecil.


****


Setelah perisahan orang tua Zidan. Perubahan besar terjadi. Ibu Zidan mulai sering pulang malam dan saat pulang selalu membawa pria berbeda-beda. Zidan kecil hanya tahu ibunya sibuk bekerja tanpa tahu apa pekerjaan ibunya.


Zidan kecil masih berharap menjadi pelukis hebat agar kedua orang tuanya bersama lagi. Zidan kecil berfikir bahwa lomba yang dia ikuti hari itu masihlah kurang. Jadi hari-hari Zidan dipenuhi dengan melukis. Dia bahkan mulai tak bermain dengan kedua temannya.Pertengkaran anak-anak pun terjadi. Sehingga Agas, Zidan dan Alion saling mendiami satu sama lain.


Hari itu tak seperti biasanya. Ibu Zidan pulang sore. Tapi dia tidak sendiri melainkan dengan dua orang pria. Zidan yang saat itu memang melukis di ruang tamu pun hendah pergi tapi ibunya mencegahnya.


"Kalian berdua duluan aku akan disini," kata salah seorang pria.


"Begitu, ayo sayang kita ke kamarmu," ajak pria satunya


"Tunggu, Zidan buatkan minuman untuk teman ibu," perintah ibu Zidan.


"Baik ibu," kata Zidan patuh.


Tanpa diketahui siapapun ada tatapan tak senonoh ke arah zidan kecil pergi.


"Kamu Zidan bukan," kata seseorang tiba-tiba.


"Ah paman, iya. Emh, kenapa paman disini apa paman butuh sesuatu," tanya Zidan ramah.


"Tak ada aku hanya bosan disana sendiri," balas pria itu.


Zidan yang mendengar hal itu pun melanjutkan kesibukannya untuk membuat minuman.


Melihat Zidan sibuk langsung saja pria itu melakukan aksi kurang ajar. Pria itu mulai menyentuh tubuh zidan. Zidan yang merasa tak nyaman pun mulai berontak. Tapi kekuatan anak kecil benar-benar tak ada apa-apanya. Dengan mudah pria itu mengunci tangan Zidan kecil.

__ADS_1


__ADS_2